
Istri Pertama Dengan Jendela Kaca
Bab 2
Delon memarkir mobilnya di area drop-off khusus klinik kandungan, sebuah bagian dari rumah sakit elit yang terasa lebih seperti butik kesehatan. Arsitektur bangunannya yang serba kaca dan marmer mencerminkan kesuksesan Delon, tetapi bagi Elsa, setiap kaca itu terasa seperti jendela yang memisahkannya dari kebahagiaan.
"Mas Delon, hati-hati," ujar Ika manja sambil memegang lengan suaminya.
"Iya, Sayang. Pelan-pelan ya," jawab Delon, perhatiannya terfokus penuh pada Ika. Pria itu membuka pintu Ika, menahan pinggang istrinya saat mereka berjalan masuk.
Elsa dan Ibu Delon berjalan di belakang. Langkah Elsa terasa berat, bukan hanya karena beban emosi, tetapi juga karena rasa sakit di perutnya yang terasa semakin memberat.
"Semoga calon cucu Ibu sehat ya, Sa," bisik Ibu Delon, merangkul bahu Elsa.
"Amin, Bu," jawab Elsa, tersenyum tulus kali ini, karena ia benar-benar berharap bayi itu sehat. Kebahagiaan bayi itu adalah satu-satunya jaminan bahwa Delon akan tetap bahagia dan terus membantu adik-adiknya.
Di ruang tunggu, Ika dan Delon duduk berdekatan, tangan mereka saling menggenggam. Mereka sesekali berbisik mesra tentang nama yang sudah mereka siapkan-nama yang terasa asing dan jauh di telinga Elsa. Ibu Delon menyempatkan diri mengobrol dengan pasien lain tentang tips kehamilan, meninggalkan Elsa sendirian di kursinya.
Aku adalah figuran di kisah ini, pikir Elsa.
Tiba-tiba, mata Elsa menangkap sesuatu. Di seberang lorong, ada pintu bertuliskan "Onkologi: Konsultasi Rawat Jalan." Jantung Elsa mencelos. Dua hari yang lalu, ia duduk di lorong itu.
Ia segera memalingkan wajah, tetapi memori aroma desinfektan dan suara lirih dokter kembali terngiang di benaknya. Rasa takut itu menyeruak, beradu dengan rasa sakit di hatinya. Ia harus pergi, pergi menjauh dari area itu sebelum Delon atau Ika melihatnya.
"Bu, Mas, Ika, aku permisi ke toilet sebentar ya," ujar Elsa.
"Jangan lama-lama, Elsa. Setelah ini giliran Ika," sahut Delon tanpa menoleh.
Elsa bangkit. Ia berjalan cepat menuju toilet umum, tetapi tidak masuk. Ia justru berbelok menuju lorong yang agak sepi, tempat cermin besar terpasang di dinding.
Ia berdiri di depan cermin itu, melihat pantulan dirinya. Wanita berhijab sage green dengan wajah teduh, kontras dengan wanita yang ia rasakan di dalamnya-wanita yang hancur, dikhianati takdir, dan menanggung vonis mati.
Ia menekan perutnya yang sakit. Air mata kepedihan, yang sejak tadi ia kunci rapat di mobil, akhirnya tumpah.
Air mata itu bukan karena cemburu. Air mata itu adalah luapan dari:
Keterpurukan karena ia tahu ia tidak bisa melawan Kanker ini sendirian.
Keputusasaan karena ia tidak berani berobat maksimal (kemoterapi) karena takut rahasianya terbongkar dan Delon berhenti membiayai adik-adiknya.
Elsa mengeluarkan ponselnya. Bukan untuk menghubungi Delon, melainkan membuka sebuah folder tersembunyi. Di sana ada foto hasil scan medis dan catatan dokter.
"Stadium II, memerlukan penanganan cepat."
Ia mematikan layar ponsel, air mata terus mengalir. Aku harus hidup. Aku harus bertahan. Bukan untuk Mas Delon, tapi untuk Risa dan Dani. Dua adiknya adalah satu-satunya alasan ia masih bernapas dan berakting.
