Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Jadi Wanita

Jadi Wanita

Sota adalah pemuda dua puluh tahun yang sangat malas dan pengangguran. Meski cerdas dalam kelicikan, ia hanya menghabiskan waktu dengan gawainya. Hal ini memicu kekhawatiran mendalam bagi ibunya, Artisa. Sebagai wanita pekerja keras yang juga memiliki sisi licik, Artisa bertekad mengubah tabiat buruk putranya secara total. Ia menempuh metode ekstrem dengan mentransformasi fisik Sota. Berhasilkah rencana Artisa mengubah jati diri Sota melalui perubahan tubuh tersebut?
Bab
Bagikan

Bab 2

"Sota, bagiku kamu tetap adikku bagaimana pun wujudmu. Kita masih bisa main game online bersama," kata Apis. Ditepuk bahu gadis perempuan itu.

Sota melepaskan pelukan sang ayah. "Ayah, apakah mungkin suatu hari nanti aku akan kembali seperti semula?" tanyanya.

"Kita tak akan pernah tahu. Tapi kita akan mencoba," kata Garu.

"Adikku, aku masih punya pakaian banyak. Aku sebentar lagi tak bisa memakainya. Kau pakai juga alat rias milikku," kata Rikma. Dipeganglah perut yang sudah mulai membesar.

Dukungan dari anggota keluarga membuatnya agak bersemangat. Air mata yang menetes di pipi berkurang drastis. Tapi masih saja Sota menundukkan wajahnya. Dalam wujud yang baru Sota tak berani menatap wajah siapa saja.

***

Cahaya mentari telah menembus jendela yang terbuat dari kaca bening. Sota terbangun sebab alarm alami itu. Kasur tempat tidur berantakan tak karuhan. Rasa kantuk masih berat di matanya. Keinginan tidur masih terasa kuat. Pintu kamar dibuka lebar. Terlihat ibu sedang menonton televisi.

"Ibu tidak kerja?" tanya Sota.

"Nak, kamu ini masih saja seperti yang dulu. Bangun telat, ayo ikut Ibu sekarang." Artisa mematikan perangkat televisi. Digandeng tangan si buah hati yang masih malas melebarkan pandangannya. Kamar mandi menjadi tujuan mereka.

"Bu, kenapa aku ke sini?" tanya Sota.

"Sota, sudah berapa hari kamu tidak mandi?" tanya ibunya.

"Dua hari," jawab Sota.

"Bukan, tapi delapan hari. Sekarang ibu yang akan memandikanmu."

"Bu, aku malu."

"Kenapa kau harus malu? Kau juga perempuan, sama seperti Ibu."

"Tapi aku belum lama jadi perempuan. Aku bisa mandi sendiri."

"Kau sedang reproduksi atau tidak?"

"Aku tak tahu apa itu reproduksi. Tolong beritahukan ciri khasnya."

"Jika ada darah atau sebuah cairan yang keluar dari saluran pembuangan berarti kamu sedang reproduksi."

"Aku baik-baik saja. Aku belum keluar apa pun, bahkan air seni. Ibu, mohon tinggalkan aku."

"Baiklah, Ibu beri waktu satu jam. Jika kau tak dalam waktu satu jam Ibu akan datang untuk memandikan dirimu. Mau tak mau kau harus menurut." Artisa keluar dari kamar mandi. Ditutup pintu kamar itu, Artisa pergi ke kamar yang lain.

Di kamar mandi Sota sendirian. Dilihat bentuk tubuhnya yang mulus. Cermin di depan dia gunakan sebagai alat bantu. Terbias gambar wajah seorang perempuan muda. Rambut pendek terlihat sangat kusut. Tapi setidaknya rambut agak panjang sedikit. Beberapa bulu telah hilang. "Jadi ini aku sekarang? Cantik juga. Andaikan saja tubuh ini milik orang lain dan aku punya tubuhku yang sebelumnya pasti kami sangat cocok, pasangan yang serasi. Laila pasti akan cemburu pada sosok perempuan ini," katanya di depan cermin.

Selesai sudah Sota membasuh tubuhnya. Tiada satu pun bagian tubuh yang tak terkena air, termasuk juga rambut pendek yang kini sudah agak rapi. Pakaian yang semalam dia kenakan dikenakan kembali. Kamar tempatnya bermalam didatangi. Artisa sedang merapikan beberapa lembar pakaian. Kain yang biasa digunakan Sota ditaruh di luar lemari.

