
Istriku Mengkhianatiku Dengan Pria Lain
Bab 3
Zevan melangkah keluar dari rumah dengan langkah-langkah yang penuh kemarahan, meninggalkan segalanya di belakangnya-Clara yang terisak di ruang tamu, Amanda yang terjebak dalam kebingungannya, dan rumah yang dulu penuh dengan kebahagiaan yang kini terasa seperti tempat yang asing. Udara pagi yang dingin menusuk kulitnya, namun di dalam hatinya, kehangatan itu sudah lama lenyap. Setiap langkahnya terasa seperti beban yang semakin berat, seolah-olah ia sedang berjalan menuju jurang kehancuran yang tak terhindarkan.
Di luar, mobil mewahnya terparkir di depan rumah. Zevan membuka pintu mobilnya dengan gerakan kasar, hampir seperti dia ingin menghancurkannya. Begitu duduk di kursi pengemudi, ia meraih stir dengan cengkaman yang begitu kuat, seolah-olah ia bisa mematahkan mobil itu hanya dengan genggamannya.
Namun, meski tubuhnya bergerak dengan cepat, pikirannya tak bisa berfungsi seperti biasanya. Gambaran wajah Clara yang penuh penyesalan terus terputar di benaknya, begitu juga dengan bayangan Amanda yang tak lebih dari sekadar pembantu yang tak sengaja terperangkap dalam situasi yang lebih besar dari yang bisa ia kontrol. Zevan merasa seolah-olah semuanya telah runtuh dalam sekejap. Dunia yang ia kenal-rumahnya, hidupnya, istrinya-semuanya telah retak. Dan kini, ia harus mencari cara untuk menghadapinya, meski rasanya seolah-olah ia telah kehilangan segalanya.
Saat mobil itu meluncur keluar dari perkarangan rumah, Zevan berpikir tentang apa yang harus ia lakukan. Pikirannya kacau, bergejolak dengan perasaan yang tak terkatakan-amarga Clara, karena Amanda, dan karena dirinya sendiri yang telah terjebak dalam sebuah kenyataan yang jauh lebih buruk dari yang ia bayangkan.
Sementara itu, di rumah, Clara masih terdiam di ruang tamu, matanya kosong dan hatinya hancur. Setiap detik yang berlalu semakin terasa berat, dan perasaan cemas semakin menyesak. Ia tahu bahwa setelah kejadian semalam, tidak ada lagi yang bisa ia lakukan untuk memperbaiki hubungan mereka. Zevan sudah sangat jauh dari dirinya, dan tak ada kata-kata yang bisa kembali menyatukan mereka. Kepercayaannya telah rusak, dan meski ia menyesal, ia tahu itu tidak akan cukup.
Namun, ada sesuatu yang lebih kuat dari penyesalan itu-rasa takut akan konsekuensi yang akan datang. Clara tahu bahwa Zevan tak akan membiarkannya begitu saja. Keputusan yang telah diambilnya, untuk berselingkuh dengan pria lain, adalah langkah yang tak bisa ia tarik kembali. Ia merasa seolah-olah terperangkap dalam kesalahan besar yang kini harus ia bayar. Setiap saat berlalu, ia merasa semakin terasing, seolah-olah tak ada lagi tempat yang aman baginya.
Namun, ketika ia hendak bangkit untuk menenangkan dirinya, langkah-langkah berat terdengar mendekat. Clara menoleh ke arah pintu, dan matanya bertemu dengan Amanda yang kini muncul dengan wajah bingung. Amanda tampak ketakutan, tubuhnya bergetar, seolah-olah dia juga masih belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi. Namun, tatapan mata Amanda kali ini berbeda-ada keteguhan yang mulai tumbuh di dalam dirinya.
"Amanda," Clara menyapa dengan suara rendah, "Apa yang... apa yang terjadi tadi malam?" Clara tidak bisa menahan perasaan takut yang menguasai dirinya.
Amanda menunduk, matanya terlihat lelah dan bingung. "Aku... aku tidak tahu, Clara. Aku hanya tahu bahwa aku terbangun di sana... di tempat tidur bersama Zevan. Aku tidak tahu bagaimana bisa aku ada di sana." Suaranya terdengar penuh penyesalan, seolah-olah dia merasa bersalah meskipun ia tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Clara menatap Amanda dengan rasa iba. Ia tahu betul bahwa gadis itu tak bersalah dalam situasi ini. Amanda hanya seorang gadis muda yang baru beberapa hari bekerja di rumah mereka, tak lebih dari seorang pembantu yang terjebak dalam sesuatu yang lebih besar dari dirinya.
"Aku... aku tidak bisa membayangkan betapa kacau semuanya sekarang," Amanda melanjutkan, matanya mulai berkaca-kaca. "Zevan pasti sangat marah... Aku hanya ingin pergi, Clara. Aku tidak tahu harus berbuat apa."
Clara menarik napas panjang, berusaha menenangkan dirinya meski hatinya penuh dengan kecemasan. "Kamu tidak bisa pergi, Amanda. Jangan lari dari masalah ini. Kita harus menghadapi Zevan bersama-sama."
Amanda memandang Clara dengan mata yang penuh kebingungannya. "Tapi aku... aku tidak bisa melakukan ini. Aku... aku tidak ingin menjadi bagian dari kekacauan ini."
"Amanda, kamu tidak memilih ini," kata Clara dengan lembut, mencoba meyakinkan gadis itu. "Ini bukan salahmu. Kita harus berhadapan dengan Zevan. Kita harus berbicara dengannya. Kalau tidak, semuanya hanya akan semakin buruk."
Amanda mengangguk dengan enggan, namun ekspresi wajahnya masih penuh ketakutan. Clara tahu betul bahwa, meskipun ia berusaha menguatkan Amanda, dirinya sendiri tak lebih dari seorang wanita yang terperangkap dalam jebakan kesalahan yang tak bisa ia hindari.
Sementara itu, Zevan terus mengemudi dengan pikiran yang semakin kacau. Jalanan di luar tampak seperti kabur, seolah-olah ia sedang bergerak menuju suatu tempat yang tak jelas. Ia tak tahu ke mana ia pergi-hanya berusaha melepaskan amarah dan rasa sakitnya. Namun, semakin ia mencoba melarikan diri, semakin besar perasaan kosong itu menggerogoti dirinya.
Setibanya di sebuah bar yang sepi, Zevan memasuki ruangannya, duduk di sudut, dan menatap kosong pada gelas whiskey yang ada di depannya. Dunia yang dulu penuh dengan harapan kini terasa seperti kenangan buram yang sudah terlalu jauh untuk dijangkau. Ia menyesap minumannya perlahan, merasakan kepahitan itu menyesap ke dalam dirinya, menambah rasa kosong yang telah ada.
Di luar sana, hidup terus berjalan, namun di dalam hatinya, Zevan merasa seolah-olah semuanya telah hancur. Bagaimana bisa ia kembali seperti dulu? Bagaimana bisa ia memperbaiki semuanya yang telah retak? Clara, Amanda-semuanya seolah-olah sudah terlempar jauh darinya, dan ia tak tahu bagaimana cara menemukan jalan kembali.
Anda Mungkin Juga Suka





