
Istri Terlupakan Mr Casanova
Bab 3
"Mrs. Bradley"
Seorang perawat hendak membantu Nala berdiri. Namun wanita hamil ini menggeleng pelan seraya melengkungkan senyum penuh luka, masih menikmati lara seorang diri.
"Tapi Mrs. Jangan duduk di bawah. Anda bisa kedinginan Mrs. Bradley, saya turut prihatin atas kondisi Tuan Muda Bradley. Semoga ingatannya segera pulih."
“Terima kasih.” Jawab Nala terbata, ya lantai ini semakin dingin seolah semesta pun tidak mendukung. Angin malam musim semi seakan menerobos masuk melalui serat kain, menusuk dinding kulitnya.
"Saya permisi Mrs. Bradley."
Nala menarik napas sedalam-dalamnya, mengembuskan perlahan, mengusap perut buncit yang menegang. “Its okay baby. Don’t worry, Papa dan Mama love you.”
Dengan berpegangan sekaligus menahan berat badan pada dinding, ia berusaha berdiri. Menghadapi kenyataan pahit, bukan menghindarinya. Kedua tangan Nala tidak kuasa membuka pintu. Berubah sedingin es.
Air matanya sudah jatuh menetes membasahi piyama pasien. Tapi sekali lagi, Nala meneguhkan hati bahwa semua ini tidak terjadi selamanya. Ia harus kuat menghadapi semua tingkah Theo.
“Untuk kamu, anak kita dan aku.” Lirih Nala, menelan saliva, memejamkan kedua mata, menetralkan sesuatu yang berkecamuk dalam dada.
Dengan perasaan porak-poranda Nala mendorong pintu hingga terbuka lebar. Bohong kalau tidak cemburu, mustahil tidak marah, ia adalah manusia biasa, seorang wanita yang lebih mengutamakan hati daripada pikiran.
Nala tetap melangkahkan kaki walaupun teramat sulit. Kedua tumitnya begitu berat dan semakin membengkak. Raganya menolak masuk, tetapi otaknya tidak rela jika wanita itu, memenangkan perhatian suaminya.
Decapan khas dari tautan kedua bibir menusuk gendang telinga serta relung hatinya. Nala mengalihkan pandangan ketika satu tangan suaminya bergerak nakal menelusuri tubuh bagian belakang Bianca.
Perutnya pun kembali menegang, seolah dua janin dalam kandungan mengetahui apa yang terjadi di dunia ini. Saling bergerak gelisah, turut merasakan kegelisahan yang dialami oleh Nala.
“Theo, aku mohon jangan begini.” Cicit Nala.
Kehadiran ibu hamil ini sama sekali tidak menghentikkan aktifitas Theo dan Bianca. Dua insan itu layaknya sepasang kekasih yang dimabuk asmara, melupakan semua, serasa dunia menjadi milik berdua.
Dengan segudang kesabaran, Nala memanggil nama lengkap suaminya, “Theodore Rylee Bradley, aku datang. Hallo Papa, kami menjenguk Papa.” Mengukir senyum, mengesampingkan luka menganga yang baru saja diterimanya.
Menatap wajah sang suami penuh kasih sayang, berharap keajaiban segera datang. Jujur saja ia tidak akan sanggup bila dihadapkan pada kenyaataan menyakitkan menyayat hati seperti ini.
“Maaf sayang. Wanita itu datang mengganggu. Mungkin aku harus membayar banyak pengawal untuk menjaga di luar kamar.” Sengit Theodore, kilat permusuhan terpancar kuat.
Bianca menoleh, memerhatikan Nala dari atas ke bawah, sudut kanan bibirnya berkedut, menghina seorang Naladhira. Kemudian beralih memandangi Theodore yang menatap penuh puja pada wanita itu.
“Kamu sama sekali tidak ingat, Theo?” tanya Bianca mengalungkan kedua tangan di leher mantan kekasihnya.
Jemari Theo membelai lembut wajah wanita lain, menghapus sisa-sisa pagutannya pada bibir Bianca.
“Ingat apa? Dia?” menunjuk Nala dengan tatapan malas serta dagu terangkat. “Ck, kalau dilupakan, itu artinya dia tidak penting. Sudahlah tidak perlu dipikirkan.” Pungkas Theodore.
“Theo kamu tahu kan, aku sedih banget mendengar kabar kamu kecelakaan. Terima kasih sudah siuman. Aku merindukan kamu.” Bisik Bianca tepat di telinga Theodore.
Wanita itu yakin mantan keksihnya tidak akan mengingat Nala, beragam rencana pun tersusun dalam kepala Bianca. Merebut cintanya lagi, putus dari Theodore pun terpaksa karena menerima perjodohan dengan Nala.
