
Jangan rebut suamiku!
Bab 2
Keesokan harinya Arga menemui orang tua Sena, setibanya dirumah Sena Arga langsung memberi salam dan Ibu Sena mempersilahkan Arga untuk masuk.
Arga memulai pembicaraan."Sebelumnya saya mohon maaf karena telah melakukan perbuatan yang merugikan pihak Sena maupun saya, saya datang kemari ingin bertanggung jawab atas semua perbuatan saya. Saya akan menikahi anak ibu" Ucap Arga tegas tidak tampak keraguan diwajahnya, membuat ibu Sena hanya bisa meneteskan airmata,
"Ibu tidak meminta banyak, jika memang ini keputusan kalian ibu akan merestui, tolong bahagiakan Sena" Ibu Sena memegang tangan Arga dengan mata berkaca kaca penuh harap.
"Saya akan berusaha semampu saya" Arga mengelus punggung tangan ibu dan menciumnya. Ibu mengusap lembut rambut Arga. Sena yang melihat itu hanya bisa tersenyum, entah apa makna dibalik senyumnya.
"Maaf dan terima kasih" Ucap Sena lirih ketika mengantar Arga kedepan rumah.
"Maaf untuk apa" Tanya Arga heran.
"Maaf karena telah memaksamu, tapi jujur aku tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan" balas Sena lirih dan menundukan kepalanya.
"Lupakanlah, tugasku hanya menikahimu, ada beberapa hal yang perlu kamu ingat, aku memiliki kekasih dan aku tidak bisa meninggalkannya begitu saja. aku harap kamu mengerti maksudku" Jelas Arga.
Sena tersenyum."Aku mengerti".
"Baiklah, kalau begitu aku kembali ke kantor, istirahatlah" Arga pun meninggalkan rumah Sena.
Setelah bertemu dengan orang tua masing masing, Arga segera bertemu dengan Sema untuk membahas hal hal yang berkaitan dengan pernikahan mereka nanti .
Arga sudah tiba di cafe dimana mereka ingin bertemu, selang berapa lama Sena datang, dia hanya memakai pakaian biasa, Arga tidak masalah akan hal itu, karena itu bukanlah urusannya.
"Jadi ada beberapa hal yang harus kamu pahami, semua tertulis disini, jika setuju kamu bisa menandatangani surat ini diatas materai yang telah kusediakan"Arga menyodorkan sebuah map yang berisi surat perjanjian pernikahan. Arga membuat ini demi kenyamanannya dan Sena.
Surat tersebut berisikan beberapa peraturan yang tidak boleh dilanggar oleh kedua belah pihak.
1. Tidak perlu terlalu ikut campur pada urusan masing masing .
2. Tidak melarang apapun hal yang ingin dilakukan.
3. Tidak menceritakan apapun kepada semua orang
4. Tidak memamerkan hubungan kepada siapapun,kecuali keluarga.
5. Setelah anak lahir, pihak manapun berhak membatalkan pernikahan.
6. Tidak mengganggu orang terdekat dari masing masing pihak.
7. Diharapkan untuk tidak jatuh cinta satu sama lain.
Sena membulatkan matanya , ketika membaca perjanjian yang dibuat oleh Arga, tapi tidak ada pilhan lain, Sena pun menandatangani surat tersebut. Setelah surat perjanjian selesai Arga segera memasukannya kembali di dalam tas.
"Silahkan pergi, aku akan bertemu temanku, kamu harus pergi sebelum dia tiba" Ucap Arga. Sena hanya diam dan beranjak pergi, entah saat ini dia harus berperasaan seperti apa? Senang?sedih? atau bahkan prihatin atas kesialan yang menimpa dirinya secara terus menerus. dia sedikit mengingat dosa apa yang dia perbuat sehingga dia harus merasakan pembalasan yang menyakitkan seperti ini.
