Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istriku Punya Nama

Istriku Punya Nama

Hananan, gadis mandiri berusia 25 tahun, terkejut saat mengetahui dirinya bukan anak kandung keluarga petani yang membesarkannya. Hidupnya berubah drastis ketika dijemput paksa ke sebuah rumah mewah, bukan untuk disambut hangat, melainkan dipaksa menggantikan adik kembarnya, Nazia, yang kabur demi cinta. Ia harus menikahi pengusaha kaya sebagai pengganti. Tanpa kasih sayang orang tua kandungnya, mampukah Hananan menemukan kebahagiaan sejati?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Lukisan asa dan karsa di langit harapan berubah mendung pekat, berselimut rintik-rintik sendu yang butuh penghangat"

Part 3

🍂 Berselimut Lara 🍂

Hananan tidak tahu harus bagaimana nanti jika dia masuk dan berhadapan dengan kedua orang tua yang dianggap sebagai orang tua kandungnya selama ini. Apakah dia harus mengabaikan kebenaran yang baru saja dia ketahui, ataukah mempertanyakan kepada mereka kenyataan tersebut untuk menyakinkan dirinya.

Hananan bimbang. Terlalu syok ketika mendengarnya. Dia terpaksa kembali ke rumah karena tidak ingin Salim mengikutinya ke kebun. Niat untuk menyendiri, menenangkan hati dan pikiran malah nanti akan menimbulkan fitnah jika ketahuan warga mereka sedang berduaan di ladang.

Hananan membasuh wajahnya di keran samping rumah supaya tidak terlihat wajah sembab usai menangis.

"Ke mana saja kamu? Baru pulang sekarang, sengaja enggak mau menyuci?" omel Tini yang muncul mendadak dari pintu belakang, menatapnya dengan ketus.

Hananan tidak menjawab, dia menatap wajah yang selama ini begitu dia rindukan di kala berjauhan. Wajah yang tak lagi semuda dulu, ditandai beberapa kerutan itu sering dipandanginya diam-diam. Dia tidak pernah suka jika dirinya menjadi sebab turunnya hujan di wajah cantik itu.

Semua perlakuan Tini kepadanya memang terbilang keras, dia tidak pernah dimanjakan oleh ibunya itu seperti perlakuan kepada ketiga adiknya. Dan sekarang, Hananan tahu alasannya. Karena ...

Dia bukan anak kandung Tini dan Bambang.

Kasih sayang yang dia dapatkan tak sebesar yang diterima oleh para adiknya.

Hananan tidak pernah menuntut diperlakukan sama, dia mencoba berbesar hati karena menganggap sebagai anak tertua memang harus berjiwa tegar supaya bisa melindungi ketiga adiknya.

Namun, semuanya terbuka sekarang ini. Hananan sadar jika dirinya bahkan tidak berhak menuntut lebih kepada Tini dan Bambang. Diasuh dan dirawat sejak kecil hingga sekarang saja dia sudah sangat bersyukur. Alih-alih membenci sikap mereka terhadapnya yang pilih kasih, Hananan malah semakin bertekad untuk bisa membahagiakan mereka karena dia tahu tidak akan pernah bisa membalas jasa-jasa keduanya, seperti kata Tini saat membuka tabungan Hananan tadi.

"Bengong mulu, sana masuk ke dalam! Baju di kamar mandi sudah bau," hardik Tini semakin geram karena melihat Hananan melamun, tidak mengindahkan perintahnya.

"Assalamualaikum Bu," sapa Salim memberi salam ketika Hananan hendak beranjak masuk ke dalam rumah.

"Waalaikumsalam," jawab Tini dengan perubahan mimik dan intonasi, tidak mungkin dia bersikap arogan di depan Salim, lelaki yang beberapa kali membantunya jika dia sedang dalam kesulitan. Tini bisa membaca perasaan Salim kepada Hananan meski perempuan itu bersikap biasa saja, bukannya berbangga dan senang hati karena bisa dicintai lelaki baik, serta anak juragan itu.

Hananan sontak berhenti di depan pintu, dia tidak berniat untuk menyapa Salim apalagi lelaki itu menangkap basah mata sendunya yang tak bisa terbaca oleh pandangan Tini.

"Ada apa ya Nak Salim? Kamu mau bertemu sama Hananan?" tanya Tini seraya menarik pelan Hananan agar berbalik menghadap Salim.

"Iya, Bu, apa boleh?" Salim selalu meminta izin jika dia bertamu sekadar melihat Hananan ataupun membawakan sesuatu untuk mereka.

"Ya boleh dong," sahut Tini cepat sambil menyikut lengan Hananan.

"Oh baik, Bu, terima kasih."

Tini mengajak Salim untuk masuk ke dalam daripada mengobrol sambil berdiri.

