
Jangan Mencintaiku, Paman!
Bab 2
Hide menahan tangan Ayu. “Apa yang kau lakukan?!”
Tapi Ayu justru menepis tangan Hide dan kembali membuka gaunnya. Hide mencoba mencegah, tapi hanya sekali itu dan sisanya hanya memandang Ayu melepaskan gaun tidurnya satu per satu, sampai tak ada lagi yang tersisa.
“Gerah.” Ayu bergumam dalam desahan, lalu kembali berbaring. Hide semakin terpana, menatap tubuh Ayu yang tidak berhenti menggeliat.
Mata Ayu terpejam, tapi tangannya yang aktif terus mengusap tubuhnya, mengusir gerah. Gerakan itu membuat Hide berjarak semakin jauh dengan akal sehat dan kewarasan. Pemandangan yang saat ini tersaji di depannya—Ayu yang yang terus bergerak gelisah, membuat tubuh Hide semakin terasa panas.
Ayu bergeser, meraih tangan Hide yang terduduk di sampingnya, membawa tangan itu untuk menyentuh tubuhnya. “Bergeraklah.” Ayu kembali berbisik dengan suara serak.
“HENTIKAN!” Hide mencoba untuk menegur dirinya sendiri—sekaligus Ayu, agar mereka tidak melewati batas waras itu. Tapi Ayu sudah tidak bisa mendengar maupun berkomunikasi. Tubuhnya yang panas hanya menginginkan pelampiasan.
Ayu menatap Hide dengan mata sayu. “Kaito… Anata…” (Kaito... Suamiku…)
Ayu mendesiskan nama yang muncul dalam benaknya. Tidak menyadari jika pria yang saat ini dirayunya bukanlah Kaito.
Hide yang mendengar nama pria lain tersebut dari mulut Ayu, tersulut. Sejak tadi, Hide mengira Ayu melakukan apa yang dilakukannya saat ini untuk menggodanya. Penyebutan nama laki-laki lain seolah menginjak harga diri Hide. Ia menunduk dan mencengkeram wajah Ayu, untuk membuat Ayu melihatnya lebih jelas.
“Aku bukan Kaito! Lihat baik-baik! Aku Hideki!” bentak Hide.
Tapi Ayu sedang tidak dalam keadaan sadar untuk bisa diajak bicara, sedangkan Hide juga semakin lama semakin tidak bisa menahan nafsunya. Mendekat pada Ayu adalah keputusan buruk, karena sekarang Hide bisa dan mencium aroma tubuhnya. Tubuh Ayu beraroma menyengat, dan membuat kepala Hide terasa semakin ringan. Terutama saat tangan Ayu tanpa ragu merengkuhnya.
“Kai… Hmm…” Ayu kembali menggumamkan nama yang salah, dan itu adalah pemantik.
Hide melumat bibir Ayu yang membuka, melampiaskan amarah sekaligus nafsunya yang tumpang tindih.
Dan Ayu membalasnya. Dia tidak tahu siapa pria yang saat ini berada di atas tubuhnya, dan hanya membalasnya sesuai nafsu keinginan dalam tubuhnya.
“Sebut namaku!” Hide berseru dengan suara serak, menuntut. Sementara tangannya mulai membuka seluruh pakaiannya. Pikirannya sudah benar-benar berkabut, tak lagi jernih dalam menilai. Yang ada dalam pikirannya saat ini hanya Ayu.
“Sebut namaku!” Hide mendesis, lalu kembali melumat bibir Ayu, dan mencium leher serta tubuh Ayu.
“Hide… Hide Oji-san.” (Hide… Paman Hide)
Ayu bergumam dan mendengus puas, saat akhirnya panas dalam tubuhnya mendapatkan pelampiasan. Sentuhan dan juga cumbuan dari Hide, seolah memadamkan bara yang sejak tadi membuatnya resah dan gelisah.
Hide juga sudah tidak teringat lagi dengan usahanya untuk menjaga pikiran sehat dan nafsu. Dia mengempaskan tubuh Ayu, dan terus bergerak sampai gairahnya terpuaskan. Ayu membalas semua itu dengan lenguhan nikmat, sambil mencengkeram tubuh Hide dan memeluknya. Keduanya akhirnya terempas dan tertidur di atas futon yang sama.
***
“AGHHH!”
Teriakan melengking membuat Ayu tersentak dan terbangun. Tapi Ayu belum bisa membuka mata. Ayu mengeluh, karena kepalanya terasa berdenyut dan sakit. Ayu mencoba untuk duduk, meski tubuhnya juga terasa aneh.
“APA YANG KAU LAKUKAN? APA SEDANG KALIAN LAKUKAN DI SINI?!”
Jeritan lain membuat Ayu terpaksa membuka mata. Dan Ayu kebingungan saat melihat Karin berada di depan pintu menatapnya dengan wajah berkaca-kaca. Sementara tangannya menuding ke arah dirinya.
