Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jangan Jatuh Cinta Pada Sugar Daddy

Jangan Jatuh Cinta Pada Sugar Daddy

Terdesak kebutuhan finansial, Anggita yang berusia 20 tahun nekat mendaftar di aplikasi Sugar Baby. Meski sempat diabaikan karena fisiknya, pengacara sukses bernama Devano Abimanyu justru tertarik padanya. Devano bersedia membiayai hidup Anggita dengan syarat ketat: dia memegang kendali penuh, menjanjikan kenikmatan luar biasa, dan melarang Anggita jatuh cinta. Akankah Anggita mampu bertahan tanpa melibatkan perasaan, atau justru terjebak dalam aturan yang sengaja dilanggar?
Bab
Bagikan

Bab 3

Dua hari setelah pertemuannya dengan Devano, Anggita mendapat instruksi untuk pergi ke salah satu rumah sakit di kotanya untuk menemui seorang dokter kandungan yang sudah dipilih oleh Devano.

Anggita menyukai dokter itu. Biasanya, ia memilih dokter wanita untuk membuatnya merasa lebih nyaman, tapi pria itu ramah dan hangat. Sepanjang appointment, Anggita sangat gugup dan jarang berbicara, ia membiarkan dokter yang memimpin percakapan.

Dokter bernama Ferdi itu memeriksa kontrasepsinya, dan tampaknya puas dengan yang ia gunakan, serta memberi tahu bahwa Devano telah menjadwalkan kunjungan rutin untuknya. Jika ada kekhawatiran, ia bisa datang kapanpun juga untuk berkonsultasi.

Beberapa hari ini, Anggita memang merasa seperti sedang berada dalam awang-awang. Sehari setelah pertemuan pertama mereka di kedai kopi, ia mendapatkan pesan dari banknya bahwa ada transaksi masuk ke rekeningnya sejumlah seratus juta rupiah dari Devano.Jumlah yang sangat banyak ia perlu mengedip beberapa kali untuk memastikan ia tidak salah lihat.

Anggita bahkan tidak ingin tahu bagaimana cara pria itu mendapatkan nomor rekeningnya, tapi sejauh ini, semuanya berjalan lancar.

Sekarang, ia hanya tinggal menunggu hasil pemeriksaannya.

Anggita mencoba mengalihkan pikirannya dari kesepakatan yang telah ia buat dengan menyibukkan diri dalam rutinitas hariannya. Pagi hari ia habiskan untuk kuliah, sementara sore hingga malam ia bekerja di kedai kopi.

Namun, sekeras apa pun ia berusaha mengalihkan perhatiannya, pikirannya terus saja kembali kepada pria itu dan pertemuan pertama mereka.

Benar pria itu sangat blak-blakan, yang sebenarnya tidak masalah baginya, tetapi ada sesuatu dari diri Devano yang belum benar-benar terasa pas untuknya. Anggita tidak tahu harus bagaimana menilai Devano, mengingat mereka hanya bertemu selama tidak lebih dari 15 menit ketika itu, dan perasaan itu membuatnya cemas.

Namun, ia juga merasakan getaran gairah itu saat Devano menyentuhnya dan itu membuatnya semakin bingung.

Ia hanya pernah berhubungan badan dengan satu orang sebelum ini. Itu pun juga tidak terlalu mengesankan karena ia merasa kesakitan sepanjang berhubungan badan dan sama sekali tidak menikmatinya.

Beberapa pemuda di kampusnya pernah mengajaknya untuk berkencan, tetapi jujur, ia tidak tertarik. Pendidikan jauh lebih penting baginya, dan jika ia tidak sedang kesulitan uang, tidak mungkin ia melakukan hal ini.

Pekerjaannya sebagai barista di kedai kopi membantu Anggita mengalihkan pikirannya dari Devano.

Menyajikan kopi, muffin, dan sandwich, menjaga pikiran Anggita untuk tetap waras dan ingat siapa dirinya.

Sebenarnya, ia mungkin bisa saja meninggalkan pekerjaan itu dengan uang yang dibayarkan oleh Devano, tapi ia menyukai rutinitasnya. Lagi pula, tidak ada garansi bahwa apa yang dimilikinya dengan Devano akan berlangsung dalam jangka panjang. Bisa saja pria itu berubah pikiran dan semua berakhir bahkan sebelum apapun dimulai.

