
Istriku Punya Nama
Bab 3
"Lukisan asa dan karsa di langit harapan berubah mendung pekat, berselimut rintik-rintik sendu yang butuh penghangat"
Part 3
🍂 Berselimut Lara 🍂
Hananan tidak tahu harus bagaimana nanti jika dia masuk dan berhadapan dengan kedua orang tua yang dianggap sebagai orang tua kandungnya selama ini. Apakah dia harus mengabaikan kebenaran yang baru saja dia ketahui, ataukah mempertanyakan kepada mereka kenyataan tersebut untuk menyakinkan dirinya.
Hananan bimbang. Terlalu syok ketika mendengarnya. Dia terpaksa kembali ke rumah karena tidak ingin Salim mengikutinya ke kebun. Niat untuk menyendiri, menenangkan hati dan pikiran malah nanti akan menimbulkan fitnah jika ketahuan warga mereka sedang berduaan di ladang.
Hananan membasuh wajahnya di keran samping rumah supaya tidak terlihat wajah sembab usai menangis.
"Ke mana saja kamu? Baru pulang sekarang, sengaja enggak mau menyuci?" omel Tini yang muncul mendadak dari pintu belakang, menatapnya dengan ketus.
Hananan tidak menjawab, dia menatap wajah yang selama ini begitu dia rindukan di kala berjauhan. Wajah yang tak lagi semuda dulu, ditandai beberapa kerutan itu sering dipandanginya diam-diam. Dia tidak pernah suka jika dirinya menjadi sebab turunnya hujan di wajah cantik itu.
Semua perlakuan Tini kepadanya memang terbilang keras, dia tidak pernah dimanjakan oleh ibunya itu seperti perlakuan kepada ketiga adiknya. Dan sekarang, Hananan tahu alasannya. Karena ...
Dia bukan anak kandung Tini dan Bambang.
Kasih sayang yang dia dapatkan tak sebesar yang diterima oleh para adiknya.
Hananan tidak pernah menuntut diperlakukan sama, dia mencoba berbesar hati karena menganggap sebagai anak tertua memang harus berjiwa tegar supaya bisa melindungi ketiga adiknya.
Namun, semuanya terbuka sekarang ini. Hananan sadar jika dirinya bahkan tidak berhak menuntut lebih kepada Tini dan Bambang. Diasuh dan dirawat sejak kecil hingga sekarang saja dia sudah sangat bersyukur. Alih-alih membenci sikap mereka terhadapnya yang pilih kasih, Hananan malah semakin bertekad untuk bisa membahagiakan mereka karena dia tahu tidak akan pernah bisa membalas jasa-jasa keduanya, seperti kata Tini saat membuka tabungan Hananan tadi.
"Bengong mulu, sana masuk ke dalam! Baju di kamar mandi sudah bau," hardik Tini semakin geram karena melihat Hananan melamun, tidak mengindahkan perintahnya.
"Assalamualaikum Bu," sapa Salim memberi salam ketika Hananan hendak beranjak masuk ke dalam rumah.
"Waalaikumsalam," jawab Tini dengan perubahan mimik dan intonasi, tidak mungkin dia bersikap arogan di depan Salim, lelaki yang beberapa kali membantunya jika dia sedang dalam kesulitan. Tini bisa membaca perasaan Salim kepada Hananan meski perempuan itu bersikap biasa saja, bukannya berbangga dan senang hati karena bisa dicintai lelaki baik, serta anak juragan itu.
Hananan sontak berhenti di depan pintu, dia tidak berniat untuk menyapa Salim apalagi lelaki itu menangkap basah mata sendunya yang tak bisa terbaca oleh pandangan Tini.
"Ada apa ya Nak Salim? Kamu mau bertemu sama Hananan?" tanya Tini seraya menarik pelan Hananan agar berbalik menghadap Salim.
"Iya, Bu, apa boleh?" Salim selalu meminta izin jika dia bertamu sekadar melihat Hananan ataupun membawakan sesuatu untuk mereka.
"Ya boleh dong," sahut Tini cepat sambil menyikut lengan Hananan.
"Oh baik, Bu, terima kasih."
Tini mengajak Salim untuk masuk ke dalam daripada mengobrol sambil berdiri.
"Tidak usah repot-repot, Bu, saya dari warung tadi sudah minum kopi dan makan kue buatan Hananan," ujar Salim mengurungkan Tini ke dapur untuk menyajikan minuman.
"Oh, baiklah. Ibu tinggal ke belakang dulu ya."
"Iya, Bu, oh ya Pak Bambang ada di rumah?"
"Baru saja keluar, ada apa ya Nak? Maaf apa ... mau melamar Hananan?" tebak Tini sukses membuat Hananan mendongak karena terkejut mendengarnya.
"Bu!'' lirih Hananan, Salim tertawa mendengarnya.
"Saya sih maunya begitu, Bu, tetapi saya enggak mungkin maksa Hananan, kan?"
Salim sebenarnya niat bertamu hanya untuk sekadar bertanya keadaan Hananan karena dia tidak bisa mengabaikan begitu saja kondisi perempuan itu. Salim tahu ada sesuatu yang tidak biasa telah terjadi.
