Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jangan Cintai Bosmu!

Jangan Cintai Bosmu!

Naura, staf pemasaran di Jakarta, terlibat masalah setelah menumpahkan iced latte ke jas Arga Narendra Wijaya. Ternyata, pria arogan itu adalah CEO barunya. Arga yang tersinggung mulai menekan Naura, bahkan memaksanya mencuci jas tersebut sebagai bentuk dominasi. Namun, Naura tidak tinggal diam. Di balik perseteruan ego ini, tersimpan rahasia masa lalu Arga yang kelam. Kini Naura terjebak antara mempertahankan harga diri atau mengungkap kebenaran di balik sosok bosnya.
Bab
Bagikan

Bab 3

Naura menatap Arga, matanya bergetar antara amarah dan keputusasaan. Ancaman Arga menggema di telinganya: "Jika kamu tidak mau menjadi sekretaris saya, maka silakan... keluar dari perusahaan ini. Sekarang juga." Pilihan yang Arga berikan sungguh kejam. Dipecat atau menjadi sekretarisnya, menjadi boneka yang akan ia permainkan sesuka hati. Naura tahu ia tidak punya pilihan. Pekerjaan ini adalah segalanya baginya. Ia menelan ludah, berusaha mengendalikan emosinya yang siap meledak.

"Baik!" Naura akhirnya menyerah, suaranya terdengar tercekat. "Saya akan jadi sekretaris Bapak! Tapi jangan pikir Bapak bisa memperlakukan saya seenaknya!"

Arga tersenyum tipis, senyuman yang Naura tafsirkan sebagai kemenangan. "Bagus. Saya tahu kamu akan membuat keputusan yang tepat. Sekarang, ada satu hal lagi." Arga melangkah mundur, mengambil jarak dari Naura, lalu menunjuk jasnya yang masih dipegang Naura. "Itu tanggung jawab kamu. Pastikan jas itu bersih sebelum besok pagi."

Naura mendengus kesal. Ia membuang muka, tak ingin menatap wajah Arga lebih lama. "Saya tahu!"

"Bagus kalau begitu," kata Arga. Ia kembali ke mejanya, membuka laptop, dan kembali mengetik seolah tidak terjadi apa-apa. "Kamu bisa mulai besok. Hari ini, saya akan meminta Luna untuk melatih kamu."

Naura menatap Arga tak percaya. Dilatih oleh Luna? Wanita yang tadi pagi jelas-jelas mencoba menggoda Arga? Ini pasti bagian dari rencana Arga untuk menyiksanya. Naura ingin protes, tapi ia tahu itu tidak ada gunanya. Ia sudah terperangkap. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Naura membalikkan badan dan berjalan keluar dari ruangan Arga, jas mahal itu ia peluk erat seolah itu adalah bom waktu yang siap meledak.

Naura kembali ke mejanya di lantai dua belas dengan langkah gontai. Sekar langsung menyambutnya dengan tatapan cemas.

"Bagaimana, Naura? Kamu baik-baik saja?" tanya Sekar, melihat wajah Naura yang masih terlihat tegang. "Kamu ngapain saja di ruangan Pak Arga? Kok lama sekali?"

Naura meletakkan jas Arga di kursinya, lalu menjatuhkan diri ke kursi kerjanya. Ia menceritakan semua yang terjadi, mulai dari ancaman Arga hingga perintah untuk dilatih oleh Luna. Sekar mendengarkan dengan mulut ternganga.

"Ya ampun, Naura! Gila itu Pak Arga! Masa kamu disuruh jadi sekretarisnya? Padahal kamu kepala tim keuangan, kan?" Sekar menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya. "Dan dilatih sama Luna? Pasti dia sengaja ingin membuat kamu menderita. Luna itu kan naksir berat sama Pak Arga, Naura!"

"Makanya! Aku tahu ini pasti pembalasan dendam!" keluh Naura, menyandarkan kepalanya di meja. "Aku benci dia, Kar! Aku benci sekali!"

"Sabar, Naura, sabar," Sekar menepuk bahu Naura. "Tapi... kalau kamu dipindahkan, berarti kita tidak satu departemen lagi dong?" Sekar terlihat sedikit sedih.

