
Istriku Sibuk, Hatiku Kosong
Bab 2
Malam itu, Damien terjaga lebih lama dari biasanya. Di ruang tamu, suasana terasa semakin berat. Lia sudah berada di kamar tidur yang disediakan Nadine untuknya, sementara Damien duduk di ruang tamu, menatap televisi yang tak menyala, hanya ditemani suara detak jam dinding yang lambat. Jam sudah menunjukkan pukul dua pagi, tetapi Nadine belum pulang.
Pikiran Damien menggelayuti, membentuk alur yang lebih gelap dari yang bisa ia bayangkan. Selama bertahun-tahun, ia sudah terbiasa dengan kesibukan Nadine, tapi tidak pernah ada jarak sejauh ini. Nadine tampaknya semakin menjauh, baik secara fisik maupun emosional. Setiap kata yang terucap, setiap sikap yang dia tunjukkan, semakin meyakinkan Damien bahwa ia hanya menjadi bagian dari latar belakang kehidupan istrinya.
Namun, ini bukan hanya tentang peran yang harus ia jalani. Ini tentang pengabaian. Nadine tampak begitu tidak peduli pada perasaannya. Seperti semuanya berjalan lancar meskipun Damien merasa semakin terasingkan.
Ponsel Damien bergetar, menariknya dari lamunan. Sebuah pesan dari Nadine.
"Maaf, aku belum pulang malam ini. Ada banyak pekerjaan yang harus diselesaikan. Kamu tidur lebih dulu."
Damien menggelengkan kepala. Kata-kata itu seperti rutinitas, seperti jawaban yang sama setiap kali ia menghubungi Nadine. Tidak ada yang baru. Tidak ada yang terasa berbeda.
Ia menulis balasan singkat: "Baik. Hati-hati di jalan."
Setelah mengirimkan pesan itu, Damien melemparkan ponselnya ke atas meja, lalu berdiri. Langkahnya terasa berat saat ia berjalan ke kamar tidur. Biasanya, ia dan Nadine akan berbicara sebelum tidur, berbagi cerita atau sekadar saling bercanda, tetapi malam ini, kamar itu terasa begitu hampa.
Damien menatap tempat tidurnya yang kosong, dan seolah-olah ia bisa merasakan kehadiran Nadine yang begitu jauh. Saat itulah ia mendengar suara pintu depan terbuka. Nadine pulang, dan seperti biasa, ia tidak berbicara banyak.
"Aku lelah," ujar Nadine, memasuki kamar dengan langkah cepat. Wajahnya terlihat lelah, tapi juga tampak seperti seseorang yang berusaha menutupi sesuatu.
Damien mendekati Nadine yang sedang membuka pakaian dengan gerakan terburu-buru. "Kau... lagi-lagi tidak ada waktu untuk berbicara?" tanyanya, suaranya bergetar antara frustrasi dan rasa kecewa.
Nadine menatapnya, matanya sedikit mengernyit. "Damien, jangan mulai lagi. Aku sudah bilang, aku lelah," jawabnya dengan nada datar.
Damien merasakan panas di dadanya. "Lelah? Atau hanya tidak peduli?" tanyanya, dengan suara yang mulai meninggi.
Nadine berhenti sejenak, menatapnya dengan tatapan tajam. "Apa maksudmu?"
"Tadi pagi kau membawa gadis itu ke rumah, Nadine. Gadis yang kau sebut pembantu. Apakah itu alasan kenapa aku terus diabaikan? Karena ada orang lain yang harus kau urus?" suara Damien penuh kemarahan yang tak bisa lagi disembunyikan.
Nadine terdiam beberapa detik, kemudian melemparkan pakaian yang sudah ditanggalkan ke tempat tidur. "Dia hanya pembantu, Damien. Tidak ada yang perlu dipermasalahkan."
"Begitu?" Damien tertawa pahit. "Jadi aku hanya perlu diam dan menerima semuanya? Kau membawa seorang asing ke rumah kita, Nadine. Dan aku tidak tahu apa yang sedang terjadi denganmu."
Nadine menghela napas berat, mencoba menenangkan dirinya. "Kau tidak mengerti. Aku sedang mencoba mengatur semuanya. Aku mencoba menjaga karierku, menjaga rumah, dan segala hal lainnya. Aku tidak bisa terus-menerus mengurus semuanya sendirian."
"Dan aku? Apakah aku tidak penting dalam hidupmu lagi?" suara Damien bergetar. "Apakah peran kita sebagai pasangan sudah tidak berarti apa-apa?"
Nadine menatapnya, sejenak tampak bingung, lalu ada kilatan di matanya yang sulit dipahami. "Kau tahu aku berusaha, bukan? Semua yang aku lakukan demi kita. Demi masa depan kita."
Damien merasa jantungnya seperti dihimpit batu. "Tapi kita sudah terpisah, Nadine. Apa yang kita miliki sekarang? Apakah ini yang kita sebut masa depan? Aku merasa seperti orang asing dalam rumah ini."
Nadine terdiam, menundukkan kepala sejenak. Tidak ada yang bisa dia katakan. Damien bisa merasakan ketegangan itu, seolah-olah mereka berdua berjarak semakin jauh.
"Seandainya saja kita bisa berbicara lebih banyak," kata Damien, suaranya lebih lembut sekarang. "Seandainya saja kita bisa menemukan cara untuk kembali... ke yang dulu."
Namun, Nadine hanya menggelengkan kepala, kemudian berjalan ke tempat tidurnya dan berbaring, membelakangi Damien. "Aku lelah, Damien. Aku tidak bisa terus-menerus berbicara tentang ini. Aku butuh istirahat."
Damien berdiri di tempatnya, merasa semakin terasing. Ia tahu, meskipun mereka berdua berada dalam satu kamar, rasanya mereka semakin jauh, dan ada jarak yang tidak bisa dijembatani dengan kata-kata atau bahkan sentuhan.
Dia berbalik dan berjalan keluar dari kamar, menuju ruang tamu yang sepi. Di sana, di tengah hening yang menekan, Damien merasa dirinya kehilangan arah. Ke mana lagi ia harus melangkah jika jalan yang dihadapinya semakin terjal dan gelap?
Lia, yang baru saja datang, seolah menambah beban yang semakin berat. Namun, Damien tahu ini bukan hanya soal seorang gadis yang menginap di rumah mereka. Ini tentang Nadine yang semakin tidak terlihat. Ini tentang dirinya yang semakin terlupakan. Dan semakin ia mencoba untuk mendekat, semakin terasa perbedaan yang ada di antara mereka.
Anda Mungkin Juga Suka





