
JADI SELINGKUHAN
Bab 2
Arthur merebahkan tubuh Sella ke belakang, sampai tubuh yang kehabisan tenaga itu telentang di atas ranjang. Kemudian, Arthur menarik kedua paha Sella ke samping, dengan berlawanan arah, sampai kedua paha Sella mengangkang lebar. Arthur yang sudah tidak sabar karena tombak pusakanya sudah menuntut untuk di terapi khusus oleh jepitan hangat lubang gua Sella, dia langsung mengarahkan tombak pusakanya ke pintu gua yang telah becek. Setelah merasa posisi tombak pusakanya tepat, Arthur menusukkan tombak pusaka itu ke dalam lubang gua Sella yang masih menyisakan kedutan hasil dari orgasmenya tadi.
"Jlep!" Satu kali hentakan, tombak pusaka Arthur langsung meluncur masuk, menusuk lubang gua Sella sampai ke dinding rahimnya.
Hanya dengan sekali dorongan saja, tombak pusaka Arthur sudah langsung masuk sampai pangkalnya kedalam lubang gua Sella. Berbeda dengan tadi malam, Arthur gagal beberapa kali sebelum masuk sempurna ke dalam gua nan hangat milik Sella. Itu disebabkan karena Arthur harus merobek selaput dara di pintu gua Sella terlebih dahulu, sebelum tombak pusaka itu bisa menyelam sampai pangkal.
Tombak pusaka Arthur telah dikulum habis sampai pangkal oleh bukit terbelah yang mempunyai gua hangat di dalamnya. Semua batang tombak pusaka telah masuk ke dalam gua, menikmati sensasi yang sangat luar biasa di dalamnya. Dengan gerakan teratur, Arthur menggoyangkan pinggulnya pelan, menikmati jepitan hangat yang sangat sempit. Kepala tombak pusakanya terasa dicengkram oleh sesuatu yang memabukkan di dalam sana. Sedangkan, bagian batang tombak pusakanya benar-benar terasa dijepit, dan di pijat sampai mata Arthur merem melek menikmatinya.
Saat Arthur menarik keluar tombak pusakanya, terasa hisapan dan cengkram di dalam sana yang begitu kuat. Arthur terus menikmati sensasi itu dengan menusuk, dan menariknya kembali dengan gerakan pelan. Hal itu membuat hasrat Sella kembali terpancing, dia kembali bersemangat untuk bermain dan melayang ke angkasa menikmati indahnya surga dunia bersama pria yang sangat dia cintai. Arthur meremas kedua gundukan bukit kembar nan sintal milik Sella tanpa menghentikan tusukannya dengan gerakan pinggul maju mundur.
Merasa energinya benar-benar sudah mendapatkan asupan kembali, Sella menautkan kedua kakinya di pinggang Arthur, dan ikut menggoyangkan pinggulnya berlawanan arah dengan gerakan Arthur, untuk menyambut tusukan dan tarikan dari tombak pusaka di lubang senggamanya dengan ritme beraturan.
"Akhh… hoh, hah.…" Nafas yang terdengar berat disertai desahan nikmat keluar dari mulut Sella mengikuti hentakan dari pinggul Arthur yang sedang menggenjotnya.
Begitu juga dengan Arthur, nafasnya terus memburu bersama erangan-erangan yang keluar bersahutan dari mulut mereka yang sedang melakukan penyatuan. Gerakan pinggul Arthur semakin cepat, menarik keluar, dan menusuk masuk ke liang gua Sella. Hingga pucuk kepala tombak pusakanya menabrak dinding rahim Sella yang terasa hangat.
Plak…!
Plak…!
Plak…!
Suara khas, dari penyatuan mereka yang sudah mulai bermain kasar, begitu jelas terdengar. Setiap Arthur mendorong pinggul menghentakkan tombak pusakanya ke depan, seluruh lubang gua Sella terasa sesak dengan kenikmatan yang selama ini dia impikan. Semua itu membuat Sella menjerit nikmat, di bawah kungkungan Arthur yang terus memainkan pinggulnya. Sella begitu menikmati sensasi di dinding guanya yang terasa di gesek setiap arthur memaju, dan memundurkan pinggulnya. Di setiap hentakan, dan tarikan tombak pusaka Arthur di dalam guanya, desahan dan erangan terus keluar dari mulut Sella tanpa dia sengaja, atau di buat-buat.