Sena terus menyusuri jalan, andai saja waktu itu dia tidak memilih untuk pergi kekota tersebut pasti tidak akan terjadi hal seperti ini, tetapi waktu tidak bisa diputar, sekarang dia hanya perlu memikirkan bagaimana caranya hidup bersama satu atap dengan orang lain yang bahkan tidak mennyukainya, dibanding hari ini, pasti akan lebih banyak hari hari buruk yang terjadi di kemudian hari. Clara harus mempersipakan diri.
....
"APA?! ARGA, GILA GILA! " Nata terperanjat mendengar pengakuan Arga, Arga hanya akan bercerita kepada Nata karena Nata tidak akan menyebarkannya. Arga sangat percaya kepada Nata.
"Aku benar benar tidak tahu, hilang kendali, aku mengadakan pesta malam itu karena aku bertengkar dengan kekasihku, dan ya terjadilah, aku fikir aku sedang bermimpi bertemu kekasihku ternyata itu nyata dan lebih parahnya itu orang lain yang aku tidak kenal" Jelas Arga meremas remas jarinya. dia sangat tidak siap untuk menikah, apa yang harus dia katakan pada kekasihnya, semua tampak berantakan.
"Tenang bro, nanti akan aku bantu jelaskan kepada kekasihmu, aku acungi keberanianmu tanggung jawab" Puji Nata sekaligus kalimat untuk menenangkan Arga agar tidak terlalu terpuruk.
"Jika wanita itu mau diberi uang, aku tidak akan menikahinya Nata!" Tegas Arga.
"Iya aku tahu, tapi mungkin ini jalan terbaik, apa saja yang bisa kubantu untuk acaramu nanti?" Tawar Nata.
" Cukup carikan aku beberapa jas, dan gaun sederhana, aku sudah menentukan tempat yang jauh dari sini untuk melaksanakan pernikahan ini, tolong juga kabari Adnan tapi jangan katakan yang aku ceritakan padamu" Jelas Arga.
"Kapan pernikahanmu akan dilangsungkan?" Tanya Nata lagi.
"Lusa" .
Nata hanya mengangguk menandakan dia paham semua arahan yang diberika Arga, sementara Arga terlihat kosong menatap kearah cangkir kopi yang dia pesan. Arga sedang meikirkan bagaimana bisa dia mengakhiri masa lajangnya bukan dengan orang yang dicintainya, apakah ini jalan terbaik? apakah semua harus diselesaikan dengan pernikahan ini. Perasaaan Arga sangat kusut, dia memikirkan bagaimana perasaan kekasihnya jika mengetahui dia akan menikah? sedangkan Arga sudah menjanjikan pernikahan impian kepada kekasihnya.
Hari pernikahan tiba, Arga hanya diam, melihat wanita mengenakan gaun pengantin disampingnya, harusnya dia melakukan ini dengan kekasihnya dan disaksikan oleh ratusan bahkan ribuan orang. bukannya pernikahan seperti ini.
Sedangkan dari sisi Sena dia sangat sudah siap, dia memang ingin pernikahan yang sesuai impiannya tapi dia bisa menerima hari ini, bahwa mulai detik ini dia sudah memiliki suami, suami yang tidak menyukainya sama sekali.
"Apakah acaranya masih lama?" Tanya Arga kepada Sena.
"1 jam lagi, ada apa? apa kamu ada janji?" Sena melemparkan kembali pertanyaan kepada Arga.
"Tidak, aku bosan! "
Jawaban itu membuat perasaan Sena perih secuil rasa bersalah muncul, apa tidak seharusnya dia memaksa orang bertanggung jawab? tapi dia tidak sanggup jika menanggungnya sendirian.
"Dia datang, jangan bicara apapun padanya!" Arga memberi peringatan keras kepada Sena. Sena hanya mengangguk paham.
"Selamat Arga dan Maaf telah memukulimu waktu itu" Ucap Adnan salah satu teman Arga lebih tepatnya musuh Arga. Arga tidak ingin banyak basa basi dia hanya tersenyum untuk membalas uccpan dari temannya ini.
"Aku iri kamu mendahuluiku, Arga memang sangat pandai merahasiakan kisah asmaranya" Sambung Adnan lagi.
