Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel JATUH DI PELUKAN LELAKI BERISTRI

JATUH DI PELUKAN LELAKI BERISTRI

Terjebak dalam situasi sulit bukanlah pilihanku, hingga takdir mempertemukanku dengan seorang pria yang menjadi penyelamat hidup. Seiring waktu, benih cinta mulai tumbuh di hatiku bagi dirinya. Sebagai wanita biasa, aku tak mampu membendung perasaan mendalam ini. Meski menyadari bahwa ia telah beristri, aku sepenuhnya siap menghadapi segala kepedihan dan konsekuensi berat yang akan menyertai perjalanan cinta terlarang ini ke depannya.
Bab
Bagikan

Bab 1

JATUH DI PELUKAN LELAKI BERISTRI.

Part: 1.

***

Sejauh mana aku berjalan, setiap detiknya tetap saja aku merasa kehampaan.

Dunia mencibirku dengan sebutan anak haram. Hingga di suatu senja Ibuku meregang nyawa setelah mendengar umpatan dari Kakak beradiknya.

"Sakitmu ini adalah azab," ujar Bibikku.

"Selama Anak haram ada di rumah ini, maka selama itu pula kehidupan kami akan sial," lanjut Pamanku pula.

Ibu semakin berat menarik napasnya. Wajah tua yang sudah tampak begitu lemah itu seketika menjadi tegang. Tubuhnya bergetar hebat dan kejang-kejang.

"Bu," lirihku mendekatkan diri memeluknya.

Tak berapa lama mata Ibu tertutup setelah napas terakhir yang ia hembuskan terlihat begitu sakit.

"Ibu!" teriakku histeris.

Paman dan Bibik tidak bersedih sama sekali. Keduanya sangat membenci Ibuku. Bukan tanpa alasan.

.

Waktu berjalan, pemakaman jasad Ibu sudah selesai.

Aku termenung di teras rumah milik Bibikku ini. Sedari kecil, aku memang sudah berada di sini.

Ibuku tak memiliki rumah sendiri. Semua keluarga tak ada yang mau menampungnya, kecuali Bik Ratna.

Walaupun setiap hari Bibik mencaci maki Ibu dengan perkataan kasar, tapi dia adalah satu-satunya yang sudi memberikan tumpangan tempat tinggal.

-

-

Sebulan setelah kepergian Ibu. Salah satu penyalur tenaga kerja masuk ke kampung kami.

Pak Handoko namanya. Ia menawarkan sebuah pekerjaan di kota pada Bik Ratna.

"Bagaimana? Saya akan memberikan uang muka sebanyak gajih 3 bulan bekerja. Apa anda setuju?" tanya Pak Handoko.

Aku yang duduk di dekat Bibik mendengar semua percakapannya.

Pak Handoko menghendaki agar aku ikut bekerja di cafe miliknya.

Mata Bik Ratna dan Paman Toni berbinar-bindar mendapat tawaran uang yang begitu besar.

"Saya setuju, Pak. Keponakkan saya ini pasti bisa bekerja dengan baik. Bawa saja dia ke kota!" ujar Bik Ratna antusias.

"Aku takut, Bik. Tolong izinkan aku tetap di sini. Aku akan mengambil upah di sawah lebih giat lagi, Bik. Aku tidak mau pergi ke kota," sahutku.

"Sayang, kau harus ke kota. Di sini tak ada masa depan untukmu, Nak." Bibik berkata dengan lembut, tapi dibalik itu sebelah tangannya mencubit punggungku.

Sakit.

Selembar kertas yang berisikan kontrak kerjasama sudah ditandatangani oleh Bibik dan Paman. Keduanya menyetujui tanpa mengetahui apa isi perjanjian dalam kertas tersebut. Bibik dan Paman tidak bisa membaca. Tandatangan pun hanya asal-asalan saja.

-

-

Aku sampai di kota dengan dibawa hari itu juga.

Dua tas kumuhku menemani langkahku yang gemetar karena takut.

Pak Handoko mengantarku ke sebuah tempat.

Tidak seperti cafe yang ia jelaskan pada Paman dan Bibik. Tempat ini begitu bising dan ramai.

Banyak botol minuman, dan lampu warna-warni. Aku pusing dengan cahaya yang mati hidup berulang-ulang itu.

"Mi, saya bawa satu gadis muda yang masih sangat polos," ujar Pak Handoko membawaku pada seorang wanita paruh baya yang menor dandanannya.

"Kucel sekali. Di mana kau menemukannya?" tanya wanita itu.

"Di kampung, Mi. Hanya perlu dipolesin make up, pasti dia akan bersinar."

"Kamu benar. Jika diperhatikan kecantikan gadis ini sungguh luar biasa. Saya jadi teringat seorang primadona di desa pada zaman dahulu."

Pak Handoko dan wanita itu tertawa. Setelah itu aku ditinggal berdua saja dengan wanita yang belum aku tahu siapa namanya itu.

"Panggil saja saya dengan sebutan Mami Mery! Ikutlah bersama saya! Dengan sekejap mata, saya akan menyulapmu menjadi cantik," ujarnya.

