
Istri Tawanan Tuan Muda
Bab 2
“Maafkan aku, Caitlyn. Kau harus mendengarkan penjelasanku!” ujar Mia dengan menangis juga.
“Tidak, Mia. Kau jahat! Kau jahat!” Caitlyn berlari keluar dari apartemen itu dengan menahan sakit hati. Ia tidak pernah berpikir jika sahabat yang selalu bisa diandalkan untuk mendekatkan dirinya dengan Max kini menjadi duri dalam perjalanan cintanya.
“Caitlyn tunggu!!” teriak Mia dan Max bersamaan.
Caitlyn yang tidak mau bertemu dengan mereka berdua, memilih untuk berlari secepat mungkin. Ia menekan tombol lift berulang kali agar pintu cepat menutup sebelum mereka berhasil menyusulnya ke dalam kotak box alumunium ini. Namun, mereka berdua tidak kehabisan akal. Max dan Mia masuk ke lift yang lain untuk segera menyusul Caitlyn di bawah. Caitlyn yang sendirian di dalam lift menangis dengan sangat keras. Hatinya benar-benar hancur mengingat kejadian itu. Padahal, dulu Mia yang selalu menjadi miss cupid yang mendukung kelanjutan hubungannya dengan Max. Bahkan, melebihi Jenny. Tapi, kini orang yang sama telah menghancurkan harapannya hingga menjadi debu.
Caitlyn tau jika Max dan Mia masuk ke lift yang lain. Makanya saat lift itu sampai di lantai dasar ia cepat-cepat berlari keluar. Tepat di depan pintu masuk tampak sebuah mobil sedan hitam berhenti. Caitlyn masuk ke dalam mobil itu tanpa pikir panjang. Sehingga membuat sang sopir di dalam mobil itu terkejut.
“Nona siapa? Kenapa masuk ke dalam mobil Tuan saya dengan sembarangan?” tanyanya dari jok depan. Caitlyn menyeka air matanya sambil menunjukkan ekspresi wajah memohon.
“Tuan, tolong saya. Bawa saya pergi dari tempat ini sekarang juga! Saya berjanji akan memberikan uang yang banyak kepada anda,” kata Caitlyn memohon.
“Tapi, Nona ini bukan mobil taxi. Kau lihat disebelahmu! Tuan Muda saya sedang tidur dan ingin cepat beristirahat di apartemennya. Jadi, silahkan keluar dan cari mobil yang lain saja!” ujarnya sambil menunjuk lelaki tampan yang sedang memejamkan mata di jok sebelah Caitlyn. Untuk sesaat gadis itu mengagumi wajah tampan pria di sebelahnya. Namun, suara Max dan Mia yang memanggil namanya langsung membuyarkan semuanya. Caithlyn langsung menunduk bersembunyi.
“Saya mohon. Pergi dari sini secepatnya, Pak! Nyawa saya sedang dalam bahaya.” Caithlyn akhirnya berbohong. Sang supir memperhatikan sikap ketakutan Caitlyn dari spion di depannya. Ia merasa iba juga akhirnya.
“Baiklah. Tapi, kita tidak kan pergi jauh dari sini.”
“Setuju! Kemanapun yang penting jangan turunkan saya di tempat ini!” balas Caitlyn antusias.
Sepanjang perjalanan Caitlyn terus menatap lelaki yang masih tertidur itu. Hatinya berdebar kencang tiba-tiba. Padahal, ia tidak menyentuhnya sama sekali.
‘Siapa lelaki ini? Dia tampan sekali. Mungkinkah dia artis? Tapi, rasanya aku baru pertama kali melihatnya,’ batin Caitlyn sambil terus memandangi wajah lelaki itu. Tiba-tiba mobil pun berhenti.
“Kita sudah cukup jauh, Nona. Jadi, anda silahkan untuk pergi dari mobil ini!” usir si sopir halus.
“Baiklah-baiklah. Aku keluar sekarang. Dan untuk imbalannya….” Caitlyn mencari sesuatu di sekitarnya. Bodohnya dia sudah meninggalkan tasnya di apartemen Mia tadi.
‘Bagaimana aku harus membayar supir ini?’ pikirnya. Namun, tak ingin mendapatkan pelecehan karena sudah masuk ke dalam mobil orang sembarangan. Caithlyn bersikap seperti biasa. Ia turun dengan tenang dan menutup pintunya tak begitu keras.
“Terima kasih atas bantuannya. Dan untuk imbalannya….” Caithlyn menggantung kalimatnya. “Akan saya berikan jika kita ketemu lain waktu!” lanjut gadis itu sambil berlari cepat. Sopir itu menggeleng sambil berdecak kesal.
“Dasar gadis tidak punya etika,” umpatnya. Di saat yang sama ternyata si lelaki yang tidur di jok belakang terjaga.
“Siapa yang kau maksud?” tanya lelaki itu bingung. Sambil mengucek matanya sesekali.
“Oh, Tuan Muda. Anda sudah bangun. Maaf, tadi ada gadis nakal yang tiba-tiba masuk ke dalam mobil ini begitu saja. Lalu meminta saya untuk membawanya keluar dari daerah apartemen, Tuan,” jelas sang sopir.
“Wanita? Maksudnya orang asing?” Evan tampak terkejut. Reflek ia langsung mencari benda-benda berharga yang selalu dibawanya di mobil itu.