"Diamlah dan nikmati makananmu disana!" Arga menunjuk kearah dimana tersedia makannan, dia tidak sanggup mendengar ocehan ocehan dari Adnan, emosinya sangat gampang terpancing.
" Siapa dia?" Tanya Senaa penasaran
" Apa penting untukmu?" balas Arga ketus, dia sangat malas berada disini, demi melihat Adnan datang dengan pasangannya membuatnya sedikit iri, mengapa ini terjadi padanya, mengapa dia tidak pernah mendapat apapun yang dia mau? mengapa Adnan selalu diberi keberuntungan?.
memikirkan hal hal tersebut membuat Arga merasa frustasi. Kesalahannya menyebabkan dia harus menanggung beban seperti ini seumur hidup, iya seumur hidup.
Acarapun selesai Arga membawa Sena kerumah yang dihadiahkan oleh orang tua Arga. mereka tidur terpisah, Arga menyiapkan kamar khusus untuk Sena. Arga duduk di sofa sembaru memijit pelipisnya dia sungguh tidak terbiasa dengan keadaan seperti ini.
" Apa aku boleh berbicara denganmu? " Sena duduk berhadapan dengan Arga.
Arga hanya diam, dia enggan terlalu basa basi.
"Kamu sudah memberikan beberapa syarat untukku,bolehkah aku meminta satu hal padamu?" Tanya Sena.
" Apa yang kamu inginkan?" Tanya Arga lagi.
" Aku tidak memaksamu untuk menyukaiku atau untuk bersikap baik denganku, tapi aku minta bersikaplah selayaknya seorang ayah untuk anak ini nanti, dia tidak bersalah, aku mohon" Ucap Sena dengan suara bergetar menahan tangisnya.
"Akan aku usahakan" Arga meninggalkan Sena. Selepas kepergian Arga Sena meneteskan Air matanya, dia sangat berharap anak ini kelak akan mendapat sosok seorang ayah. ayah yang menyayangi anaknya. meskipun bukan dia yang disayangi asalkan anaknya kelak mendapatkan hal itu dia sudah sangat senang.
Hari pertama menyandang status sebagai istri Arga bukanlah hal yang menyenangkan, pagi ini Arga sarapan dengan sepotong roti di meja makan lengkap dengan susu digelas, setelah itu Arga langsung pergi. Sena yang melihat itu hanya bisa diam, dia membayangkan jika dia menikah nanti dia akan menyiapkan sarapan untuk suaminya, sarapan bersama dan Sena akan mengantarnya kedepan pintu, sebelum berangkat suaminya akan memberi kecupan hangat di keningnya. Sungguh indah impian Sena.
Kegiatan Sena hanya duduk mengelilingi rumah yang cukup besar milik Arga, Sesuai perjanjian tertulis dan perjanjian secara lisan Sena tidak perlu melakukan apa apa dirumah ini. Sekalipun menyiapkan pakaian untuk Arga.
Waktu sudah menunjukan pukul 19.00 dan Arga baru saja tiba dirumah, Sena hanya bisa melihat Arga yang langsung masuk kekamarnya mengabaikan Sena. Pernikahan macam apa ini, sama sekali bukan pernikahan yang diinginkan.
Arga sedang berada dikamarnya beristirahat seperti biasa, semua sama hanya bedanya kini ada orang lain dalam rumahnya, Arga ingin membiasakan diri. Sedang Asyik bersantai tiba tiba ponsel Arga berdering kencang.
"Ya"
"....."
"Tunggu aku segera kesana"
Arga memutuskan sambungan panggilan dan bergegas keluar, Sena yang berada di ruang tamu terkejut melihat Arga sedang terburu buru.
" Mau pergi?" Tanya Sena mencoba lembut.
"Bukan urusanmu!" Jawab Arga ketus dan langsung meninggalkan Rumah. Sena hanya bisa diam, untuk apa dia mencoba bersikap baik.
Anda Mungkin Juga Suka