"Oh … hmm … Aahh …." Arthur terus menggenjot harta milik Sella dengan semangat.
Keringat bercucuran, keluar dari pori-pori kulit mereka, membasahi tubuh keduanya. Udara di dalam kamar saat ini benar-benar terasa sangat panas. AC yang menyala di dalam kamar pun seperti sangat tidak berfungsi untuk memberikan tiupan angin dingin, di kulit kedua insan yang dalam penyatuan di atas ranjang itu.
Walaupun merasa gerah, dan lengket di seluruh kulitnya akibat keringat yang keluar dari setiap pori-pori kulit mereka. Sella, dan Arthur tidak ada niatan untuk mengakhiri permainan mereka begitu saja. Bahkan mereka berdua menginginkan yang lebih, dan lebih lagi dari ini. Mereka terus berpacu dalam hasrat, dan angan yang terus semakin berkobar dalam diri masing-masing insan yang telah di mabuk nafsu itu.
Sella menikmati gesekan-demi gesekan di dinding guanya. Gesekan di dinding gua Sella, akibat tusukan tombak pusaka yang memenuhi lubang sempit itu, memberikan rasa yang sangat luar biasa untuk dinikmati oleh Sella di setiap gerakan lawan mainnya.
Arthur begitu lihai dalam bermain. dia memainkan titik-titik sensitif Sella dengan pancaran mata berkabut. Sehingga, orang yang di mainkan terasa terbang ke awan, dan lupa akan dunia nyata. Tubuh Arthur yang kekar di atasnya, menampilkan ototnya yang berbentuk kotak-kotak, membuat Sella semakin lupa akan statusnya dengan pria yang menggenjotnya saat ini. Mereka bukanlah sepasang kekasih, dan juga tidak terikat oleh status hubungan lainnya. Namun sepertinya, Sella lupa akan segala hal, dia terbuai akan kenikmatan yang telah lama dia inginkan dari Arthur. Dia tidak memikirkan kerugian, dan akibat dari kenikmatan yang dia dapatkan saat ini.
Dengan manja, Sella mengalungkan tangannya ke leher Arthur. Dia menarik tengkuk Arthur turun ke bawah, mendekati wajahnya. Dengan mata terpejam, Sella memonyongkan bibirnya, berharap Arthur membalas apa yang dia inginkan saat ini. Harapan, dan keinginan Sella tidak sia-sia, Arthur membalas, dan langsung menyambar bibir yang sudah monyong seperti moncong babi itu dengan gerak cepat. Arthur melumat, mengulum, dan menggigit bibir yang sudah membengkak dari tadi malam itu dengan sangat agresif. Yang dibawah aktif, yang di atas pun tidak kalah aktifnya. Mereka berdua saling melumat, saling menautkan lidah mereka untuk berdansa di dalam sana. Kedua tangan Arthur kembali bergerilya di atas bukit kembar Sella. Dia memainkan bukit kembar itu sesuka hati tanpa ada tolakan dari yang punya.
Sella melepaskan pangkuan tangannya di leher Arthur. Dia juga tidak mau kalah dari Arthur. Dengan lubang gua yang masih terus ditusuk oleh tombak pusaka Arthur, dan sensasi di bukit kembarnya yang dimainkan Arthur membuat libidonya meningkat beberapa kali lipat. Sella meraba seluruh tubuh, Dan dada bidang Arthur dengan hasrat yang menggebu-gebu. Dia juga memainkan dada bidang Arthur seperti yang dilakukan Arthur kepadanya. Sella memelintir pelan bulatan kecil yang mengeras di dada Arthur. Sesekali dia menarik kemudian menekannya kembali. Sella meremas dada Arthur, seperti arthur meremas bukit kembar di dadanya. Walaupun, dada Arthur tidak menonjol besar seperti dadanya, akan tetapi, Sella juga merasakan sesuatu yang menyenangkan saat meremasnya. Arthur yang di mainkan seperti itu melenguh nikmat, dan melepaskan penyatuan bibir mereka beberapa saat, karena tidak tahan akan kenikmatan yang di berikan Sella kepadanya. Tangan Sella benar-benar membuat dia semakin gila. Sentuhan, dan remasan Sella di dadanya membuat alam sadar Arthur tidak lagi berfungsi seperti semestinya.
