Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jangan Tinggalkan Aku

Jangan Tinggalkan Aku

Pasca kecelakaan maut yang merenggut orang tuanya, Alvira harus menanggung biaya pengobatan kakaknya yang koma. Di tengah himpitan ekonomi, ia nekat menjual diri di klub malam demi uang cepat. Tak disangka, ia bertemu Damian Verrell, Presdir dingin yang menawarinya kontrak sebagai simpanan dengan bayaran tinggi. Demi keselamatan sang kakak, Avi rela mengorbankan kehormatannya dan terjebak dalam dunia Damian yang penuh kuasa namun memiliki hati yang tertutup rapat.
Bab
Bagikan

Bab 3

Seiring berjalannya waktu, Avi mulai memahami satu hal: dunia Damian Verrell bukan sekadar tentang kekayaan atau tampang menawan. Itu adalah dunia di mana setiap langkah, setiap kata, dan setiap tindakan diperhitungkan. Bahkan senyum ringan sekalipun bisa menjadi pesan tersembunyi, dan setiap tatapan bisa menandakan persetujuan atau ancaman.

Pagi itu, Avi bangun lebih awal dari biasanya. Udara pagi menyusup melalui jendela besar apartemen, dan cahaya matahari hangat menyinari wajah kakaknya yang masih tertidur. Ia menatap monitor detak jantung, mendengar bunyi bip yang stabil, dan untuk sesaat, rasa lega menghampirinya. Kakaknya baik-baik saja-setidaknya untuk saat ini.

Namun pikiran Avi langsung melayang ke agenda hari ini. Damian telah menyiapkan jadwal padat untuknya: pertemuan dengan klien, menghadiri rapat internal perusahaan, dan bahkan menghadiri pertemuan sosial dengan tokoh penting kota. Setiap kegiatan tampak sederhana di permukaan, tetapi Avi sudah belajar bahwa detail kecil bisa menjadi bencana jika salah langkah.

Saat ia bersiap, Selina masuk membawa berkas dan laptop. "Avi, ini agenda hari ini. Pastikan semuanya berjalan lancar. Ada beberapa klien baru yang harus kamu temui, dan Pak Damian akan meninjau setiap detail pertemuan," ucap Selina. Matanya tajam, menunjukkan profesionalisme yang tak main-main.

Avi mengangguk, menerima berkas itu, dan mencoba menenangkan diri. "Baik, saya akan pastikan semuanya sesuai instruksi."

Selama perjalanan menuju kantor Damian, Avi duduk di kursi belakang mobil mewah, menatap jalanan kota yang ramai. Ia mulai menyadari bahwa hidupnya kini benar-benar berbeda. Tidak ada lagi rutinitas sederhana, tidak ada lagi waktu untuk dirinya sendiri, bahkan waktu untuk memikirkan kakaknya pun harus terbagi dengan tanggung jawab baru.

Begitu tiba di kantor, Avi langsung dibawa ke ruang rapat. Ruangan itu luas, dindingnya dipenuhi layar digital, dan di tengahnya, Damian berdiri dengan sikap tegas, menatap timnya yang sedang bersiap. Ketika matanya bertemu dengan Avi, ada kilatan pertanyaan di tatapannya, seolah ingin tahu apakah ia siap menghadapi hari yang panjang ini.

Rapat dimulai. Damian memimpin dengan presisi, menanyakan laporan keuangan, strategi pemasaran, dan proyek-proyek baru yang sedang berjalan. Avi duduk di sudut, mencatat setiap detail, sesekali memberikan masukan yang diminta. Beberapa anggota tim tampak skeptis terhadap kehadiran Avi, tapi ia sudah belajar untuk tetap tenang, menjaga sikap, dan menempatkan diri di posisi yang benar.

Namun, tidak semuanya berjalan mulus. Seorang eksekutif baru, pria tinggi berjas mahal, tampak menatap Avi dengan nada merendahkan. "Jadi ini gadis muda yang menjadi asisten Pak Damian?" ucapnya dengan nada sinis.

Avi menelan ludah, tapi mencoba menatap pria itu lurus. "Ya, saya di sini untuk memastikan semua berjalan lancar," jawabnya tegas, meski hatinya bergetar.

