Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri yang ku sia-siakan ternyata kaya raya

Istri yang ku sia-siakan ternyata kaya raya

Kebingungan melanda Arumi saat tak sengaja membaca pesan mertuanya di ponsel Akram. Elina, sang ibu mertua, memberikan ucapan selamat yang hangat atas kelahiran cucu pertama yang dianggapnya sangat cantik. Arumi merasa ada yang janggal karena anak mereka, Ayumi, seharusnya adalah cucu pertama di keluarga itu. Rahasia besar apa yang disembunyikan Akram darinya? Pesan misterius tersebut kini mengancam keutuhan rumah tangga mereka yang semula tenang.
Bab
Bagikan

Bab 2

"Arumi, kamu tunggu di sini sebentar ya. Mas mau ke toilet dulu."

"Iya mas."

Akram berlalu menuju toilet rumah sakit.

Arumi menoleh ke samping. Menatap perempuan berambut panjang yang duduk di atas kursi tunggu sambil mainan ponsel.

"Saya perhatikan sejak saya datang kamu ada di sini terus. Kalau saya boleh tahu kamu ini ada hubungan apa ya sama perempuan yang ada di dalam?" tanya Arumi. Mungkin dia bisa mengorek informasi lebih dalam tentang perempuan itu dari perempuan ini bila mereka mempunyai hubungan dekat.

"Perempuan yang habis melahirkan itu maksud kamu?"

Arumi menganggukan kepala.

"Dia sahabat aku, namanya Syafa. Kamu sendiri ada hubungan apa dengan suami sahabat aku?"

"Suami?"

"Akram maksudnya."

"Dia suami aku."

Perempuan itu terkejut mendengar perkataan Arumi.

"Kami sudah menikah sejak enam tahun yang lalu. Bahkan sudah punya anak satu. Apa kamu tahu kapan mas Akram menikahi perempuan itu?"

"Mereka menjalin hubungan sejak dua tahun yang lalu. Lalu setelah itu mereka memutuskan untuk menikah sekitar empat bulan yang lalu karena Syafa hamil."

"Jadi benar anak itu anaknya mas Akram? Bahkan mereka sudah menikah tanpa sepengetahuan aku," Arumi mengepalkan tangan.

"Arumi maaf lama."

"Iya mas nggak papa."

Akram mendorong kursi roda Arumi menjauhi ruang rawat Syafa menuju parkiran rumah sakit.

****

"Akram, hari ini kamu kan gajian. Mulai sekarang kamu nggak usah memberikan uang gaji kamu kepada Arumi lagi. Tapi diberikan kepada Syafa untuk membeli kebutuhan anak kamu yang baru lahir. Kamu tahu sendirikan kebutuhan bayi yang baru lahir sebanyak apa? Harus membeli susu lah, pampers biar nggak terlalu banyak cucian, belum lagi perlengkapan bayi satu pun belum ada yang punya. Arumi mah buat apa? Ayumi juga masih kecil. Kasih uang dua ribu perhari juga cukup. Sisanya buat mama. Hitung-hitung sebagai balas budi atas pengeluaran yang mama keluarkan untuk kamu selama ini. Dari kecil sampai bisa seperti sekarang."

"Iya ma."

Akram mengirimkan balasan pesan untuk Elina.

"Arumi?"

"Iya mas?"

"Kemarin mas nggak sengaja menabrak supir taxi sampai mobilnya mengalami kerusakan parah dan terpaksa harus dibawa ke bengkel."

"Ya terus?"

"Dia meminta mas untuk mengganti rugi sebesar dua juta lima ratus ribu dan mas terpaksa harus memberikan uang gaji mas karena dia mengancam akan melaporkan mas ke polisi seandainya mas nggak mau mengganti rugi."

"Dan kamu pikir aku percaya? Pasti semua itu hanya akal-akalan kamu saja mas karena kamu ingin memberikan uang gaji kamu untuk pelakor murahan itu yang kini sudah menggantikan posisi aku dan untuk mama kamu kan," Arumi tersenyum miris.

"Kamu nggak keberatan kan bila mas memberikan semua uang gaji mas untuk mengganti rugi? Dari pada suami kamu masuk penjara?"

"Iya mas. Aku nggak keberatan kok."

"Justru sikap kamu yang seperti ini semakin meyakinkan aku untuk bercerai dari kamu."

****

Arumi terbangun dari tidurnya. Menatap ke arah jam dinding yang menunjukkan pukul satu malam kemudian menatap Akram yang terlelap di sampingnya.

"Mampung mas Akram tidur sebaiknya aku menjalankan misiku sekarang," Arumi berubah posisi menjadi duduk. Menyibak selimut yang menutupi tubuhnya kemudian turun dari atas tempat tidur. Melangkah pelan mendekati pintu kamar, membukanya pelan-pelan agar Akram tidak terbangun dan menutupnya kembali.

Arumi segera memasuki kamar kosong yang ada di samping kamarnya dan juga Akram lalu melangkah pelan mendekati nakas yang ada di samping tempat tidur.

