Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Yang Tak Dianggap

Istri Yang Tak Dianggap

Kebahagiaan Arshella setelah akhirnya memiliki Dion sepenuhnya kini terancam oleh kemunculan sosok dari masa lalu. Kehadiran pria tersebut membawa komplikasi besar dalam kehidupan rumah tangga mereka. Situasi semakin memanas dan tak terkendali ketika sang pria secara mengejutkan mengklaim dirinya sebagai ayah kandung dari anak Arshella. Kini, Arshella harus menghadapi dilema berat yang menguji kesetiaan serta keutuhan cintanya bersama Dion.
Bab
Bagikan

Bab 2

"S-siapa ini!?"

["Ck! Baru saja kita bertemu kau sudah lupa?"]

Shella kembali terkejut, firasatnya tidak salah lagi. Siapa lagi kalau bukan Hans? Orang yang tengah berbicara dengannya melalui jaringan telepon.

Dengan kedua mata yang masih terbuka lebar, wanita itupun mengalihkan pandangannya kepada sang putri kecilnya. Tentu ia merasa khawatir jika Arshetta mendengar pembicaraan ibunya dengan orang asing tersebut.

Akan tetapi belum sempat Shella meminta izin kepada anaknya, sang penelepon pun kembali berkata, ["Tidak usah menjauh dari anakmu, karena aku tidak akan lama-lama berbicara denganmu."]

Debaran jantung Shella semakin berdetak kencang, dengan sorot mata menatap ke sembarang arah, bahkan ia menggigit jaru kukunya sendiri menyiratkan rasa takut yang teramat dalam.

"Dari mana kau tahu nomor ponselku!?" cetusnya dengan tetap berusaha mengatur nada bicaranya.

Lalu dari seberang sana, Hans terkikik mendengar pertangaan Shella yang menurutnya sangat konyol.

["Kamu tidak perlu tahu tentang itu, karena sangat mudah bagiku untuk mendapat semua informasi tentangmu, begitu pula dengan keluargamu,"] jelas Hans, ["Dan ya ... aku hanya ingin mengatakan kalau aku melupakan sesuatu."]

"Apa? Cepat katakan dan tutup teleponnya!" titah Shella yang mulai geram dengan lawan bicaranya.

["Aku meninggalkan sesuatu untuk Shetta di depan pintu, tolong berikan padanya. Aku yakin dia akan menyukainya."]

Mendengar hal itu lantas membuat Shella terkekeh, kenapa pula ia harus menerima pemberian dari lelaki yang sama sekali tak disukai olehnya?

"Ya, ya, aku tidak akan melupakannya dan aku akan segera membuangnya, bye!"

Tut ... Tut

Dengan amarah yang tengah meluap-luap Bella pun akhirnya mengakhiri pembicaraan yang berhasil membuat debaran jantungnya berdetak tak karuan, pun dengan pikirannya yang seketika merasa kalut.

Shella mengembuskan napas kasarnya sembari meletakkan kembali ponsel tersebut.

Sungguh, ia tak habis pikir dengan Hans yang telah berani mengunjungi rumahnya.

"Mama kenapa?" tanya Arshetta berhasil memecah keheningan, pun membuat Shella mengerjap.

Gadis itu menatap ibunya dengan dalam, seakan-akan merasa cemas dengan gelagat yang ditunjukkan oleh Shella.

Betapa tidak? Kedatangan Hans sepertinya cukup berpengaruh terhadap emosional Shella, waktu bermain yang sangat menyenangkan itu harus terganggu bahkan berubah menjadi canggung karena kehadiran lelaki itu.

Sedangkan Shella yang sedari tadi terlihat melamun dengan kening mengerutpun akhirnya menyadari bahwa putri kecilnya sedang memperhatikan dirinya.

Seketika saja Shella mulai menyinggingkan senyumannya meski terlihat dibuat-buat.

"Ah, tidak apa-apa, Nak," sahut Shella bernada rendah.

"Lalu, siapa yang menelepon Mama? Apa itu Papa?" tanya Arshetta kembali, tampak sekali bahwa gadis itu merasa penasaran dengan sosok yang tengah berbincang dengan ibunya.

"Bukan, Nak. Itu--itu hanya teman lama Mama, kok."

Ya, meskipun begitu ... Shella merasa menyesal telah membohongi Arshetta, pun harus menyembunyikan sesuatu dari putrinya sendiri.

Beruntung saja Arshetta percaya dengan jawaban yang dipaparkan oleh ibunya dan tidak bertanya hal lain lagi setelahnya.

