
Istri Terlupakan Mr Casanova
Bab 2
“Aku ini istri kamu Theo. Bukan orang lain.” Ucap Nala penuh penekanan. Kedua mata berkedip perlahan seraya menggelengkan kepala. Tampaknya roda kehidupan sedang berada di bawah, tidak memihak kepadanya.
Theodore Rylee Bradley secara terang-terangan menolak statusnya sebagai suami dari Nala. “Ck, keras kepala. Perempuan kampung dengar baik-baik, aku belum menikah!”
“Kalaupun mencari istri pasti seorang artis atau model, memalukan memilih mu!” terangnya tidak menginginkan kehadiran Nala.
Tidak jera, dengan gerakan cepat Nala memperlihatkan benda melingkar di tangannya, lalu berkata, “Jangan lupakan aku Theo. Anak kita membutuhkan ayahnya.” Suara Nala terdengar parau, bibirnya pun bergetar.
Namun sikap Theo sangat keras kepala, enggan disentuh dan mendengar suara sang istri, “Berisik! Anak? Anak kita? Kamu benar-benar pandai bermain peran.”
Pria itu memerhatikan perut menyembul Nala, kemudian tersenyum sinis. Seingatnya hal seperti ini bukan kali pertama, sudah ada beberapa orang wanita mengaku hamil anaknya tapi setelah dilakukan tes, semua terbukti berbohong. Apalagi mengakui anak dalam kandungan Nala, wanita yang sama sekali tidak diingatnya.
Theo memang pria tampan berjuta pesona, seringkali para wanita datang silih berganti menawarkan pertemanan luar biasa. Statusnya sebagai Presiden Direktur RB Group Hotel semakin menambah daya pikat. Menyihir mereka yang mudah terbuai akan harta dan kekuasaan. Pastinya dimanfaatkan sebaik mungkin, karena ia adalah pria normal.
Theodore turun dari ranjang, mengabaikan rasa sakit pada kaki dan tangan. Menyudutkan Nala hingga wanita itu berjalan mundur membentur dinding. Bola mata hazel miliknya memberi tatapan intimidasi.
“Bisa saja itu anak pria lain. Lalu kamu datang dan mengambil kesempatan karena aku hilang ingatan. Cukup hebat.” Bibirnya lancar mengucapkan bahwa mungkin saja anak itu bukan miliknya tetapi orang lain.
“Hey asal kamu tahu, seorang petualang cinta tidak mungkin memiliki istri memalukan seperti ini. Lihat penampilan kamu! Bila perlu aku belikan cermin yang besar.” Kedua alis Theo terangkat, salah satu sudut bibirnya berkedut tipis, merendahkan wanita yang berani mengaku hamil anaknya.
Bibir pria ini mendekat, lalu membisikkan sesuatu, “Aku selalu bermain aman dan rapi. Kalau mau berbohong, kamu salah memilih sasaran.”
Tangan Theodore merapikan anak rambut Nala yang lengket karena keringat, kemudian melirik tangannya yang basah dan menyeka ke piyama pasien sang istri.
“Ah ya lupa. Aku tidak suka wanita berkeringat sepertimu.” Hendak membelai pipi Nala, namun itu semua hanya tipuan. Theo segera menarik tangan dan tubuhnya, menjauh dari Nala.
Nala mengatupkan mulut dan giginya, buku-buku jemari mengepal kuat di samping tubuhnya hingga menusuk telapak tangan. Manik hitam pekatnya menatap perih wajah sang suami. Perasaanya tersayat sembilu, mendengar penolakan suaminya.
Tidak tahukah Theodore, saat ini Nala dihantam kerasnya kenyataan pahit? Sudah jatuh tertimpa tangga, situasi yang paling tepat menggambarkan keadaannya.
Pertemuan yang seharusnya menimbulkan suka sebab bisa menyalurkan kegundahan, malah berakhir mengharu biru.
Kristal bening menggenang dipelupuk mata. Bibirnya tidak sanggup mengucapkan apapun, selain menerima segala penolakan dari sang suami.
Tetapi ia tidak menyerah karena mengetahui bahwa Theo sedang sakit bukan disengaja. “Aku yakin bisa mengembalikan keadaan.” Lirihnya dalam hati. Kemudian menggukir senyum tipis menanggapi wajah suami yang tampak menyebalkan.
Mendadak pintu terbuka, dua tenaga medis datang menjemput Theodore untuk melakukan pemeriksaan lengkap. Mulai dari tes darah, kognitif, MRI, sampai electroencephalogram.