Aku mengikuti langkahnya dengan ragu-ragu.

Hingga sampai di sebuah kamar yang cukup besar dan mewah. Ada 5 wanita di dalamnya. Mereka semua berpakaian seksi dan berdandan sungguh cantik.

"Anak baru ya, Mi?" tanya salah satu dari mereka.

"Iya. Cepat kamu rubah penampilannya secantik mungkin!" perintah Mami Mery, kemudian ia keluar.

Aku duduk di kursi empuk yang menghadap ke arah kaca.

"Maaf, sebenarnya tugas saya di sini sebagai apa? Mencuci piring, atau mengantarkan makanan dan minuman saja?" tanyaku menyelidik.

Semua yang berada di kamar ini tertawa mendengar pertanyaanku.

"Tugasmu di sini melayani sepenuh jiwa. Semua harus kau kerjakan," ujar wanita yang sedang merapikan rambutku.

Aku tidak mengerti, tapi aku mulai takut. Tempat ini sepertinya tidak aman.

.

Satu jam kemudian. Aku berputar-putar di hadapan cermin besar. Penampilanku sungguh berubah. Rambutku yang panjang sudah menjadi sebahu saja. Wajahku bersinar dengan sedikit polesan.

"Kau sempurna," puji Mami Mery.

"A-aku harus apa setelah ini?" tanyaku dengan takut-takut.

"Duduk manis saja, sayang. Kau spesial, dan akan menjadi harga tertinggi malam ini," ujar Mami Mery.

"Ma-maksud Mami? Aku tidak mengerti."

Sebenarnya aku sudah sangat risih dengan dres tanpa lengan yang aku pakai. Selama ini aku tak pernah menggunakan pakaian yang terlalu terbuka.

"Jadi Handoko tidak memberitahumu?" tanya Mami Mery menatapku tajam.

"Katanya, aku akan bekerja di cafe jadi pengantar makanan dan minuman para pelanggan," jawabku seadanya.

Mami Mery dan yang lain kembali tertawa.

"Dengar, Luka. Kau di sini bekerja sebagai wanita penghibur."

Detak jantungku seolah terhenti saat mendengar pengakuan Mami Mery.

Wanita penghibur ....

Sebutan itu sering aku dengar di kampung. Tetangga bahkan keluarga menyebut Ibuku sebagai mantan wanita penghibur. Hingga tidak ada satu pun yang tahu siapa Ayahku.

Hidupku bagai di neraka, semua mencerca aku karena dosa masa lalu Ibu itu.

.

Di kamar khusus, aku ditugaskan. Di dalamnya ada seorang lelaki yang menungguku.

Tenagaku telah habis untuk berontak. Sedari awal setelah tahu pekerjaan kotor ini, aku mencoba kabur dan menentang perintah Mami Mery. Namun, apa daya. Aku kalah tenaga, dan tak bisa berbuat apa-apa.

Anak buah Mami Mery sangat banyak. Dua tamparan pun sudah melayang ke pipi kanan dan pipi kiriku.

Aku pasrah dengan derai air mata yang kian basah.

"Siapa namamu?" tanya lelaki yang sudah membayarku pada Mami Mery dengan jumlah uang yang sangat besar.

"Namaku, Luka."

Lelaki itu mendekat ke arahku yang memang sedang membelakanginya.

"Nama yang langka," ujarnya.

Aku bergeming.

"Tunjukkan wajahmu! Kata wanita serakah itu kau sangat cantik."

Aku masih bergeming sembari mengusap air mata yang masih saja mengalir deras tanpa berani menimbulkan suara.

"Apa kau tuli?" bentaknya sembari membalikkan tubuhku agar menghadap ke arahnya.

Aku tersedu-sedu. Wajahku tentunya sudah berantakan.

Tidak sedikitpun aku berani mengangkat kepala. Tertunduk aku dalam penderitaan yang tiada akhir ini.

Perlahan satu telunjuk tangan lelaki itu mengangkat daguku. Matanya tajam berpadu dengan tatapan mataku yang sengaja menguatkan nyali untuk melihat.

Lelaki yang kutafsir usianya sekitar 30 tahunan. Lelaki yang sangat tampan. Aku sampai tak percaya jika yang berani membayarku mahal adalah seorang yang masih muda dan begitu rapi berwibawa.

Siapa sangka kalau ia adalah lelaki penikmat nafsu wanita tak berdaya.

"Kenapa kau menangis?" tanya-nya datar.

Aku mengalihkan kembali pandanganku ke bawah. "Apa lagi yang bisa aku lakukan selain menangis?"

Dia tertawa.

"Apa saya membayarmu hanya untuk melihat tangisanmu ini saja?"

"Aku tak tahu."

Aku semakin tergugu di hadapannya.

"Sepertinya kau harus mengganti namamu!"

"Itu nama pemberian dari Ibuku."

"Ibumu pasti sakit jiwa," cibirnya.

Aku semakin menangis dengan tersedu-sedu.