"Tidak usah repot-repot, Bu, saya dari warung tadi sudah minum kopi dan makan kue buatan Hananan," ujar Salim mengurungkan Tini ke dapur untuk menyajikan minuman.

"Oh, baiklah. Ibu tinggal ke belakang dulu ya."

"Iya, Bu, oh ya Pak Bambang ada di rumah?"

"Baru saja keluar, ada apa ya Nak? Maaf apa ... mau melamar Hananan?" tebak Tini sukses membuat Hananan mendongak karena terkejut mendengarnya.

"Bu!'' lirih Hananan, Salim tertawa mendengarnya.

"Saya sih maunya begitu, Bu, tetapi saya enggak mungkin maksa Hananan, kan?"

Salim sebenarnya niat bertamu hanya untuk sekadar bertanya keadaan Hananan karena dia tidak bisa mengabaikan begitu saja kondisi perempuan itu. Salim tahu ada sesuatu yang tidak biasa telah terjadi.

"Dia mah malu-malu, Nak. Teman sebayanya sudah pada nikah, bukannya membalas perasaanmu malah dia pura-pura jual mahal. Kalau dia mau nikah sama kamu kan, dia enggak perlu lamar kerja mulu diterima kagak," sindir Tini semakin melukai perasaan Hananan yang sedang tidak baik-baik saja.

Apakah Hananan memang harus menikah saja dengan Salim, supaya dia tidak terlalu lama menjadi beban bagi kedua orang tuanya?

Hananan takut jika dia menikah hanya untuk kesenangannya, padahal dia tidak--belum mencintai Salim, apakah pernikahan mereka akan bahagia? Bagaimana keluarga Salim akan menerimanya menjadi menantu mereka sedangkan Hananan sangat berbeda.

"Menikah bukan lomba, Bu. Hananan enggak salah jika dia belum bisa menerima dan membalas perasaan Salim. Maaf, apa saya bisa mengorbrol dulu dengannya?"

Salim ingin mengakhiri pembahasan menikah yang hanya menyudutkan Hananan. Dia bisa melihat ketidaknyamanan perempuan itu akan ucapan Ibunya.

"Ah, baiklah. Ibu ke belakang dulu," pungkas Tini berbalik menuju arah dapur.

Salim memandang Hananan yang lebih memilih menunduk memandangi lantai.

"Kamu kenapa? Ada yang mau kamu ceritakan? Maaf, aku enggak bermaksud memaksa, tapi aku cemas melihatmu seperti tadi," ungkap Salim jujur.

"Aku baik-baik saja, Bang dan ini enggak ada kaitannya dengan Abang. Maaf aku harus menyuci baju, Bang. Sebaiknya jika enggak ada yang mau ditanyakan lagi, aku mau ke kamar mandi," tukasnya berharap Salim tidak memaksanya untuk menjelaskan kepadanya yang terjadi tadi. Dia belum sanggup jika harus berbagi laranya pada orang lain, terlebih di saat ini, di rumah ini. Ibu akan mendengarnya.

"Baiklah, jika kamu butuh pendengar yang baik Abang bisa menjadi salah satunya," ucap Salim.

"Makasih, Bang, aku permisi dulu ya, maaf bukan bermaksud mengusir," tandas Hananan lantas berdiri dari duduknya, diikuti Salim.

"Enggak apa-apa," balas Salim. Hananan berjalan menuju kamar mandi, Tini kembali masuk ke ruang tamu. Dia meminta maaf pada Salim akan sikap Hananan kurang sopan seperti tadi.

"Bukan salah Hananan, Bu. Saya cuma singgah sebentar, saya izin pulang dulu," pamit Salim diantar hingga ke depan oleh Tini, dia malah senang jika ada tetangga yang melihat sosok Salim sedang bertamu ke rumahnya supaya para ibu-ibu yang mempunyai niat untuk mendekatkan putri mereka kepada Salim membatalkannya.

Selepas Salim keluar dari perkarangan rumahnya, Tini menutup pintu lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk menegur Hananan.

"Kamu masih sok jual mahal, mau kamu menyesal kalau dia tiba-tiba besok melamar anak gadis lain?" cerca Tini berdiri di ambang pintu kamar mandi. Hananan terus melanjutkan untuk menyikat baju yang dia ambil dalam rendaman ember berisi air dan deterjen.

"Kamu tuli atau bisu, hah? Ibu bicara sama kamu!" tegur Tini merasa sikap Hananan hari ini sedikit kelewatan dan tidak sopan karena lebih banyak diam jika ditanya.

"Maaf, Bu." Hananan seperti kehilangan kata-kata, karena dia takut jika banyak berbicara malah akan bertanya banyak hal kepada Ibunya. Dadanya terasa sesak dan lidahnya kelu untuk melontarkan satu pertanyaan saja.