"Bu, kenapa pakaianku dibuang?" tanya Sota.

"Nak, kau bukan laki-laki lagi. Kau sudah berubah menjadi perempuan. Mulai sekarang kau pakai baju perempuan. Untuk pakaian biasamu tetap ibu simpan." Sambil melipat baju Artisa melihat tubuh anaknya. Air sisa mandi masih melekat pada tubuh Sota. Pakaian yang Sota gunakan juga ikut basah. "Sota, kenapa kau tidak pakai handuk?" tanyanya.

"Aku belum biasa pakai handuk dalam keadaan ini. jadi handuknya basah masuk ke dalam air, hehehe," tawa kecil Sota.

"Jadi kamu lama di kamar mandi sebab itu?"

"Bukan, tapi aku masih sulit menerima ini. Lagi pula Ibu beri waktu aku satu jam alias 60 menit."

"Sota Sota, ternyata kamu tak berubah juga. Sekarang Ibu bantu kamu memakai baju."

Dilihat sebuah gaun putih berhiaskan warna merah yang disiapkan Artisa. Cairan yang ada di dalam rongga mulut ditelan Sota kembali. "Bu, aku pakai yang ini?" tanyanya sambil menunujuk ke kain itu.

"Iya," jawab Artisa.

"Bu, tidak adakah baju yang lain?" tanya Sota lagi.

"Sota kamu sekarang perempuan. Sini Ibu bantu."

Artisa bergegas berdiri. Dia hendak membuka pakaian Sota. Tak ayal Sota melawan sebab tak mau memakai kain tersebut. Sota menyadari sesuatu hal yang aneh, dia tak tahu apa itu. Tenaga di tubuh baru tak sekuat seperti yang dulu. Sekarang sang ibu lebih kuat daripada dirinya. "Tidak, Bu!" teriak Sota yang kewalahan melakukan perlawanan.

Tiada lagi daya Sota. Dia pasrah atas apa yang dilakukan ibunya sendiri. Tak terasa air matanya menetes. Pakaian yang basah diletakkan di lantai begitu saja. Digiring Sota hingga ke hadapan sebuah cermin. Terlihat baju yang sedikit kecil bagi tubuh Sota. Setengah tungkai atas terlihat jelas. Rasa malu malah semakin menjadi-jadi. Merunduk ke bawah hal yang bisa dia lakukan.

"Sota, kamu jangn merunduk saja. Tatap matamu ke cermin." Artisa mengangkat wajah Sota hingga bisa tegak. Tak tahu lagi apa yang bisa dia lakukan. Tak mungkin bisa melawan ibunya lagi. Kabur jalan yang dia pilih. Berlarilah Sota keluar dari kamar. Tapi Sota terhenti di pintu depan. Tiada keberanian bagi dirinya untuk membuka pintu.

Segera Artisa menyusul. Seperangkat peralatan rias dia bawa. Ditemui Sota sedang berdiri di depan pintu, lalu merunduk. Meringkuk sendirian di depan pintu. Wajahnya ditutup dengan kedua telapak tangan. Didekatilah Sota yang sedang terduduk.

"Nak, ada apa?" tanya Artisa.

"Bu, bagaimana jika orang-orang tahu tentang aku. Apa yang mereka katakan? Aku malu," kata Sota.

Artisa bingung mau jawab apa. Dipeganglah kedua tangan si anak. Perlahan Artisa membangunkan anaknya. Secara bertahap Sota mulai berdiri. "Sota, Ibu rias dulu agar kamu cantik. Jika kamu malu untuk keluar maka jangan keluar. Kamu mau kan," katanya.

Terdiam, Sota tak mampu menjawab ajakan ibunya. Merunduk dan meneteskan air mata Sota lakukan. Tiada makna pasti dalam peristiwa ini.

"Kalau kamu tak mau Ibu pergi saja. Kamu seperti ini juga tak akan dilihat orang lain. Hanya keluarga dan kerabat saja yang akan memperhatikanmu." Artisa melepaskan genggamannya, berbalik arah dia melangkahkan kaki.

Tak mau ditinggalkan sang ibu, Sota memegang tangannya. "Bu, jangan pergi. Aku mohon bantuannya," pintanya dengan air mata masih membekas di pipi.

