
Istriku, Jaminan Bisnis Ayahku
Bab 2
Pagi itu terasa lebih dingin daripada biasanya. Bukan karena suhu AC, tapi karena lapisan es yang kini resmi memisahkan Elias dan Safira.
Elias bangun subuh, tidur di kamar tamu terasa aneh. Enggak ada suara dengkuran halus Safira, enggak ada aroma lotion tubuhnya, dan enggak ada kebiasaan Safira yang selalu memukul lengan Elias kalau ia berisik saat mencari kaus kaki. Kamar itu sunyi, terlalu sunyi.
Dia buru-buru mandi, mengenakan setelan jas terbaiknya. Rutinitas menyelamatkan segalanya, pikirnya sinis. Setidaknya di kantor, ada aturan, ada tujuan, ada hasil yang bisa dia lihat. Di rumah? Nol.
Elias turun. Rumah masih gelap. Asisten rumah tangga belum datang. Safira? Jelas belum bangun. Dia enggak perlu bangun pagi karena enggak ada yang harus dia kerjakan. Sejak insiden itu, Safira berhenti dari pekerjaannya sebagai konsultan desain interior, menutup diri dari dunia luar.
Elias berjalan ke pantry, membuat kopi hitam pekat. Sambil menunggu air mendidih, matanya tanpa sengaja menatap kulkas. Di sana, tertempel sebuah sticky note kecil yang sudah lusuh, ditulis dengan tulisan tangan Safira yang cantik: "Jangan lupa meeting sama klien jam 10! Aku sayang kamu, Good Luck! <3"
Itu kenangan dari dua tahun lalu, sebelum semuanya terjadi. Safira yang selalu menjadi personal assistant pribadinya, yang selalu mendukungnya, yang selalu menjadi semangatnya.
ESenyum tipis dan getir terukir di wajah Elias. Dia merobek sticky note itu, membuangnya ke tempat sampah. Dia harus berhenti melihat masa lalu yang enggak akan pernah kembali.
Saat ia menyeruput kopi panasnya, pikiran Elias kembali pada pertengkaran semalam. Safira bilang, "Kamu enggak mengerti bagaimana rasanya kehilangan."
"Aku mengerti," gumam Elias pelan. "Aku mengerti lebih dari yang kamu tahu."
Ia berjalan ke ruang kerjanya, yang letaknya tepat di sebelah kamar tamu. Elias duduk di kursi kulitnya, menyalakan komputer. Tapi dia enggak membuka spreadsheet atau laporan keuangan. Dia membuka folder tersembunyi di komputernya, folder yang dia beri nama sandi.
Isinya: semua dokumen medis Safira.
Di sana tersimpan rapi: hasil pemeriksaan, laporan operasi, summary psikiater, dan yang paling menyakitkan, laporan kecelakaan dari dua tahun lalu.
Elias mulai membaca lagi, seolah dengan membaca detail teknisnya, dia bisa menemukan satu kalimat, satu kata, yang bisa menjelaskan kenapa Safira berubah sejauh ini.
Insiden itu terjadi saat mereka pulang dari perjalanan bisnis di luar kota. Safira yang mengemudi, Elias tertidur. Truk di depan mereka mengerem mendadak. Safira, yang selalu percaya diri di belakang kemudi, bereaksi terlalu lambat.
Tabrakan enggak fatal. Elias cuma memar dan kaget. Tapi Safira...
Elias menghela napas panjang, matanya terpaku pada satu kalimat dalam laporan medis: "Trauma fisik ringan, namun trauma psikologis berat karena kehilangan janin di usia 12 minggu kehamilan."
Ya. Itu dia. Anak pertama mereka. Anak yang bahkan belum sempat mereka beri nama. Anak yang kehadirannya sudah mereka rayakan diam-diam. Hilang dalam sekejap, di dalam mobil yang ringsek.
Elias ingat bagaimana saat itu dia panik. Dia berusaha menyelamatkan Safira, membawa istrinya ke rumah sakit terdekat. Dia ingat suster yang memberitahu dia kabar buruk itu dengan wajah penuh iba.
Dia ingat dirinya sendiri, duduk sendirian di lorong rumah sakit, merasa dunia runtuh. Dia bukan cuma kehilangan janinnya, dia juga kehilangan Safira yang ia kenal.
Saat Safira sadar, dia enggak menangis. Dia enggak berteriak. Dia hanya menatap kosong. Sejak saat itu, Safira enggak pernah membicarakan bayi itu. Enggak pernah. Setiap kali Elias mencoba, Safira akan bereaksi ekstrem-entah marah, entah mengunci diri, entah pura-pura enggak mendengar.