Tim dokter dan keluarga meminta Nala untuk sabar menghadapi sikap arogan dan kekanakan Theodore, karena dia masih merasa seorang bujangan.
“Mrs. Bradley harap menyikapi dengan kepala dingin. Tuan Muda Bradley sekarang belum bisa menerima semua informasi terkait masa lalu.” Terang dokter.
“Kami akan melakukan terapi kognitif terhadap pasien, tetapi tidak bisa menjamin seluruh ingatan kembali secara utuh. Memerlukan waktu tidak sebentar, dukungan dari keluarga terdekat sangatlah membantu.” Tukas dokter seraya melirik wajah frustasi Nala.
“Mommy yakin Nala, Theo pasti mengingat kamu. Kita harus sabar dan hati-hati dalam mengambil langkah.” Ibu mertua Nala berusaha menenangkan.
Nala hanya mengangguk pasrah setelah beberapa hasil tes pemeriksaan membenarkan kondisi Theo mengalami hilang ingatan. Masa pemulihannya pun beragam tergantung dari kesiapan dan kondisi pasien.
“Bantu Mama sayang, kita harus bisa membuat Papa ingat lagi.” Kata hati Nala mengajak anak-anaknya turut serta.
Dua tendangan kecil diterima, seakan kedua janin itu kompak bersama ibunya. Melakukan misi penting agar mendapat pengakuan serta kasih sayang dari ayahnya.
“Anak-anak pintar.” Ucap Nala, menundukkan wajah, mengelus perut yang tampak menonjol pada bagian samping.
**
Malam harinya Nala kembali menemui Theo, membawa beberapa foto pernikahan. Dengan langkah percaya diri, dan senyum mengembang. Tidak lupa merias tipis wajah agar tidak pucat.
“Sekarang, dia tidak bisa mengelak lagi. Bukti secara tertulis ada. Nama kami pun tercatat di Negara sebagai sepasang suami istri.” Kata Nala, lalu menghirup oksigen sebanyak-banyaknya.
Dokter menyatakan, untuk memulihkan ingatan Theo memerlukan usaha ekstra dan perlahan. Tidak boleh memaksa karena bisa menimbulkan dampak berbahaya.
Tangannya yang sudah mengepal di udara, siap mengetuk pintu, mendadak terdiam, mengurungkan niatnya. Perasaan Nala tidak karuan, antara takut dan sedih menyeruak ke dalam rongga dada. Ia mengelus perut, menenangkan janin yang bergerak-gerak.
“Mungkin aku buka sedikit dulu.” Gumamnya, diikuti kepala mengangguk.
Pelan-pelan tanpa menimbulkan suara, Nala memegang knop pintu, menggesernya hingga terdapat celah selebar tiga jari tangan.
Seketika tubuhnya mematung, mata melebar, tanganya menutup rapat mulut agar tidak berteriak. Sayangnya, bukan penyambutan dari sang suami, melainkan pemandangan menyayat hati.
Pria itu –Theo, tengah mencumbu seorang wanita yang sangat dikenali –Bianca Williams, gadis berambut coklat kemerahan yang pernah merusak hari pernikahannya.
Bila dihubungkan dengan penjelasan dokter mengenai amnesia yang diderita suaminya. Tentu saja Theo hanya mengingat Bianca, wanita yang berhasil mendapatkan hatinya selama bertahun-tahun. Bukan Naladhira, istrinya yang dipersunting satu tahun lalu melalui perjodohan.
Sore tadi Theodore yang kesepian, menerima tamu. Tanpa diduga seseorang yang mengisi hati bertahun silam kembali muncul, Bianca. Berita terkait kecelakaan itu tersebar di seluruh media. Memudahkan Bianca mencari keberadaan mantan kekasihnya.
Raga yang semula berdiri tegak itu, kini luruh ke atas lantai, menyandar pada dinginnya dinding. Nala berharap semua ini adalah mimpi buruk. Ia ingin segera terbangun secepatnya.
“Ini hanya mimpi buruk Nala, ini tidak nyata, tidak … pria di dalam itu bukan Theodore yang sebenarnya.” Ucapnya begitu pelan sembari gemetaran. Ia pun mengigit kuku-kuku jemari, menarik napas, lalu membuangnya perlahan.
“Aku mohon, ini tidak lama. Semoga salah lihat. Lindungi suamiku.” Nala melambungkan doa setinggi langit.
Dapat dibayangkan setengah nyawanya, miliknya, suaminya lebih menerima kehadiran wanita lain dibanding dirinya sendiri yang sudah jelas-jelas berstatus sebagai istri. Betapa hancurnya perasaan Nala.
Anda Mungkin Juga Suka