Naura menghela napas. "Begitulah. Aku tidak tahu harus bagaimana lagi. Aku tidak mau kehilangan pekerjaan ini, Kar."

Tiba-tiba, telepon meja Naura berdering. Ia mengangkatnya. "Halo?"

"Naura Fitriani?" sebuah suara bernada tinggi bertanya dari seberang. "Ini Luna. Bapak Arga ingin kamu segera datang ke ruangan saya sekarang. Saya akan melatih kamu."

Naura mendengus. "Baik, saya segera ke sana." Ia meletakkan gagang telepon. "Tuh kan, baru juga dibilang. Sudah dipanggil lagi," gerutu Naura pada Sekar. "Doakan aku kuat menghadapi iblis itu ya, Kar."

Sekar tersenyum miris. "Semangat, Naura! Kamu pasti bisa!"

Dengan langkah berat, Naura berjalan menuju ruangan Luna yang berada di lantai eksekutif, tidak jauh dari ruangan Arga. Begitu sampai, ia mengetuk pintu dan masuk setelah dipersilakan. Luna duduk di mejanya, dengan kaki menyilang dan senyuman sinis di bibirnya.

"Duduk," perintah Luna tanpa menatap Naura. Ia sibuk memainkan pulpen di tangannya.

Naura duduk di kursi di hadapan meja Luna.

"Jadi, kamu yang akan menggantikan posisiku?" Luna mendongak, menatap Naura dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tatapannya merendahkan. "Heh, kamu tahu tidak, siapa saya?"

Naura mengerutkan kening. "Saya tahu, Anda sekretaris Pak Arga."

"Bukan hanya itu!" Luna tertawa sinis. "Saya ini sudah lama mengabdi pada keluarga Wijaya. Dan saya yang paling mengerti apa yang Pak Arga inginkan. Kenapa tiba-tiba dia memilih kamu yang tidak punya pengalaman sebagai sekretaris?"

Naura diam saja. Ia tahu Luna sedang mencoba memprovokasinya.

"Pasti karena kamu sudah menggodanya, kan?" tuduh Luna, matanya menyipit. "Dasar murahan!"

Amarah Naura kembali memuncak. "Jaga ucapan Anda, Luna! Saya tidak pernah menggoda siapapun! Saya dipindahkan karena Bapak Arga yang menginginkannya!"

"Halah, alasan saja! Saya tahu kamu pasti merayu Pak Arga, iya kan?!" Luna membanting pulpennya ke meja. "Dengar ya, gadis kampung. Kamu pikir kamu bisa mendapatkan hati Pak Arga? Jangan mimpi! Dia itu incaran saya! Dan saya tidak akan membiarkan wanita sepertimu merebutnya!"

Naura tersenyum kecut. "Silakan saja. Saya tidak tertarik dengan atasan yang sombong dan menyebalkan seperti Pak Arga."

Luna terkejut mendengar ucapan Naura. "Berani sekali kamu bicara begitu tentang Pak Arga! Dia itu pewaris perusahaan ini!"

"Lalu kenapa?" tantang Naura. "Saya tidak peduli. Saya hanya ingin bekerja dengan tenang."

"Cih, omong kosong!" Luna bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Naura. "Dengar ya, selama kamu jadi sekretaris Pak Arga, kamu harus patuh pada semua perintahku! Kalau tidak, saya akan pastikan kamu tidak betah di sini!"

Luna mulai menjelaskan tugas-tugas seorang sekretaris, namun dengan nada yang merendahkan dan penuh ancaman. Ia sengaja menjelaskan hal-hal yang rumit dan tidak relevan, seolah ingin membuat Naura merasa bodoh. Naura berusaha mencatat semua yang Luna katakan, meskipun ia tahu Luna sengaja menyulitkannya. Ia harus kuat. Ini baru permulaan.

Malam harinya, Naura tiba di rumahnya yang sederhana. Setelah makan malam, ia langsung menuju kamar, mengambil jas Arga yang ia letakkan di kursi. Jas itu memang mahal, Naura bisa merasakannya dari bahan kainnya yang lembut. Noda kopi dan susu masih terlihat jelas.

"Sialan Arga! Merepotkan saja!" gerutu Naura sambil membolak-balik jas itu. Ia tidak tahu bagaimana cara mencuci jas semahal ini. Ia takut merusaknya. Naura akhirnya memutuskan untuk membawa jas itu ke laundry khusus besok pagi sebelum berangkat kerja. Ia tidak mau ambil risiko.