"Dia mah malu-malu, Nak. Teman sebayanya sudah pada nikah, bukannya membalas perasaanmu malah dia pura-pura jual mahal. Kalau dia mau nikah sama kamu kan, dia enggak perlu lamar kerja mulu diterima kagak," sindir Tini semakin melukai perasaan Hananan yang sedang tidak baik-baik saja.
Apakah Hananan memang harus menikah saja dengan Salim, supaya dia tidak terlalu lama menjadi beban bagi kedua orang tuanya?
Hananan takut jika dia menikah hanya untuk kesenangannya, padahal dia tidak--belum mencintai Salim, apakah pernikahan mereka akan bahagia? Bagaimana keluarga Salim akan menerimanya menjadi menantu mereka sedangkan Hananan sangat berbeda.
"Menikah bukan lomba, Bu. Hananan enggak salah jika dia belum bisa menerima dan membalas perasaan Salim. Maaf, apa saya bisa mengorbrol dulu dengannya?"
Salim ingin mengakhiri pembahasan menikah yang hanya menyudutkan Hananan. Dia bisa melihat ketidaknyamanan perempuan itu akan ucapan Ibunya.
"Ah, baiklah. Ibu ke belakang dulu," pungkas Tini berbalik menuju arah dapur.
Salim memandang Hananan yang lebih memilih menunduk memandangi lantai.
"Kamu kenapa? Ada yang mau kamu ceritakan? Maaf, aku enggak bermaksud memaksa, tapi aku cemas melihatmu seperti tadi," ungkap Salim jujur.
"Aku baik-baik saja, Bang dan ini enggak ada kaitannya dengan Abang. Maaf aku harus menyuci baju, Bang. Sebaiknya jika enggak ada yang mau ditanyakan lagi, aku mau ke kamar mandi," tukasnya berharap Salim tidak memaksanya untuk menjelaskan kepadanya yang terjadi tadi. Dia belum sanggup jika harus berbagi laranya pada orang lain, terlebih di saat ini, di rumah ini. Ibu akan mendengarnya.
"Baiklah, jika kamu butuh pendengar yang baik Abang bisa menjadi salah satunya," ucap Salim.
"Makasih, Bang, aku permisi dulu ya, maaf bukan bermaksud mengusir," tandas Hananan lantas berdiri dari duduknya, diikuti Salim.
"Enggak apa-apa," balas Salim. Hananan berjalan menuju kamar mandi, Tini kembali masuk ke ruang tamu. Dia meminta maaf pada Salim akan sikap Hananan kurang sopan seperti tadi.
"Bukan salah Hananan, Bu. Saya cuma singgah sebentar, saya izin pulang dulu," pamit Salim diantar hingga ke depan oleh Tini, dia malah senang jika ada tetangga yang melihat sosok Salim sedang bertamu ke rumahnya supaya para ibu-ibu yang mempunyai niat untuk mendekatkan putri mereka kepada Salim membatalkannya.
Selepas Salim keluar dari perkarangan rumahnya, Tini menutup pintu lalu berjalan ke arah kamar mandi untuk menegur Hananan.
"Kamu masih sok jual mahal, mau kamu menyesal kalau dia tiba-tiba besok melamar anak gadis lain?" cerca Tini berdiri di ambang pintu kamar mandi. Hananan terus melanjutkan untuk menyikat baju yang dia ambil dalam rendaman ember berisi air dan deterjen.
"Kamu tuli atau bisu, hah? Ibu bicara sama kamu!" tegur Tini merasa sikap Hananan hari ini sedikit kelewatan dan tidak sopan karena lebih banyak diam jika ditanya.
"Maaf, Bu." Hananan seperti kehilangan kata-kata, karena dia takut jika banyak berbicara malah akan bertanya banyak hal kepada Ibunya. Dadanya terasa sesak dan lidahnya kelu untuk melontarkan satu pertanyaan saja.
Apakah benar aku bukan anak kandungmu, Bu?
"Kerjakan itu, abis ini kamu ke pasar," tukas Tini seraya berbalik menahan kekesalannya.
Hananan mempercepat pekerjaannya, dia ingin sekali keluar rumah setelah ini sekadar untuk menyegarkan pikiran.
"Siapa orang tua kandungku?" gumam Hananan dengan pandangan kosong pada baju yang sedang disikatnya.
"Kenapa kalian enggak merawatku?"
"Apakah aku enggak diharapkan?"
Hananan membiarkan setetes air jatuh dari pelupuk matanya, tetapi segera dia seka agar tidak semakin berlarut berselimut lara.
Hananan sudah dewasa, tidak perlu ada adegan sinetron penuh drama hanya karena kenyataan ini.
Hananan percaya setiap takdir yang dia jalani adalah ketetapan terbaik yang Allah tetapkan baginya. Dia tidak perlu membenci nasibnya.
"Hananan, semangat jangan bersedih. La tahzan, Allah bersamamu."
Anda Mungkin Juga Suka