Damian tersenyum tipis, tapi tatapannya tetap tajam. "Avi, jangan khawatir. Fokus saja pada tugasmu," bisiknya. Avi mengangguk, mencoba menyerap keberanian dari kehadiran Damian.

Rapat berlangsung panjang, membahas strategi, angka, dan rencana bisnis yang rumit. Avi mulai merasakan tekanan, bukan hanya dari pekerjaan, tapi juga dari dinamika manusia di sekitarnya. Ia belajar bahwa dunia Damian penuh politik, intrik, dan persaingan tersembunyi. Satu kesalahan kecil bisa membuatnya kehilangan kredibilitas, bahkan bisa mengancam kontrak yang menjadi satu-satunya harapannya untuk membiayai kakaknya.

Setelah rapat selesai, Damian memanggil Avi ke ruang pribadinya. Ruangan itu sunyi, hanya terdengar deru AC dan suara jam di dinding. Damian menatapnya serius.

"Kamu melakukan dengan baik hari ini," katanya singkat. "Tapi ingat, dunia ini tidak akan selalu ramah. Aku ingin kamu tetap waspada, terutama terhadap orang-orang yang mencoba memanfaatkan posisimu."

Avi mengangguk, menyerap kata-kata itu. "Saya mengerti, Pak. Terima kasih atas arahannya."

Damian menatapnya beberapa saat, lalu berbalik menatap layar komputer. Avi merasakan ketegangan yang selalu hadir saat berada di dekat pria itu. Ia tahu, Damian bukan tipe orang yang mudah menunjukkan emosi, tapi setiap gerakannya, setiap kata-katanya, memiliki bobot yang besar.

Hari itu berlanjut dengan pertemuan sosial. Gedung megah, tamu-tamu berpakaian elegan, dan suasana mewah membuat Avi merasa canggung. Ia berjalan di samping Damian, menjaga sikap, dan mencoba menyesuaikan diri dengan lingkungan yang asing bagi dirinya.

Tapi di tengah acara, sebuah insiden terjadi. Seorang wanita cantik mendekati Damian, tersenyum manis dan mencoba berbicara dengan nada menggoda. Avi menatap dengan hati berdebar. Ia tahu, ini bukan hanya tentang Damian dan wanita itu. Dunia yang ia masuki penuh dengan godaan, intrik, dan uji kesabaran.

Damian menatap wanita itu sebentar, lalu menatap Avi. Sebuah pesan tersirat: tetap tenang. Avi menelan ludah, mencoba menjaga jarak, dan belajar bahwa kehadirannya bukan hanya sebagai pendamping, tapi juga sebagai pengawas diri sendiri dalam situasi yang kompleks.

Saat malam semakin larut, Avi pulang ke apartemen. Ia merasa lelah, tapi ada satu hal yang tetap membuatnya kuat: kakaknya. Setiap langkah yang ia ambil, setiap keputusan yang ia buat, semua demi menyelamatkan kakaknya dari dunia yang kejam dan tak menentu.

Namun, dunia Damian tidak pernah tenang. Beberapa minggu kemudian, sebuah masalah muncul di perusahaan. Salah satu klien besar mengajukan komplain serius, dan ini bisa mempengaruhi reputasi Damian. Avi diminta untuk membantu menyiapkan dokumen, menyusun strategi komunikasi, dan memastikan bahwa semuanya berjalan lancar.

Ia bekerja siang dan malam, menghadapi tekanan yang luar biasa. Ia mulai menyadari satu hal: dunia Damian bukan hanya tentang uang dan kekuasaan, tapi juga tentang kemampuan menghadapi krisis, menavigasi manusia yang penuh ambisi, dan menjaga ketenangan di tengah badai.

Di tengah kesibukan itu, Damian mulai menunjukkan sisi lain. Ia mulai memberi perhatian lebih pada Avi, bukan hanya sebagai kontrak, tapi sebagai seseorang yang ia perlukan untuk menjaga keseimbangan emosionalnya sendiri. Ada saat-saat ia tersenyum tipis, menanyakan kabar kakaknya, bahkan memberikan nasihat pribadi yang jarang ia bagi dengan siapa pun.

