
Istri yang Tidak Disentuh
Bab 3
"Sudah jangan menangis lagi, kamu bukan diambil per4wannya, tenang saja! Kamu hanya perlu menari di sana. 45 juta satu malam hanya menari, kapan lagi?" tanya Mbak Noni yang mencoba untuk membujukku saat berada di dalam mobil.
Aku tak menggubris apa yang dikatakan oleh Mbak Noni, tak ada yang salah dari apa yang dikatakan oleh Mbak Noni. Aku hanya merasa terdesak sehingga harus rela mengorbankan rasa malu dan dosa yang siap mengintaiku.
"Mbak, apa tak ada pekerjaan lain di Amerika? Tolong aku, Mbak. Aku rajin dan aku akan melakukan apa saja di sana asalkan aku bisa bekerja dengan halal tanpa melepas hijab dan juga pakaianku," kataku mencoba memohon berharap Mbak Noni iba dan memberikan pekerjaan halal.
"Tidak ada! Aku sudah membayar uang muka untuk hutang ayahmu, masa kamu tawar-menawar? Kalau memang kamu keberatan seharusnya kamu tidak perlu menerima uang itu!"
Suara Mbak Noni yang biasanya lembut malah terdengar ketus kali ini, mungkin dia merasa emosi dengan apa yang aku katakan karena memang aku sungguh terpaksa melakukan ini.
Aku lagi-lagi hanya bisa diam dan memang benar apa yang dikatakan oleh Mbak Noni seharusnya aku tidak memgambil uang itu, tapi demi kebaikan ibu dan rumah kami, aku memutuskan memilih jalan singkat ini dengan harapan bisa jauh lebih baik secara ekonomi meski mungkin aku harus menjadi wanita liar.
Semua yang berada di mobil tertidur, kecuali aku dan sopir yang masih terjaga di perjalanan itu.
"Mbak Sekar takut nari? Gak apa-apa nanti pasti nyaman di sana, kalau saya cewek pasti saya juga akan kerja seperti itu. 45 Juta semalam, Mbak. Bayangin aja kita kerja sebulan aja udah dapet tuh 1 miliar, cuma nari doang," kata sopir itu tertawa. Aku tak tahu apakah dia paham atau tidak dengan apa yang dia ucapkan.
Aku hanya tersenyum tak ingin menimpali karena suasana hatiku tak nyaman dengan percakapan Pak Andre yang membahas hal itu padaku.
Beberapa jam berlalu, aku tidak tahu tepatnya karena tiba-tiba aku dibangunkan oleh Mbak Noni.
"Sekar, bangun sudah sampai di hotel," kata Mbak Noni yang mengguncangkan bahuku dan aku melihat kota Jakarta dengan kelap-kelipnya untuk pertama kali.
"MasyaAllah, ini di Jakarta, Mbak?" tanyaku dengan kagum melihat gedung tinggi yang selama ini aku lihat di televisi akhirnya menjadi nyata ada di depan mataku.
"Iya, indah, 'kan? Bayangkan kalau kamu punya duit banyak, bukan hanya Jakarta yang bisa kamu lihat, tapi seluruh dunia bisa kamu kunjungi," ucap Mbak Noni dan seketika aku sadar bahwa aku mulai terbuai dengan keindahan dunia.
Sesekali aku membatin merutuki diri sendiri yang amat bodoh hanya karena Jakarta aku bisa terlena begitu saja.
**
Sesampainya di lobby hotel, aku melihat Mbak Noni yang berbicara dengan seseorang seolah sedang memperkenalkan aku dengan pria itu. Aku hanya tersenyum karena tidak paham apa yang mereka bicarakan.
"Sekar, malam ini kamu tidur di kamar nomor 103, ya. Ini kuncinya, hubungi aku jika butuh sesuatu," kata Mbak Noni dan kemudian pergi begitu saja setelah memberikan aku kunci.
Aku bahkan belum pernah menginap di hotel dan tahu aku bingung, seorang pria tinggi menghampiriku.
"Saya asisten Noni, saya akan mengantarkan kamu ke kamarmu," kata pria itu dan langsung membawa semua barangku.
Anda Mungkin Juga Suka