Pukul tujuh malam saat shift-nya berakhir, Anggita memeriksa ponselnya dan melihat ada pesan yang menunggu.

Di dalam pesan itu ada sebuah alamat dengan kata-kata sederhana: "temui aku di sini".

Itu dari Devano. Anggita melihat pria itu mengirim pesan setengah jam yang lalu.

Sialan. Bukankah pria itu secara spesifik mengatakan agar ia langsung datang begitu dipanggil?

Sialan, sialan, sialan!

Ia mengutuki dirinya sendiri karena tidak memeriksa ponsel lebih awal.

Dengan tergesa-gesa, Anggita membereskan barang-barangnya dan berlari keluar dari kedai kopi.

Alamat yang diberikan oleh Devano cukup jauh, jadi Anggita memutuskan untuk memanggil taksi agar Devano tidak menunggu lebih lama lagi.

"Gas ya, pak," Anggita memberitahu sopir taksi begitu memberitahu alamat yang dituju. "Secepat yang bapak bisa."

"Siap, non."

Begitu mobil meluncur, Anggita mengirim pesan balik ke Devano.

Anggita: [Aku sudah di taksi dan dalam perjalanan, om. Tunggu sebentar ya.]

Anggita hanya berharap Devano bersedia menunggu dan tidak meninggalkannya begitu saja.

Dua puluh menit meliuk melewati jalanan yang ramai, ia tiba di alamat yang diberikan Devano. Sebuah gedung apartemen besar dengan puluhan lantai menjulang di atasnya. Di pintu depan lobby, ia melihat Devano sudah menunggu. Pria itu melangkah ke arahnya, membayar sopir sebelum membukakan pintu untuknya.

"Ikuti aku," perintah Devano singkat begitu Anggita turun.

Tak satu pun dari mereka berbicara saat Devano mengantarnya masuk ke dalam gedung. Pria itu mengangguk kepada petugas sekuriti yang menjaga pintu utama sebelum membawa Anggita masuk ke dalam lift.

Anggita tidak bisa menahan diri untuk tidak mencuri pandang ke arah pria itu. Rahang tegas. Dagu belah. Bibir tebal yang rapat. Untungnya pria itu tidak terlihat terlalu marah.

Anggita sedikit menghela napas sebelum kembali melirik.

Rambut Devano yang hitam tersisir rapi ke belakang. Pria itu juga mengenakan pakaian jas yang terlihat licin dan mahal. Kematangan penampilan pria itu membuat Anggita tidak bisa berhenti melirik sambil bertanya-tanya apakah ia melewatkan sesuatu yang baru dari terakhir ia melihat pria itu.

Pria itu memiliki telapak tangan lebar yang kini membuat Anggita ingat akan mitos yang mengatakan bahwa ukuran tangan sebanding dengan ukuran...

Anggita langsung mengalihkan pandangannya. Semua ini membuatnya gugup, terutama karena ia tahu apa yang akan terjadi.

Ia kehilangan keperawanannya di dalam mobil bobrok mantan pacarnya setelah pesta prom kelulusan SMA. Anggita menyesalinya begitu ia sadar bahwa pria itu hanya menginginkan satu hal darinya. Keesokan harinya, ia mendapati SMS dari mantan kekasihnya itu mengatakan bahwa mereka tidak cocok dan ingin putus.

Itulah satu-satunya hubungan seksual yang pernah ia miliki. Melompat dari itu menjadi sugar baby seorang pria matang kaya raya sepertinya bukanlah sesuatu yang masuk akal atau nyata.

"Bagaimana harimu?"

Suara Devano yang dalam membuat Anggita gemetaran dengan cara yang mengejutkan.

"B-baik, om," Anggita menjawab singkat.

Pintu lift terbuka dengan suara 'ping' dan Devano berjalan keluar. Anggita mengikuti. Mereka menyusuri koridor panjang apartemen menuju sebuah kamar yang ada di paling ujung.

"Uhm... Maaf tadi aku lama merespons," Anggita melanjutkan ketika Devano mengeluarkan sebuah kunci yang digunakannya untuk membuka pintu. "Bukannya bermaksud mengabaikan, aku hanya sedang bekerja."

