Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istriku Disiksa Sampai Gila

Istriku Disiksa Sampai Gila

Kepulanganku yang tak terduga dari Taiwan ke kampung halaman justru disambut oleh kenyataan pahit yang menghancurkan jiwa. Aku menemukan istri tercintaku telah kehilangan kewarasannya, sementara buah hati kami dikabarkan sudah tiada. Di balik duka ini, muncul kecurigaan mendalam terhadap kebenaran yang ada. Benarkah semua kesaksian dari pihak keluargaku bisa dipercaya? Aku harus mengungkap misteri kelam di balik tragedi yang menimpa keluargaku.
Bab
Bagikan

Bab 3

Tapi Lusi hanya diam, ia tak menjawab atau pun bicara dan yang lebih membuatku tak tega itu kadang-kadang sorot matanya kosong, kadang-kadang ia juga menangis.

Padahal aku sudah ada di sini, apa sebegitu beratnya beban pikiran Lusi sampai ia tak fokus begini?

"Lusi udah makan belum?" tanyaku.

Ia menggeleng pelan.

"Pagi udah makan belum?" Aku memastikan lagi.

lagi-lagi ia menggelengkan kepala, "belum dapat jatah," jawabnya pelan nyaris tak terdengar.

Aku terhenyak, belum dapat jatah? Ya Allah kasihan istriku, sudah sore masa iya dia belum juga diberi makan sama ibu.

Atau apa jangan-jangan selama ini keluargaku memang memperlakukan Lusi seperti ini? Pantas saja badannya sampai kurus kering begini.

"Kenapa gak minta sama ibu?"

Lusi menggeleng lagi. "Takut, Bang," jawabnya lagi dengan air mata yang kembali mengaliri pipi.

"Takut kenapa? Selama ini Abang kirim uang buat kamu dan Yassir makan, kenapa kamu harus takut? Minta saja."

Lusi diam, aku pun bangkit.

"Sebentar Abang ambilkan makan dulu, habis makan kita baru mandi ya."

Lusi menggelengkan kepala lalu memegang tanganku agar aku tetap duduk di sampingnya. "Takut, Bang," katanya.

"Sebentar aja, cuma mau ambil makan ke dapur, Abang janji gak akan lama-lama," ucapku meyakinkan.

Perlahan cengkraman tangan Lusi mengendur dan aku pun cepat-cepat pergi ke dapur. Di sana tak sengaja kudengar ibu dan kak Tuti sedang bicara.

"Iya kamu bener Tut, bahaya kalau sampe si Sandi tahu kebenarannya, bisa abis kita," kata Ibu yang sedang duduk di kursi makan.

"Terus gimana ini, Bu? Sialan emang si Sandi, kenapa juga harus pulang mendadak gitu sih? Bikin repot aja, bukannya kasih kabar dulu atau apa ke," balas Kak Tuti, kedua kakinya terus saja mondar-mandir di depan meja kompor sambil menggigit bibirnya sedikit.

Kebenaran? Kebenaran apa yang mereka maksud? Kenapa aku gak boleh tahu? Dan kenapa kepulanganku justru masalah bagi mereka? Harunya mereka seneng kan? Apa jangan-jangan semua ini ada kaitannya sama Lusi dan Yassir?

"Sandi? Ada apa? Ngapain berdiri di sana?" tanya Kak Tuti yang tak kusadari ternyata ia sudah menyadari keberadaanku di dekat partisi ruang makan.

Aku pun melangkah mendekati mereka.

"Sandi mau minta makan buat Lusi," ucapku seraya mengambil piring dari rak.

Setelah itu kubuka tutup saji, ada ayam goreng, ada sayur sop, tempe goreng dan dadar telur. Hatiku kembali nyeri, kata Lusi ia belum diberi jatah makan dari pagi, tapi di sini masih banyak sekali makanan, apa mereka gak kasihan sedikitpun sama istriku?

Akhirnya sengaja kuambil semua jenis lauk sedikit-sedikit ke dalam piring Lusi.

Sementara mereka berdua kulihat tampak tak rela makanannya kuambil.

"Sebanyak itu San?" tanya Kak Tuti.

"Iya, kasihan Lusi kalian belum kasih dia makan dari pagi kan?" jawabku di akhiri pertanyaan.

Mereka bergeming, wajahnya kembali pias.

"Kenapa Lusi gak dikasih makan dari pagi? Ini udah sore, apa kalian gak kasihan sama istriku? Badannya jadi kurus kering begitu," cecarku sebelum aku pergi.

"Em--anu itu loh, istrimu bukannya gak dikasih makan, tapi kita tuh harus nyari waktu yang tepat San, karena gak jarang istrimu itu malah tumpahin nasi nya ke lantai, sayang kan? Lihat aja di kamar, banyak nasi berserakan gitu karena istrimu itu suka sekali marah-marah kalau kami suruh makan," jawab Ibu panjang lebar.

Aku tak bicara lagi, meski mereka kasih alasan yang panjang dan lebar tapi entah mengapa rasanya aku tak percaya begitu saja.

Selesai mengambil makanan di dalam tutup saji, aku membuka kulkas.

Penuh sekali, kulkas ibu penuh dengan makanan ringan dan sayuran lengkap dengan buah-buahan juga. Tentu saja penuh, bagaimana tidak? Aku kirim sebagian gajiku untuk mereka hidup di kampung dengan harapan ibu dan keluargaku bisa mengurus dan menjaga istri serta anakku, tapi kenyataannya malah membuatku sesak.

Tanpa berpikir panjang kuambil anggur, pisang, apel, susu UHT dan segelas air putih dingin. Kutaruh semua makanan yang sudah kuambil itu dalam nampan.