Naura mencoba untuk tidur, namun matanya tidak mau terpejam. Pikirannya terus berputar pada kejadian hari ini. Dari pertengkarannya dengan Arga di koridor, di aula, hingga perdebatan sengit di ruangan Arga. Ia juga memikirkan Luna yang jelas-jelas membencinya. Naura merasa sangat lelah, bukan hanya fisik, tapi juga mental. Ia khawatir dengan hari-hari ke depan. Bisakah ia bertahan di bawah tekanan Arga dan Luna?

Pagi harinya, Naura bangun lebih awal dari biasanya. Ia segera membawa jas Arga ke laundry khusus yang ia cari di internet semalam. Untungnya, tempat itu buka pagi-pagi sekali. Naura menjelaskan kronologi noda pada jas itu, dan petugas laundry berjanji akan mengerjakannya secepat mungkin. Naura harus menunggu sekitar dua jam hingga jas itu benar-benar bersih dan rapi. Ia terpaksa menelepon Sekar untuk meminta bantuan fingerprint agar ia tidak dianggap terlambat.

Setelah mengambil jas, Naura buru-buru menuju kantor. Ia sampai tepat waktu, meskipun dengan napas terengah-engah. Jas Arga yang sudah bersih dan rapi ia bawa dengan hati-hati.

Ketika ia tiba di lantai eksekutif, Luna sudah menunggunya di depan pintu ruangan Arga. Wajahnya menunjukkan ekspresi tidak sabar.

"Lambat sekali!" ketus Luna. "Cepat masuk! Pak Arga sudah menunggu!"

Naura tidak menjawab. Ia langsung masuk ke ruangan Arga. Arga sedang duduk di kursinya, membaca beberapa dokumen. Ia mendongak saat Naura masuk.

"Pagi, Pak," sapa Naura datar. Ia meletakkan jas Arga yang sudah bersih di atas mejanya. "Jas Bapak sudah saya cuci."

Arga melirik jas itu, lalu mengangguk. "Bagus. Mulai sekarang, kamu bisa mulai bekerja."

Naura menghela napas. "Baik, Pak. Apa yang harus saya lakukan?"

"Duduk di sana," Arga menunjuk meja sekretaris yang berhadapan langsung dengan mejanya. Meja itu dulunya milik Luna. "Luna akan memberikan daftar pekerjaan kamu."

Luna masuk, membawa setumpuk map dan beberapa instruksi. Ia menatap Naura dengan tatapan meremehkan.

"Ini semua pekerjaan yang harus kamu lakukan," Luna berkata dengan nada arogan. "Jangan harap kamu bisa bersantai. Pak Arga sangat disiplin dan tidak suka ditunda-tunda."

Naura membaca daftar itu. Tugas-tugasnya sangat banyak, mulai dari mengatur jadwal Arga, membalas email, mengatur pertemuan, hingga menyiapkan presentasi. Belum lagi urusan personal Arga yang Luna selipkan di antara tumpukan dokumen. Naura merasa kepalanya pusing. Ia biasa bekerja dengan angka dan laporan keuangan, bukan mengatur jadwal orang.

"Ini... ini terlalu banyak!" protes Naura. "Saya tidak bisa mengerjakan semuanya sendiri!"

Luna tertawa sinis. "Itu urusan kamu! Kalau tidak bisa, ya jangan jadi sekretaris Pak Arga!" Ia melirik Arga yang hanya diam saja, seolah menikmati penderitaan Naura. "Saya akan pergi ke divisi lain. Kalau ada apa-apa, jangan panggil saya lagi! Urus saja pekerjaanmu sendiri!"

Luna pun pergi, meninggalkan Naura sendirian di ruangan Arga dengan setumpuk pekerjaan. Naura merasa sangat kesal. Ia tahu ini adalah bagian dari rencana Luna untuk menyulitkannya.

Arga yang melihat Naura masih terpaku, berdeham. "Ada masalah, Naura?"

Naura mendongak, menatap Arga dengan tatapan marah. "Ini terlalu banyak pekerjaan, Pak! Saya tidak mungkin bisa mengerjakannya sendirian!"