Sella benar-benar membuat Arthur mabuk. Dengan tusukan yang terus teratur di bawah sana. Arthur kembali menyatukan bibir mereka yang tadi sempat terlepas. Dia melumat dan mengabsen seluruh rongga mulut Sella dengan lidahnya. Di dalam rongga mulut yang sudah menyatu, mereka saling bertukar saliva, dan saling menikmati penyatuan benda pusaka mereka di bawah sana. Penyatuan atas, dan bawah ini berlangsung lama. Hingga Akhirnya, bibir mereka pun terlepas juga. Kedua insan itu ngos-ngosan kekurangan oksigen. Sella yang telah lepas dari bibir Arthur, kini beralih menghisap pucuk bulat di dada Arthur.
"Aakh …." Lenguhan berat keluar dari mulut Arthur saat Sella memainkan, dan menghisap pucuk coklat di dadanya.
Arthur yang tidak mau kalah agresifnya. Dia meremas keras kedua bukit kembar Sella, memelintir pucuk bulat di atasnya, dan menekan-nekan pucuk itu di antara jari telunjuknya dengan jempolnya. Tusukan tombak pusaka Arthur pun dia tingkatkan lebih cepat lagi. Arthur memaju mundurkan pinggulnya dengan ritme lebih cepat dari sebelumnya. Tusukan itupun di balas Sella dengan gerakan berlawanan arah dari bawah. Sehingga, saat Arthur maju ke depan menusuknya, Sella pun maju menyambut tusukan itu. Ritme kecepatan maju mundur mereka pun sama. Sesekali Sella menggoyangkan pinggulnya dengan gaya melingkar saat menyambut tusukan Arthur. Goyangan Sella itu berhasil menambah sensasi nikmat di batang dan pucuk tombak pusaka Arthur. Mata Arthur terpejam, dan sulit untuk dibuka saat menikmati sensasi yang sangat luar biasa itu. Semua yang dirasakan oleh kedua insan yang sedang menyatu itu, benar-benar keduanya merasa sedang ada di surga yang tiada ujungnya. Desahan, dan lenguhan mereka terdengar bersahutan setelah penyatuan bibir mereka terlepas. Desahan dan lenguhan itu berbaur dengan bunyi kulit mereka yang beradu saat paha mereka saling bertabrakan.
"Aagh … Sayang!" racau Sella yang sudah melayang di mabuk birahi.
Sella yang hampir menemui puncak, merasa haus untuk di masuki lebih dalam lagi oleh Arthur. Dinding guanya minta di gesek lebih cepat lagi
"Aakh … hmm … Aah … Enak ..! tusuk lebih dalam lagi!" Sella menggoyangkan pinggulnya menyambut tusukan Arthur dan mengencangkan kungkungan kakinya di pinggang Arthur, supaya tusukan Arthur terasa lebih masuk lagi untuk menggesek dinding gua nya.
"Aakh…." Sella mengerang, dan merasa kecewa saat Arthur mencabut tombak pusakanya dari permainan yang sudah mulai panas. Padahal Sella berharap Arthur menusuknya lebih dalam, dan lebih cepat lagi.
"Kenapa di cabut?" tanya Sella dengan suara parau, dan mengeratkan kungkungan kakinya di pinggang Arthur. Dia tidak rela kalau sampai Arthur menghentikan permainan mereka yang sedang menuju puncak.
"Jangan kecewa, kita akan bermain lebih gila lagi dari pada ini." Arthur melepaskan kungkungan kaki Sella di pinggangnya, dan membalikkan tubuh Sella hingga telungkup.
Setelah tubuh Sella terbalik, dan posisinya sudah telungkup sempurna, Arthur menarik bokong Sella hingga yang ditarik bertumpu pada kedua lututnya, dan tangannya juga bertumpu dengan kedua siku di atas kasur. Sekarang, posisi Sella sama persis seperti bayi yang mau merangkak.
"Buka sedikit lagi!" Arthur menarik kedua belah paha Sella dengan arah berlawanan supaya Sella mengangkangkan kakinya sedikit lebih besar lagi.
Begitu paha Sella melebar, Arthur menepuk bokong montok Sella dengan pancaran mata penuh kehausan. Melihat bokong yang ditepuknya begitu menggiurkan, dan seperti sedang menantangnya untuk melakukan hal yang bisa melepaskan kehausan yang kini sedang menderanya, Arthur segera mengarahkan tombak pusakanya yang terasa lengket saat di pegang ke pintu lubang masuk yang sudah membuat salivanya membanjir dari tadi. Dia menelan salivanya dengan susah payah. Sedangkan matanya tidak bisa teralihkan dari tubuh polos, dengan bokong menungging di hadapannya. Setelah kepala tombak pusakanya berada di pintu gua, Arthur mendorong pelan pinggulnya maju dengan tangan kanan memegang batang tombak pusakanya.