“Maafkan saya, Tuan Evan. Tadi dia masuk begitu saja tanpa saya bisa mencegahnya.”
“Tidak apa-apa. Lain kali lebih hati-hati lagi. Untung dia tidak mengambil barang-barangku,” balas Evan. “Ayo, kita kembali ke Apartemen!”
“Baik, Tuan!”
*****
Keesokan harinya Evan dan Adam berencana untuk berburu di hutan. Seperti biasanya mereka selalu menghabiskan waktu luang untuk menyalurkan hobi mereka sambil mencoba senapan jenis terbaru yang baru saja mereka beli dari seorang mafia. Bersama beberapa orang pengawal mereka turun dari mobil Jeep Wrangler Rubicon di sebuah pinggir hutan. Kemudian mereka berjalan menyusuri hutan itu untuk mencari tempat yang bagus untuk menembak mangsanya. Sampai di sebuah tebing yang cukup tinggi. Mereka berhenti. Mereka bisa melihat hampir seluruh hutan dari tempat itu.
“Ini tempat yang bagus kan, Evan?” tanya Adam.
“Sangat sempurna, Paman,” balas Evan.
Adam tersenyum lalu memberi kode pada anak buahnya untuk menyiapkan senapan semi otomatis dengan amunisi peluru kaliber 7,62 mm itu. Senapan itu memiliki jarak efektif sampai 800 m dengan kecepatan peluru 783 m/s. Evan meraih senapan kebanggaannya itu dengan senyuman bangga.
“Sekarang saatnya kita buktikan! Siapa yang lebih hebat diantara kita berdua!” kata Adam menantang.
“Tentu, Paman,” balas Evan tanpa ragu.
Mereka mulai mengarah ujung senapan ke arah hutan yang cukup rimbun. Dari teropong khusus yang menempel di bagian atas senapan ia mulai mencari mangsa hingga jarak yang cukup jauh.
“Bingo!” gumam Evan saat matanya menangkap seekor rusa yang sedang berlari kecil menuju sebuah tempat. Tangannya cepat-cepat mengatur senapannya agar mengunci target. Namun, hewan bertanduk itu berjalan menuju suatu tempat. Tentu saja pandangan Evan setia mengikutinya dari balik teropong itu.
‘Mau kemana rusa itu?’ pikir Evan tanpa melepaskan pandangannya sedikitpun. Akhirnya rusa itu berhenti di depan air terjun yang sangat indah. Melihat hewan buruannya sudah berhenti pada satu titik Evan langsung menarik pelatuk senapan itu perlahan. Namun, belum sempat ia lepaskan. Tiba-tiba muncul seorang wanita dari permukaan air yang menggenang di depan air terjun itu.
Wanita itu menyibakkan rambut panjangnya yang basah ke belakang dengan perlahan. Lalu pelan-pelan ia keluar dari dalam sana tanpa mengenakan pakaian apapun. Evan langsung menelan salivanya dengan susah payah melihat kemolekan tubuh gadis itu.
“It’s so beautiful,” gumamnya.
“Sejak kapan kau tertarik dengan hewan, Evan?” tanya Adam bingung.
“Dia bukan hewan, tapi dia seorang malaikat,” balas Evan tanpa melepaskan pandangannya pada gadis itu yang kini sedang memakai bathrobe yang tersampir di batu besar. Setelah itu ia bermain dengan rusa di pinggiran sungai. Bermain kejar-kejaran dan saling menyipratkan air satu sama lain.
Adam mencari apa yang sedang dilihat oleh Evan, tapi ia tidak menemukan apapun kecuali rimbunan pohon-pohonan yang cukup besar.
“Sepertinya kalau mengigau. Mana mungkin ada malaikat di dunia ini. Atau kau kebanyakan minum sebelum kesini?”
“Aku tidak mengigau dan aku berjanji akan menangkapnya,” balas Evan sambil melepas pelatuk senapannya.
Dorrr!
Bunyi peluru yang melesat pun langsung menggema di seluruh hutan.
“Cari gadis itu sampai ketemu!” perintahnya pada anak buahnya.
“Baik, Tuan!” balas orang-orang itu sambil meninggalkan tempat itu dengan patuh.
“Apakah… kau sudah menembak seseorang?” tanya Adam cepat. Wajahnya tampak seperti orang kebingungan. Evan tidak langsung menjawab. Dia tersenyum penuh arti.
“Mungkin,” balasnya singkat dengan bibir yang tersenyum misterius. Ia berjalan lebih dulu menuju mobil yang mereka tinggalkan di pinggir hutan.
“Evan. Apa kau sudah gila? Bagaimana jika dia tidak sendirian disana? Kita bisa mendapatkan masalah besar, Evan?” Adam yang mengejar kepergian Evan terus bertanya dengan kebingungan.
Namun, dengan santainya Evan membalas, “Jangan khawatir, Paman. Aku tau apa yang sudah kulakukan.”
Evan masuk ke dalam mobil mewahnya. Lalu melesat meninggalkan Adam disana.
“Evan! Evan, tunggu!” teriak Adam yang tidak didengar sama sekali. “Sialan! Anak itu ternyata masih suka cari masalah saja!” gumam Adam menggerutu.
Anda Mungkin Juga Suka