Avi mulai merasakan campuran emosi: ketakutan, kekaguman, dan ketertarikan. Ia tahu, ia harus tetap fokus pada tujuan utamanya-kesembuhan kakaknya-tapi perasaan itu sulit diabaikan. Damian bukan hanya pria kaya dan tampan; ia adalah teka-teki yang memikat dan sekaligus menakutkan.

Konflik semakin meningkat ketika seorang pesaing Damian mencoba memasuki lingkaran perusahaan, menggunakan informasi internal untuk keuntungan pribadi. Avi diminta untuk menyusun laporan rahasia, mengatur strategi, dan memastikan bahwa informasi sensitif tidak bocor. Tekanan semakin berat, dan Avi mulai merasa beban yang selama ini ia tanggung semakin menumpuk.

Di malam yang tenang, setelah semua selesai, Avi duduk di balkon apartemen, menatap langit yang gelap. Ia merasa lelah, tapi ada satu hal yang membuatnya terus bertahan: tanggung jawab terhadap kakaknya, dan tekad untuk tidak menyerah, apapun yang terjadi.

Damian muncul di belakangnya, menatap langit yang sama. "Kamu bekerja keras, Avi," katanya singkat. Suaranya tenang, tapi ada ketulusan di dalamnya.

Avi menoleh, menatap pria itu, dan untuk sesaat, dunia terasa berhenti. Tidak ada kekayaan, tidak ada intrik, hanya dua manusia yang berdiri di bawah langit malam, masing-masing membawa beban dan rahasia sendiri.

"Terima kasih, Pak," jawab Avi pelan. "Saya... saya hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar."

Damian tersenyum tipis. "Aku tahu. Dan itu terlihat. Tapi ingat, dunia ini keras. Tidak semua orang akan peduli dengan usahamu. Tetap waspada, dan jangan biarkan siapa pun memanfaatkanmu."

Avi mengangguk. Kata-kata itu menenangkan sekaligus menegangkan. Ia tahu, perjalanan ini baru dimulai. Banyak rintangan menunggu, banyak musuh tersembunyi, dan banyak rahasia yang harus ia hadapi. Tapi satu hal yang tidak berubah: tekadnya. Demi kakaknya, ia akan melakukan apa saja.

Malam itu, Avi tidur dengan campuran perasaan: lelah, takut, tapi juga sedikit bangga. Ia mulai menyadari kekuatan yang tersembunyi dalam dirinya, dan bahwa dunia Damian, seberat apapun, memberinya kesempatan untuk berkembang.

Dan di balik semua itu, satu hal tetap jelas: perjalanan Avi masih panjang, penuh intrik, godaan, dan konflik. Tapi satu hal yang tidak bisa diubah adalah tekadnya untuk menyelamatkan kakaknya, apapun risikonya.

Hari itu, langit kota tampak muram, awan gelap menggantung di ufuk, seakan menandakan hari yang penuh gejolak bagi Avi. Ia berdiri di jendela apartemen mewah, menatap jalanan di bawah dengan perasaan campur aduk-tekanan pekerjaan, tanggung jawab terhadap kakaknya, dan ketegangan yang terus bertambah di dunia Damian Verrell.

Selama beberapa minggu terakhir, hidup Avi berubah drastis. Ia bukan lagi gadis biasa yang hanya mengurus rumah kecil dan menjaga kakaknya yang sakit. Sekarang, setiap langkahnya diawasi, setiap keputusan memiliki dampak luas, dan setiap kata bisa menimbulkan konsekuensi serius. Dunia Damian adalah dunia orang-orang kaya dan berkuasa, penuh intrik, ambisi tersembunyi, dan persaingan yang kejam.

Pagi itu, Selina masuk membawa setumpuk dokumen. "Avi, ada rapat penting hari ini. Klien besar kita mengajukan tuntutan baru, dan Pak Damian ingin semua persiapan selesai sebelum pertemuan," katanya tegas. Tatapannya tajam, menandakan bahwa hari ini akan menjadi ujian besar bagi Avi.

Avi mengangguk, menelan ludah. Ia tahu, tekanan yang akan dihadapinya tidak akan ringan. Setiap detail harus sempurna, setiap langkah harus terencana. Satu kesalahan kecil bisa merusak reputasinya, bahkan bisa mempengaruhi kontrak yang menjadi harapan satu-satunya untuk membiayai kakaknya.

