
Istri yang Dianggap Sempurna
Bab 3
Cklek!
“Mau apa lagi elo, hah?” Keyyan berteriak tepat di saat ia keluar dari toilet yang langsung di sambut dengan hadirnya Franda di hadapannya. Sepertinya, mantan istrinya itu memang sengaja menunggunya meski sudah mendapatkan tamparan keras dari tangannya. Benar-benar wanita gila.
“Aku pengen rujuk sama kamu,” ungkap Franda to the point. Ia bersedekap dan memandang lurus ke arah Keyyan. Keyyan berdecih, sadar kalau sejak dulu Franda masih menjadi sosok wanita yang tergila-gila pada dirinya. “Arsyila butuh ayah kandungnya. Dan mungkin juga … benih kamu yang sekarang lagi berproses jadi calon adik Arsyila.” Dengan santai, Franda mendekatkan wajahnya ke arah laki-laki yang terdiam mematung di depannya. “Aku sedang masa subur.”
DEG!
Keyyan benci berita itu. Ia tak ingin lagi mengulang sejarah kelamnya. Menikahi wanita yang mengandung benihnya tanpa ada rasa cinta. Lagi pula, Keyyan terlanjur jatuh hati pada Shabby, istrinya yang sekarang, meskipun lagi-lagi ia harus diingatkan dengan sebuah fakta jika Shabby pernah menjadi laki-laki sebelumnya. Tapi di lubuk hatinya, ia tak ingin berpisah dengan istrinya yang sekarang.
“Ikut gue!” Keyyan menarik kasar lengan Franda. Ia membawa mantan istrinya itu masuk ke dalam mobil bermerk yang ia kendarai menuju pesta pernikahan sepupunya.
“Ya, tapi nggak usah tarik-tarik gini. Sakit tau, Bang,” oceh Franda yang tak digubris Keyyan. Sebelum waktu semakin bertambah, Keyyan ingin segera menggagalkan proses pembuahan yang mungkin tengah terjadi di rahim mantan istrinya itu.
“Pake seatbelt lo!” titah Keyyan saat dirinya tengah menempati kursi kemudi.
“Pakein, Bang. Tanganku masih sakit gara-gara kamu tarik tadi,” sahut Franda merajuk yang malah membuat Keyyan mendengus.
Keyyan dengan kesal mendekati Franda, menarik seatbelt, dan menguncinya. Tepat saat setbelt yag ditarik Keyyan berbunyi klik, justru bibirnya kembali disambar oleh Franda.
“Kurang ajar!” Keyyan mendorong bahu Franda kencang hingga punggung wanita itu menabrak kaca mobil di belakangnya.
“Aw!”
“Gue udah menikah lagi, Franda!” bentak Keyyan dengan lantang mengumumkan statusnya. Ia ingin mantan istrinya itu sadar diri bahwa dirinya tidak mungkin menuruti keinginan tidak masuk akalnya itu.
“Terus masalahnya apa? Bukankah saat Franda jadi istri Abang, Abang masih juga main sama wanita lain, kan?” seru Franda setengah menjerit.
“Ba-bagaimana lo____” Keyyan tak percaya bahwa kelakuan buruknya waktu itu ternyata diketahui oleh sang mantan istri.
“Tentu Franda tau! Bau parfum Franda jelas beda dengan yang dipakai selingkuhan Abang,” seru Franda dengan nada suara yang belum juga diturunkan.
Keyyan terpaku. Ingatannya kembali dipaksa mundur pada masa di mana ia merenggut kegadisan mantan istrinya itu setelah ia menjadi duda dari pernikahannya bersama Mischa
“Kamu haus kan? Buat minum gih! Buat Abang juga satu.”
“Oke, bentar ya, Bang.” Franda beranjak dari tempatnya berdiri dan menuju ke dapur sembari mengikat rambut panjangnya hingga trelihat jelas leher putihnya yang tertangkap oleh indera penglihatan Keyyan. Tak membuang kesempatan, Keyyan perlahan-lahan mengikuti langkah Franda menuju dapur.
Franda tengah meracik dua teh manis yang ia letakkan pada nampan. Keyyan dengan sigap memeluk pinggang Franda dari belakang begitu erat.
“Bang?! Ngagetin deh!” seloroh Franda akan pergerakan tiba-tba Keyyan di belakangnya.
“Kamu ngangenin sih!” timpal Keyyan seraya menghembuskan napasnya mendekati leher jenjang Franda yang kemudian berubah menjadi kecupan-kecupan basah di area tersebut.
