
Istri yang Dianggap Sempurna
Bab 2
Shabby masih termenung di kamarnya semenjak tadi pagi ia mendapati sang suami mengabaikannya. Sarapan yang biasanya ia siapkan di meja makan dan selalu dilahap habis tanpa sisa oleh suaminya, hari ini masih utuh. Jangankan di makan, dilirik pun tidak. Jika boleh jujur, perempuan yang memakai jilbab instan warna milo itu merasa terpukul atas sikap acuh suaminya –berbanding 360 derajat dibandingkan hari-hari biasanya di mana suaminya itu begitu sangat menghargainya.
Shabby kembali menitikkan air mata. Memang benar, ia yang sudah salah. Tidak mau berterus terang di awal Keyyan meminangnya. Apalagi sebelumnya, ia bersama sang ibu dengan kompak, harus menciptakan kebohongan demi menutupi ketidaksempurnaannya. Shabby sendiri yang merasa malu untuk mengakui bahwa dirinya pernah menjadi laki-laki karena saat keluar dari rahim sang ibu, ia memiliki organ intim yang tidak sempurna. Jika diibaratkan dengan hewan ia seperti hermaprodit. Ya, Shabby lahir dengan k*lamin ganda. Ia memiliki organ intim laki-laki juga perempuan.
Sebenarnya, seminggu lagi, wanita yang belum juga melepaskan keperawanannya itu akan melakukan operasi penyempurnaan organ intimnya agar menjadi wanita seutuhnya. Sayangnya, foto yang tidak sengaja terselip di antara pakaiannya justru tak sengaja ditemukan oleh sang suami, membuat ketakutan yang selama ini bersemayam di hati wanita yang memakai gamis kotak-kotak warna baby pink itu akhirnya menjadi kenyataan.
Shabby merasa takut menghadapi kenyataan yang memungkinkan sang suami sebentar lagi akan memilih mundur dari ikatan pernikahan yang belum lama berlangsung di antara mereka. Suaminya itu, bukan tidak mungkin melayangkan gugatan cerai kepadanya. Kemungkinan terbesar yang terus membuat hati Shabby merasa sakit.
“Ya Allah, beri hamba kesabaran, kekuatan , dan kelapangan hati,” ucap Shabby semabri menitihkan air mata.
***
“Franda?” Keyyan berusaha mencekal pergerakan tangan mantan istrinya yang semakin liar menjelajahi wajahnya. Tubuhnya mendadak merasakan panas luar biasa bukan panas karena terbakar api, tapi seperti ada gairah s*ksual yang menggebu-gebu pada dirinya.
“Abang keringetnya banyak ih. Aku cuman bantu ngusapin aja.” Tangan Franda terus bergerak aktif, menjamah seluruh bagian tubuh mantan suaminya itu dengan sensual.
Tidak! Keyyan sudah merasa ada yang tidak beres pada tubuhnya dan menjadi hal yang sangat berbahaya berada di situasi yang sekarang. Berdua bersama seorang wanita yang tidak halal baginya. Jika kini diirnya tengah memainkan sebuah film, maka akan ada tulisan ‘warning’ besar di sana.
“Jangan, Frandaahh!” Keyyan sudah sedikit menggeram lantaran rasa panas yang semakin menguat . Bulir-bulir keringat mulai membasahi kening pria tampan yang memakai jas warna hitam tersebut.
“Aku bantu lepas jasnya, ya.” Franda dengan cepat emlucuti ajs yang dipakai Keyyan, llau melemparnya begitu saja-menghantam dinding dan jatuh teronggok di atas lantai.
Keyyan mencekal tangan mantan istrinya dengan segera. Ada gairah dalam dirinya meletup-letup, ingin segera tersalurkan. Gairah di mana ia sering mengajak para wanita berolahraga di atas ranjang dan ia merasa gairah itu datang di waktu yang tak tepat karena yang di depannya sekarang bukan istrinya.
“Abang kenapa ih, kok mukanya malah jadi merah gini?” Franda melepaskan cekalan Keyyan dan kembali menyentuh kedua pipi mantan suaminya itu dengan lembut. Ibu satu anak tersebut yakin obat penaik libido yang sudah masuk ke dalam kerongkongan mantan suaminya itu kini bereaksi.
“Guehh mau keluarhh,” Keyyan menepis segala sentuhan yang diberikan Franda. Ia berjalan mendekati pintu keluar toilet.
“Bang, tunggu!” Secepat kilat, Franda melabuhkan bibirnya pada bibir Keyyan. Mengecupnya dan melumatnya seintens mungkin. Keyyan tentu saja mencoba memberontak, namun Franda yang sekarang adalah wnaita berpengalaman. Ia sudah mahir dalam hal menyentuh titik-titik sensitif di tubuh mantan suaminya itu.