Setelah sarapan cepat, Avi bergegas ke kantor Damian. Mobil meluncur di jalan raya yang padat, dan pikiran Avi dipenuhi strategi yang harus ia susun, dokumen yang harus diperiksa, serta orang-orang yang harus ia hadapi. Dunia Damian memang memikat, tetapi juga penuh bahaya.

Begitu tiba di kantor, suasana langsung terasa tegang. Tim Damian sedang bersiap untuk rapat besar dengan klien penting, dan beberapa wajah tampak tegang. Avi segera mengambil posisi, menyiapkan dokumen, menata laporan keuangan, dan memastikan semua detail akurat.

Rapat dimulai. Damian memimpin dengan sikap tegas, menanyakan laporan terbaru, strategi pemasaran, dan proyek-proyek yang sedang berjalan. Avi duduk di sudut, mencatat setiap kata, setiap keputusan, dan setiap petunjuk yang diberikan Damian. Ia mulai memahami bahwa dunia ini bukan sekadar angka dan laporan; itu adalah medan pertempuran penuh strategi, politik, dan taktik psikologis.

Namun, masalah muncul lebih cepat dari yang ia duga. Seorang pesaing lama perusahaan Damian berhasil masuk ke lingkaran klien, menggunakan informasi internal untuk keuntungan sendiri. Ia membawa data yang tampak sah, tapi disusun untuk menimbulkan kerugian bagi Damian. Avi segera menyadari ancaman itu saat meneliti dokumen dan grafik yang disiapkan.

"Avi, ini berbahaya," Damian berkata serius, matanya menatap tajam ke arahnya. "Aku ingin kamu menyiapkan laporan lengkap, tapi jangan sampai satu pun informasi rahasia bocor. Klien ini bisa menjadi masalah besar jika mereka melihat celah sekecil apa pun."

Avi mengangguk, hatinya berdebar. Tekanan semakin berat. Ia tahu bahwa ini bukan sekadar pekerjaan administratif; ini adalah pertarungan untuk mempertahankan reputasi dan kredibilitas Damian. Setiap langkah harus tepat, setiap keputusan harus cepat.

Ia mulai bekerja. Malam itu, ia tetap di kantor, meneliti data, menyusun laporan, dan memverifikasi setiap angka. Tangannya lelah, matanya perih, tapi tekadnya tetap kuat. Demi kakaknya, ia harus berhasil.

Sementara itu, Damian memantau dari ruang kerjanya, sesekali memberikan arahan singkat. Ia tampak tegas, dingin, tetapi ada rasa percaya yang ia berikan kepada Avi. Tatapannya menyiratkan, "Aku menaruh harapan padamu." Avi merasakan tekanan itu, tapi juga motivasi yang aneh.

Hari-hari berikutnya dipenuhi dengan serangkaian pertemuan, presentasi, dan negosiasi yang melelahkan. Avi mulai menemukan bahwa dunia Damian penuh dengan intrik, tidak hanya dari pesaing luar, tapi juga dari orang-orang di dalam perusahaan. Beberapa anggota tim kadang meremehkannya, beberapa mencoba memanfaatkan posisinya untuk keuntungan pribadi.

Suatu malam, setelah rapat panjang yang menegangkan, Damian memanggil Avi ke ruang pribadinya. Lampu ruangan redup, cahaya dari kota yang menyala di luar memantul di dinding kaca. Damian menatapnya serius.

"Kamu bekerja keras, Avi," katanya singkat. Suaranya dalam, tenang, tapi penuh intensitas. "Tapi dunia ini tidak ramah. Setiap orang punya agenda sendiri. Jangan biarkan siapa pun memanfaatkanmu atau membuatmu ragu pada kemampuanmu sendiri."

Avi mengangguk, menelan ludah. Kata-kata itu menenangkan sekaligus menegangkan. Ia tahu, Damian bukan hanya bos, tapi juga seseorang yang memahami tekanan dan strategi lebih dalam daripada yang bisa ia bayangkan.

Hari-hari selanjutnya membawa konflik baru. Seorang pria bernama Lucas, eksekutif muda yang baru bergabung, mulai menunjukkan sikap merendahkan Avi. Ia mengkritik setiap keputusan, mempertanyakan kemampuan Avi, dan bahkan mencoba mengambil alih tugas-tugasnya. Avi merasa marah dan tersinggung, tapi ia tahu satu hal: ia tidak boleh menunjukkan kelemahan di depan orang-orang yang bisa menjadi ancaman.