"Oh, di mana kau bekerja?" pria itu bertanya sambil mempersilahkan mereka masuk ke dalam apartemen.

Devano menyalakan lampu, lalu menutup pintu di belakang mereka.

Anggita mengedarkan pandangannya sambil memegang erat tali tas yang ada di pundak.

"Di kedai kopi tempat kita pertama bertemu," ia menjawab sebelum menoleh balik ke arah Devano. "Aku tidak membawa ponsel saat bekerja, jadi aku baru melihat pesan Om setelah selesai. Oh... Aku juga sudah pergi ke dokter seperti yang Om minta. Dokter Ferdi mengatakan bahwa hasil tesku akan selesai dalam tiga sampai lima hari. Ia juga memintaku untuk melakukan pemeriksaan rutin."

"Ya, aku akan lebih tenang mengetahui bahwa kondisimu baik-baik saja."

Pria itu mengambil sebuah berkas dari meja kecil yang kemudian diserahkannya pada Anggita.

"Apa ini?" Anggita bertanya sambil meraih berkas itu dari tangan Devano.

"Hasil pemeriksaan medismu," Devano menjawab sambil meletakkan satu tangannya ke dalam saku. Sesuatu yang hanya menambahkan kesan misterius yang memang mengelilingi pria itu sejak awal.

"Sudah selesai?" Anggita bertanya kaget.

"Aku membayar lebih supaya mendapatkannya secepat mungkin."

Anggita membaca berkasnya dan bisa merasakan perutnya teraduk ketika membaca bahwa dokter menyarankannya untuk menurunkan berat badan.

Bukan pertama kalinya seseorang mengatakan hal itu sebenarnya. Orang tuanya kerap mengomentari berat badannya, begitu pula dengan beberapa teman sekolahnya. Ia memang adalah wanita berbadan besar dengan tulang besar. Tidak peduli seberapa banyak ia berolahraga, ia tidak pernah menjadi kurus seperti wanita-wanita sosmed yang sering sliwerap di halaman fyp-nya. Ia sudah menerima keadaannya sejak lama. Hanya sekarang melihatnya di atas kertas di depan pria yang membayar mahal untuk tubuhnya, ia merasa benar-benar malu.

"Jangan peduli akan saran dokter itu," Devano berkata seakan melihat apa yang sedang dibaca oleh Anggita. "Aku kebetulan menyukaimu apa adanya, dan semua yang ada di sini terlihat bagus."

Pria itu kemudian mengeluarkan berkas lain dan menyerahkannya pada Anggita. "Ini milikku jika kau ingin memeriksa."

Anggita menerima berkas yang diberikan pria itu dan membukanya sebelum mulai membaca.

Nama: Devano Abimanyu

Usia: 40 tahun

Tinggi: 190cm

Berat badan: 78kg

Dokter menggambarkan pria itu dalam kondisi prima dengan semua hasil tes darah yang kembali normal.

Mengapa tidak mengejutkan. Devano memang terlihat seperti pria yang menjaga kesehatannya.

"Kamu pakai kontrasepsi, dan itu bagus." Devano melanjutkan sambil tersenyum. "Aku sudah membaca semua ini, dan siap untuk memulai."

"Erm... sebelumnya, aku ingin memberitahu bahwa aku mungkin tidak bisa selalu datang setiap Om memanggil," Anggita berkata. "Seperti yang Om tahu, aku masih kuliah, dan aku juga bekerja part time di kedai kopi. Meski aku serius ingin melakukan perjanjian ini, tapi aku tetap ingin menjadikan pendidikan dan pekerjaanku prioritas utama."

Devano mengangguk. "Aku paham. Kau bisa memberiku jadwal harianmu. Kelas yang kau ambil, kapan kau bekerja dan aku akan menemukan pengaturan yang cocok untuk kita berdua. Lagi pula, aku tidak akan menghabiskan waktumu dengan mengajakmu untuk makan malam atau nonton bioskop. Ini bukan kencan seperti itu."

Anggita mengangguk. "Hanya seks. Ya. Aku tahu."

"Tepat sekali."

Anggita berdiri diam saat Devano mendekatinya. Pria itu meraih wajahnya dan menaikkan kepalanya ke atas.