Sisi kewarasan Keyyan perlahan mulai terkikis, terkalahkan dengan libidonya yang semakin naik karena sentuhan Franda. Laki-laki yang sudah mengabaikan istrinya sejak tadi pagi itu, kini mulai terbuai dengan ciuman maut sang mantan istri, terbukti dari pergerakan bibir yang mulai ia dominasi. Perlahan tapi pasti keduanya mulai menanggalkan pakaian bagian bawah masing-masing demi memenuhi hasrat keduanya yang mulai memuncak hingga pertemuan dua raga itu pun bertemu dan menyatu begitu liar di dalam toilet wanita yang sudah dikunci dari dalam.
***
Keyyan membasuh mukanya berkali-kali setelah sebuah tamparan ia layangkan pada wajah Franda, wanita yang beberapa menit yang lalu menjebaknya dalam lautan gairah sehingga membuat mereka bercinta berkali-kali lalu setelah itu, ia tinggalkan begitu saja di dalam bilik sebelah. Wanita yang tanpa malu mengatakan bahwa ia memang sengaja menjebak dirinya.
“S*alan!” Keyyan terus menerus mengumpati dirinya yang terlau lemah hingga menerima begitu saja keinginan wanita licik yang tak sengaja ditemuinya dalam resepsi pernikahan temannya ini.
Keyyan kini tengah berada di toilet khusus pria, memandangi wajahnya yang terpantul dari cermin di depannya. Ingatannya kembali pada masa di mana ia menjalin hubungan tidak sehat dengan mantan istri pertamanya, Mischa. Menikah karena hamil duluan.
“Lo ngeluarin di dalam lagi, Key,” seru Mischa yang masih dalam keadaan tanpa sehelai benang pun yang menutupi tubuh seksinya.
“Gue nggak sadar!” jawab Keyyan, pria yang memiliki perut sixpack itu seakan tak peduli. Ia kemudian bangkit, mengambil gawai yang ia letakkan di atas nakas, sebelah kanan sisi ranjang, lalu kembali duduk di atas ranjang tanpa menutupi tubuh kekarnya.
“Kalau gue sampek kebobolan, elo harus tanggung jawab!” ancam Mischa dengan nada suara setengah menjerit.
“Dan kalau elo masih nggak pake baju, gue bisa nerkam elo lagi, Lau!” Keyyan tersenyum smirk ke arah wanita yang bernama Mischa itu. Wanita bermata sipit dan memiliki bibir yang tipis itu merotasikan matanya kemudian tanpa malu turun dari ranjang dan melenggang gemulai di hadapan Keyyan. Ia mengambil dan memakai pakaiannya yang sudah beberapa jam yang lalu berceceran di lantai.
Mereka sudah menjalin kasih selama hampir setahun. Tepatnya, saat Ino putus dari pacar pertamanya yang meninggalkannya karena menikah duluan. Apakah Keyyan saat itu sakit hati? Maka jawabannya adalah ‘Tidak’.
Keyyan tak pernah serius dalam menjalin hubungan dengan kaum hawa. Ia hanya merasa ‘have fun’. Jika wanita yang ditemuinya itu bisa membuatnya nyaman dan garis bawahi bukan karena cinta, maka Keyyan ‘sudi’ menjadikannya kekasih. Kekasih yang hanya ia anggap untuk menyenangkan kebutuhan biologisnya. Sungguh miris! Sebuah status yang membuat Keyyan melakukan pergaulan bebas dengan sang kekasih.
“Nggak ada jawaban lain lagi apa? Selain kata gue nggak sadar?!” gerutu Mischa merasa kesal karena lagi-lagi ia mendapati jawaban yang sama dari mulut kekasihnya yang terbilang tampan itu.
“Elo marah?” Keyyan mengangkat sebelah alisnya ke arah Mischa.
Mischa dalam sekejap menggeleng. Bagaimanapun, di antara mantan-mantan pacarnya, Ino tergolong yang paling rupawan. Sialnya, di dalam lingkungan sosial tempat Mischa berada, mendapat pacar yang tampan bagaikan mendapat piala berbahan berlian.
Keyyan dengan santainya berjalan mendekati Mischa. Ia mendekatkan wajahnya membuat wajah sang kekasih merona. Sayangnya, kata-kata yang diucapkan Keyyan berikutnya, mampu mematahkan hatinya.
“Kalaupun nanti elo hamil, gugurin! Gue nggak mau direpotkan dengan makhluk yang bernama a.n.a.k!” tegas Keyyan yang menolak dnegan jelas kemungkinan buruk yang terjadi sebagai haisl dari perbuatan ‘bebas’ mereka.
Ya, pada akhirnya Keyyan benar-benar mendapatkan seorang anak perempuan dari Mischa yang membuat dirinya harus menikahi ibu dari putrinya itu. Pernikahan pertamanya di saat ia menjadi laki-laki pengangguran.
***
Anda Mungkin Juga Suka





