
Istri Tuan Jhason
Bab 2
Mentari telah bersinar kini gadis cantik itu sudah ceria lagi dan tidak terasa ia pun sudah satu bulan bekerja di rumah Tuan Jhason, Kara dialah gadis yang di selamatkan oleh Jhason saat di rumah bordil.
Seharian ini Kata di sibukkan oleh Kakak senoirnya dan membuatnya lelah tidak ada waktu untuk istrahat, Kara hanya bisa menggangukan kepalanya saja karena dialah yang paling muda di antara yang lainnya.
Seperti hari ini saat semua pelayan telah selesai dengan tugasnya tetapi tidak dengan Kara ia masih harus mengantarkan pakaian yang sudah selesai di setrika oleh pelayan lain lalu kepala pelayan Susi menyuruh Kara untuk mengantarkan pakaian milik Tuan Jhason.
Sebenarnya Kara ingin sekali menolak permintaannya tetapi kepala pelayan Susi memohon kepadanya, dan mau tidak mau Kara harus mengantarkan pakaian milik Tuan Jhason. Menarik napas dalam sebelum Kara masuk ke dalam kamar Tuan Jhason, ia pun mengetuk pintu terlebih dahulu dan sudah dia puluh menit Kara menunggu tetapi pintu belum di buka juga.
Dia pun mencoba membuka handel pintu perlahan menyembulkan kepalanya ia ingin tahu apa Tuan Jhason ada di dalam atau tidak, terdengar suara gemercik air di kamar mandi lalu Kara menghembuskan napas lega.
Akhirnya Kara pun masuk ke dalam kamar Tuan Jhason lalu ia pun meletakan pakaiannya, baru saja ia akan melangkah keluar lalu ada yang memanggilnya.
"Siapa kau?" ujar Jhason dengan menatap datar Kara.
Mendengar hal itu langkah kaki Kara pun terhenti lalu ia pun membalikkan badannya dengan sedikit membungkuk.
"Sa-saya Kara, Tuan." ucap Kara dengan tubuh bergetar."Tuan yang menyelematkan saya di rumah bordil itu."ucap Kara dengan menundukkan kepalanya.
Jhason sedikit mengerutkan keningnya lalu ia pun melangkahkah kakinya mendekati Kara yang sedang gugup, Jhason hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya hingga terlihat jelas roti sobek yang di idamkan seluruh kaum hawa.
Salah satu tangan Jhason menempel pada tembok dan tangan satu lagi memegang dagu Kara, ia ingin melihat sepolos apa gadis yang ia selamatkan perlahan-lahan Kara pun menatap wajah tampan Jhason dengan raut wajah yang begitu membingungkan bagi Jhason.
Dia melihat mata Kara sudah berkaca-kacs bahkan jika berkedip pun maka air mata itu siap meluncur bebas, sedangkan Kara sudah ketakutan melihat wajah Jhason yang menurutnya menakutkan.
"Bukankah wanita suka seperti ini." ucap Jhason ia memegangi dagu Kara dan juga menatapnya begitu dalam.
"Tuan, aku masih kecil bisakah kau lepaskan aku." jawab Kara dengan takut.
Lalu Jhason pun segera melepaskan tangannya dari dagu Kara dan Kara pun bisa bernapas lega, lalu ia pun menundukkan kepalanya dan bergegas keluar dari kamar Jhason.
Sebelum Kara menghilang di balik pintu Jhason pun memanggilnya kembali dan membuat langkah kaki Kara terhenti.
"Siapa namamu?" tanya Jhason memastikan.
"Kara, Tuan." jawab Kara, lalu ia pun tersenyum manis dan berlalu pergi.
Jhason pun menganggukkan kepalanya tanda ia mengerti dan tersenyum manis.
"Kara."
***
Sementara di kediaman Albert seorang pria paruh baya dan juga istrinya sedang membicarakan tentang masa depan putranya, hingga saat ini putranya pun belum juga menikah dan hal itu membuat kedua orang tuan renta itu harus berpikir kerasa bagaimana ia bisa mendapatkan jodohnya.
"Papa, bagaimana nasib putra kita, bahkan sampai sekarang pun ia belum menikah. Dia masih belum bisa melupakan mantan kekasihnya itu dan membuatku begitu khawatir." ucap wanita paruh baya itu yang begitu khawatir.
