Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel JADI SELINGKUHAN

JADI SELINGKUHAN

Menjalani peran sebagai wanita simpanan dari seorang pria yang telah beristri bukanlah keinginan yang pernah aku bayangkan. Namun, garis takdir seolah menyeretku ke dalam situasi pelik ini, memaksaku menghadapi realitas pahit sebagai pihak ketiga. Kini, aku harus menanggung beban berat dari segala cemoohan dan pandangan rendah masyarakat. Inilah kisah perjuanganku di tengah badai hujatan akibat posisi yang tidak pernah aku harapkan dalam hidup ini.
Bab
Bagikan

Bab 3

Arthur yang belum memakai pakaiannya, alias masih telanjang bulat seperti bayi besar tanpa pakaian, dia bangun dari tempat dirinya, dan Sella memadu kasih dari beberapa jam yang lalu. "Sel, kamu tidak akan mengatakan apa yang telah terjadi di antara kita kepada polisi, kan?" tanya Arthur gusar. Dia sangat takut kalau Sella mengatakan semuanya yang telah terjadi diantara mereka.

"Melihat kecemasan melanda Arthur. Sella tidak menyia-nyiakannya. Dia mengambil kesempatan itu untuk menekan Arthur. Peluang besar untuknya mengancam Arthur agar selalu berada di dekatnya sangat besar. Apalagi sekarang wajah Arthur terlihat begitu pucat karena rasa takutnya akan ketahuan oleh semua orang.

"Aku akan mengatakan apapun yang telah terjadi kepada semua orang, termasuk kepada polisi juga. Supaya, polisi mengusut tuntas kejadian ini. Agar aku yang telah jelas-jelas menjadi korban tidak lagi di curigai seperti ini," ucap Sella seakan sedang jadi orang paling terinjak di dalam kasus yang baru saja terjadi di rumah Arthur.

Sella yang sebenarnya sama takutnya dengan Arthur, terhadap kasusnya yang akan ketahuan oleh orang lain itu terus mencoba melontarkan kalimat demi kalimat yang bertujuan untuk mengancam Arthur.

"Apakah kamu akan memberikan keterangan … kalau kita sudah melakukan hal tidak seharusnya seperti ini?" tanya Arthur memastikan lagi apa yang meresahkan hatinya.

"Iya," Sella menganggukkan kepalanya, "Se … muanya! aku juga akan melampirkan bukti yang valid," ucap Sella mengacungkan ponselnya.

"Jadi, Sella merekam semuanya? apa dia sengaja merekam semua ini" batin Arthur yang kembali mencurigai Sella.

"Aku, merekamnya!" ucap Sella yang seakan mendengar apa yang ada di pikiran Arthur.

"Apakah kamu tidak memikirkan akibat dari keteranganmu, nanti?" Arthur mencoba meluluhkan pendirian Sella yang dia rasa sangat mengancam dirinya.

"Aku tahu, sa-ngat tahu apa akibat dari buktiku ini." Sella kembali mengacungkan ponselnya ke atas, hingga sejajar dengan kepalanya.

"Semua orang akan mengetahui apa yang telah kita lakukan," ucap Sella menatap Arthur dengan seringai liciknya.

"Kamu jangan gila, Sel! itu bisa menjerat kamu," Arthur balik menatap Sella yang terlihat begitu nekat.

"Aku gak gila, Ar. Aku hanya ingin polisi mengungkap semua yang telah terjadi, dan aku tidak dicurigai, dan disalahkan dalam masalah ini," ucap Sella dengan raut wajah sedih. Sella kembali memasang topengnya, berakting supaya Arthur terhasut dan masuk kedalam umpannya.

"Aku sebenarnya sangat tertekan dengan masalah ini, Ar. Aku sebagai korban, malah dicurigai begini," keluh Sella yang masih dalam mode akting.

Arthur membiarkan Sella mengoceh, dan melepaskan uneg-unegnya. 'Kalau perempuan sedang protes, dan berbicara sepanjang rel kereta api, jika di stop, bisa berabe nanti. Biarkan saja dulu. Percuma aku berdebat dengannya, yang ada aku tambah pusing setelah ini,' pikir Arthur mengalihkan pandangannya dari Sella.

