
Jangan Rubah Takdirku
Bab 3
Azalea menunduk saat dirinya dimaki, bukan karena dia tidak berani melawan tapi dia sangat memegang teguh ajaran Ibu panti yang melarangnya untuk melawan orang tua.
“Istri pembawa sial! Karena kau, anakku tidak pernah beruntung dalam hidupnya. Sekarang dia hilang di negara bagian, ini pasti karenamu. Awas! Jika sampai terjadi apa-apa kepada putraku, Kau akan ku habisi!” Kata Erlan, ayah mertua Azalea penuh amarah.
“Pergi! Bawa semua kesialan yang melekat pada tubuhmu itu!” Teriak Erlan memekak telinga. Pria paruh baya itu memalingkan wajahnya, enggan melihat wajah menantunya lagi.
Azalea memberanikan diri menatap anggota keluarga tersebut, ayah mertua yang sudah tidak sudi melihatnya, lalu pandangannya beralih ke ibu mertua, Vivian. Wanita paruh baya itu pun hanya diam tanpa kata-kata. Hanya Michelle, adik perempuan Erik yang menatapnya dengan pandangan tak tega.
Erlan kemudian masuk ke dalam rumah sambil menarik tangan istrinya, meninggalkan Azalea yang masih tersungkur di lantai teras rumah.
“Kak.” Suara bergetar Michelle seraya mengulurkan kedua tangannya untuk membantu kakak iparnya.
Belum juga Azalea berhasil meraih tangan Michelle, lagi-lagi suara lantang ayah mertuanya menggetarkan bumi. “Michelle, masuk!”
Michelle tidak punya pilihan, dia meninggalkan Azalea tanpa bisa berbuat apa-apa. Azalea menangis untuk beberapa saat, mengeluarkan semua kesedihan dan rasa tak berdaya karena merindukan suaminya. Pikirannya penuh dengan nasib suaminya yang belum diketahuinya.
Air mata berseluncur indah di wajah cantik Azalea, kenangan itu begitu kuat hingga mampu membuat Azalea menangis parah ketika mengingatnya. Padahal kejadian tersebut sudah berlalu, tepatnya delapan tahun yang lalu.
Azalea memalingkan wajah, lalu menatap langit-langit ruang taksi. Berharap ketika dia mendongak maka air mata yang memenuhi matanya tidak akan tumpah, tapi sia-sia. Usahanya tidak berhasil, air mata tidak dapat dibendung lagi. Azalea pasrah, air matanya semakin deras membasahi parasnya yang cantik meskipun sedang menangis.
Azalea kini memegang dadanya, sesekali mengurutnya karena merasakan nafasnya semakin sesak. Luka dari masa lalunya begitu kuat mempengaruhi emosinya.
Supir taksi yang mengkhawatirkan penumpangnya beberapa kali melihat dari kaca spion. “Anda baik-baik saja?” Tanyanya canggung.
Azalea terdiam beberapa saat, dia masih sibuk menghapus air mata yang sukses merusak make up di wajahnya. “Saya baik-baik saja. Tolong antar saya ke Stasiun.” Kata Azalea dengan suara sedikit parau.
Sopir taksi segera melaksanakan perintah penumpangnya. Beberapa saat kemudian taksi tersebut telah melesat meninggalkan rumah no 2 bercat abu-abu tersebut.
Lima belas menit kemudian, Taksi yang ditumpangi oleh Azalea sampai di stasiun. Sekali lagi sopir taksi tersebut berempati terhadap Azalea yang terlihat begitu sedih.
“Apakah anda baik-baik saja?” pria berpenampilan rapi dan terlihat ramah tersebut membalikkan badan hingga melihat Azalea yang duduk di kursi penumpang belakang.
“Terima kasih untuk perhatiannya. Saya baik-baik saja.” Azalea menjawab seraya mengulurkan beberapa lembar uang sesuai nilai angka digital yang tertera pada dasbor taksi tersebut sebagai biaya perjalanan.
Tidak terkesan ramah tapi tidak juga sombong. Azalea bersikap sewajarnya kepada orang yang tidak dikenalnya. Apalagi dia orang baru di daerah tersebut, baru datang lagi setelah beberapa tahun.
Azalea sudah jauh lebih baik, dia sudah dapat mengontrol emosinya, tapi masih tersisa sedikit kesedihan di wajahnya. Azalea kembali berada di dalam kereta, menempuh satu jam perjalanan menuju kota Krisan. Kembali ke asrama untuk beristirahat.