Franda mulai bergerak gelisah. Gerakannya meracik teh pun terhenti. Franda lalu meletakkan kedua tangannya di pinggir meja dapur. Dengan tak sabar, Keyyan pun menodai bibir gadis yang kini masuk dalam rengkuhannya setelah ia berhasil membalik badan Franda, menghadapnya. Nafsu terlarang akhirnya menyelimuti mereka berdua di dalam rumah yang hanya terisi oleh dua orang.
Tidak lama kemudian, kamar Keyyan menjadi sasaran mereka membaringkan badan dan memadu kasih. Untuk kedua kalinya, Keyyan mengeluarkan benihnya pada rahim seorang gadis yang belum menjadi pasangan halalnya.
“Bang!”
Lengkingan suara wnaita di sampingnya membuat Keyyan kembali disadarkan dari lamunannya.
“Kali ini gue nggak mau selingkuh!” Nada suara Keyyan terdengar bersungguh-sungguh.
“C’mon, Bang. Franda tau kok, Abang tadi menikmati____”
“Stop, Franda! Lo nggak usah terlalu percaya diri, nggak usah salah mengartikan perbuatan dosa yang kita lakukan tadi di toilet. Gue kayak gitu karena lo yang jebak gue pake obat p*rangsang!” potong Keyyan cepat. Pria berkulit putih itu mengepalkan kedua tangannya. Mata elangnya menyorot tajam Franda, yang membuat gadis itu menelan salivanya kasar. Franda merasa Keyyan memang sudah berubah.
Wajah ketakutan Franda berangsur-angsur normal lalu kini terganti dengan senyum yang terangkai di bibirnya.
“Abang pasti belum pernah berhubungan badan sama istri Abang yang sekarang kan?” tanya Franda menampilkan wajah penuh keyakinan.
“Bagaimana wanita ini bisa tahu?” batin Keyyan. “Nggak usah sok tau,” ucap Keyyan lalu menjalankan mobil yang sedari tadi belum juga bergerak.
“Yang keluar tadi kayaknya banyak banget, Bang,” celutuk Franda yang langsung bisa dicerna oleh Keyyan.
“Ehem, pokoknya kali ini lo harus mau minum pil pencegah kehamilan! Gue sampai kapan pun nggak mau punya anak dari rahim lo lagi! Gue mau punya anak yang sah dari istri gue. Anak yang lahir dari pernikahan sah gue,” tegas Keyyan dengan tatapan yang menyorot lurus ke depan.
“Gue mau, asal abang nikahin Franda secara siri lagi.” Franda berucap sembari menatap tajam ke arah Keyyan, yang membuat Keyyan menjambak rambutnya sendiri. Dalam hati, pria itu menyesalkan kenapa harus pergi ke resepsi pernikahan temannya seorang diri. Mengapa tadi pagi ia tidak mengajak Shabby saja pergi bersamanya.
Pyar!!
Foto pernikahan Keyyan dengan Shabby, tak sengaja jatuh tersenggol. Shabby mencoba meraihnya namun justru jari telunjuknya tak sengaja tergores beling kaca yang pecah.
“Astaghfirullah. Kenapa perasaan Shabby jadi nggak enak gini. Mas, kamu di mana sekarang?” Pagi tadi suaminya pergi begitu saja, tanpa berpamitan padanya. Melihat suaminya yang mengendarai mobil, meyakinkan wanita berpakaian gamis itu bahwa laki-laki yang beberapa bulan ini tidur seranjang dengannya pasti akan pergi jauh, karena laki-laki itu hanya akan mengendarai sepeda motornya jika pergi ke tempat-tempat yang tak terlalu jauh dari rumah.
Shabby beranjak mencari ponselnya, beling kaca foto yang belum ia bersihkan kini berhasil menggores telapak kakinya namun tidak ia hiraukan. Shabby pun segera melakukan panggilan keluar ke nomor ponsel suaminya.
Tut! Tut!
“Hallo? Saya istri Keyyan, ini dengan siapa ya?” Ponsel yang Shabby tempelkan ke telinganya jatuh begitu saja, seiring dengan buliran air mata yang membasahi pipinya setelah dengan jelas suara wanita yang menjawab panggilan telponnya.
“Siapa wanita yang tengah bersama suaminya itu?” batin Shabby meringis pilu.
***
Anda Mungkin Juga Suka





