
Jebakan Ibu Susu Bayiku
Bab 3
Elara merasa dunia di sekelilingnya semakin menyempit seiring langkah-langkahnya yang masuk lebih dalam ke dalam rumah mewah milik Viktor. Setiap ruang yang dilaluinya terasa seperti terowongan panjang yang tak berujung. Dinding-dinding rumah itu seolah memiliki kehidupan sendiri, seolah menyimpan rahasia-rahasia yang tak boleh diketahui oleh orang luar. Rumah itu bukan hanya sekadar tempat tinggal; itu adalah benteng yang menjaga sesuatu yang lebih gelap, lebih berbahaya.
Ia dibawa menuju sebuah kamar besar yang indah, dihiasi dengan perabotan mewah dan jendela-jendela besar yang menghadap ke taman yang luas. Kamar itu tampak seperti surga, namun Elara merasakannya sebagai perangkap yang sempurna. Di tengah ruangan, sebuah tempat tidur besar sudah disiapkan dengan rapi, seakan menunggu kedatangannya. Hatinya berdegup kencang, namun ia berusaha menenangkan diri.
"Ini akan menjadi tempatmu untuk sementara waktu," suara Viktor terdengar dari belakangnya. Elara menoleh dan melihatnya berdiri di pintu, dengan ekspresi yang tak bisa ia baca. "Semuanya sudah disiapkan. Aku harap kamu merasa nyaman."
Elara tidak tahu bagaimana menjawabnya. Bagaimana bisa ia merasa nyaman di tempat yang begitu asing, begitu menakutkan? Tapi ia tahu, tidak ada yang bisa ia lakukan selain mengikuti semua peraturan yang ditetapkan. Ini adalah pilihan yang telah ia buat, dan sekarang, ia harus menghadapi konsekuensinya.
Viktor mendekat, matanya yang tajam menatapnya penuh perhatian. "Kamu tidak perlu khawatir," katanya, namun suara itu penuh dengan sesuatu yang tidak bisa ia pahami. "Anakku akan membutuhkanmu. Aku harap kamu tidak akan mengecewakan kami."
Elara merasa jantungnya seolah berhenti sejenak. Bagaimana mungkin seorang pria bisa begitu dingin, begitu mengerikan, dalam menyampaikan sesuatu yang seharusnya penuh kelembutan? Viktor berbicara seolah dia adalah seseorang yang sudah tahu segalanya, seolah ia menguasai semua keputusan yang ada.
"Apakah ada yang perlu saya ketahui lebih lanjut?" tanya Elara dengan suara yang sedikit gemetar, berusaha menjaga jarak emosionalnya, meskipun hatinya dipenuhi kecemasan.
Viktor tersenyum, namun senyumnya tidak menenangkan. "Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan sekarang. Semua akan berjalan sesuai rencana." Ia berhenti sejenak, memandangi Elara dengan cara yang aneh. "Aku harap kamu tidak akan menyesal."
Kata-kata itu menggantung di udara, dan Elara merasakannya seperti ancaman yang tak terucapkan. Apa yang sebenarnya dimaksud dengan 'rencana'? Dan siapa yang benar-benar diuntungkan dari semua ini?
Hari-hari pertama di rumah Viktor berjalan dengan lambat. Elara merasa seperti bagian dari dunia yang terisolasi. Tugas utamanya sederhana: memberi makan dan merawat bayi kecil Viktor, yang tampak tak bersalah dan manis. Namun, ada sesuatu yang tidak bisa ia abaikan-perasaan bahwa ia bukan hanya mengasuh bayi tersebut, tapi juga menjadi bagian dari rencana yang lebih besar, sesuatu yang lebih kelam.
Setiap kali ia berinteraksi dengan Viktor, ia merasa ada sesuatu yang aneh di balik matanya yang tajam. Seolah ia sedang diuji, seolah ia sedang diamati dalam setiap gerakan, setiap kata yang keluar dari mulutnya. Elara merasa semakin terperangkap, tetapi ia juga merasa bahwa ia mulai memahami sedikit demi sedikit tentang kekuatan yang ada di balik pria ini.
Namun, semakin ia berada di dekat Viktor, semakin ia merasakan ketegangan yang tak terungkapkan di antara mereka. Terkadang, saat mereka bertatap muka, ada ketegangan yang begitu kuat, seperti dua kekuatan yang saling tarik menarik. Elara merasakan ada sesuatu yang lebih dari sekadar hubungan pekerja dan majikan di antara mereka, namun ia tidak tahu apa itu.
Malam itu, saat ia duduk sendirian di kamar, merenung tentang apa yang telah ia terima, pintu kamar tiba-tiba terbuka. Viktor berdiri di sana, dengan ekspresi yang lebih serius daripada sebelumnya. Matanya yang tajam menatapnya dalam diam, seakan ingin mengukur kedalaman pikiran Elara.
"Ada yang ingin kamu katakan?" tanya Viktor, suaranya rendah dan penuh tekanan.
Elara merasa tubuhnya kaku, tetapi ia tahu ini adalah saat yang menentukan. "Mengapa saya di sini?" tanyanya, suaranya hampir berbisik. "Mengapa harus saya? Apa yang benar-benar kamu inginkan dariku?"
Viktor mendekat, langkahnya tenang namun penuh kuasa. "Aku ingin kamu mengerti satu hal, Elara," katanya, suaranya menembus malam yang sepi. "Setiap keputusan yang kita buat di dunia ini memiliki konsekuensi. Apa yang kamu pilih sekarang-itu akan mempengaruhi banyak hal. Dan jika kamu memilih untuk tetap di sini, kamu akan menjadi bagian dari permainan yang jauh lebih besar."
Elara menelan ludahnya. "Apa permainan itu? Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku?"
Viktor tersenyum samar, senyuman yang tidak bisa ia pahami. "Kamu akan segera mengerti, Elara. Semua akan terungkap pada waktunya."
Namun, saat Viktor berbalik dan meninggalkan ruangan, Elara merasa bahwa ia baru saja terjerat dalam jaring yang jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan. Apa yang sebenarnya sedang dimainkan oleh Viktor? Dan mengapa ia merasa ada sesuatu yang lebih berbahaya, lebih gelap, yang menunggunya di balik semua ini?
Di luar jendela, angin malam berhembus lembut, membawa rasa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Namun, di dalam hati Elara, sebuah api amarah mulai menyala. Ia tidak tahu bagaimana, tetapi ia berjanji pada dirinya sendiri-ia tidak akan menyerah begitu saja. Tidak pada Viktor, dan tidak pada apapun yang ia harus hadapi.
Anda Mungkin Juga Suka