Akan tetapi, meski hal itu cukup melegakan namun tetap saja ucapan Hans rupanya masih terngiang-ngiang dalam benak wanita beranak satu tersebut, terlebih saat lelaki itu memberikan sesuatu untuk Arshetta.

"Apa sebenarnya maumu, Hans? Sudah kubilang jangan pernah muncul kembali dalam hidupku," batinnya.

Malampun tiba, tepat di ruang tengah rumah mewah itu, Dion bersama Arshetta tampak asyik menonton acara televisi yang selalu ditonton oleh anak itu.

Arshetta berbaring di atas sofa dengan menjadikan paha sang ayah sebagai alas kepalanya. Begitupun dengan Dion, tangan lelaki itu mengelus rambut puteri kecilnya dengan penuh kelembutan.

"Camilannya sudah siap!" teriak Shella secara tiba-tiba yang muncul dari arah dapur.

Wanita itu membawa sebuah nampan berisikan tumpukkan kentang goreng yang terletak di atas piring, serta beberapa buah sosis goreng yang merupakan camilan favorit Arshetta. Tak lupa pula tiga gelas minuman hangat yang berjejer cantik dengan uap panas di atasnya.

Arshetta seketika bangkit dari paha sang ayah kemudian menyambut kedatangan sang ibunda dengan tersenyum lebar.

"Yeay!! Akhirnya makananku sudah siap! Mama kok lama sekali bikinnya sih?" ujar Arshetta dengan menampakkan raut wajah penuh harap.

Belum sempat Shella menjawab, Dion telah lebih dulu menjelaskannya kepada puteri kecilnya, "Sabar, Nak. Mama 'kan perlu waktu buat bikinnya supaya makanannya enak."

Di sela-sela itu, Arsheta tampak mulai meraih sosis bakar dan segera melahapnya.

Shella pun tersenyum dan kemudian menambahkan, "Iya, Sayang. Kalau buru-buru nanti makanannya gak mateng, memangnya Arshetta mau makanannya gak mateng?"

Arshetta yang tengah asyik menikmati camilannyapun tampak tak berniat menjawab pertanyaan Shella, bahkan gadis itu hanya menggelengkan kepalanya dengan mulut penuh makanan.

Mereka lantas menikmati malam dengan begitu hangat, bahkan bisa dibilang suatu kegiatan yang wajib dilakukan oleh keluarga kecil itu sebelum akhirnya tertidur dengan lelap.

Akan tetapi di samping itu, sikap Dion terlihat berbeda seakan-akan sesuatu telah mengganggu pikirannya.

"Apa aku tanyakan saja pada Shella?" batinnya bergumam, namun lelaki itu cepat-cepat menggelengkan kepalanya dan mengurungkan niatnya untuk menanyakan apa yang tengah ia pikirkan.

Lelaki itu tentu tak mungkin merusak suasana hangat yang saat ini terjalin, terlebih Arshetta pula masih berada di tengah-tengah keduanya.

Sementara itu di tempat lain, seorang pria tengah duduk di atas kursi tepat di pinggir kolam renang, menikmati udara malam yang terasa sejuk, ditemani secangkir wine yang entah sudah kesekian kalinya ia menuangkannya ke dalam gelas tersebut dan meminumnya sampai habis.

Bahkan beberapa kali ia mengembuskan napas panjangnya, dengan tatapan mata mengarah ke atas langit malam yang gelap, memandangi bintang-bintang yang bersinar terang.

"Aku telah melewati kesendirian ini setelah sekain lama, harusnya aku sudah terbiasa. Tetapi kenapa malam ini rasanya begitu sunyi dan ... aku kesepian."

Ya! Ini merupakan kali pertamanya Hans merasakan hal itu, ia jemudian menurunkan pandangannya dan menatap gelas yang telah kosong.

"Mestinya minuman ini bisa membuat perasaanku lebih tenang, tapi nyatanya tidak," ucapnya kembali tersenyum sinis, "Jika saja kamu mau membuka pikiranmu dan bersedia hidup bersamaku, tentu aku tidak akan merasa kesepian seperti ini."

Hans tampak kacau, pikirannya seketika terasa kalut. Bahkan bayang-bayang sang wanita yang terus menerus menerornya dalam pikirannya sendiri.

Lelaki itu terlihat begitu terobsesi dengan sosok wanita yang sedari dulu telah berhasil membuatnya terpesona dan berhasil membuatnya dimabuk asmara.

Akan tetapi siapa sangka bahwa wanita tersebut telah bersuami?