"Meski tidak ada dari perjanjian kita yang bisa dibilang romantis," Devano berkata dengan suara yang lebih lembut. "Tapi aku juga bukan tanpa perasaan, Anggita. Aku akan memastikan kau menikmati perjanjian ini selama kau menuruti perintaku. Apakah kau sudah menghapus profilmu dari Luxy?"

"Sudah, Om."

"Bagus."

Anggita tidak sempat berkata apa-apa lagi saat Devano membanting bibirnya ke miliknya. Semua pikiran lenyap begitu kenikmatan dari ciuman itu menguasainya. Meraih bahu Devano, Anggita menutup mata dan membiarkan pria itu memperdalam ciumannya.

Salah satu tangan Devano bergerak dari pipinya ke rambutnya, menggenggam bagian belakang kepalanya dan mendorong tubuhnya ke belakang sehingga ia terhimpit di dinding.

Dengan tangan lainnya, pria itu meraih tangannya dan menekannya ke dinding, membuatnya tetap di sana.

Anggita bisa merasakan kekakuan pria itu menempel di perutnya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Anggita merasa sedikit lebih kecil dibandingkan semua orang.

"Hm... kau terasa sangat lembut, baby," pria itu menggeram rendah ke dalam mulut Anggita. "Tidak ada yang boleh tahu tentang peraturan kita, setuju?"

"Ya," Anggita membalas dalam ciumannya. "Aku tidak akan bilang ke siapa pun. Aku janji."

Devano melepaskan ciumannya dan melangkah mundur sebelum mulai melepaskan kemejanya sendiri.

"Buka bajumu," pria itu memerintah.

Tahu bahwa ia ada di sini untuk seks, Anggita tidak membantah dan mulai melucuti kemeja yang ia kenakan.

Cahaya ruangan yang menyala terang membuatnya melihat semua dengan jelas. Terakhir kali ia berhubungan seks, kegelapan menyelimuti semuanya dan ia tidak bisa melihat banyak.

Menggigit bibirnya, Anggita mengabaikan rasa gugupnya ketika menggeliat keluar dari celana jeans yang dikenakannya.

"Urai rambutmu," Devano melanjutkan.

Anggita meraih ke belakang dan menarik karet rambutnya, melepas ikat rambut yang ia kenakan sebelum membiarkan rambutnya jatuh ke sekeliling tubuhnya.

Ia masih mengenakan pakaian dalam, tapi Bra dan celana dalam hitamnya tidak benar-benar menutupi apa pun. Dia benar-benar dipertontonkan untuk Devano melihat setiap senti dari tubuhnya yang montok.

Meremas tangannya sendiri, Anggita menunggu. Devano berdiri setengah telanjang di depannya. Setelan pakaiannya terlipat rapi di kursi. Tatapan Anggita tanpa sadar jatuh pada celana boxer hitam Devano. Siluet dari benda itu mengejutkannya. Tidak hanya keras, tapi juga panjang dan tebal.

"Suka dengan yang kau lihat?"

Pertanyaan Devano mengejutkan Anggita. Ia buru-buru mengangkat pandangannya naik dan mendapati Devano sedang menatap ke arahnya dengan tatapan terhibur.

"S-sorry, Om," Anggita menggumam dengan wajah panas.

"Jangan minta maaf," Devano membalas sambil berjalan mendekat. "Kamu bisa melihatnya, karena percayalah, darling, aku juga melihatmu."

Pria itu meraih pinggul Anggita dan menariknya lebih dekat. Anggita menarik napas tajam untuk menenangkan dirinya sendiri.

"Kamu harus rileks, sayang," Devano berbisik. "Kita tidak terburu-buru."

"R-rileks...i-iya, Om," Anggita mengangguk. Ia bisa merasakan suaranya gemetaran. "Itu sebabnya kita ada di sini malam ini, kan? Untuk berhubungan seks."

"Benar," pria itu menjawab sambil menarik bibirnya ke atas membentuk sebuah senyuman paling seksi yang pernah dilihat Anggita. "Tapi aku juga percaya bahwa seks yang paling nikmat adalah yang dilakukan dan dinikmati oleh kedua belah pihak."

Pria itu mengusap pinggul Anggita, dan betapa Anggita berharap ia tidak terlalu terlihat gemetaran.

