Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Yang Tak Dirindukan

Istri Yang Tak Dirindukan

Lima tahun lamanya seorang istri setia menanti kepulangan suaminya yang merantau. Selama itu, ia hanya menerima nafkah ala kadarnya yang dititipkan melalui tetangga tanpa kabar pasti. Namun, penantian panjang itu berakhir tragis saat sang suami pulang membawa kejutan pahit. Bukannya melepas rindu, ia justru menjatuhkan talak demi wanita lain yang telah dinikahinya secara diam-diam hingga memiliki anak. Sebuah pengkhianatan yang menghancurkan hati.
Bab
Bagikan

Bab 2

Kupeluk tubuh Habib yang kurus dengan erat sembari menangis. Belaian lembut mengusap rambutnya yang hitam lurus,berusaha untuk menenangkannya agar tidak terlalu bersedih karena kepergian ayahnya. Mata para tetangga mulai menatapku dengan pandangan dingin dan kaku. Kasak-kusuk terdengar cibiran dari mulut mereka.

"Habib, ayo kita masuk, Nak! Tidak baik terus berada di luar," ucapku lirih.

"Ayah, pergi Bunda," kata Habib sembari memelukku.

"Duh, ada janda baru di kampung kita, nih. Ibu-Ibu harap waspada dengan Ayi sekarang. Dia baru saja mendapat gelar janda baru karena suaminya menceraikannya sewaktu pulang," sela Bu Lina tetangga sebelah kananku.

"Kasihan, sudah ditinggal merantau lima tahun pulang malah diceraikan," ucap Bu Irma menimpali. Wanita bertubuh tambun tersebut suka gosip.

Aku hanya mengelus dada medengar cibiran para tetangga. Ada rasa perih yang mengucur dalam hatiku seperti diperasi air lemon. Segera kubawa Habib masuk kedalam rumah untuk menghindari fitnah dan gibahan para Ibu-Ibu.

Sesampai di dalam rumah kututup pintu dengan rapat. Aku segera membawa Nara untuk mandi karena hari semakin senja. Habib masih duduk di kursi bambu yang sudah mulai lapuk dengan memeluk lututnya.

"Nak, bantu Bunda untuk mengangkat kain di luar sebentar lagi akan turun hujan," ujarku. Habib melangkah dengan gontai menuju jemuran belakang.

Mendung menutupi awan yang gelap di langit yang terlihat hitam. Sebentar lagi akan turun hujan kalau di lihat dari gelapnya mendung dari arah barat.

Awan hitam bergulung-gulung menyelimuti langit, seperti hatiku yang kini di landa badai kehancuran dari rumah tangga yang selama lima tahun aku bina. Hampir sebelas tahun hidup dengan Mas Anan dalam suka dan duka.

***

Malam yang dingin terasa menembus kulit dari dalam. Hujan turun dengan deras hingga membuatku harus banyak menampung air dari genang air hujan, atap rumah semuanya pada bocor.

Ember dan baskom pelastik pun berjejer di atas lantai semen yang sudah mulai retak sana-sini. Kupeluk erat tubuh Nara yang mulai kedinginan karena tertetes air hujan. Sementara Habib, mulai terlihat mengigil juga karena menahan dingin akibat guyuran air dari atap yang bocor.

"Habib, kemarilah Nak! Mendekat sama Bunda biar baju kamu gak basah," ucapku.

Habib, segera bangun dari tidurnya dan mendekatiku ke arah pojokkan tempat tidur yang beralaskan tilam busa yang sudah kempes. Tilam pemberian dari Ibu Helmi sewaktu mengantar cucian. Bu Helmi adalah istri kepala desa.

"Bunda, dingin," keluh Habib.

Ia meringkuk menahan rasa dingin yang kian menusuk di kulit.

"Pakai ini, Nak!" kosodorkan baju hangat yang kupakai agar ia bisa merasa nyaman.

"Bunda, kenapa Ayah benci sama kita dan tidak mau pulang," ucapnya polos.

Jantungku terasa nyeri ketika ia mengatakan kalimat itu.

"Ayah, gak benci sama kita, Nak. Mungkin hatinya belum terbuka, kita do'a' kan saja agar Ayah diberi hidayah dan menyadari kesalahannya."

"Bunda, Adik haus," ucap Nara.

Segera aku beranjak dari tempat tidur untuk mengambilkan air minum buat Nara.