Arthur beranjak dari tempatnya. Dia mendekati satu per satu pakaiannya yang berserakan di lantai kamar. Arthur meletakkan semua pakaiannya yang sudah terkumpul di tangannya di tepi ranjang. Dia memakai celana dalamnya terlebih dahulu sebelum memakai pakaiannya yang lain. Sedangkan Sella yang berdiri tidak jauh darinya masih mengoceh, dan mengeluarkan apa yang terasa di dalam hatinya. Sella juga membumbui semua ucapan yang keluar dari mulutnya dengan kesedihan yang di buat-buat.

"Sebenarnya, aku bisa saja membuat laporan baru dengan kasus pemerkosaan terhadap aku sebagai korban pemerkosaan. Tapi, karena aku sangat mencintaimu, mana mungkin aku bisa membuat laporan seperti itu. Aku tidak akan mungkin namamu tercemar." Tanpa Sella sadari dia keceplosan mengatakan kalau dia sangat mencintai Arthur. "Akan tetapi, kamu dengan sangat tega mencurigai aku sebagai dalang dari masalah ini. Mau tidak mau, aku harus jadi saksi di kantor polisi, dan memberikan keterangan sesuai dengan apa yang telah terjadi." Niat Sella mengancam Arthur. Alih-alih terancam, Arthur malah fokus ke kalimat tentang Sella mengungkapkan perasaannya, kalau Sella sangat mencintai dirinya.

Mata Arthur membulat sempurna, tangannya berhenti dari kegiatan yang dia lakukan. Arthur kaget saat mendengar sepenggal kalimat yang keluar dari mulut Sella dengan sangat jelas. Kalimat itu sangat menarik perhatiannya, "Kamu mencintai aku?" tanya Arthur tidak percaya.

"Aku mencintai kamu?!" tanya Sella balik, tidak kalah kagetnya dari Arthur. Dia tidak menyadari kalau dia telah keceplosan mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya kepada Arthur.

Arthur menganggukkan kepalanya,"Kata siapa?" tanya Sella dengan pipi yang telah merona.

"Kan kamu tadi yang bilang, kalau kamu sangat mencintai aku," ucap Arthur mengingatkan Sella.

Sella mengerutkan keningnya. Kedua alisnya bertaut, dengan beberapa garis di tengahnya,"Benarkah? mungkin kamu salah dengar," ucap Sella berkilah. "Karena kamu mencurigai aku atas kasus Maya, maka aku harus memberitahukan semuanya pada polisi. Aku akan menjadi saksi atas kasus ini, nantinya. Aku harus secepatnya pergi ke sana menyusul mereka."

"Jangan lakukan itu!" ucap Arthur seakan memohon kepada Sella.

"Bukannya kamu mau penjelasan tentang kasus ini?" Sella selalu bisa mencari celah untuk posisi yang aman bagi dirinya. Dia begitu lihai untuk melepaskan diri.

"Aku memang mau kejelasan tentang kejadian ini. Akan tetapi, aku mohon, jangan bocorkan bukti itu kepada siapapun! Apalagi kalau sampai mama mengetahui semuanya," mohon Arthur. Sekarang Arthur benar-benar memohon kepada Sella, agar apa yang telah terjadi di antara mereka tidak ada yang mengetahuinya.

"Saat ini, kamu mencurigai aku, kan? kalau aku tidak mengatakan semuanya kepada polisi, bagaimana aku bisa membuktikan kepada kamu, kalau aku tidak ikut andil dalam kasus ini?" ucap Sella yang masih bersikeras mau mengatakan semuanya kepada polisi. Sella mengatakan itu semua hanya untuk membuat Arthur down saja. Padahal, jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, dia juga takut semuanya terbongkar. Kalau polisi menemukan semua bukti, dan mengetahui siapa saja dalang dari kasus yang terjadi di rumah Arthur, diri Sella bisa jadi penghuni hotel prodeo untuk waktu yang sangat panjang. "Aku hanya korban, bukan pelaku, Ar," lirih Sella menitikkan air mata penuh kebohongannya.

"Jujur, di hati aku memang terbesit kecurigaan kepada kamu, dan Daffin yang bekerja sama, Sel. Apalagi, semua ini terjadi setelah Daffin meminta air kepadamu," ucap Arthur jujur akan apa yang terbesit di pikiran, dan hatinya.