"Jleb!" Tombak pusaka Arthur mencelup masuk memenuhi seluruh liang gua Sella.
"Ach…." Sella menjerit nikmat saat batang tombak pusaka Arthur masuk menusuk dinding rahimnya. Seluruh ruang di dalam guanya terasa penuh terisi oleh batang tombak pusaka Arthur, tanpa menyisakan sedikitpun ruang di dalam sana.
Arthur membiarkan tombak pusakanya berada dalam jepitan dinding gua Sella untuk beberapa saat. Dia memejamkan matanya, menikmati kehangatan gua Sella yang terasa mencengkram batang tombaknya. Mendapati, Arthur hanya diam tanpa bergerak untuk menggenjotnya, Sella yang sudah mabuk ingin menemui puncak klimaksnya, dia tidak mau menunggu lama, Sella dengan agresif memulai permainan terlebih dahulu. Dia menarik pinggulnya kedepan, dan memundurkannya kembali ke belakang untuk mengulum tombak pusaka Arthur sampai pangkal.
Arthur yang sadar, Sella telah memulai permainannya terlebih dahulu, dia menggenjot Sella dari belakang dengan kecepatan tinggi. Hal itu membuat bukit kembar di dada Sella yang bergelantung ikut berayun mengikuti pergerakan Sella yang di tusuk dari belakang. Arthur tidak menyia-nyiakan buah ranum yang bergoyang indah itu. Dia menjadikan gundukan daging itu jadi pegangannya saat menggenjot Sella dengan remasan nakal yang terus dia lakukan, hingga membuat mereka semakin terbang ke alam surga dunia.
Plak….
Plak….
Plak….
Suara benturan kulit mereka yang bertepuk begitu jelas mengiringi peraduan yang semakin bergerak cepat. Kaki Sella mengejang, tangannya meremas sprei di bawah tumpuannya. Tidak lama lagi Sella akan mencapai puncak klimaksnya yang kedua.
"Aakh, hah… hoh ...Aah … Ar-Arthur, lebih cepat lagi! tusuk yang dalam. Aah … ooh … Aku mau ke-keluar! aakh…." Suara parau Sella terbata menahan gejolak dirinya yang semakin menuju puncak.
"Tahan! sebentar lagi! kita keluar sama-sama." Arthur semakin memperdalam tusukannya dengan tangan terus meremas kedua bukit kembar di dada Sella dengan kasar.
Sella, dan Arthur sama-sama menemui puncak klimaks secara bersamaan. Sella menyiram pucuk kepala tombak pusaka Arthur dengan semburan lava di dalam lubang senggamanya. Sedangkan, tombak pusaka Arthur terus menyemburkan pelurinya di dalam rahim itu tanpa terganggu oleh cairan yang menyiram kepala tombak pusakanya.
"Aaarrgghh… Sellaaaa!" Arthur nyungsep di atas punggung Sella dan menggigit leher belakang Sella dengan tombak pusaka yang terus menyemburkan cairan khusus dari dalam batangnya .
"Aaachh… Arthur!! gesek lagi!" Sella memaju mundurkan bokongnya, menikmati sisa kedutan batang tombak pusaka Arthur dan dinding gua nya yang masih menyatu.
Setelah pelepasannya sudah selesai, Arthur memisahkan diri dari Sella. Dia membaringkan tubuhnya di samping Sella, dan memejamkan matanya sesaat sebelum dia melirik Sella, dan angkat bicara menyampaikan sesuatu yang mengusik hatinya.
Beberapa menit mereka saling diam, menikmati sisa-sisa rasa panas dari hasil orgasme mereka. Tubuh mereka sama-sama tidak berdaya, tenaga keduanya habis terkuras oleh permainan gila yang mereka lakukan di siang hari nan terik itu. Sella terkapar tidak berdaya di samping Arthur dengan mata terpejam. Kedutan demi kedutan masih terasa di lubang gua nya. Sella menikmati semua itu dengan pikiran campur aduk.
"Sel," panggil Arthur.
"Hmm," jawab Sella enggan.