"Ini, minumlah!" kuberikan segelas air putih untuk putri kecilku.

Ia meneguknya hingga habis dan memberikan gelas bekas minumnya padaku.

"Makasih, Bunda," balasnya. Kembali Nara melanjutkan tidurnya sembari kubalutkan selimut.

Malam ini kami tertidur dalam keadaan meringkuk menahan dingin, hingga waktu subuh menjelang sampai hujan reda. Rasa dingin yang menusuk tulang masih terasa akibat guyuran hujan semalam. Aku bangkit untuk menunaikan salat subuh sebelum akhirnya kubangunkan Habib, untuk melaksanakan kewajiban lima waktu juga.

"Habib, bangun Nak! Ayo kita salat subuh!" ucapku sembari menguncang tubuhnya pelan.

"Sakit, Bunda," keluhnya.

Kusentuh kening Habib refleks. Badan Habib panas, ia demam.

"Habib, kamu demam, Nak. Astagfirullah, badan kamu panas banget Bib." Berulang-ulang kutempelkan punggung tanganku untuk mengukur suhu badan Habib.

Aku segera berlari ke dapur menyiapkan air dingin untuk mengompres kening Habib.

"Bunda akan mengompresmu, Nak, untuk sementara agar panasmu sedikit turun. Nanti, Bunda akan membelikanmu obat di warung Bu Tini kalau sudah pagi," ujarku.

Habib hanya mengangguk pelan. "Iya, Bunda."

Memastikan keadaan Habib baik-baik saja aku segera melaksanakan salat subuh dan membereskan ember serta baskom yang di pakai untuk menampung air hujan semalam.

Pukul tujuh pagi aku bergegas kewarung bu Tini yang terletak lima ratus meter dari rumah. Rencananya membeli beras dan lauk tempe untuk di masak hari ini. Setelah berjalan beberapa menit akhirnya tujunku tiba di warung bu Tini. Banyak para Ibu-Ibu sudah mulai memadati warungnya.

"Bu, beli berasnya satu kilo saja. Bayam seikat dan tempe satu bungkus," ucapku.

"Sebentar ya, Ayi," Bu Tini segera mengkemas belanjaan yang aku minta. "Ini semuanya delapan belas ribu."

"Ini uangnya, Bu. Kembalianya kasih obat penurun panas saja," ujarku.

"Siapa yang sakit, Ayi?" tanya Bu Lala menimpali.

"Habib, Bu. Semalam ia demam," jawabku singkat.

"Kalau panas bawa ke dokter atau puskesmas Ay. Biar diperiksa," potong Bu Izah.

Aku hanya meremas ujung hijab yang menutupi kepala sembari menunduk.

"Mana mungkin, Ayi bisa membawa anaknya berobat Bu. Dia' kan miskin," sela Riri yang baru saja datang ke warung.

Aku terdiam.

"Makanya jadi istri kudu dandan kayak aku biar suami gak selingkuh. Kamu, sih tiap hari cuma pakai kerudung panjang dan gak modis, pantesan suamimu kabur dan menceraikanmu," cibir Riri memajukan ucapannya.

Dengan bibir yang dipolesi lipstik merah merona, bibir seksinya terlihat mengkrucut saat mencibirku dengan gamblangnya.

"Eh, sudah Ibu-Ibu. Masih pagi jangan menggosip. Kasihan' kan Ayi baru tertimpa musibah," ucap Bu Tini membelaku.

"Halah ... jangan kasihan Bu. Bisa-bisa nanti ngelunjak dia," lanjut Riri.

Para Ibu-Ibu yang mendengar ucapan Riri semuanya tertawa sembari mencibirku.

"Ha ... ha ... ha ... benar tuh, Ri. Sekarangkan, Ayi janda jangan sampai suami kita tergoda dengannya," sela Bu Izah menimpali.

Sakit rasanya mendengar cemohoh'an wanita para tetangga yang begitu saja menyudutkanku. Kalau bisa memilih sejujurnya aku juga tidak ingin menjadi janda. Kutahan air mata yang sedari tadi terasa perih ingin meluncur deras begitu saja.

"Eh, sudah Ibu-Ibu jangan bergosip lagi! Ayi juga gak mau hidup miskin dan menjanda," sahut Bu Helmi yang tiba-tiba muncul di warung.