"Ya, udah. Kita buktikan saja nanti hasil penyelidikan polisi. Apakah aku pelaku kasus ini, atau aku adalah korban dari kejadian di rumah ini," Saat mengucapkan kalimat yang keluar dari mulutnya, ada rasa takut di hati Sella kalau Arthur akan menyetujui ucapannya. Namun, karena Sella mau memoles kelicikannya serapi mungkin, tanpa ada celah untuk mengintip kebohongannya, Sella terus mengeluarkan kata-kata yang telah dia rangkai untuk mengelabui Arthur.

'Jangan sampai Arthur menyetujui ucapanku barusan,' harap Sella dalam hati.

'Kalau sampai Arthur mau mengusut tuntas kasus ini, mati aku!' Sella menutup matanya rapat. Dia takut akan terjerat oleh permainannya sendiri.

Melihat Sella yang nekat ingin mengungkapkan semuanya kepada polisi, Arthur jadi kalang kabut. Dia takut jika semua terungkap, maka dia akan masuk penjara karena telah merenggut mahkota Sella pada malam pengantinnya dengan Maya. "jangan nekat, Sel. Ini bisa menyeret kamu, dan aku masuk ke dalam penjara!" ucap Arthur yang semakin takut akan kejadian yang telah terjadi di antara mereka terungkap.

"Begitukah? kenapa aku harus masuk penjara? bukannya aku adalah korban. Memangnya korban dalam sebuah kasus juga dimasukkan dalam penjara? kalau betul begitu, berarti hukum di negara ini sangat luar binasa!" jawab Sella seakan meledek Arthur.

Sella semakin dapat celah, dan angin segar untuk memojokkan Arthur. Dia mengambil kesempatan dalam kegelisahan yang terlihat dari raut wajah Arthur. Sella yang sangat lihai dalam berakting terus berusaha menindas Arthur yang sekarang sudah tidak bisa berpikir lebih banyak lagi.

"Ya, sudah. Aku gak mau lagi buang-buang waktu disini. Aku pergi dulu," Sella merapikan bajunya yang tidak kusut. Padahal di hatinya, dia tidak mau jauh dari Arthur. Apalagi pergi dari hadapan pria yang sangat dia cintai itu.

"Mau kemana?" tanya Arthur yang belum memakai bajunya.

"Ke kantor polisi," jawab Sella enteng yang masih berada di tempatnya semula.

"Jangan, Sel!" Arthur memakai bajunya cepat. "Aku mohon, jangan laporkan masalah ini ke polisi. Aku janji akan membuang jauh pikiran aku yang menuduhmu sebagai dalang kasus ini," mohon Arthur bersungguh-sungguh.

"Aku minta maaf, Sel. Disini aku yang salah, dan kamu adalah korbannya," ucap Arthur mengalah, berusaha membujuk Sella agar tidak memberikan bukti yang dia maksud kepada polisi.

"Kamu mau kan, memaafkan aku?" tanya Arthur dengan penuh harap.

"Ya, aku memaafkan kamu. Tidak ada alasan bagi aku untuk tidak memaafkan sesama makhluk ciptaan tuhan. Sedangkan tuhan saja maha pemaaf. Apalagi aku hanya umatnya," jawab Sella sok bijak.

"Terima kasih ya, Sel," ucap Arthur dengan mata berbinar.

"Itu Artinya, kamu tidak akan melaporkan, dan memberikan buktinya kepada polisi kan?" ucap Arthur memastikan apa yang masih mengganjal di hatinya.

"Aku tidak bilang begitu, aku hanya memaafkan kamu, dan aku akan tetap membuktikan kalau aku bukan pelaku. Akan tetapi, aku adalah korban dari masalah ini," jawab Sella. Dia bersorak gembira dalam hatinya, karena telah bisa mengendalikan Arthur seperti yang dia mau.

"Aku mohon, Sel. Jangan lakukan itu," mohon Arthur dengan sungguh-sungguh.

"Okay. Tapi, aku punya syarat untuk menjamin itu tidak akan pernah bocor," Sella menatap Arthur penuh kemenangan.

"Syarat? syarat apa?" tanya Arthur mendekati Sella.

"Ya, syarat untuk menjamin rahasia ini tetap aman. Syaratnya mudah kok," Sella mengedipkan sebelah matanya sambil menggigit bibir bawahnya.

"Katakan, apa syaratnya?" tanya Arthur penasaran. "Aku akan melakukannya," imbuhnya lagi.