"Biasanya mas Akram selalu menyimpan uangnya di sini supaya nggak ketahuan sama aku," Arumi cepat-cepat membukanya dan benar saja, ada banyak lembar uang ratusan ribu di sana.

Arumi mengambil semuanya tanpa tersisa satu lembar pun. Setelah itu ia menutup kembali nakas tersebut dan membuka salah satu kaca jendela di kamar ini supaya Arkam akan beranggapan bahwa uangnya dicuri oleh maling.

"Dia sudah merebut kamu dari aku mas. Nggak akan aku biarkan dia merebut jatah bulanan yang harusnya kamu berikan kepada aku untuk dia."

****

"Jadi tujuan mama datang ke sini ingin mengambil jatah bulanan mama Akram."

"Itu dia masalahnya ma. Uangnya hilang entah ke mana. Padahal semalam masih ada kok Akram simpan ditempat biasa," Akram memijat pelipisnya yang terasa sedikit pusing.

"Kamu jangan bercanda Akram."

"Akram serius ma. Lagi pula untuk apa Akram membohongi mama."

"Mungkin kamu lupa menaruhnya di mana."

"Nggak ma. Jelas-jelas semalam Akram menaruhnya di dalam nakas yang ada di kamar tamu. Tapi tadi pagi waktu Akram mau transfer uangnya ke rekening Syafa, uangnya sudah nggak ada."

"Nggak salah lagi pasti ini kerjaan istri kamu. Pasti dia yang sudah mengambil semua uang kamu Akram. Dia kan nggak pernah setuju kamu memberi mama uang," Elina menerka-nerka.

"Mana mungkinlah ma. Arumi kan buta, ingin ke mana-mana aja harus bi Inah atau Akram yang mendorong kursi rodanya. Lagi pula selama ini dia nggak tahu kalau Akram menyimpan semua uang Akram di sana. Mungkin uangnya diambil sama maling ma."

"Kenapa kamu bisa mengambil kesimpulan begitu?"

"Karena tadi pagi Akram melihat jendela kamar Akram dalam keadaan terbuka ma. Padahal semalam jelas-jelas Akram sudah menutupnya bahkan menguncinya."

"Duh Akram, kamu ini ceroboh banget sih jadi orang. Lain kali jangan begini lagi dong. Oh iya, mama ingin memberitahu. Hari ini Syafa sudah diperbolehkan pulang ke rumah. Kamu bawa aja dia tinggal di rumah ini. Supaya ada yang mengurus anak kamu, bi Inah. Lagi pula kasihan Syafa bila harus tinggal di rumah kontrakan itu lagi. Sudah sempit, panas, kotor pula. Nanti anak kamu kena penyakit."

"Apa? Mama meminta mas Akram membawa pelakor itu tinggal di rumah ini? Awas aja kalau mas Akram sampai mengiyakan permintaan mama," batin Arumi yang sedari tadi menguping pembicaraan keduanya dari kejauhan.

"Siapa yang mau tinggal di rumah ini ma?"

Elina dan Akram sama-sama menolehkan wajah.

"Kamu ini selain bodoh ternyata nggak punya sopan santun ya. Suka mendengarkan pembicaraan orang lain. Kamu tahu nggak, apa yang kamu lakukan itu nggak sopan! Begini kalau orang cumah lulusan SD. Otaknya beku."

"Alah seperti mama nggak pernah menguping pembicaraan Arumi dan mas Akram aja. Kalau begitu apa bedanya Arumi sama mama? Sama-sama nggak sopan! Mentang-mentang anaknya lulusan sarjana semua, jadi mengejek orang lain sesuka hatinya. Ingat ma, yang mama rendahkan itu manusia. Punya perasaan," balas Arumi. Setahun dua tahun dia menikah bersama Akram, dia hanya pasrah dan diam ketika direndahkan. Bahkan di hadapan banyak orang sekalipun. Tapi semakin didiamkan maka semakin menjadi juga Elina terus-terusan menghinanya. Arumi tidak akan tinggal diam. Batas kesabarannya sudah habis! Biarkan saja semua orang mencapnya sebagai menantu durhaka.

"Ini rumah Arumi. Arumi yang membeli pakai uang Arumi sendiri. Jadi wajar dong siapa pun yang mau tinggal di rumah ini Arumi berhak tahu."

"Renovasi dapur rumah ini pakai uang saya. Ada saya perhitungan?"

"Uang tabungan Arumi sebanyak tiga puluh juta dipakai buat biaya menikah mbak Mia dan mas Adit. Ada Arumi perhitungan?"

"Arumi kamu tuh bisa nggak sih jangan kurang ajar sama mama. Pakai membahas uang kamu yang dipakai mbak Mia segala. Baru punya uang segitu aja kamu sudah merasa paling kaya. Selama ini mas yang memberi kamu makan nggak ada tuh mas perhitungan kalau kamu mau main hitung-hitungan," Akram mulai bersuara.

"Bila tahu dulu sifat kamu begini aku pasti akan bepikir ratusan kali ingin menikahi perempuan modelan seperti kamu. Nggak punya sopan santun sama mama. Aku yang anak kandungnya aja nggak pernah tuh menjawab setiap kali diomelin sama mama."