Tiba-tiba, ponselnya bergetar. Sebuah pesan dari Ika: Kak Elsa, sudah dipanggil. Cepat ya, Mas Delon terlihat gugup.
Elsa segera menyeka air matanya dengan tisu. Ia menarik napas dalam-dalam, memaksakan oksigen masuk ke paru-parunya. Ia menatap cermin itu sekali lagi, memasang senyum palsunya, memastikan mata sembabnya tidak terlihat.
Kembali ke peranmu, Elsa. Tuan rumah yang bahagia.
Elsa kembali dan Delon serta Ika baru saja masuk ke ruangan USG.
Elsa duduk bersama Ibu Delon, yang kini sibuk membicarakan tentang furniture bayi. Tiba-tiba, suara tawa riang Delon terdengar dari dalam ruangan.
Beberapa menit yang terasa seperti jam, pintu terbuka. Delon dan Ika keluar dengan wajah berseri-seri, wajah yang tidak pernah lagi Delon tunjukkan sepenuhnya pada Elsa.
"Alhamdulillah, Bu! Sehat!" seru Delon dengan suara bangga. "Dan... Delon junior boy! Jenis kelaminnya laki-laki!"
Delon memeluk Ika dengan erat, mencium keningnya. Ika tertawa bahagia, membalas pelukan suaminya.
Elsa menelan ludah dengan kasar. Ia melihat Delon dengan penuh kebahagiaan yang dipenuhi cinta. Semua yang ia inginkan, ia saksikan ada di depan matanya, tetapi bersama wanita lain.
Elsa segera maju. Ia memeluk Ibu Delon, "Selamat, Bu. Selamat atas calon cucu laki-laki."
Lalu ia beralih ke Ika. Ia memeluk madunya itu, memaksakan senyum tulus yang tersisa di hatinya. "Selamat, Sayang. Sehat-sehat ya, jangan nakal."
Ika membalas pelukan itu, tetapi ia segera merasakan ada yang aneh.
Ika: "Kak Elsa... kamu dingin sekali. Dan tubuhmu sedikit bergetar." Ika menarik diri, menatap mata Elsa. "Kakak benar-benar tidak apa-apa? Wajahmu agak pucat."
Elsa memalingkan wajahnya dari tatapan khawatir Ika. Tatapan tulus Ika adalah kelemahan terbesarnya. Jika Ika curiga, semua topengnya akan runtuh.
Elsa: "Aku baik-baik saja, Ika. Mungkin aku hanya terlalu terharu. Apalagi tahu jenis kelaminnya laki-laki. Sudah lama aku mengharapkan anak laki-laki di keluarga ini."
Elsa tersenyum tipis, tapi segera berbalik ke arah Delon.
Elsa: "Selamat, Mas Delon. Sekarang Mas harus benar-benar menjaga Ika ya. Elsa akan bantu sebisa mungkin."
Delon menepuk bahu Elsa dengan nada lega. "Terima kasih, Elsa. Aku tahu aku bisa mengandalkanmu."
Elsa hanya mengangguk. Perkataan Delon, "Aku bisa mengandalkanmu," terasa seperti penghargaan terakhir sebelum ia mati penghargaan karena telah berhasil menjadi istri yang penurut, ikhlas, dan kini menjadi babysitter bagi calon anak suaminya dan cinta pertamanya.
Saat mereka berjalan menuju mobil, Elsa melihat Delon dan Ika berjalan bergandengan di depan. Mereka adalah masa depan. Elsa adalah masa lalu yang harus berpura-pura baik-baik saja di masa kini.
Ia merogoh tas tangannya sekali lagi. Kali ini ia mengeluarkan pil pereda nyeri dan menelannya tanpa ragu. Penyakitnya harus tetap menjadi rahasia, terkunci rapat di balik Jendela Kaca.
Di area parkir, Delon membuka pintu mobil untuk Ika. Ibu Delon sudah masuk ke mobilnya sendiri yang dikemudikan sopirnya.
"ibu langsung pulang ya, Mas Delon. Jaga Ika baik-baik," ujar Ibu Delon sambil menutup pintu mobilnya.
Delon mengangguk. Ia menoleh pada Elsa yang masih berdiri di samping mobil, memandang kosong ke arah mobil Ibu Delon yang menjauh.