Sella mendekati Arthur, dia mengelilingi tubuh Arthur dengan satu tangan bergelayut di pinggang Arthur, "Syaratnya… sangat enak, kok," ucap Sella tersenyum, "Jangan tegang begitu," bisiknya sensual di telinga Arthur.

Sella berhenti mengelilingi tubuh Arthur, dia berdiri di hadapan Arthur dengan tubuh yang ditempelkan ke dada Arthur hingga bukit kembarnya membentur dada bidang itu. Kedua telapak tangan Sella menelungkupi pipi Arthur, membelainya dengan deru nafas yang menerpa langsung ke wajah yang ada di hadapannya. Arthur bisa merasakan rasa hangat dari nafas Sella yang di wajahnya.

"Karena, kamu sudah membuat aku kecanduan. Maka, kamu harus bersedia melakukannya kembali. Kapanpun aku mau, kamu harus bersedia untuk itu," ucap Sella.

"Deg," Mendengar ucapan Sella yang terdengar sangat frontal, jantung Arthur berdebar, dan bekerja lebih cepat dari biasanya.

Sella mencium bibir Arthur sekilas, setelah mengucapkan syarat yang dia berikan kepada Arthur. Syarat untuk menjamin supaya perbuatanya dengan Arthur tidak ada yang mengetahui.

"Itu artinya kita akan mengulanginya lagi?" tanya Arthur gelagapan karena Sella terus menggodanya hingga tombak pusakanya kembali terbangun.

"Iya." Sella menganggukkan kepalanya membenarkan perkataan Arthur.

"Sampai kapan?" tanya Arthur minta kepastian. Dia tidak menyangka kalu syarat yang di berikan Sella adalah hal yang tidak dia duga.

"Sampai aku bosan," jawab Sella enteng sambil bermain-main di leher Arthur. Dada bidang Arthur dengan bulatan kecil di sana, tidak luput juga dari kenakalan Sella.

Tangan Sella yang memainkan dada bidang Arthur, turun ke bawah sampai perut, dan terus bergerak hingga tangan itu menyentuh tombak pusaka Arthur yang sudah mengeras dibalik celananya. Sella meremasnya dari balik celana, dengan gerakan tangan yang begitu Agresif.

"Dia kembali bangun," ucap Sella. Lalu, melumat bibir Arthur, dan menyusupkan lidahnya ke dalam rongga mulut Arthur.

Arthur hanya pasrah seperti boneka yang dimainkan oleh Sella. Dia menikmati sentuhan Sella dengan pikirannya yang sangat kacau.

"Apakah kita akan melakukannya lagi?" tanya Arthur yang sudah mulai berkabut birahi, akibat dari kenakalan tangan Sella.

"Ya, kita akan melakukannya lagi. Tapi, bukan sekarang. Mungkin lain waktu," ucap Sella menghentikan aktivitasnya di tubuh Arthur.

"Cih, kamu memulai dan mengakhiri di tengah jalan," umpat Arthur yang sudah bergelora.

"Sekarang, aku belum menginginkannya," ucap Sella yang mencolek kembali tombak pusaka Arthur. "Bukannya syaratnya, kita akan melakukannya kapan aku mau saja," Sella melangkahkan kaki jenjangnya, dan berlalu pergi keluar kamar.

"Sel, mau kemana?" tanya Arthur mengikuti Sella keluar dari kamar.

"Bukannya kita harus ke kantor polisi?" ucap Sella.

"Buat apa? tanya Arthur yang kembali takut jika Sella akan mengantarkan barang buktinya ke kantor polisi.

"Tante Anggita, Maya, dan Daffin sudah ada di sana. Kita harus menyusul mereka." Jawab Sella yang terus berjalan, dengan lenggang lenggok bak seorang model.

"Kamu tidak akan menyerahkan bukti itu, kan?" tanya Arthur kembali. Dia ingin memastikan kalau Sella ke kantor polisi benar-benar hanya mau menyusul mamanya, Maya, dan Arthur saja. Bukan untuk menyerahkan bukti yang Sella pegang.

"Selagi kamu tidak melanggar syarat yang aku berikan. Maka, bukti ini akan aman," jawab Sella tersenyum ke arah Arthur.

"Kamu mau ikut ke kantor polisi apa gak?" tanya Sella yang melihat Arthur tertegun.

