Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Simpanan Itu Akan Menyesal

Istri Simpanan Itu Akan Menyesal

Nayla Azzura dan Rafka Dirgantara terlihat seperti pasangan sempurna dengan rumah tangga tanpa cela. Namun, kenyataan pahit terungkap saat Rafka diketahui memiliki istri simpanan. Bukannya menyerah, Nayla justru menyusun taktik balas dendam yang cerdas dan penuh kejutan unik. Di tengah rencana liciknya, kehadiran pria lain justru memicu percikan tak terduga dalam hubungan mereka. Siapakah yang akhirnya memenangkan permainan penuh rahasia dan pengkhianatan ini?
Bab
Bagikan

Bab 3

Hari itu hujan turun tipis, seperti tirai transparan yang menggantung di atas langit Jakarta. Tetes-tetes air menampar pelan kaca jendela ruang kerja Rafka di lantai 35 gedung perkantoran pusat kota. Dari tempatnya duduk, ia bisa melihat mobil-mobil merayap lambat di bawah sana, lampu merah mereka berpendar buram oleh kaca yang basah.

Namun pikirannya sama sekali tidak berada di sana. Bukan pada tumpukan dokumen yang menunggu tanda tangan, bukan pula pada presentasi investor yang harus ia siapkan. Pikirannya sibuk memutar ulang potongan gambar: Nayla tertawa kecil dalam sebuah foto, rambutnya digelung longgar, bibirnya menyentuh tepi gelas champagne. Dan di sampingnya, berdiri Radya Mahendra, menatapnya seperti seseorang yang baru menemukan bintang jatuh.

Foto itu muncul di salah satu akun media sosial sahabat Nayla dua malam lalu, hasil candid di acara pameran seni. Rafka menemukannya secara tidak sengaja ketika sedang scrolling di tengah malam-dan sejak itu, dadanya terasa seperti diperas tangan tak kasatmata.

Ada sesuatu di mata Nayla pada foto itu. Sesuatu yang sudah lama tidak ia lihat. Kilau hidup. Kilau yang dulu selalu menyala untuknya... sebelum ia memadamkannya sendiri dengan kebodohannya.

"Pak, tanda tangan untuk kontrak merger sudah ditunggu," suara sekretarisnya memecah lamunan.

Rafka mengangguk singkat tanpa menoleh. "Letakkan di meja."

Begitu pintu tertutup kembali, ia mendengus, menekan pelipis. Perasaan aneh itu-campuran cemas, cemburu, dan ketakutan-menggelitik bagian dirinya yang paling rapuh. Ia pernah merasa punya Nayla seutuhnya, seperti seseorang yang merasa memiliki matahari hanya karena terbiasa merasakan hangatnya setiap pagi. Dan kini, untuk pertama kalinya, ia merasa matahari itu sedang terbit ke arah lain.

---

Di rumah, Nayla duduk di sofa ruang keluarga, membolak-balik halaman majalah tanpa sungguh membaca. Televisi menyala tanpa suara, hanya menjadi cahaya latar di ruang yang sepi. Di meja, ada laptop terbuka menampilkan draf artikel yang seharusnya ia kirim dua hari lalu. Tapi pikirannya justru melayang pada pesan singkat terakhir dari Radya:

**"Pameran malam ini luar biasa, tapi kamu lebih menarik daripada semua lukisan di sana."**

Ia tidak membalasnya, hanya membacanya berulang-ulang dengan senyum tipis yang bahkan ia sendiri benci. Ini seharusnya hanya misi, hanya strategi-umpan untuk membuat Rafka merasakan sedikit dari racun yang selama ini ia telan. Tapi kenapa dada ini terasa ringan setiap kali Radya menoleh padanya? Kenapa tatapan pria itu menimbulkan debar yang nyaris ia lupakan rasanya?

Suara mesin mobil membuyarkan lamunannya. Beberapa detik kemudian, pintu utama terbuka, dan Rafka masuk-lebih awal dari biasanya. Setelan kerjanya masih rapi, tapi wajahnya tegang.

"Kamu di rumah," katanya, seperti lega sekaligus waswas.

"Memangnya aku harus di mana?" Nayla menoleh singkat.

Rafka mendekat, lalu duduk di sofa seberangnya, menatap Nayla seolah sedang memeriksa sesuatu yang hilang. "Belakangan ini kamu... berbeda."

"Berbeda?" Nayla menaikkan alis.

"Kamu jarang ada di rumah. Banyak acara. Banyak... pameran, gala, makan malam. Kamu bahkan hampir tidak pernah menungguku pulang." Nada suaranya terdengar seperti seseorang yang mencoba terdengar tenang, tapi pecah di ujung.