"Aku mau memastikan sesuatu, aku harap kamu menjawab jujur di setiap pertanyaanku." Arthur membaringkan badannya menghadap Sella dengan kepala beralaskan lipatan tangannya.
"Apa yang akan kamu pastikan?" tanya Sella dengan mata masih tertutup.
"Apakah kamu, dan Daffin bersekongkol melakukan ini kepada Aku dan Maya?" tanya Arthur to the point, tanpa basa basi pada apa yang mau dia tanyakan.
"Deg!" Jantung Sella berdegup mendengar kata demi kata yang terangkai dalam satu pertanyaan untuknya, dari Arthur.
"Maksud kamu?" jawab Sella pura-pura tidak mengerti dengan maksud pertanyaan pria di sampingnya.
Mendapat pertanyaan yang mengusik kebohongannya, Sella langsung beraksi memasang wajah bertopengnya, supaya Arthur tidak mencurigai dirinya lebih lanjut. Dia membaringkan badannya menghadap Arthur dengan wajah yang di buat-buat seperti sedang tersakiti.
"Kamu menuduh aku?" Sella menyipitkan matanya yang sudah di genangi air mata, dengan raut wajah sedih yang di buat-buat.
Akting Sella sungguh sangat luar biasa. Dalam sekejap dia bisa melakoni kebohongannya yang membuahkan hasil seperti nyata apa adanya. Saat ini, dia benar-benar terlihat begitu sedih, dan sangat tertekan karena pertanyaan Arthur.
"Aku bukan menuduh kamu, Sel. Hanya saja, apa yang sedang terjadi seperti telah di setting dengan sangat rapi," jawab Arthur mengungkapkan apa yang dia rasa.
Melihat air mata Sella menitik ke atas sprei, dan wajah yang sudah memerah karena sedih akibat pertanyaannya, terbesit rasa bersalah di hati Arthur kepada Sella. Tapi, disisi lain dia juga masih ragu dengan Sella. Fakta yang sedang dia lihat sekarang ini, mengarah kepada Sella dan Daffin yang sedang bersekongkol.
"Apa aku salah, telah menanyakan ini pada Sella? Dia sepertinya sangat sedih mendapat pertanyaan dari ku," batin Arthur melirik Sella yang masih berakting menangis.
"Tapi, hatiku sangat yakin, Sella ikut andil dalam masalah ini," ucap Arthur yakin dalam hatinya.
"Jadi, kamu menganggap aku yang menjebak Maya untuk tidur bersama Daffin?" tanya Sella dengan topeng yang masih dia pertahankan. Dia menghapus air matanya yang keluar dari pelupuknya untuk menambah kesan sedih di dalam dirinya.
"Aku pikir seperti itu, Sel. Fakta yang aku lihat mengarah kesana," ucap Arthur yakin. Dia mengalihkan pandangannya dari Sella. Sekarang, arthur menatap plafon kamarnya. Pikiran arthur melayang. Dia teringat Maya, dan juga apa yang telah dilakukannya bersama Sella.
"Sekarang, posisiku dengan Maya adalah sama. Aku, dan Maya sama-sama telah menghianati status pernikahan kami," batin Arthur sedih.
"Okay …," ucap Sella memecah lamunan Arthur. Suara Sella berhasil menarik perhatian Arthur kembali. Arthur kembali melirik ke arahnya yang masih telanjang bulat.
Sella bangun dari posisinya, meninggalkan Arthur yang telah menghadap ke arahnya. Dia bergegas memunguti pakaiannya yang berserakan di lantai. Pakaian yang telah berbaur dengan barang-barang yang dilemparkan oleh Maya beberapa jam yang lalu. Kamar itu terlihat sangatlah berantakan, hampir sama dengan perasaan Sella yang berantakan takut ketahuan oleh semua orang tentang kebohongannya.
"Jika, kamu mencurigai aku. Maka, aku akan meminta polisi mengusut kasus ini sampai tuntas!" ucap Sella yang bernada ancaman.
Sella memakai satu per satu pakaiannya kembali. Mulai dari lapisan dalam, hingga lapisan luar yang menutupi sebagian besar tubuhnya.
"Aku akan ke kantor polisi menyusul Daffin, dan Maya untuk menjadi saksi atas kasus ini," ucapnya berdiri di depan kaca rias membetulkan rambutnya yang sudah seperti orang gila.
"Ke kantor polisi?" tanya Arthur kaget, dan segera bangun dari posisinya.
Anda Mungkin Juga Suka