"Oh ya, tolong panasin air, Lusi mau mandi biar dakinya pada rontok harus mandi air anget 'kan?" ujarku sebelum akhirnya aku menghilang di ambang pintu.

Tak ada penolakan atau apapun saat aku memberi mereka perintah mereka hanya diam melihatku membawa nampan berisi banyak makanan untuk Lusi.

"Nah kan, ribet kalau si Sandi udah di rumah ini, sial," dengus Kak Tuti.

Langkahku kembali mati, akhirnya kuputuskan bersembunyi di balik tembok dekat partisi, aku ingin mendengar kira-kira apa yang akan mereka bicarakan lagi.

"Semoga aja si Sandi itu mau berangkat lagi ke Taiwan, alamat gak punya lagi transferan banyak nih Ibu kalau dia di kampung."

"Iya bener, kita jadi gak bisa makan enak lagi," sahut Kak Tuti.

Aku menggeleng tak percaya, ternyata begitu kelakuan ibu sama kakak-kakaku selama ini? Ternyata mereka hanya ingin uangku saja begitu? Keterlaluan.

Sedang serius mendengarkan mereka, tak lama kudengar suara Lula marah-marah di kamar depan.

"Ngapain kamu di sini? Dasar orang gila, berani kamu ya masuk kamarku? Awas! Turun kamu gila!" sentaknya.

Aku setengah berlari menghampiri mereka, aku yakin Lula marah-marah karena istriku sedang istirahat di kamarnya.

"Sini kamu gila! Jorok banget ih, kasurku jadi bau kan?" sentaknya lagi, anak berseragam SMA itu tanpa segan menarik tangan Lusi secara paksa.

Bruk. Kulihat Lusi didorongnya hingga istriku itu terjerembab ke bawah.

"Astagfirullah Lula!" Refleks mulutku berteriak, sontak anak itu terkejut dengan mata yang membulat.

"Jadi gini cara kamu perlakukan kakak iparmu?" Aku menyentak sambil meraih istriku kembali.

"K-Ka Sandi?" tanyanya dengan air muka yang mendadak pucat dan dingin.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KUZ" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KUZ
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dimanja Suami Psikopat
8.8
Menikah dengan pria penderita sindrom XYY membuat hidupku penuh obsesi. Setelah dipaksa menikah melalui ancaman, suamiku yang miliarder memasang cip pelacak di tubuhku, namun ia juga sangat memanjakanku tanpa ragu menyingkirkan siapa pun yang menggangguku, termasuk keluarganya sendiri. Demi mendapatkan bayi yang sehat, ia bahkan mendanai teknologi medis khusus. Namun, saat kehamilanku terwujud, ibu mertuaku memfitnahku berselingkuh dan menyiksaku hingga sekarat tepat sebelum suamiku tiba.
Sampul Novel Gadis Milik Tuan Mafia
8.7
Akiko harus berjuang melawan Leukemia Myeloid Akut di tengah penderitaan akibat kekerasan fisik orang tuanya sejak kecil. Nasibnya kian terpuruk saat ia jatuh ke tangan Glen Xander Mckenzie, seorang pemimpin mafia kejam yang bertekad menghancurkan bisnis keluarga Akiko. Namun, dinamika antara tawanan dan penculik ini berubah total seiring berjalannya waktu. Glen yang semula dingin justru mulai menaruh hati pada gadis yang seharusnya ia hancurkan tersebut.
Sampul Novel Hot Love - George & Regina
9.8
George, agen CIA, dan Regina dari KGB, gagal menjalankan misi pembunuhan presiden lawan karena terlalu asyik bercinta hingga kesiangan. Kini, apartemen mereka dihujani tembakan helikopter Apache. Diburu oleh organisasi masing-masing dan tentara bayaran, sepasang kekasih ini harus melarikan diri demi nyawa mereka. Di tengah pelarian maut yang menegangkan, gairah panas tetap membara di antara keduanya. Mampukah mereka bertahan dari pengepungan global ini?
Sampul Novel Istri Dekilku Anak Sultan
7.9
Penyesalan mendalam menghampiri Alif setelah menceraikan Shinta, wanita yang dahulu ia anggap dekil namun rupanya merupakan pewaris tunggal dari konglomerat pemilik tempatnya bekerja. Shinta kini harus memimpin perusahaan sembari menghadapi ancaman pembunuhan dari para musuh yang mengincar takhtanya dalam perebutan kekuasaan. Di tengah bahaya yang mengintai, Shinta berjuang mempertahankan hidupnya sekaligus menemukan cinta sejati pada sosok Raka, pria setia yang selalu menyelamatkannya.
Sampul Novel Istri yang Dihancurkan Mereka
8.1
Bramantyo dan Bima terobsesi menyiksaku dengan kehadiran Sandra demi menguji cintaku. Puncaknya, saat kecelakaan terjadi, mereka membiarkan tanganku hancur demi menyelamatkan Sandra. Karier musikku pun sirna. Mereka menantikan amarahku, namun aku hanya diam membisu, bahkan saat liontin ibuku dihancurkan Sandra. Di ranjang rumah sakit, pengabdianku mati. Ini bukan cinta, melainkan sangkar kejam. Kini aku bersiap melarikan diri dan membalas kehancuran ini.
Sampul Novel Kasus 21+
9.3
Konten ini khusus pembaca dewasa 21 tahun ke atas. Eva Avalon, seorang petugas kepolisian elit, kini mengemban tanggung jawab besar sebagai ketua tim khusus. Misinya adalah memberantas tuntas berbagai tindak kejahatan serta eksploitasi seksual yang merajalela. Di tengah kemajuan teknologi yang memicu beragam modus operandi baru yang licin, ikuti perjuangan hebat Eva dalam menyelidiki dan mengungkap setiap kasus rumit demi menegakkan keadilan.