Nayla mengangkat bahu. "Dulu kamu juga begitu, ingat?"

Rafka terdiam. Serangan kecil itu tepat sasaran, dan kedipan matanya membocorkan rasa bersalah yang berusaha ia sembunyikan.

"Aku cuma... aku cuma khawatir," katanya akhirnya, suara melembut. "Aku takut kehilangan kamu."

Nayla menutup majalah di pangkuannya, menatapnya lurus-lurus untuk pertama kali malam itu. Ada begitu banyak hal yang ingin ia lemparkan-foto perselingkuhan, pesan-pesan mesra itu, semua luka yang ia pendam. Tapi ia tidak melakukannya. Belum. Belum waktunya.

"Kamu nggak akan kehilangan aku," katanya pelan, nyaris seperti bisikan. "Selama kamu masih bisa membuatku ingin bertahan."

Rafka menatapnya, seolah mencoba menerjemahkan kalimat itu. Lalu ia berdiri, berjalan ke samping Nayla, dan meraih tangannya. "Kalau begitu... beri aku kesempatan membuatmu ingin bertahan."

Nayla memandang tangan mereka yang bertaut. Untuk sesaat, kenangan tentang mereka berdua dulu-saat cinta masih jernih dan hangat-menyeruak begitu kuat, membuat dadanya nyeri. Tapi lalu ia mengingat tangan lain: tangan perempuan dengan kuku merah menyala, menyodorkan wine pada Rafka di balkon vila. Dan rasa nyeri itu membeku menjadi baja.

"Baiklah," katanya, menarik sudut bibir membentuk senyum samar. "Buat aku ingin bertahan."

Rafka tampak lega, seolah baru saja diberi satu nyawa tambahan. Ia menunduk, mencium tangan Nayla, lalu memeluknya dari samping. Pelukan yang hangat, familiar... dan hampa.

---

Hari-hari berikutnya, Rafka berubah. Ia pulang lebih awal, membatalkan beberapa agenda bisnis, bahkan mulai menjemput Nayla ketika tahu ada acara sosial. Ia mengirimkan bunga ke ruang kerjanya, mengajaknya makan malam mendadak di restoran yang dulu mereka datangi saat masih pacaran. Ia tertawa lebih sering, menggenggam tangan Nayla lebih erat, menatapnya seolah mencoba mengingat kembali setiap detail wajah yang dulu ia abaikan.

Dari luar, tampak seperti kebangkitan romantika rumah tangga yang mulai redup. Namun Nayla tahu lebih baik: ini bukan cinta, ini **ketakutan.** Rafka merasakan posisinya terancam, dan seperti semua pria yang terbiasa memiliki segalanya, ia bereaksi dengan berusaha merebut kembali yang ia anggap "miliknya."

Ironisnya, ada bagian kecil dari Nayla yang hampir luluh. Hampir. Tapi setiap kali Rafka menatapnya dengan mata penuh cinta palsu, ia membayangkan pria itu memeluk perempuan lain di ranjang hotel, membisikkan kalimat yang sama. Dan keinginan untuk memaafkan langsung padam.

---

Suatu malam, mereka makan malam di restoran rooftop dengan pemandangan lampu kota yang berkelip. Angin malam meniup rambut Nayla pelan saat ia menatap kota yang tak pernah tidur itu. Rafka menyesap wine-nya, lalu berkata tiba-tiba, "Aku pikir kita perlu liburan. Hanya kita berdua. Seperti dulu."

"Liburan?" Nayla menoleh.

"Ya. Tempat apa pun yang kamu mau. Paris, Tokyo, atau bahkan Ubud. Aku akan atur semua. Aku cuma ingin... kita bisa bicara. Tanpa gangguan."

Nayla menatapnya lama, lalu tersenyum manis. "Kedengarannya bagus."

Rafka terlihat lega lagi. Ia mengulurkan tangan, menyentuh jemari Nayla di atas meja. Tapi Nayla hanya membiarkannya, senyum itu tetap terpaku seperti topeng porselen-indah, tapi dingin.

Dalam hatinya, Nayla tahu Rafka tidak sedang mencoba membangun kembali cinta mereka. Ia hanya sedang mencoba **mengunci** Nayla, memastikan perempuan itu tetap di orbitnya, tetap menjadi satelit yang mengelilingi matahari bernama Rafka Dirgantara. Tapi Nayla bukan satelit lagi. Ia adalah komet yang sedang bersiap keluar dari orbit, melesat ke ruang kosong-ke tempat Radya menunggunya dengan tatapan yang membakar.