“Bibi? Ada apa?” Ayu menegakkan tubuh dan selimut yang menutupinya turun. Ayu langsung menyadari keanehan karena kulitnya bisa merasakan gerakan selimut itu. Ayu menunduk memeriksa tubuhnya.
“Aghh!” Ayu memekik kecil, kembali menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang telanjang. Kantuknya menghilang, berganti kebingungan.
“Aku menerimamu disini karena kau terlihat mengenaskan! Dan ini balasanmu untukku?!” Jeritan Karin itu membuat Ayu mengernyit, lalu memandang sekitar.
“AGGH!” Jeritan lebih keras terlontar dari mulut Ayu, saat melihat pria yang tidur dan terbaring di sampingnya. Pria itu juga telanjang, hanya tertutup selimut mulai dari pinggang ke bawah.
“Oji-san… Hide Oji-san…” Ayu menggumamkan nama itu dengan pikiran horor memenuhi kepalanya.
Ayu tidak bisa mencerna kemungkinan apa yang terjadi.
“Tidak… Mungkin…” Ayu terbata, dan kembali menolak bayangan yang terbentuk dalam otaknya.Meski situasi ini sudah sangat jelas, Ayu tetap tidak ingin menerima. Tidak mungkin dia baru saja melakukan hal yang tidak terbayang dengan pamannya.
“Kau ternyata memang wanita tidak tahu terima kasih!” Karin kini terlihat sangat marah, sementara tangannya terus menuding ke arah Ayu.
“Tidak heran jika Kaede terus menyebutmu sebagai wanita sial! Sepertinya kau memang pembawa sial! Dasar jalang tidak tahu diuntung!”
Ayu yang tadi masih mencoba untuk menerima kenyataan, merasakan luka dalam hatinya kembali menganga. Kemarin dia pergi ke rumah ini untuk mencari perlindungan dari Kaede---ibu mertuanya. Merasa gembira karena paling tidak ada satu orang di muka bumi ini yang berpihak kepadanya, tapi sekarang Karin menghinanya sama seperti Kaede.
Air mata Ayu kembali mengalir turun. Pikirannya sangat kacau. Bukan hanya memikirkan masalah yang sudah ada kemarin, kini masalah yang lebih mengerikan menunggu di hadapannya. Dengan air mata menggenang, Ayu merapatkan selimutnya, bergeser menjauh dari tubuh Hide, menghampiri Karin.
“Aku… Aku tidak tahu… Sungguh. Aku mohon percayalah. Bibi... Aku… tidak…”
"Tutup mulutmu! Aku tidak ingin mendengar pembelaan dari mulut wanita sampah semacam dirimu!” Karin memaki sekeras mungkin. Sambil mendorong tubuh Ayu, membuatnya terempas di lantai tatami.
Isakan Ayu semakin keras. Dia tidak tahu harus melakukan apa untuk menyakinkan Karin jika semua ini bukan perbuatan yang disengaja. Ayu bahkan tidak ingat bagaimana hal itu terjadi.
“BERHENTI!”
Suara serak dan berat membuat mereka berdua menoleh bersamaan. Terlihat Hide terbangun dan duduk. Keadaan yang sama seperti Ayu, kepalanya terasa berat dan sakit.
“Kenapa kau melakukan ini padaku?!” Karin kini menangis sambil menuding ke arah suaminya, tapi Hide tidak terpengaruh dengan tangisan dan amarah itu. Hide membalas dengan tatapan dingin.
“Diam, dan pergilah dari sini!” bentak Hide.
“Kau…” Karin yang tampak semakin terluka, berlari keluar dari kamar itu.
Hide berpaling pada Ayu yang menelungkup pada tempatnya jatuh, masih sambil terisak. “Yumi…”
Hide memanggil bagian lain dari nama Ayu---Ayumi, dan hanya Hide yang memanggil Ayu dengan nama itu. Hide bergeser mendekati Ayu, mencoba untuk menyentuh pundaknya, tapi Ayu menjauh dan menepis tangan itu.
“Jangan sentuh aku!” Ayu sama sekali tidak ingat apa yang terjadi, tapi apa pun itu, dia tidak ingin kembali disentuh oleh Hide.
Hide mendengus jengkel, karena niat baiknya terhalang. Pria berbadan tegap itu perlahan memijat pangkal hidungnya karena kepalanya semakin nyeri. Gagal menjernihkan pikiran, Hide berdiri, berjalan menuju kamar mandi dengan tubuh polos. Berharap air akan menyegarkan, dan otaknya kembali berfungsi dengan lebih normal.
Ayu yang merasakan mendengar langkah Hide menjauh, menegakkan tubuh dan menyambar baju yang kemarin dia pakai. Secepat kilat, Ayu merapikan diri dan berlari keluar dari kamar itu sambil terus mengusap air matanya. Ayu berlari keluar menuju pintu depan, tapi tangan Karin menghadang.
“Kau kabur begitu saja setelah membuat keributan di rumahku? Setelah kau melakukan perbuatan memalukan seperti itu?!” bentak Karin.
Anda Mungkin Juga Suka