Damian memperhatikannya. Dalam beberapa kesempatan, ia menatap Avi dengan intensitas yang membuat jantungnya berdebar. Kadang ada rasa hangat di tatapannya, kadang dingin dan menuntut. Avi belajar membaca pesan-pesan itu, mencoba menyesuaikan diri, dan menjaga jarak emosional.

Selain tekanan dari pekerjaan, konflik batin juga semakin terasa. Avi mulai menyadari ketertarikan yang sulit diabaikan terhadap Damian. Setiap tatapan, setiap kata singkat yang ia ucapkan, setiap kehadiran Damian di dekatnya, membuatnya sulit menahan perasaan. Ia tahu ia tidak boleh menyerah pada emosi itu. Tujuan utamanya tetap kakaknya, tetapi dunia Damian penuh godaan yang sulit dihindari.

Suatu malam, ketika sedang bekerja lembur, Avi menemukan sesuatu yang mencurigakan di salah satu dokumen klien. Ada tanda-tanda manipulasi data yang bisa merugikan perusahaan. Ia segera melaporkannya kepada Damian.

Damian menatap laporan itu sebentar, lalu menatap Avi. "Bagus. Aku tahu aku bisa mempercayaimu," katanya singkat. Kata-kata itu membuat hati Avi hangat, meski ia berusaha menahan perasaan yang mulai tumbuh.

Namun, tidak semua berakhir mulus. Lucas, eksekutif yang merendahkan Avi, mulai membuat langkah agresif. Ia menyebarkan rumor tentang Avi, mencoba merusak kredibilitasnya di depan tim dan klien. Avi merasa terpojok, marah, tapi ia tetap tenang, menggunakan strategi yang ia pelajari dari Damian.

Damian menyadari semua itu. Ia menatap Avi suatu malam saat mereka berada di kantor. "Jangan biarkan orang-orang seperti itu memengaruhi dirimu. Mereka hanya ingin melihatmu gagal. Fokus pada tujuanmu, dan ingat... aku selalu memperhatikan setiap langkahmu."

Avi menelan ludah, mencoba memahami campuran emosi yang ia rasakan: takut, bangga, kagum, dan ketertarikan. Ia tahu bahwa jalan yang ia pilih penuh risiko, tapi tekadnya tetap kuat. Demi kakaknya, ia akan menghadapi apapun, termasuk intrik, tekanan, dan godaan yang terus muncul.

Hari-hari berikutnya semakin menantang. Avi harus menghadapi Lucas secara langsung, mempertahankan posisi dan integritasnya, serta memastikan bahwa semua informasi yang ia kelola tetap aman. Ia belajar menggunakan kecerdasan, ketenangan, dan ketelitian untuk mengatasi setiap rintangan.

Di tengah semua itu, Damian mulai menunjukkan sisi lain yang tidak ia tunjukkan kepada siapa pun. Kadang ia tersenyum tipis saat Avi berhasil, menanyakan kabar kakaknya, dan bahkan memberinya nasihat pribadi. Hubungan mereka semakin kompleks: antara kontrak, ketertarikan, dan rasa saling membutuhkan.

Avi mulai menyadari satu hal: ia telah berubah. Gadis yang dulu takut menghadapi dunia kini lebih kuat, lebih berhati-hati, dan lebih cerdas. Tapi ia juga menyadari risiko yang terus mengintai: setiap langkahnya bisa membawa konsekuensi, dan setiap keputusan bisa memengaruhi bukan hanya dirinya, tapi juga kakaknya.

Malam itu, Avi duduk di balkon apartemen, menatap langit gelap. Lampu kota memantul di jendela, menciptakan bayangan yang aneh. Damian muncul di belakangnya, menatap langit yang sama.

"Kamu melakukan yang terbaik hari ini," katanya singkat. Suaranya hangat, tapi tetap penuh intensitas yang membuat hati Avi berdebar.

Avi menoleh, menatap Damian. "Terima kasih, Pak. Saya... saya hanya ingin memastikan semuanya berjalan lancar."