"Saya akan meminta pada wanita tua bangka itu untuk segera merubah namamu. Jika terus dibiarkan menggunakan nama Luka, maka sepanjang hidupmu tentunya hanya bisa menangis saja," paparnya.

Aku mulai mengusap air mata. Sedari tadi lelaki ini hanya bicara tanpa melakukan apa-apa.

Padahal aku sudah ketakutan setengah mati.

"Aku rela menangis seumur hidup untuk bersyukur jika bisa terbebas dari tempat ini. Tolong aku, Tuan. Kau boleh memintaku bekerja di rumahmu selamanya tanpa gajih asal aku bisa keluar dari tempat ini. Aku takut berada di sini." Memohon aku dengan gerakan cepat meraih kakinya.

Lelaki itu bergeming beberapa detik.

"Tolong aku, Tuan."

Pundakku perlahan diangkatnya. "Saya sudah membayar sangat mahal untuk dirimu."

"Biarkan aku menggantinya dengan pengabdian seumur hidupku. Aku akan melakukan apa saja, kecuali tidak dengan pekerjaan kotor ini, Tuan."

Hening.

Lelaki itu terdiam di sudut ranjang. Wajahnya begitu datar. Aku semakin gemetar menahan rasa takut yang kian mendalam.

Bersambung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Masuk Tiga Besar Daftar Orang Terkaya di Negara Ini
7.9
Dunia runtuh saat aku divonis tumor otak, tepat ketika suamiku, Ethan Wood, berselingkuh dengan manajernya. Menolak menutupi skandal mereka, aku memilih bercerai dan mengejar impian yang tertunda. Tanpa diduga, investasi impulsif dan galeri seniku sukses besar hingga hartaku melesat ke jajaran tiga orang terkaya di Preayork. Di tengah ejekan Ethan soal sisa umurku, keajaiban muncul: dokter menyatakan diagnosis tumor itu salah. Kini, aku siap berkuasa.
Sampul Novel Benih Sang Paranormal
8.6
Intan adalah desainer sukses yang terlalu fokus berkarier hingga melupakan asmara. Di usia 30 tahun, status lajangnya memicu gunjingan tetangga dan tekanan dari sang ibu, Sukma. Merasa terbebani, Intan mencurahkan kegelisahannya pada Luna. Melihat sikap dingin Intan pada pria, Luna curiga sahabatnya itu terkena pengaruh sihir dan menyarankannya mencari pengobatan alternatif. Benarkah ada kekuatan gaib yang menghambat jodoh Intan selama ini?
Sampul Novel Bersama Kita Bangkit Dari Abu
8.0
Dalam kondisi hamil tua, mobilku ditabrak truk secara sengaja. Saat sekarat, aku menghubungi suamiku, Kian, namun ia justru mengabaikanku demi keluhan sakit kepala Florence. Pengkhianatan itu berujung tragis: bayi kami tewas dan kakakku kehilangan karier pianisnya selamanya. Kini, duka berubah menjadi amarah yang membara. Kian menganggap kami sampah, namun ia tak sadar bahwa kami akan bangkit dari kehancuran ini untuk menuntut balas atas semua penderitaan kami.
Sampul Novel Cinta Gadis Bunga
8.0
Lucyana, gadis dari latar belakang sederhana, mendadak jadi pusat perhatian setelah Nyonya Silviana mengangkatnya sebagai ahli waris tunggal. Perubahan status sosial yang drastis ini memicu penolakan keras dari orang-orang di sekitarnya yang meragukan kepantasannya. Di tengah kepalsuan dan intrik keluarga kaya, Lucyana harus berjuang mempertahankan diri. Mampukah ia bertahan menghadapi tekanan tersebut sembari mencari sosok cinta sejati yang tulus?
Sampul Novel Ibu Meninggal, Suami Sibuk dengan Mantan
9.5
Saat ibu mertunya mengalami serangan jantung, Nova panik menghubungi suaminya yang berprofesi sebagai dokter spesialis kardiologi. Namun, pria itu justru menuduh Nova berbohong dan memilih memasak untuk kucing sang mantan kekasih, Melda, lalu pergi menonton konser bersamanya. Akibat kelalaian tersebut, ibu mertua Nova meninggal di meja operasi. Ketika sang suami pulang keesokan harinya dan melihat Nova memeluk kotak abu, dia malah marah dan memuji perhatian Melda yang membelikan baju baru untuk ibunya.
Sampul Novel Jatuh Cinta dengan Paman Mantan Pacar
9.7
Brendan meninggalkan pernikahan demi wanita lain dan yakin aku akan memohon untuk kembali. Namun, keputusanku sudah bulat untuk mengakhiri hubungan kami. Saat dunia mengira aku terpuruk, Edrence, sang pangeran sekaligus paman Brendan, justru mengunggah bukti pernikahan kami. Brendan yang panik segera mendatangi kediamanku, namun ia tertegun melihat siapa yang menyambutnya. Sambil bersandar pada suamiku, aku bertanya sinis, Ada urusan apa kemari, Ponakan?