"Itu sudah menjadi tanggung jawab seorang sekretaris," Arga menjawab tenang. "Kalau kamu tidak sanggup, kamu tahu apa konsekuensinya."

Ancaman itu lagi. Naura mengepalkan tangannya di bawah meja. Ia harus bertahan. Ia harus membuktikan pada Arga bahwa ia tidak selemah itu.

"Baik, Pak!" Naura berkata, suaranya mengandung tekad. "Saya akan mengerjakannya!"

Sepanjang hari itu, Naura berusaha keras mengerjakan semua tugas yang diberikan. Ia mencoba memahami sistem kerja seorang sekretaris, meskipun ia sama sekali tidak punya pengalaman. Ia harus menelepon banyak pihak, mengatur jadwal Arga yang sangat padat, dan mempelajari semua dokumen penting perusahaan. Berkali-kali ia melakukan kesalahan, dan setiap kali itu terjadi, Arga akan mengomentarinya dengan nada datar, namun menusuk.

"Naura, kamu seharusnya sudah tahu ini," Arga akan berkata jika Naura bertanya tentang sesuatu yang menurutnya dasar. "Seorang sekretaris harus proaktif, bukan menunggu instruksi."

Atau, "Naura, ini salah. Jadwal ini tidak bisa begini. Ubah lagi."

Naura hanya bisa menahan diri. Ia ingin sekali membantah, tapi ia tahu itu akan memperburuk keadaan. Ia harus menunjukkan bahwa ia mampu. Ia harus membuktikan bahwa Arga salah menilainya.

Di jam makan siang, Naura tidak sempat turun ke kantin. Ia makan bekalnya di meja, sambil terus memeriksa email dan jadwal Arga. Ia bahkan tidak punya waktu untuk mengobrol dengan Sekar yang beberapa kali meneleponnya.

Ketika sore tiba, kepala Naura sudah berdenyut. Ia merasa sangat lelah. Pekerjaan ini jauh lebih berat daripada yang ia bayangkan. Laptop di hadapannya masih menunjukkan beberapa task yang belum selesai.

Arga mendongak dari laptopnya. "Sudah selesai?"

Naura menggeleng. "Belum, Pak. Masih ada beberapa yang harus saya selesaikan."

"Baik. Kalau begitu, kamu bisa lembur," kata Arga santai. "Saya akan pulang dulu. Jangan lupa kunci ruangan saya setelah kamu selesai."

Arga berdiri, mengambil tas kerjanya, dan berjalan keluar ruangan tanpa menunggu jawaban Naura. Naura menatap punggung Arga yang menghilang di balik pintu. Ia merasa seperti robot.

"Lembur?!" gumam Naura kesal. "Ini benar-benar penyiksaan!"

Naura terpaksa melanjutkan pekerjaannya. Ruangan Arga kini terasa begitu sepi, hanya ditemani suara ketikan keyboard dan sesekali suara Naura yang mendesah frustasi. Ia merasa sangat kesepian dan tertekan. Apakah ia bisa bertahan? Apakah ia akan kuat menjalani hari-hari seperti ini?

Tiba-tiba, ia teringat perkataan Arga: "Jika kamu tidak mau menjadi sekretaris saya, maka silakan... keluar dari perusahaan ini. Sekarang juga." Pilihan itu kembali menghantuinya. Ia tidak punya pilihan lain. Ia harus kuat.

Naura menarik napas dalam-dalam, lalu kembali fokus pada layar laptopnya. Ia harus menyelesaikan semua ini. Ia tidak boleh kalah.

Waktu menunjukkan pukul delapan malam ketika Naura akhirnya menyelesaikan semua pekerjaannya. Ia meregangkan otot-ototnya yang terasa kaku. Rasa lapar mulai melanda, perutnya keroncongan. Ia belum makan malam.

Naura membereskan mejanya, memastikan semuanya rapi. Ia melirik meja Arga, yang juga sudah rapi. Ia kemudian mematikan lampu dan mengunci ruangan Arga.

Saat ia berjalan menuju lift, koridor lantai eksekutif sudah sepi. Hanya beberapa lampu yang menyala redup. Naura merasa merinding. Ia mempercepat langkahnya.