Bu Helmi wanita yang sangat baik selalu memberi pertolongan padaku saat dalam keadaan terdesak seperti ini. Beliau wanita separuh baya yang berumur setengah abad, tapi mempunyai sifat yang ramah dan baik hati.

"Ayi, nanti datanglah ke rumah Ibu untuk mengambil cucian," ucapnya.

Aku mengangguk. "Iya, Bu."

Segera aku berlalu dari hadapan para ibu-ibu yang masih menggosip ria mengunjingkan pribadiku. Samar kudengar Riri masih mencibirku dengan memojokkan statusku yang baru menyandang janda.

"Bu Helmi, gak usah terlalu baik sama Ayi. Nanti bisa-bisa Pak Kades malah kepincut dengannya," cibir Riri.

Samar kudengar ia mengibahku tanpa takut dosa. Aku segera menjauh dari warung dan mempercepat langkahku menuju ke rumah. Di depan rumah aku berpapasan dengan ustaz Rahman yang berhenti tepat di jalan depan gubukku.

"Ayi, dimana Habib? Apa ia tidak sekolah?" tanyanya sembari melihat ke dalam rumah. Wajahnya terlihat mencari sesosok Habib. Biasa habib berangkat ke sekolah selalu di bonceng Ustaz Rahman menggunakan motor metic miliknya. Jarak dari rumah ke sekolah bisa terbilang jauh hingga memakan waktu tiga puluh menit untuk berjalan kaki.

"Habib sakit, Pak Ustaz," sahutku cepat.

"Sakit? Sakit apa, Ay?" tanya Ustaz Rahman.

"Demam, badannya panas hingga tidak bisa pergi ke sekolah," jawabku.

"Sudah dibawa ke dokter, Ay?" tanya Ustaz Rahman.

Aku menggeleng pelan. "Belum."

Ustaz Rahman menghela napas berat kemudian merogoh saku celananya dan memberikan uang selembar berwarna biru.

"Ini, ambilah untuk berobat Habib!" Ustaz Rahman menyodorkanku uang lima puluh ribu.

"Gak usah, Pak Ustaz, " tolakku.

"Aku tahu kamu sangat membutuhkan biaya untuk pengobatan Habib, Ay. Ambil saja! Aku ihklas memberikannya padamu."

Sekali lagi aku hanya menggeleng menolak pemberiannya. Ustaz Rahman adalah pemuda tampan yang menjadi idaman gadis Desa. Tidak jarang para gadis akan menyapanya dengan senyuman manis atau sekedar cari perhatian darinya agar bisa mendapatkan perhatian lebih.

"Gak usah, Pak Ustaz," sergahku. "Aku gak mau merepotkan," sembari berlalu dari hadapannya.

"Tunggu, Ay!" Ustaz Rahman menahan langkahku.

Aku berbalik dan menoleh ke arah Ustaz Rahman yang masih berdiri di depan rumahku.

"Anggap saja ini gaji, Habib yang dibayar di muka. Jadi kamu tidak perlu sungkan menerimanya," ujarnya sembari menyodorkan uang itu kembali.

"Habib, pasti bersedih Pak Ustaz jika uang gajinya aku pakai buat biaya berobatnya."

"Rezeki pasti ada yang lain, Ay. Percalah, tidak dari tanganku pasti dari tangan orang lain. Terimalah! Segera bawa Habib berobat biar cepat sembuh dan bisa sekolah lagi dan juga membantuku mengajar ngaji anak panti," ucap Ustaz Rahman mengulas senyum.

Dengan ragu-ragu kuterima pemberian Ustaz Rahman.

"Terimakasih, Pak Ustaz," ucapku.

Ustaz Rahman menganguk pelan. "Iya."

Setelah memberikan uang ia pun berlalu dari hadapnku dan melanjutkan perjalanan menuju ke sekolah untuk mengajar. Ustad Rahman yang berfropesi sebagai guru PNS, di kampung ini juga mengajar mengaji pada anak-anak.

Para orang tua serta warga kampung, mempercayakan anak mereka pada Ustaz Rahman untuk dibimbing menjadi pengajar ilmu agama dunia dan akhirat. Mereka membayar Ustaz Rahman seratus ribu perbulan, ada banyak murid yang diajari mengaji oleh Ustad Rahman, bila sepulang sekolah. Tepat jam empat sore mereka sudah berkumpul di rumahnya untuk belajar mengaji.

"Bunda," sapa Nara yang baru bangun dari tidur.