Safira menyalahkan dirinya sendiri. Dia yakin, jika dia enggak mengemudi secepat itu, atau jika dia lebih hati-hati, semua enggak akan terjadi.
Elias mencoba meyakinkan Safira ribuan kali bahwa itu adalah takdir, itu adalah kecelakaan, itu bukan salahnya. Tapi Safira enggak mau mendengarkan. Dia mengubah rasa bersalah itu menjadi dinding es yang memisahkan dirinya dari dunia, terutama dari Elias, yang menurut Safira, adalah korban kedua dari kesalahannya.
Elias membaca lagi hasil pemeriksaan psikiater: Pasien menunjukkan gejala depresi situasional berat, rasa bersalah kronis, dan mekanisme pertahanan diri berupa pengabaian emosional terhadap pasangan.
"Pengabaian emosional..." Elias membaca kata itu dengan pahit. Begitu formal, begitu klinis, tapi sangat akurat.
Safira enggak mengabaikannya secara fisik. Dia masih memasak sesekali, dia masih hadir di acara keluarga. Tapi jiwanya? Jiwanya sudah lama pergi, terkubur bersama janin yang gagal mereka bawa pulang.
Elias menutup folder itu, bersandar di kursinya. Dia enggak bisa menyalahkan Safira. Rasa sakit kehilangan itu nyata dan dalam. Tapi dia juga enggak bisa menyalahkan dirinya sendiri karena lelah.
Dia sudah mencoba segalanya: liburan romantis (Safira menolak), terapi pasangan (Safira membatalkan di menit terakhir), bahkan mencoba membicarakan adopsi (Safira marah besar, bilang Elias enggak mengerti apa-apa).
Dua tahun. Hidup dalam upaya yang sia-sia, mencoba menyelamatkan seseorang yang enggak mau diselamatkan.
Tiba-tiba, ponsel Elias berdering. Panggilan dari kantor. Sesuatu yang mendesak.
"Ya, ada apa?" jawab Elias, berusaha mengubah nada suaranya dari putus asa menjadi profesional dalam sekejap.
Dia berbicara selama lima belas menit tentang masalah bisnis yang rumit. Saat dia menutup telepon, Elias menyadari betapa jauh lebih mudah memecahkan masalah multinasional daripada masalah Safira. Masalah bisnis punya solusi. Masalah hati? Hanya ada kehancuran.
Elias memutuskan sudah waktunya dia pergi. Dia melirik jam. Pukul tujuh pagi. Dia bisa sarapan di luar.
Dia mengambil tas kerjanya. Sebelum keluar dari ruang kerjanya, dia berdiri di ambang pintu, menatap koridor yang menghubungkan kamar tamu (tempatnya sekarang) dengan kamar utama (tempat Safira).
Dia merasa seperti seorang penyewa di rumahnya sendiri, yang harus berhati-hati agar enggak mengganggu pemilik aslinya.
Elias berjalan pelan menuruni tangga. Saat melewati ruang makan, matanya menangkap sesuatu. Safira.
Dia duduk di kursi meja makan, hanya mengenakan piyama sutra dan rambutnya masih acak-acakan. Dia sedang minum teh. Ekspresinya enggak dingin seperti semalam, tapi lebih ke hampa.
"Mau kopi?" tanya Safira, suaranya tenang, seolah pertengkaran semalam enggak pernah terjadi.
Elias berhenti. Ini adalah pola. Mereka akan bertengkar hebat, berpisah, lalu besok pagi salah satu akan mencoba berperilaku normal, menyingkirkan puing-puing pertengkaran ke bawah karpet.
"Aku sudah buat sendiri," jawab Elias, menunjuk cangkir di tangannya.
"Oh," Safira menyesap tehnya. "Aku dengar kamu pindah ke kamar tamu."
Bukan pertanyaan, tapi pernyataan. Elias menatapnya.
"Ya. Aku butuh ruang. Seperti yang aku bilang semalam."
Safira meletakkan cangkirnya dengan hati-hati. "Aku mengerti. Aku minta maaf soal semalam. Aku..." Dia ragu. "Aku tahu aku menyebalkan."
"Bukan menyebalkan, Safira. Kamu enggak adil," koreksi Elias. "Kamu menjadikan aku samsak emosi karena kamu enggak mau menghadapi rasa sakitmu sendiri."
Wajah Safira langsung pucat. Dia menunduk, menatap tehnya.
"Aku tahu. Aku berusaha, Elias. Aku sungguh berusaha."