"Kamu pikir aku nggak menyesal menikah sama kamu mas? Seandainya aku tahu dari dulu betapa busuknya kamu, pasti aku akan berpikir ribuan kali menerima lamaran kamu. Kamu nggak pernah tegas dan selalu nurut apa kata ibu kamu. Bagai kerbau yang dicucuk hidungnya. Kamu lemah, nggak bisa berdiri sendiri tanpa ibu kamu. Belum lagi keluarga kamu yang toxic itu," Arumi mengeluarkan semua unek-unek yang ia pendam selama ini.

"Kamu perhitungan soal makan? Memangnya berapa sih kamu memberi aku uang? Dua ratus ribu perbulan. Untuk jajan Ayumi buat sebulan aja masih kurang. Apalagi buat makan. Kamu taunya mau makan yang enak-enak. Makan yang nggak sesuai sama selera kamu sehari aja, kamu langsung marah-marah dan banyak protesnya. Nggak disesuaikan sama pemberian kamu. Sedangkan hampir semua uang gaji kamu, kamu berikan untuk ibu kamu yang masih menanggung hidup kakak kamu beserta suaminya. Kamu bodoh mas!"

"Diam kamu Arumi!"

"Selama ini aku cumah bisa sabar. Aku nggak berani speak up. Tapi sekarang batas kesabaran aku sudah habis mas! Aku lelah terus diperlakukan seperti ini."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Dalam Skandal
9.3
Bitna, aktris berbakat asal Korea Selatan, terjerat skandal besar setelah menghadiri pesta di Indonesia. Reputasinya terancam hancur akibat insiden dengan Kenzo, bos besar penyelenggara acara tersebut. Demi menyelamatkan karier, Bitna sepakat melakukan klarifikasi publik. Namun, Kenzo justru mengejutkan dunia dengan mengumumkan pertunangan palsu tanpa persetujuannya. Mengapa Kenzo nekat berbohong? Akankah sandiwara ini menyelamatkan atau justru menghancurkan hidup Bitna?
Sampul Novel Dia Tidak Tahu Identitas Istrinya Sampai Mereka Bercerai
8.5
Lima tahun silam, Bettina Rowe menyelamatkan nyawa Asher Lambert hingga ia kehilangan kemampuan untuk mengandung. Karena Asher mengaku enggan memiliki keturunan, Bettina terkejut saat suaminya mendadak ingin menggunakan jasa ibu pengganti. Asher memilih Betsy Sugden, mahasiswi yang berwajah mirip Bettina, demi mendapatkan ahli waris. Tanpa Asher sadari, Bettina sudah membulatkan tekad untuk bercerai tepat saat rencana itu diutarakan padanya.
Sampul Novel Mengungkap Cinta: Pernikahan Kilat dengan Seorang Taipan Rahasia
9.6
Elyse terkejut saat melihat pria berkuasa di televisi yang sangat mirip dengan Adrian, suami yang ia nikahi lewat perjanjian satu tahun. Meski awalnya berencana cerai, kedekatan harian membuat Adrian meminta pernikahan mereka menjadi nyata. Namun, segalanya berubah saat identitas asli Adrian sebagai taipan terungkap. Konflik memuncak ketika rahasia tentang anak mereka terbongkar, memicu konfrontasi besar tentang kejujuran dan masa depan cinta mereka.
Sampul Novel I'am Sorry, I love You
8.6
Liu mencari Jia, cinta monyetnya yang hilang selama delapan tahun, hingga bertemu Mianhua di Universitas Tsinghua. Mianhua, yang amnesia dan menjadi kekasih Lay, ternyata adalah Jia yang menyamar. Saat ingatan Mianhua pulih lewat hipnotis, konflik batin muncul karena Liu telah bertunangan. Meski Lay berusaha mengikatnya, Mianhua memilih pergi demi kebahagiaan semua orang. Takdir mempertemukan mereka kembali di makam Chen, hingga restu ayah membawa mereka ke pelaminan.
Sampul Novel Kontrak Ranjang Sang Kapten
9.4
Dara, pramugari Skyward Airlines, hancur saat memergoki kekasih pilotnya berkhianat. Untuk membalas dendam, ia nekat menghabiskan malam panas bersama pria asing yang dikira gigolo. Sialnya, pria itu adalah Arjuna, pilot senior sekaligus pewaris tunggal maskapai tempatnya bekerja. Kini Dara terjebak dalam konsekuensi rumit, terikat rahasia dengan pria yang memegang kendali penuh atas karier serta masa depannya di dunia penerbangan.
Sampul Novel Madu Cinta Sang Ceo
8.9
Raja Adiwijaya, CEO dingin, terpaksa menikahi Putri Cantika yang culun demi melunasi utang nyawa pada mendiang ayah gadis itu. Saat benih cinta mulai tumbuh, Tiara sang cinta pertama muncul kembali. Terbuai masa lalu, Raja nekat ingin menjadikan Tiara istri kedua meski Putri menolak keras. Terjepit antara janji setia dan obsesi lama, Raja menuntut Putri tetap bertahan di sisinya. Akankah Putri menerima kehadiran madu dalam rumah tangga mereka demi janji tersebut?