"Kau tenang saja, jika sampai hari ini anak itu belum mendapatkan jodohnya maka aku akan mengaturnya." ucapnya lalu memeluk erat sang istri.
Tak butuh waktu lama orang yang mereka tunggu akhirnya datang juga lalu sepasang suami-istri itu tersenyum manis. Seseorang pun dan para pelayan saling menunduk hormat.
Lalu kepala pelayan menghampiri dan sedikit membungkukkan badannya."Selamat malam Tuan Muda, anda sudah di tunggu oleh Nyonya."
"Baiklah, terima kasih Paman Zhang."
Dia pun melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga dan di sana kedua orang tuanya sudah menunggu kedatangannya, setelah menyelesaikan pekerjaan di kantornya ia pun di telepon untuk segera pulang ke rumah. Dan mau tidak mau pun ia akhirnya datang juga dengan sedikit paksaan dari sang ibu yang telah melahirkannya.
"Akhirnya kau datang juga Jhason." ucap Nyonya Ervina dengan tersenyum manis.
Jhason pun mencium punggung tangan kedua orang tuanya dan ia pun segera duduk di hadapan kedua orang tuanya. Sedangkan Tuan Albert menatap datar ke arah putranya.
"Bisakah kau tidak bersikap seperti itu." ucap Tuan Albert menatap sang putra.
Jhason pun menjawab dengan entengnya dan membuat Tuan Albert kesal tetapi Nyonya Ervina melerainya, karena ada hal yang lebih penting daripada pertengkaran mereka berdua.
"Karena aku adalah kau, Papaku tercinta." jawabnya datar.
"Kau selalu saja."ucapan Tuan Albert pun langsung di potong oleh Nyonya Ervina.
"Cukup itu tidak penting, ada hal yang lebih penting." ucap Nyonya Ervina menatap keduanya dengan serius.
Jika Nyonya Ervina sudah mengatakan hal seperti itu maka kedua pria itu terdiam dan mulai mendengarkan apa yang akan di katakan oleh Nyonya Ervina.
"Papa dan Mama sudah memutuskan jika kau akan di jodohkan dengan teman Mama, dan Papamu setuju. Jadi besok kau bersiaplah untuk bertemu dengan calon istrimu." ucap Nyonya Ervina menatap Jhason.
"Cck merepotkan." gumamnya, lalu Jhason pun terpikirkan sesuatu dan ia pun memberi tahu kedua orang tuanya."Aku sudah punya calon, Mama. Jadi kalian saja yang datang ke rumahku."
Mendengar hal itu pun kedua orang tua Jhason langsung melotot dan mereka berdua pun memastikan kembali dengan ucapan Jhason. Jhason pun mengangguk setuju, kedua orang tuanya pun bisa bernapas lega jika besok pagi kedua orang tua Jhason akan datang ke rumahnya.
Hari pun semakin sore lalu Jhason memutuskan untuk pulang ke rumahnya, bahkan ia tidak mau menginap di rumah orang tuanya dengan alasan pekerjaannya masih banyak.
Nyonya Ervina sebenarnya tidak setuju dengan keputusan Jhason tetapi Jhason terus meyakinkan Nyonya Ervina, dan Nyonya Ervina pun luluh mau menuruti kemauan Jhason.
Kini mobil Jhason sudah terpakir di garasi lalu ia pun melangkahkan kakinya danasuk ke dalam, lalu kepala pelayan Susi pun menghampiri sang majikan. Dan ia pun membawakan tas kerja milik Jhason.
Jahson pun duduk di sofa ruang keluarga dan ia pun menyandarkan tubuhnya yang terasa lelah, setelah menaruh tas kerja milik Jhason lalu kepala pelayan Susi segara ke dapur ia pun membuatkan minuman untuk Jhason.
Jahson pun menerimanya dan ia pun mulai bertanya tentang Kata yang seharian di rumahnya, lalu kepala pelayan Susi pun mengatakan semuanya dan tanpa sadar ada senyuman tipis di sudut bibir Jhason yang tidak terlihat.
"Baiklah, kau boleh istirahat kepala pelayan." ujar Jhason, ia pun segera bangun dari duduknya.
"Baik Tuan, selamat malam."
Jhason pun menganggukkan kepalanya saja, lalu ia pun melangkahkan kakinya menaikk anak tangga menuju kamarnya, lalu ia pun masuk ke dalam kamar.
"Semoga ini keputusan yang benar."
Anda Mungkin Juga Suka