Ketika sampai di basement, motornya adalah satu-satunya yang tersisa di deretan parkir. Langit sudah gelap gulita. Naura menyalakan motornya, lalu memacunya pulang dengan pikiran kalut. Hari pertamanya sebagai sekretaris Arga Narendra Wijaya adalah mimpi buruk. Ia tidak tahu apakah ia akan sanggup menghadapi hari esok, dan hari-hari selanjutnya. Namun, satu hal yang pasti, ia tidak akan menyerah begitu saja. Ia tidak akan membiarkan Arga menang. Pertarungan mereka baru saja dimulai.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95MBB" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95MBB
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bukan Bonekamu Lagi
9.4
Sejak kecil, Vivian dijodohkan dengan Adriel, pewaris takhta Keluarga Mahendra. Namun, malam penyerahan dirinya yang dianggap suci justru menjadi lelucon bagi Adriel. Setelah mendengar Adriel merendahkannya dan berencana menikahi wanita lain demi ambisi, hati Vivian hancur. Sadar dirinya hanya dianggap mainan, Vivian menolak menjadi boneka lagi. Ia segera menghubungi Indra Wijaya untuk dipindahkan sejauh mungkin dari Adriel sebelum upacara promosi tiga hari lagi, bertekad memulai hidup baru.
Sampul Novel Cinta CEO dalam Jebakan
8.5
Gabriella, gadis yatim piatu yang malang, kehilangan rumah warisannya akibat penggusuran paksa oleh Perusahaan Quebracha. Saat menuntut keadilan pada sang CEO, Max Evans, sebuah insiden tragis justru merampas kehormatannya. Alih-alih merasa bersalah, Max menuduh Gabriella sebagai wanita bayaran yang sengaja menjebaknya demi uang. Di tengah kebencian dan tuduhan palsu, mampukah keduanya menyadari bahwa ada dalang yang sedang mengadu domba mereka?
Sampul Novel Dendam Seorang Adik
8.6
Duka mendalam Amara atas kematian tragis kakaknya, Danisa, berubah menjadi ambisi balas dendam yang membara. Ia bertekad menghancurkan keluarga Pramudya yang telah mengkhianati Danisa hingga sang kakak mengakhiri hidupnya. Dengan pesonanya, Amara menyusup dan mulai menjerat mantan suami, mertua, serta ipar Danisa dalam rencana penghancuran reputasi dan harta mereka. Namun, mampukah ia tetap dingin saat perasaan tak terduga mulai mengancam misi utamanya?
Sampul Novel Dimanjakan oleh Suami Misterius
9.7
Demi warisan ibunya, Erina harus menikahi seorang programmer tampan yang sederhana. Namun, rahasia masa lalu mulai terkuak setelah tiga tahun ia kehilangan dua dari bayi kembarnya. Meski tak pernah bersama pria lain, Erina tiba-tiba hamil dan menemukan fakta bahwa anak-anaknya yang lain ternyata masih hidup. Siapakah sosok suami misteriusnya ini sebenarnya? Mengapa pria miskin itu sangat mirip dengan miliarder yang sering muncul di layar televisi?
Sampul Novel Hari-hari Dimanjakan Paman
8.5
Niat hati menghindari teman kencan buta yang menyebalkan, Pamela nekat mencium seorang pria tampan yang jauh lebih tua bernama Agam. Alih-alih berlalu begitu saja, tindakan impulsif itu justru membuat Agam menuntut pertanggungjawaban penuh darinya. Saat Pamela mencoba mengelabui Agam dengan janji ciuman kedua agar bisa melarikan diri, ia justru terperangkap dalam jerat sang paman yang posesif. Kini, Pamela harus menghadapi perhatian intens dari Agam yang siap mengejarnya ke mana pun ia pergi.
Sampul Novel I am Your Boss
8.2
Pasca ditinggalkan kekasih karena kondisi ekonomi yang sulit, Andra bangkit dan sukses membangun kekaisaran bisnisnya sendiri dalam enam tahun. Kini ia dikenal sebagai bos kejam dengan aturan yang sangat kaku. Namun, reputasi dinginnya mulai goyah saat seorang pelamar kerja wanita hadir di hadapannya. Pertemuan tersebut perlahan mencairkan kebekuan hati Andra dan membukanya kembali pada harapan akan cinta baru yang telah lama ia lupakan.