“Sebaiknya aku keluar dulu. Mungkin ada hal penting yang perlu kalian bicarakan.” Bianca meraih tas di kursi, tetapi dengan cepat Theo menyanggah.
“Jangan. Kalau pun ada yang keluar dan pergi ya seharusnya dia, bukan kamu Bi. Duduk di sini!” perintah Theodore tetap memfokuskan diri pada mantan kekasihnya.
“Tapi … aku mau ke toilet sayang.” Nada manja Bianca, “Lihat, penampilanku jadi berantakan begini, kamu terlalu agresif, masih sama seperti dulu.”
“Oke, tapi jangan lama-lama, kamu harus menemani aku sampai sembuh.” Theo mengedipkan sebelah mata, menyentuh dagu Bianca.
Tawa kemenangan tercetak jelas, Bianca sengaja menyenggol bahu Nala, kemudian mengucapkan kata-kata memulai perang, “Dulu, kamu merebut Theo, sekarang aku akan mengambilnya lagi. Untuk anakmu, aku bisa menjadi ibu yang baik.”
Bianca mengibaskan surai panjangnya, memukul perih mengenai lengan Nala. Wanita itu benar-benar tidak tahu malu, memanfaatkan penderitaan orang lain demi meraup keuntungan pribadi.
“Theo, biar aku yang menjagamu di sini. Aku masih kuat.” Ujar Nala. Mana mungkin memberi angin segar kepada Bianca.
“Siapa nama kamu?” Theo mengernyitkan kening, benar-benar tidak mengingat nama Nala.
“Aku? Naladhira. Kamu membutuhkan sesuatu? Aku bisa bantu.” Nala duduk di tepi ranjang, merindukan sedekat ini dengan suaminya. Membutuhkan sandaran dalam menghadapi hari-hari ke depan.
Dilupakan, diabaikan, bahkan tidak diinginkan oleh seseorang yang teramat sangat dicintainya. Menguras seluruh energi dalam tubuh.
“Hey Nala. Aku itu punya otak, tidak mungkin mengizinkan wanita hamil seperti mu di sini. Sebaiknya kamu pulang, temui ayah dari bayi itu, jangan membawa aku ke dalam masalah kalian.” Sembur Theodore. Lantas menyingkap selimut, memberi isyarat agar istrinya segera menyingkir.
Nala berdiri memundurkan raga, ia melihat kegiatan suaminya menepuk-nepuk ranjang yang tadi diduduki olehnya, seakan Theo jijik.
Derai air mata membanjiri kembali membasahi pipi ketika terdengar denting benda terjatuh. Nala mengamati dengan seksama, benda melingkar kecil sengaja dilepas suaminya, padahal pagi tadi Theo masih menggunakan cincin pernikahan dengan ukiran nama ‘Naladhira’.
“Cincinnya jatuh.” Sekali lagi, Nala tidak goyah, ia mengambil cincin itu, lalu meraih tangan Theodore.
“Heh lepas! Mau apa?” sangar Theodore tidak suka disentuh sembarang orang.
“Ini cincin kamu lepas.” Nala mencoba memasangkannya kembali pada jari manis. Tapi sayang tangannya ditepis hingga benda itu terpental entah ke mana.
“Sengaja, aku tidak mau Bianca sakit hati dan berpikir aneh.” Jawab Theodore membaringkan tubuh dan menutupnya dengan selimut.
“Tapi Theo, aku istri kamu, seharusnya jaga perasaan aku bukan Bianca.” Suara Nala bergetar, demi apapun, kesabarannya perlahan mulai terkikis.
“Heh bawel, Bianca itu calon istriku, calon Nyonya Bradley. Perempuan itu yang aku cinta. Kita pacaran sejak sekolah. Paham?” balasan Theodore tak kalah menyakitkan.
Pria itu menekan tombol darurat, menghubungi petugas keamanan untuk membawa keluar istrinya dari kamar. Sedangkan mereka mengetahui status Nala sebagai istri dari Tuannya, tentu tidak berani mengusir Nyonya Muda Bradley. Ketiga petugas keamanan saling melirik satu sama lain.
“Siapa yang gaji kalian? Aku 'kan? Bukan dia. Mulai sekarang jangan biarkan wanita ini masuk ke area perawatanku, atau kalian bertiga menanggung resikonya.” Tegas Theodore sangat arogan tanpa belas kasih.
"Nyonya maafkan kami."
Terpaksa Nala keluar, stidak ingin menimbulkan kerusuhan yang berakibat mengganggu kesehatan suaminya. Ia menoleh sebentar, memandang nanar punggung lebar Theodore yang membelakanginya.
Anda Mungkin Juga Suka