"Jadi kau mau dirias?" Artisa menoleh ke belakang.

Anggukan kepala tanda Sota mau dirias oleh sang ibu.

Ditarik tangan Sota, keduanya berjalan dan kembali lagi ke kamar tempat Sota tidur. Berbagai macam kosmetik dipersiapkan. Bedak, lipstik, eyeshadow dan segala macam jenis telah berjejer di depan mata Sota. Semua Artisa buka satu per satu. "Wow, banyak sekali. Bu, apakah aku harus memakai sebanyak ini?" tanyanya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Alpha Eden
8.9
Megan terjebak dalam misi mengungkap misteri kematian kakaknya, Helena, sepuluh tahun silam. Berbekal sebuah buku catatan, ia menuju Jazmore namun justru terlempar ke masa lalu, tepatnya tahun 1945. Di tengah hutan belantara, Megan bertemu Alpha Eden, penguasa werewolf yang kuat. Kini, ia harus menghadapi sihir dan kutukan sembari menerima takdir sebagai pasangan sang Alpha. Berhasilkah Megan membongkar rahasia Helena dan kembali ke tahun 2010 dengan selamat?
Sampul Novel Cinta di Ranjang Jenderal
8.7
Navila terpaksa menyerahkan kehormatannya kepada prajurit Erdan demi mendapatkan obat bagi ayahnya. Meski awalnya hanya rencana sekali saja, ia justru terjerat dalam keinginan sang Jenderal yang mulai jatuh hati padanya. Di tengah perseteruan dua kerajaan, mereka menyadari bahwa hubungan ini terhalang oleh waktu yang singkat. Akankah perasaan mereka mampu bertahan dan tersampaikan dengan tulus saat perang besar sedang berkecamuk di antara kedua belah pihak?
Sampul Novel Dokter Iblis Yang Tak Tertandingi
9.4
Pasca kematian gurunya, Zhao Erhu menerima wasiat terakhir yang sangat mengejutkan. Ia diperintahkan turun gunung untuk menemui tujuh kakak perempuan seperguruannya. Tugasnya bukan sekadar mencari mereka, melainkan harus meniduri ketujuh wanita tersebut. Instruksi aneh ini membuat semua orang tercengang, namun sang guru menegaskan bahwa ini adalah misi penyelamatan nyawa. Tanpa melakukan hubungan intim itu, nyawa kakak-kakaknya akan berada dalam bahaya besar.
Sampul Novel Mengejar Dosen Duren
9.4
Jelita terbangun dalam kondisi mengenaskan setelah tubuhnya dipinjamkan kepada Elizabeth, hantu istri dosennya sendiri, Daniel Danuarja. Tanpa diduga, Elizabeth justru memanfaatkan raga Jelita untuk berhubungan intim dengan sang suami hingga Jelita kehilangan kesuciannya. Saat kesadarannya kembali, Jelita mendapati arwah Elizabeth mulai memudar dan hampir lenyap. Di tengah kemarahan akibat dikhianati, Jelita kini terjebak dalam skandal rumit bersama Daniel.
Sampul Novel Mr. Devil
8.1
Kehidupan Ellena berubah menjadi mimpi buruk saat ayah kandungnya sendiri menjualnya demi ambisi bisnis gelap. Kini, ia terperangkap di sebuah mansion mewah milik Hogue, pria kejam dengan hasrat seksual menyimpang yang tidak segan menyiksa fisiknya. Di tengah kekejaman sang vampir yang menganggapnya tak lebih dari sekadar budak, Ellena harus menghadapi penderitaan tanpa henti. Sanggupkah ia bertahan hidup di bawah kendali pria sadis tersebut?
Sampul Novel My Angel Baby Is Werewolf
9.2
Fiona Megan Olaf hanyalah mahasiswi biasa yang kerap menjadi korban perundungan. Namun, hidupnya berubah total di usia dua puluh tahun setelah pertemuannya dengan seekor serigala misterius. Kejadian tersebut mengungkap identitas aslinya sebagai keturunan werewolf. Sambil belajar menguasai kekuatan barunya, mampukah Fiona membalas dendam atas segala penindasan masa lalu dan memenangkan hati pria idamannya? Sebuah perjalanan takdir dan cinta dimulai.