"Usaha itu enggak terlihat, Safira," Elias melanjutkan, dia enggak mau luluh kali ini. Dia sudah terlalu sering luluh. "Aku sudah memohon kamu untuk bicara, untuk marah, untuk menangis. Tapi kamu cuma diam, dan itu menyiksaku."
Safira enggak menjawab. Dia cuma memutar-mutar cangkirnya. Keheningan itu kembali, mengeras.
Elias meraih jaketnya. "Aku pergi. Aku ada banyak kerjaan hari ini."
"Kamu... kamu akan pulang larut lagi?" tanya Safira, suaranya pelan, hampir enggak terdengar.
"Aku enggak tahu," jawab Elias jujur. "Tergantung. Kalau aku merasa rumah ini lebih nyaman daripada kantor, mungkin aku pulang cepat."
Kalimat itu adalah pukulan telak. Elias tahu itu menyakitkan, tapi dia sudah enggak peduli lagi dengan rasa sakit Safira. Dia hanya peduli pada rasa sakitnya sendiri.
Dia melangkah keluar. Saat ia menutup pintu depan, Elias enggak menoleh ke belakang. Dia langsung masuk ke mobil, menghidupkan mesin, dan meninggalkan rumah megah itu.
Di dalam mobil, dia enggak menyalakan musik. Pikirannya dipenuhi gambaran laporan kecelakaan dan wajah sedih Safira. Apa yang harus aku lakukan lagi?
Dia tahu, mereka berdua terperangkap dalam siklus ini. Safira yang bersalah, Safira yang menjauh. Elias yang mencoba, Elias yang lelah. Lalu Safira yang memohon maaf, dan Elias yang kembali mencoba.
Elias menyentuh dadanya. Ada lubang besar di sana. Lubang yang enggak bisa diisi dengan uang, enggak bisa diisi dengan kekaguman klien, dan enggak bisa diisi dengan Safira yang sekarang.
Saat mobilnya berhenti di lampu merah, dia melihat seorang gadis menyeberang. Gadis itu membawa keranjang besar penuh buah-buahan, rambutnya dikepang sederhana, dan dia tersenyum lebar pada tukang parkir yang membantunya menyeberang. Senyum yang begitu murni, begitu tanpa beban.
Elias menatapnya sejenak, iri. Iri pada kesederhanaan hidup gadis itu. Iri pada senyumnya yang enggak palsu.
Lampu berubah hijau. Elias menginjak gas, meninggalkan gadis itu dan senyumnya.
Dia harus fokus. Dia harus profesional. Dia punya hidup yang harus dijalani.
Tapi di lubuk hatinya, Elias tahu, dia sedang mencari sesuatu. Dia sedang mencari celah, sedikit cahaya, sedikit napas, di luar sangkar emas yang disebut rumah.
Dan ironisnya, hari itu, dia enggak menemukan apa-apa selain kelelahan yang semakin dalam. Tapi pencarian itu sudah dimulai. Kepergian dari kamar utama semalam adalah langkah pertama. Langkah untuk mencari kebahagiaan-atau setidaknya ketenangan-yang sudah lama direnggut darinya.
Dia enggak tahu, takdir sedang menunggunya di belokan selanjutnya. Takdir yang akan memberinya senyum polos itu lagi, tapi dengan harga yang sangat mahal.
Elias sampai di kantornya. Ia naik ke lantai tertinggi, memasuki ruangan yang dindingnya terbuat dari kaca, menghadap ke seluruh kota. Pemandangan itu luar biasa, tapi terasa hampa.
Elias duduk di balik mejanya, menyalakan komputer lagi. Kali ini, dia enggak membuka folder tersembunyi. Dia membuka email.
Dan begitulah, hari itu dimulai. Hari-hari yang sama, rutinitas yang sama, kehampaan yang sama. Dia enggak tahu berapa lama dia bisa bertahan dalam kebekuan ini, tapi yang jelas, malam ini, dia akan kembali ke kamar tamu, jauh dari Safira, dan lebih dekat dengan kehancurannya sendiri.
Kita berdua hancur, pikir Elias, menyentuh laporan keuangan yang baru saja dicetak. Aku cuma memilih untuk hancur sambil tetap bekerja.
Mungkin itu adalah satu-satunya cara Elias Pradana, pria yang punya segalanya, bisa bertahan hidup: berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, sampai ada seseorang yang datang dan membuktikan bahwa berpura-pura itu enggak diperlukan lagi.
Dia melirik ponselnya. Tetap enggak ada pesan dari Safira. Mereka sudah resmi hidup dalam dua dunia yang berbeda di bawah satu atap.
Anda Mungkin Juga Suka