"Kamu sudah bangun Nak?" tanyaku tersenyum. Kugendong tubuh mungil Nara yang baru bangun tidur. Kucium pucuk kepalanya dengan lembut.

"Laper," ucapnya.

"Sebentar ya. Bunda akan masak di dapur," ucapku.

Kududukkan Nara di atas balai-balai bambu.

Sesaat kemudian kunyalakan kompor dengan pematik. Memasak dengan bahan yang ada biar anak-anak tidak kelaparan.

Kemiskinan sudah membuatku jatuh bangun dalam menghidupi Habib dan Nara. Meski kehidupan kami terbilang miskin, setidaknya aku masih bersyukur kedua anakku tak banyak mengeluh dengan keadaan.

Bersambung.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Berakhir Menjadi Tawanan
9.5
Hidup di ibu kota memaksa Liana bekerja keras demi menghidupi adik-adiknya. Dari berpindah kontrakan hingga menjadi pacar kontrak, semua ia lakoni demi uang. Namun, rencana hidupnya berantakan saat bertemu Arsen, pemilik kos barunya. Pria misterius ini tidak hanya mengusik ketenangan Liana, tetapi juga menyeretnya ke dalam situasi pelik yang tak terbayangkan. Kini, kehadiran Arsen menjadi badai besar yang bisa menghancurkan atau justru menyelamatkan masa depan Liana.
Sampul Novel Cinta Dari Masalalu
9.7
Ratih tidak pernah menduga bahwa perasaannya terhadap Arsenna, teman masa SMA yang ia sukai, akan kembali terusik setelah sebelas tahun berlalu. Pertemuan tak terduga membawa mereka ke dalam rangkaian mimpi aneh yang saling bertautan secara misterius. Di antara batas realita dan dunia fantasi yang tidak biasa, mampukah mereka memahami takdir ini? Ikuti perjuangan Ratih dan Arsenna dalam mencari jawaban atas ikatan masa lalu demi bersatu di masa kini.
Sampul Novel Gairah Masa Remaja
9.2
Dalam momen yang penuh gejolak, Billy perlahan melepas rok yang kukenakan. Aku hanya bisa menggerakkan kaki untuk membantunya hingga pakaian itu terlepas, menyisakan celana pendek di balik kainnya. Saat Billy menyingkirkan celana tersebut, ia terpaku menatap kakiku yang mulus tanpa cela. Jemarinya mulai menelusuri kulitku dengan perlahan, membuatku terhanyut dalam sensasi yang ia berikan. Aku hanya bisa terdiam dan menikmati setiap sentuhan Billy padaku.
Sampul Novel Gairah Suamiku (Jangan Salahkan Aku Selingkuh)
8.4
Ayana tidak habis pikir mengapa Dindar, suaminya, kerap bersikap kasar dan ringan tangan hanya karena masalah sepele. Setiap kali Ayana tidak sengaja mendesah saat mereka berhubungan intim, Dindar akan langsung naik pitam dan menyakitinya secara fisik. Ayana merasa perlakuan tersebut sangat tidak wajar bagi pasangan suami istri. Namun, di balik keanehan gairah dan sikap temperamental suaminya itu, ternyata Dindar menyimpan sebuah rahasia besar yang tersembunyi.
Sampul Novel He's Danger
9.6
Cinta pertama tak selalu indah, bagi Julia, perkenalannya dengan Jacob di Instagram justru membawa petaka. Hubungan ini penuh kekerasan, paksaan, dan pengkhianatan yang melukai batinnya. Meski disakiti berulang kali, Julia sulit melepaskan diri dari pesona Jacob. Kehadiran pemuda itu perlahan mengungkap teka-teki gelap dalam hidup Julia yang semula tenang. Terjebak antara rasa cinta dan dendam, Julia menghadapi misteri yang menuntut untuk diselesaikan hingga akhir.
Sampul Novel Jay and her Odd Daddy
8.9
Jayashri alias Chai terjepit di antara himpitan ekonomi dan prinsip ibunya untuk tidak menjual harga diri. Di titik terendah saat ingin mengakhiri hidup, seorang pria asing menyelamatkannya dan menawarkan posisi sugar baby. Meski awalnya menolak keras, takdir mempertemukan mereka kembali. Sang pria menawarkan kontrak kerja sama tanpa pelecehan yang saling menguntungkan. Kini Chai bimbang, haruskah ia berpegang pada prinsip atau menyerah pada realita?