
Istri yang Tidak Disentuh
Bab 2
“Baiklah, Sekar akan merantau ke Amerika dengan Mbak Noni. Namun, beberapa hal yang harus Sekar pastikan, apakah Mbak Noni akan membayar uang muka 500 juta yang kita pinjam pada Pak Hasyim?” tanyaku yang masih ragu karena ini mengenai dosaku, aku harus memastikan bahwa Mbak Noni benar membayar 500 juta pada pak Hasyim.
Ibu mengangguk dan menunjukkan sebuah bukti cek 500 juta yang diberikan oleh Mbak Noni pada ibu.
“Ini dia, kamu coba lihat apakah benar 500 juta? Kata Mbak Noni kertas ini bisa dicairkan di bank dan kita bisa mendapatkan uang sesuai dengan yang tertera di kertas itu, apa namanya? Aduh, ibu lupa,” kata ibuku yang menyodorkan kertas itu padaku untuk dilihat.
Mataku terbelalak, cek 500 juta di tanganku sekarang. Tanganku benar-benar gemetar saat memegang cek itu, membayangkan uang sebanyak itu sudah berada di tanganku dan berhasil melunasi hutang kami, membuatku benar-benar merasa lemas.
Sialnya, aku sungguh tidak bisa menolak perasaan gembira itu. Aku benar-benar sujud syukur meski harus menggantikannya dengan dosaku. Aku tidak ingin munafik bahwa aku sangat ingin mendapatkan uang sebanyak itu untuk membuangnya ke wajah pak Hasyim yang selalu marah-marah pada ibuku dan sering kali menghina almarhum ayahku.
Namun, ada satu pertanyaan besar di dalam hatiku, apakah ini cara Allah memberiku rezeki? Tapi, kenapa harus dengan cara rendahan berlumur dosa seperti ini?
“Bu, dengarkan Sekar baik-baik,” kataku segera meraih tangan ibu untuk kedua kalinya.
“Ada apa, Sekar?”
“Aku tahu ini aneh, pekerjaan yang ibu anggap halal itu mungkin saja akan menarik asumsi buruk di kampung kita. Namun, ibu bisa mencegah itu dengan mengatakan aku hanya bekerja di Jakarta sebagai pelayan restoran, apa Ibu mengerti yang Sekar katakan?” tanyaku yang mencoba untuk membuat ibu tutup mulut tentang tarian striptis yang akan membuat gempar satu kampung bahkan aku mungkin akan terancam tidak bisa kembali ke kampung ini jika semua tahu apa yang aku lakukan di perantauan.
“Hanya itu?” tanya ibuku yang tampaknya heran dengan apa yang aku katakan dan aku paham karena ibu juga tidak tahu tentang tarian itu.
Aku mengangguk cepat.
“Tenang saja, Ibu tidak akan mengatakan pada tetangga tentang pekerjaanmu. Ibu akan menjawab sesuai dengan yang kamu katakan, kalau begitu Ibu akan mengabari Mbak Noni dulu. Lekaslah bersiap-siap karena katanya jika memang kamu menerima tawarannya, besok kamu harus berangkat.”
Aku tak percaya mendengar ucapan ibu yang mengatakan bahwa aku harus segera berangkat secepat itu. Membayangkannya saja membuatku ingin kabur dari kenyataan, tapi cek 500 juta itu akan hilang dalam sekejap jika aku mengurungkan niat.
“Besok? Apa tidak bisa lebih lama lagi? Itu terlalu cepat aku rasa, aku juga belum mengurus surat-surat untuk ke luar negeri,” keluhku yang beralasan agar ibu mendiskusikan itu pada Mbak Noni.
“Tidak langsung ke Amerika, Mbak Noni yang akan urus semuanya dan kamu hanya harus ikut besok untuk persiapan surat-surat atau kebutuhan lainnya. Sebentar, ibu akan konfirmasi terlebih dahulu jika kamu menerima tawarannya,” kata Ibu yang cepat-cepat meraih telepon rumah yang berada di ruang tamu.
Sementara menunggu ibu menelepon, aku melihat gamis dan hijabku di cermin. Aku tidak tahu apa itu petunjuk Allah untuk mendapatkan rezeki atau malah sebaliknya yang merupakan bisikan iblis untuk memperdayaku?
Anda Mungkin Juga Suka