Dan saat Rafka bicara tentang tiket pesawat, Nayla diam-diam membuka ponselnya di bawah meja, membaca pesan terbaru dari Radya yang muncul di layar:

"Aku tahu kamu sibuk. Tapi kalau sempat, ada pertunjukan teater Jumat malam. Kursi di sampingku masih kosong."

Senyum Nayla merekah tipis, nyaris tak terlihat.

"Baiklah," katanya pada Rafka. "Kita liburan."

Tapi dalam pikirannya, satu suara bergema pelan:

Liburanmu akan menjadi akhirmu.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GRS" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GRS
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dibunuh Demi Cinta Pertamanya
9.0
Setelah tewas karena tali pengaman terjun lentingnya dipotong oleh Arthur, protagonis terbangun kembali di masa lalu. Di kehidupan sebelumnya, Arthur tega membunuh istri dan anaknya demi membalas kematian cinta pertamanya, Aiko, yang bunuh diri. Kini, setelah terbangun tepat pada malam saat ia memaksa Arthur menikah dengan alasan hamil, ia bertekad mengubah takdir. Ia memilih pergi sejauh mungkin dari Arthur, mulai dari mengundurkan diri dari kantor, pindah rumah, hingga mengajukan mutasi ke luar negeri.
Sampul Novel Dinikahi Suami Majikan
9.6
Kehidupan Laili berubah drastis saat ia terpaksa melepas masa mudanya demi sebuah ikatan pernikahan yang tak terduga. Sosok pria berambut putih yang selama ini ia hormati sebagai majikan dan dipanggil 'Tuan', kini telah sah menjadi suaminya melalui akad secara agama. Tanpa pernah membayangkan nasib ini sebelumnya, Laili kini harus menjalani realita baru sebagai istri dari pria yang dulu ia layani, membawa konflik batin di tengah status sosial mereka.
Sampul Novel Kembali Ke Masa lalu, Merelakan Suamiku
8.9
Sepuluh tahun pernikahan diwarnai kebencian Richard Starling karena kematian cinta pertamanya. Namun, saat kecelakaan maut mengancam, Richard justru tewas demi menyelamatkannya, meninggalkan kata-kata penyesalan terakhir. Di tengah duka, mertuanya menyalahkan pernikahan paksa ini dan berharap ia yang mati. Tiga tahun kemudian, penemuan mesin waktu memberi kesempatan kedua. Sang istri memutuskan kembali ke masa lalu untuk memutus takdir hubungan mereka dan mengabulkan keinginan semua orang.
Sampul Novel LOVE
8.1
LOVE
Sejak tatapan pertama, hatiku langsung terpikat oleh pesonanya. Pertemuan kedua dengan pemilik mata indah itu semakin meyakinkanku bahwa aku telah jatuh cinta sedalam-dalamnya. Namun, meski aku berasal dari keluarga kaya dan terpandang, ada keraguan besar yang menghimpit dada. Kondisi fisikku yang lumpuh membuatku tak berani menyatakan perasaan pada gadis tersenyum manis itu. Mampukah pria cacat sepertiku memenangkan ketulusan cintanya yang berharga?
Sampul Novel Misteri Reagan Harvest
9.0
Clare Stewart, mahasiswi cerdas yang terikat perjodohan sejak lahir, mulanya enggan mengenal calon suaminya. Namun, pendiriannya goyah saat ia jatuh hati pada senior kampusnya, Reagan Harvest. Reagan yang kaya raya ternyata putra dari sahabat ayahnya sendiri. Meski saling mencintai, Clare bimbang antara mandat orang tua atau perasaannya. Reagan pun memohon agar mereka tetap menjalin kasih sebelum pernikahan terpaksa terjadi. Akankah Clare memilih cinta sejatinya?
Sampul Novel Penyesalan Abang dan Calon Suami
8.5
Setelah dikhianati hingga hancur oleh abang dan calon suaminya demi sang sahabat, Rose mendapatkan kesempatan kedua dengan kembali ke masa tiga tahun lalu. Di kehidupan ini, ia tidak lagi mempedulikan ketidakadilan mereka yang diam-diam memberikan proyek miliknya kepada wanita lain demi alasan keadilan keluarga Tiara dan Qindara. Rose memilih mundur dan pergi ke luar negeri, membiarkan mereka merayakan kebebasannya. Namun, penyesalan mendalam menghampiri mereka saat Rose kembali tiga tahun kemudian sebagai istri dari Presiden Direktur Grup Arkava.