Dia pikir kembali mengunjungi Kota Tulipa akan baik-baik saja untuknya, dia pikir sekarang bisa lebih kuat setelah apa yang dilaluinya. Ternyata luka itu masih terbuka lebar, bahkan bekas yang semula mulai mengering kembali basah.
Hah, bagaimana Azalea menghadapi keluarga Jhonson? Melihat rumahnya saja sudah membuatnya banjir air mata, luka lama kembali terkoyak dan berdarah. Azalea, mampukah langkahmu bertahan saat menginjak bara api itu lagi? Bagaimana kamu berhadapan dengan ayah mertua?
Azalea pusing memikirkan jawaban dari beberapa pertanyaan yang tiba-tiba muncul di kepalanya itu. Beberapa hari lalu Azalea begitu bersemangat untuk datang lagi ke Kota Tulipa, ingin menunjukkan kepada keluarga Jhonson jika dirinya bisa sukses setelah keluar dari keluarga kejam tersebut.
Bukan, bukan itu tujuan utama Azalea. Sebenarnya dia sangat merindukan Erik disela kebencian dan kekecewaannya terhadap pria yang sangat dicintainya itu. Entah apa yang akan aku lakukan jika bertemu dengan pria itu.
Apakah dia baik-baik saja? Jika benar dia selamat dan baik-baik saja, kenapa dia tidak berusaha mencariku? Atau jangan-jangan Erik telah tiada? Tidak, aku tidak akan sanggup mendengar berita tersebut. Argh! Aku ingin teriak untuk melepas semua kegelisahan ini, tapi aku masih cukup waras untuk menjaga sikap di area tempat umum.
***
Langit sudah berubah gelap, bintang-bintang nampak tercecer di luasnya langit yang hitam. Azalea duduk di dekat jendela, menatap aktivitas yang masih terjadi di bawah sana. Azalea berada di sebuah gedung asrama yang berlokasi tidak jauh dari rumah sakit, mungkin hanya perlu sepuluh menit berjalan kaki menuju Rumah sakit. Bangunan Rumah Sakit terlihat dari jendela asrama yang menjadi tempat tinggal Azalea sekarang.
Ruang kamar yang berukuran empat kali empat meter persegi, masih ada ruang tamu dan dapur kecil di luar ruang kamar. Kamar mandi berada di dalam kamar. Cukup untuk Azalea tinggal selama tiga bulan, bukan hal yang sulit baginya untuk beradaptasi.
Telepon masuk dari Bella, membuyarkan Azalea dari lamunannya. David orang pertama yang menghubunginya saat Azalea melangkahkan kakinya menginjak tanah Kota Krisan untuk pertama kali. Bersyukur ada orang yang begitu menyayanginya, menyelamatkan hidupnya yang dulu begitu kelam setelah mengenal keluarga Jhonson.
“Hai.” Azalea menjawab panggilan telepon Bella tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan kota Krisan di malam hari yang kini ada tepat di hadapannya. Lampu-lampu kota yang bercahaya menerangi kesunyian Azalea malam ini di tempat asing.
“Kenapa lama menjawab panggilanku. Apa kau berusaha mengabaikanku? Telah menemukan sahabat baru yang lebih baik dariku disana? Kau menyakiti hatiku. Aku tidak terima, aku-”
“Sepertinya kau yang lebih membutuhkan teman baru untuk mendengarkan ocehanmu itu.”
“Menyebalkan!”
“Kau yang menyebalkan, sudah jauh pun kau masih suka menceramahiku.” Azalea memprotes sikap Bella.
“Ah, baiklah. Bagaimana kabarmu disana? Segera pulang jika kau merindukanku atau tidak betah tinggal disana. Aku tidak mengerti jalan pikiranmu kali ini, kau sudah memiliki segalanya disini tapi malah dengan sengaja kembali ke tempat yang memberimu banyak luka. Dengarkan aku, lebih baik kau kembali saja, kubur dalam-dalam masa lalumu itu.” Bella mengomel tiada henti.
“Terima kasih untuk perhatianmu, aku baik-baik saja disini. Kau tidak perlu khawatir.”
“Tapi Lea, Aku-”
“Sudah, simpan tenagamu. Kau tahu pasti jika aku sudah mengambil keputusan maka tidak akan ada yang bisa merubah pikiranku.”
Anda Mungkin Juga Suka