Damian tersenyum tipis, dan untuk sesaat, dunia terasa berhenti. Tidak ada kekayaan, tidak ada intrik, hanya dua manusia yang berdiri di balkon, masing-masing membawa beban dan rahasia sendiri.

Dan begitu Bab 4 berakhir, satu hal tetap jelas: perjalanan Avi semakin rumit, penuh intrik, godaan, dan konflik. Tapi tekadnya tetap teguh: demi kakaknya, ia akan menghadapi apapun, meskipun dunia Damian Verrell penuh misteri dan bahaya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Dan CEO Nakal
8.8
Seorang mahasiswi cantik sedang menempuh masa magang di sebuah perusahaan ternama yang sangat besar. Namun, rutinitas dan ketenangan hidupnya mendadak berubah total sejak ia bersinggungan dengan seorang pria hidung belang yang memiliki kekuasaan di sana. Akankah sang gadis mampu menghadapi segala tantangan dan dinamika yang muncul akibat pertemuan tersebut? Ikuti terus perjalanan hidup penuh warna dari sang asisten magang dalam menghadapi sang CEO nakal.
Sampul Novel Cintaku Tersesat di CEO Gila
9.5
Ziana Hauwel terjebak dalam obsesi mendalam Andreas Johnson, seorang CEO yang bersumpah tidak akan pernah melepaskannya. Meski merasa tertekan oleh cinta yang posesif, Zia tak mampu membohongi tubuh dan hatinya yang haus akan sentuhan pria itu. Di tengah kegilaan sang miliarder, Zia bergelut dengan batinnya yang perlahan mulai luluh. Akankah hubungan penuh gairah ini berakhir dengan kebahagiaan sejati atau justru kehancuran? Simak kisah romansa dewasa yang intens ini.
Sampul Novel Dalam Pelukan (Sang ) CEO
9.1
Kevin Hadiwajaya, CEO sukses berjuluk monster berwajah malaikat, terobsesi menjadikan asisten pribadinya, Sarah Rania, miliknya seutuhnya. Namun, langkah Kevin terhalang oleh Hansen Rudolf, sahabat kecilnya yang juga mencintai Sarah dengan kelembutan. Di tengah persaingan sengit dua pria ini, Sarah terjebak dalam pertarungan emosi yang memilukan. Akankah ia bertahan dalam pelukan sang bos yang tegas, atau berpaling pada Hansen yang selalu menyapanya dengan kasih?
Sampul Novel Dalam Pelukan Sang Miliarder
9.7
Raissa terancam kehilangan panti jompo tempat tinggalnya akibat rencana penggusuran oleh taipan kejam, Arkhan Alvaro. Demi menyelamatkan tempat itu, Raissa nekat menghadapi sang miliarder yang dingin. Namun, Arkhan justru memberikan penawaran mengejutkan: panti akan selamat jika Raissa bersedia menjadi miliknya sepenuhnya. Terjebak dalam dilema antara pengorbanan dan harga diri, hubungan penuh paksaan ini mulai memicu konflik emosi yang mendalam bagi mereka.
Sampul Novel Gadis Pemuas Tuan Grey
8.9
Demi membiayai pengobatan sang ayah yang sakit keras, Laura berusaha mencari pekerjaan tambahan sebagai pengasuh. Namun, niat tulus itu justru berujung petaka saat ia bertemu Greyson. Pria itu merampas kesuciannya dan memaksanya masuk ke dalam ikatan gelap sebagai pemuas hasrat. Kini, Laura terjebak dalam dilema moral yang menyiksa: apakah ia sanggup bertahan menjadi budak nafsu Grey demi mendapatkan uang yang sangat ia butuhkan untuk ayahnya?
Sampul Novel ISTRI LUMPUH TUAN NATHAN
8.0
Violetta harus menelan kenyataan pahit dalam pernikahannya dengan Nathan. Meski telah memberikan seluruh hatinya, ia menyadari bahwa cinta tulus yang ia harapkan tidak akan pernah terbalas. Nathan tetap menjaga jarak yang tak tertembus, membuat Violetta merasa seperti orang asing yang tak dianggap. Harapan untuk menjadi bagian utuh dari hidup pria itu sirna, meninggalkan luka mendalam bagi Violetta yang terabaikan dalam hubungan yang dingin ini.