Apakah benar aku bukan anak kandungmu, Bu?

"Kerjakan itu, abis ini kamu ke pasar," tukas Tini seraya berbalik menahan kekesalannya.

Hananan mempercepat pekerjaannya, dia ingin sekali keluar rumah setelah ini sekadar untuk menyegarkan pikiran.

"Siapa orang tua kandungku?" gumam Hananan dengan pandangan kosong pada baju yang sedang disikatnya.

"Kenapa kalian enggak merawatku?"

"Apakah aku enggak diharapkan?"

Hananan membiarkan setetes air jatuh dari pelupuk matanya, tetapi segera dia seka agar tidak semakin berlarut berselimut lara.

Hananan sudah dewasa, tidak perlu ada adegan sinetron penuh drama hanya karena kenyataan ini.

Hananan percaya setiap takdir yang dia jalani adalah ketetapan terbaik yang Allah tetapkan baginya. Dia tidak perlu membenci nasibnya.

"Hananan, semangat jangan bersedih. La tahzan, Allah bersamamu."

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Sang Mantan Kekasih yang Dikhianati
8.4
Aryan Adhitama, CEO berhati dingin, terpaksa menikahi Alana Shafira setelah sebuah jebakan obat perangsang membuatnya merenggut kesucian perawat kakeknya itu. Pernikahan ini digelar demi tanggung jawab dan nama baik keluarga, meski Aryan hanya menganggap Alana sebagai beban. Alana pun terjebak dalam penderitaan batin bersama pria yang membencinya. Di tengah perbedaan status dan rahasia kelam, mampukah cinta tumbuh dari paksaan dan kesalahpahaman?
Sampul Novel Belenggu Hasrat Tuan Muda Adalrich
8.9
Hans merupakan pewaris takhta keluarga Adalrich yang tampak sempurna, namun ia menyimpan rahasia besar mengenai trauma psikologisnya terhadap wanita. Demi menutupi rasa jijik yang ia derita, Hans selalu bersikap angkuh dan dingin. Segalanya berubah saat ia bertemu Sashenka, putri dari rival bisnis bebuyutannya. Kehadiran gadis itu justru membangkitkan gairah yang selama ini mati. Kini, Hans harus berjuang menaklukkan hatinya di tengah perseteruan keluarga.
Sampul Novel DIARY_LIANA
8.4
Liana Salsabila, mahasiswi cerdas di Medan, mengalami trauma berat setelah dipaksa keguguran oleh kekasihnya melalui minuman beracun. Tragedi ini berujung pada pengangkatan rahim yang menghancurkan batinnya. Meski berasal dari keluarga terpandang, putri pengusaha saham Arbi dan Fitri ini sempat nekat menjalin hubungan rahasia tanpa restu. Kini, ia ditinggalkan saat sakit. Mampukah Liana menghadapi kemarahan orang tuanya setelah rahasia kelam ini terungkap?
Sampul Novel Get Pregnant Please!
8.3
Hidup Caca selalu dirundung nasib buruk hingga seorang peramal menyarankan agar ia segera memiliki anak demi mengubah takdirnya. Sayangnya, suami misterius yang menikahinya setahun lalu tak pernah menampakkan diri, meski ia hidup mewah di rumah elit. Menduga suaminya adalah pria tua yang buruk rupa, Caca nekat mencari pria idaman di klub malam untuk dihamili. Tak disangka, pria tampan yang menjadi targetnya justru adalah suaminya sendiri yang selama ini ia hindari.
Sampul Novel Kehidupanku yang Cemerlang Setelah Perceraian
8.7
Tiga tahun menikah tanpa cinta, Becky diceraikan Rory Arsenio setelah difitnah menyebabkan keguguran Berline. Alih-alih tunduk memohon maaf, Becky memilih berpisah. Keluarga Arsenio terkejut saat tahu Becky adalah pewaris kaya raya, bukan wanita materialis. Rory yang kini terpesona mulai mengejarnya kembali, namun Becky telah berubah menjadi sosok mandiri yang sulit digapai. Di tengah upaya Rory menebus kesalahan, akankah Becky luluh atau memilih pria lain?
Sampul Novel Lelaki Kedua
9.5
Dunia Arimbi Maulida hancur saat Nina, sepupunya, mengungkap pernikahan rahasia dengan Seno, tunangan Arimbi. Pengkhianatan ini terungkap tepat sebelum hari besar mereka akibat kehamilan Nina. Demi menutupi aib keluarga, ayah Arimbi menuntut Ganesha, kakak Seno yang dingin dan gila kerja, untuk menggantikan posisi mempelai pria. Meski Arimbi takut dan membenci Ganesha, ia terpaksa menikah. Kini, ia terjebak dalam rumah tangga tanpa cinta sementara Seno mencoba mengejarnya kembali.