
Istriku Sibuk, Hatiku Kosong
Bab 3
Hari-hari berikutnya terasa seperti pengulangan dari rutinitas yang sama-sepi, sunyi, dan penuh dengan ketegangan yang semakin mendalam. Damien masih berusaha beradaptasi dengan kehadiran Lia di rumah mereka, meskipun perasaan tidak nyaman itu terus menghantuinya. Setiap kali ia berpapasan dengan gadis itu, ada perasaan aneh yang muncul. Lia hanya bekerja di belakang layar, tapi entah mengapa kehadirannya membuat semuanya semakin terasa berat.
Nadine semakin jarang ada di rumah, dan ketika dia pulang, suasana seakan terkunci dalam diam yang membekukan. Damien mulai merasakan bahwa hubungan mereka semakin dipenuhi oleh kebekuan, tak ada percakapan hangat, tak ada tawa, tak ada keintiman. Semua yang ada hanya rutinitas, hanya tugas-tugas yang harus diselesaikan. Bahkan saat mereka makan malam bersama, itu terasa seperti makan dengan seorang asing. Nadine tidak lagi tersenyum padanya, tidak lagi memperhatikan sekecil apapun dirinya.
Pada suatu malam, setelah Nadine kembali larut, Damien menemukan dirinya duduk di ruang tamu, memandang Lia yang sedang duduk di kursi yang sama, matanya kosong menatap layar ponsel. Tak ada lagi topik yang ingin dibicarakan dengan Nadine, tak ada lagi interaksi yang terasa nyata. Dan Lia, gadis itu, hanyalah pengingat betapa asingnya rumah ini bagi dirinya.
"Kenapa kau tidak tidur?" Damien akhirnya bertanya, suaranya pecah di keheningan yang melingkupi.
Lia menoleh, seolah baru menyadari keberadaan Damien. "Maaf, Pak. Saya... saya hanya ingin memastikan semuanya baik-baik saja," jawabnya dengan nada halus, sedikit canggung.
Damien menarik napas dalam-dalam. "Kau merasa nyaman di sini?"
Lia mengangguk, meskipun ada ketegangan di wajahnya. "Ya, terima kasih, Pak. Nadine baik kepada saya."
Damien menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Lia dengan tatapan yang lebih serius. "Nadine... Dia semakin sibuk belakangan ini, kan?"
Lia tampaknya merasakan ketegangan yang ada. "Saya... tidak tahu banyak, Pak. Saya hanya bekerja di sini." Suaranya pelan, seperti sedang berusaha menjaga jarak, tapi Damien bisa melihat ada sesuatu yang lain di balik kata-katanya. Sesuatu yang tersembunyi, yang lebih dalam.
"Begitu," gumam Damien. Ia merasa seperti ada kabut yang semakin tebal menyelimuti pikirannya. Sesuatu tidak beres di sini, dan perasaan itu terus berkembang. Nadine mungkin terlihat sibuk, tetapi ada sesuatu yang lebih besar yang tidak ia ketahui. Sesuatu yang mungkin mengancam lebih dari sekadar hubungan mereka.
Di malam yang sama, ketika Lia sudah tidur, Damien duduk di meja kerja Nadine, menatap laptop yang terbuka di atas meja. Ada sedikit dorongan untuk mengetahui lebih banyak, untuk menggali lebih dalam ke dalam kehidupan Nadine yang selama ini tampak begitu tertutup. Setelah ragu sejenak, ia akhirnya memutuskan untuk membuka email yang ada di layar. Tanpa banyak berpikir, ia mulai mencari-cari, berharap untuk menemukan petunjuk tentang apa yang sebenarnya terjadi pada istrinya.
Tiba-tiba, sebuah nama muncul di salah satu email yang baru saja diterima Nadine. Nama itu tidak asing bagi Damien. Seseorang dari perusahaan tempat Nadine bekerja, seorang pria bernama Adrian Hidayat. Adrian? Pikir Damien, siapa dia? Mengapa Nadine berkomunikasi begitu sering dengan orang ini?
Insting Damien mulai berbicara. Ada yang tidak beres, dan rasa tidak nyaman itu semakin kuat. Ia membaca lebih lanjut, mencoba mencari tahu lebih banyak. Satu email dari Adrian yang baru saja masuk membuat perasaan Damien bergejolak. "Aku akan mengurus semuanya, Nadine. Jangan khawatir, kita akan bertemu seperti yang direncanakan."
Apa yang sedang terjadi? Pertanyaan itu muncul dengan cepat dalam pikiran Damien. Bertemu? Dengan siapa? Dan kenapa Nadine merasa perlu untuk menjaga ini tetap tersembunyi darinya?
Damien menutup laptop dengan tangan yang sedikit gemetar. Satu hal yang pasti, ia tidak bisa lagi menutup mata terhadap kenyataan. Ada sesuatu yang lebih besar yang sedang terjadi, dan ia tidak akan membiarkannya begitu saja.
Paginya, ketika Nadine kembali ke rumah setelah semalam yang panjang, Damien tidak bisa lagi menahan rasa curiganya. Ia menghadapi Nadine dengan mata yang penuh tanya.
"Nadine," suaranya rendah, tapi tegas. "Ada yang ingin aku bicarakan denganmu."
Nadine menatapnya, tampaknya terkejut. "Ada apa, Damien?"
"Siapa Adrian Hidayat?" tanya Damien, suaranya penuh tekanan.
Nadine terdiam sejenak, kemudian mengalihkan pandangannya. "Itu... itu hanya seorang kolega. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Tapi Damien tidak bisa menepis perasaan bahwa ini lebih dari sekadar 'kolega'. Ada yang ia sembunyikan, dan Damien merasa bahwa ia mulai memasuki area yang sangat berbahaya-tempat yang penuh dengan kebohongan dan pengkhianatan.
"Jangan berbohong padaku," kata Damien, suaranya semakin tajam. "Aku tahu ada sesuatu yang kau sembunyikan. Apa hubunganmu dengan pria itu?"
Nadine terdiam, tidak dapat lagi menghindar dari kenyataan. Mata mereka bertemu, dan Damien bisa melihat ketegangan di wajah Nadine. Beberapa detik terasa seperti berjam-jam. Akhirnya, Nadine menghela napas panjang.
"Aku... aku tidak tahu harus mulai dari mana," katanya pelan, suara penuh penyesalan. "Damien, aku sudah terjebak dalam sesuatu yang lebih besar dari yang kau pikirkan."
Damien merasa hatinya berdegup kencang. Apa yang baru saja dia dengar? Apa yang sebenarnya terjadi pada pernikahan mereka? Dan apakah ia siap untuk menghadapi kebenaran yang mungkin akan menghancurkan segalanya?
Damien tidak tahu apakah ia masih bisa memperbaiki semuanya, atau apakah kenyataan yang baru saja terungkap akan mengubah segalanya selamanya.
Anda Mungkin Juga Suka