Anggita tahu ia harus mengendalikan perasaannya. Devano mungkin adalah pria yang baik dan terlihat menyukai tubuhnya, tapi tidak ada yang mengatakan bahwa pria itu tidak mungkin berubah pikiran ketika melihatnya gelagapan dan menggigil seperti kucing yang kedinginan.

Rileks, Anggita, ia berusaha memberi tahu dirinya sendiri. Semua akan berjalan baik-baik saja.

***

***

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Berlian yang Tersamarkan
9.3
Dahulu pewaris manja, Evelyn jatuh miskin setelah dijebak putri asli dan diusir orang tua angkatnya. Namun, ia bangkit dengan mengungkap identitas rahasianya sebagai peretas, desainer, dan dokter jenius. Saat orang tua angkatnya menuntut hartanya, Evelyn menolak dengan tegas. Ia pun mencemooh mantan tunangannya yang memohon kembali. Di tengah kemenangannya, seorang pria berkuasa datang melamar, menawarkan masa depan baru yang tak terduga bagi sang berlian.
Sampul Novel Calon Istri Tuan Muda Dingin
8.9
Althafandra Alatas menolak menikah demi menunggu kekasihnya, meski ditekan keluarga untuk segera memiliki pewaris. Tanpa diduga, ibu dan neneknya menjodohkan Fandra dengan Vivana Rosiana berdasarkan wasiat kakeknya. Vivana terpaksa tinggal di mansion Alatas meski ditentang keras. Namun, saat perasaan Fandra mulai tumbuh untuk Vivana, kekasih lamanya kembali muncul. Kini ia terjebak antara kesetiaan masa lalu dan cinta baru, sementara rahasia janji Vivana perlahan terungkap.
Sampul Novel Cinta Terhalang Ukuran
9.4
Dhipta Wisnu Pratama tampak memiliki segalanya sebagai pewaris kaya raya dengan wajah tampan. Namun, di balik kemewahannya, ia menyimpan kekurangan fisik yang membuatnya ragu akan ketulusan cinta. Tantangan terbesarnya muncul saat ia jatuh hati pada Anandhila Prameswary, seorang aktris dan model papan atas yang mempesona. Mampukah Dhipta memenangkan hati Dhila dan meyakinkannya untuk menikah meski ia tidak sempurna? Inilah perjuangan Dhipta mengejar cinta sejati.
Sampul Novel Gairah Ranjang CEO Kejam
9.2
Alice Morrigan terpaksa menggantikan posisi kakak kembarnya, Berenice, yang menghilang saat pernikahan dengan Nicholas Chevalier. Sebagai istri pengganti, Alice diperlakukan layaknya pelayan oleh Nicholas yang kejam. Ia kerap menerima kekerasan fisik dan cambukan menyakitkan saat berhubungan intim. Nicholas yang posesif terus mengekang tubuh serta kebebasan Alice tanpa ampun. Di tengah penderitaan ini, mampukah Alice bertahan atau justru berhasil melarikan diri?
Sampul Novel Masa Puber Naldo
9.4
Naldo, putra konglomerat yang kesepian, tumbuh dewasa tanpa kasih sayang ibu. Meski ayahnya, Tuan Anggoro, sangat baik, kesibukan bisnis membuatnya jarang di rumah. Naldo hanya memiliki asisten rumah tangga yang merawatnya sejak bayi. Saat diminta memilih ibu baru, Naldo teringat sosok wanita misterius yang terus muncul dalam mimpinya. Ketika akhirnya bertemu wanita itu di dunia nyata, Naldo bertekad mengejar cintanya meski perbedaan usia menghalangi mereka.
Sampul Novel Perjanjian Cinta
8.2
Mila Prameswari terpaksa masuk ke dunia Rafin Adi Wijaya setelah pamannya menjualnya seharga lima ratus juta. Sang pengusaha kaya itu kemudian mengajukan kontrak pernikahan demi menguasai perusahaan. Syaratnya, Mila harus melahirkan pewaris laki-laki untuknya. Sebagai imbalan, Rafin berjanji akan melacak ayah Mila yang sudah lama hilang. Mampukah Mila menjaga hatinya di tengah ambisi Rafin? Akankah misi pencarian sang ayah berujung sesuai harapan mereka?