"Tapi… kunci mobilku belum ketemu," Arthur mencoba menghentikan langkah Sella yang terus berjalan.

"ini?" Sella memutar badannya ke belakang, dan mengangkat tangannya sejajar dengan kepalanya. Terlihat di tangannya, dia memegang sebuah kunci dengan aksesoris berwarna hitam.

"I-iya," Arthur mengangguk bingung. Sejak kapan kunci mobilnya berada di tangan Sella.

"Nih!" Sella melemparkan kunci yang ada di tangannya ke hadapan Arthur. Dengan ligat, Arthur menangkapnya gelagapan.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Meninggalkan Suamiku Karena Mantan Kekasihnya
7.8
Di pesta ulang tahun ke-60, kebahagiaanku hancur saat suami dan anak-anakku mengabaikanku demi Nina Sanders, sang mantan kekasih yang kembali. Selama empat puluh tahun aku berkorban, namun mereka justru menangis haru menyambut Nina yang kini menderita Alzheimer. Saat mereka memperlakukanku layaknya musuh di depan wanita itu, aku menyadari posisiku telah tergantikan. Dengan hati yang hancur, aku memilih menyebut diriku orang asing dan pergi meninggalkan mereka.
Sampul Novel DICERAI KARENA MANDUL
8.3
Dunia Kala runtuh seketika saat ia dicerai dengan tuduhan mandul dan dikhianati pasangannya. Di tengah rasa rendah diri dan luka batin yang mendalam, ia mempertanyakan takdir hidupnya yang tragis. Namun, secercah harapan muncul lewat pertemuannya dengan Sheryl Amanta Versha, seorang bocah polos yang kehadirannya ditolak ibu kandungnya. Meski sempat menepis perasaan yang tumbuh, Kala terjebak dalam pusaran emosi baru yang menantang keberaniannya untuk bangkit.
Sampul Novel Dosa Yang Indah - Zina
8.8
Zina lahir dari rahim seorang wanita yang penuh noda masa lalu. Sebagai anak yang tercipta dari perbuatan terlarang, ia tumbuh di tengah penderitaan hidup yang tiada henti. Sang Ibu, yang menyimpan luka mendalam akibat siksaan seorang pria, bertekad melakukan segalanya demi membalas dendam. Dalam kisah romansa modern ini, Zina menjadi simbol dari dosa indah sekaligus alat untuk menuntaskan amarah ibunya terhadap sosok yang telah menghancurkan mereka.
Sampul Novel Istri Kedua
7.9
Indira sangat antusias memulai karier sebagai sekretaris pengganti di perusahaan raksasa ibu kota. Namun, sebuah momen canggung terjadi saat ia memergoki bosnya, Edbert, bermesraan dengan sang istri, Merry. Alih-alih marah, Merry justru meminta Indira duduk dan mengajukan permohonan gila agar suaminya menikahi sekretaris itu. Edbert sangat terkejut mendengar ide poligami tersebut. Akankah Indira bersedia menjadi istri kedua demi memenuhi permintaan Merry?
Sampul Novel Istri Penguasa Tak Terlihat
8.5
Hidup Roxelle Clementia Evelyn berubah total saat Hendrik Ou Gang mengungkap identitas aslinya sebagai pewaris Ou Gang Grup. Setelah bertahun-tahun menderita akibat kemiskinan dan penghinaan, wanita Asia-Amerika ini ternyata cucu yang selama ini dikira telah tiada. Kehadirannya memicu ketegangan besar bagi Margarita dan Donna yang selama ini berkuasa. Mampukah Roxelle memimpin perusahaan finansial raksasa di Kota Luo dan menghadapi intrik keluarga tersebut?
Sampul Novel Kesempatan Kedua dengan Sang Miliarder
9.2
Pasca malam yang liar, Raina terjebak dalam hubungan serius dengan Felix, seorang miliarder yang terpikat pesonanya. Namun, kebahagiaan itu sirna saat cinta pertama Felix kembali, membuat Raina dicampakkan begitu saja lewat selembar cek. Bukannya hancur, Raina justru pergi dengan senyuman. Saat takdir mempertemukan mereka lagi, Raina telah bersama pria lain. Felix yang terbakar cemburu mencoba mengejarnya kembali, bahkan rela mengantre demi mendapatkan hati sang mantan.