Hans lantas mengusap-usap wajahnya dengan kasar, ia merasa begitu kesal namun tak ada tempat pelampiasan.

Menit selanjutnya lelaki itupun mengerjap dan segera bangkit dari duduknya, lalu berjalan memasuki rumah mewah bergaya artistik tersebut.

Dalam kegelapan malam, Hans berjalan menyusuri lorong dan meniti anak tangga lalu tiba di sebuah pintu ruang kerjanya.

Hans kemudian mendekati meja kerjanya dan membuka salah satu laci kecil lalu mengeluarkan sebuah amplop putih.

Seukir senyuman seketika terpampang dengan jelas menghiasi wajah tampak yang ia miliki.

Dengan helaan napas panjang, Hans kemudian bergumam, "Kalau tak ada satupun cara yang bisa membuatmu berpaling padaku ... aku terpaksa menggunakan ini untuk membuatmu berada di sampingku, Arshella!"

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Manis Sang Ratu Miliarder
9.0
Pasca diusir, Helen menyadari bahwa ia bukan putri kandung di keluarganya. Meski dirumorkan kembali ke keluarga miskin yang eksploitatif, kenyataan justru berkata lain. Ayah kandungnya adalah miliarder yang sangat memanjakannya. Di balik itu, Helen memegang paten desain bernilai fantastis dan menjadi mentor astronomi nasional. Saat orang lain menanti kegagalannya, ia justru meraih status legendaris dan menarik perhatian pria misterius yang berkuasa.
Sampul Novel (Bukan) Istri Kontrak Pria Impoten
8.0
Liam Benjamin merasa hancur setelah ditinggalkan kekasihnya akibat rumor impotensi yang menerpanya. Di tengah keputusasaan, ia menyelamatkan Sheeta, seorang wanita hamil yang mencoba mengakhiri hidup di laut. Meski tahu Sheeta mantan PSK, Liam justru mengajaknya menikah kontrak. Namun, Liam sebenarnya pria perkasa yang terbelenggu kutukan masa lalu. Akankah benih cinta tumbuh di balik rahasia dan perjanjian pernikahan mereka yang penuh misteri?
Sampul Novel Dia memilih mantannya, aku memilih balas dendam
8.7
Baskara Aditama mempermalukanku di hari pernikahan kami dengan menyebutku milik kakaknya demi kembali pada mantan kekasihnya, Saskia. Dia sengaja menunda kesembuhan Saskia demi menikmati hubungan mereka, yakin aku akan setia menunggu. Namun, Baskara salah besar. Aku tidak akan diam saja saat dia berencana memiliki kami berdua. Aku mendatangi penguasa sejati keluarga mereka, Dananjaya Aditama, dan memintanya menikahiku untuk menghancurkan Baskara.
Sampul Novel Dicerai Suami, Dipinang Sultan
9.2
Dunia Asha runtuh saat Raka, suaminya yang model terkenal, menceraikannya demi karier. Pernikahan tiga tahun itu berakhir karena Asha dianggap beban. Di tengah rasa sakit, hadir Rafael Adiwangsa, duda konglomerat sekaligus wali murid di sekolah tempat Asha mengajar. Rafael menawarkan kasih sayang yang jauh berbeda dari masa lalu Asha yang kelam. Mampukah Asha menyembuhkan luka hatinya dan menerima cinta pria berkuasa ini saat dirinya merasa tidak punya apa-apa lagi?
Sampul Novel Kembalinya Sang Mantan
9.7
Dua tahun berlalu sejak putus, Cica yang kini berusia dua puluh tahun harus menghadapi kenyataan pahit bertemu kembali dengan Soleh, mantan kekasihnya saat SMA. Pertemuan mereka jauh dari kata romantis karena Cica terperosok ke selokan berlumpur akibat asyik bermain ponsel. Alih-alih langsung menolong, Soleh justru menggoda Cica dengan gombalan receh yang memancing emosi. Tak terima, Cica menarik Soleh hingga mereka berdua sama-sama kotor oleh lumpur busuk itu.
Sampul Novel Laksana Senja
7.9
Kehidupan Senja Mahesa yang semula tenang dengan hobi menonton drama Korea berubah drastis setelah ia pindah dari Bandung ke Tangerang. Menghabiskan masa SMA di lingkungan baru, Senja bertemu deretan pemuda tampan yang membawa berbagai peristiwa tak terduga. Rentetan kejadian ini bahkan memicu kekhawatiran mendalam pada ibunya, Utari. Bagaimana Senja menghadapi dinamika hidup yang penuh warna dan tantangan di kota barunya hingga kelulusan nanti?