"Elsa," panggil Delon.
Elsa tersentak. Ia menoleh dan memasang senyumnya.
"Kamu langsung ikut kami pulang, kan?" tanya Delon, suaranya sedikit cemas.
"Mas Delon, sebentar," sela Ika, wajahnya menunjukkan rasa bersalah. "Kak Elsa, aku minta maaf. Tadi Ibu [Delon] bicara seperti itu, pasti Kakak merasa tidak nyaman ya?"
Elsa menggeleng pelan, meyakinkan. "Tidak, Sayang. Ucapan Ibu itu tulus. Aku mengerti, ini demi kebaikan kalian."
"Tapi aku tidak enak. Seharusnya Kakak tidak perlu repot-repot kembali ke rumah kakak. Kenapa Kakak tidak menginap lagi saja di rumah kami malam ini? Temani aku, Mas Delon pasti lebih tenang," bujuk Ika, memohon.
Elsa tahu, inilah saatnya ia harus melepaskan diri dari Delon dan Ika, dan kembali ke dunianya yang sunyi. Ia harus segera pergi sebelum efek pil pereda nyerinya hilang atau sebelum rasa sakit emosionalnya terbaca.
Elsa melirik ke arah mobil, lalu ke arah Delon.
Elsa: "Terima kasih banyak, Ika. Tapi, Mas Delon, aku rasa aku tidak bisa ikut ke rumah Ika malam ini."
Delon menaikkan alis, sedikit heran. "Kenapa, Elsa? Kan kamu bilang kamu akan tinggal di rumahmu sendiri yang kuberikan. Kenapa tidak sekalian saja pulang bersamaku?"
Elsa tersenyum, senyum yang disematkannya khusus untuk menenangkan kecurigaan Delon.
Elsa: "Mas, kan rumah kita itu [rumah yang diberikan Delon] ditinggal semalam. Mas tahu sendiri, aku tidak punya pembantu. Jika ditinggal semalam, debunya sudah pasti menumpuk. Belum lagi halaman rumahku itu harus disapu dan dibersihkan."
Ia berhenti sejenak, menoleh ke Ika. "Kalau aku tidak bersihkan hari ini, besok sudah pasti aku tidak sempat. Apalagi, rumahku kan jauh lebih sederhana dari rumah Ika, jadi harus rajin dibersihkan sendiri."
Rumahku jauh lebih sederhana. Kalimat itu ia ucapkan bukan untuk merendahkan diri, melainkan untuk mempertahankan benteng pertahanannya. Ia harus menunjukkan pada Delon bahwa ia mandiri dan sibuk mengurus diri sendiri, sehingga Delon tidak perlu khawatir dan akan terus mengirimkan biaya untuk adik-adiknya. Di balik semua itu, ia merasa cukup tahu diri dengan beban keluarga yang ia dan Delon tanggung bersama.
Ika terlihat tidak enak. "Ya ampun, Kak. Harusnya Mas Delon carikan Kakak pembantu saja. Agar Kakak tidak repot," ujar Ika, menatap Delon penuh harap.
Delon menghela napas, terlihat sedikit tidak nyaman karena Ika menyinggung masalah finansial Elsa yang ia anggap sudah beres.
Delon: "Ya sudah, Elsa. Nanti aku transfer uang lebih untukmu ya.
Ambil taksi online saja, jangan naik angkutan umum."
"Tidak perlu repot, Mas," tolak Elsa halus, menjaga harga dirinya. "Aku sudah panggil taksi. Taksi online-ku sudah datang, aku harus cepat. Kalian hati-hati ya. Sampai jumpa. Love you both!"
Elsa mengedipkan mata, melambaikan tangan yang dihiasi senyum palsu terakhirnya. Ia berbalik cepat, melangkah tegas menuju taksi yang sudah menunggu.
Saat pintu taksi tertutup, Elsa memejamkan mata. Ia bisa merasakan air mata kepedihan itu mulai merembes keluar. Ia melihat pantulan wajahnya di kaca jendela taksi jauh dari pandangan Delon dan Ika.
Mereka berjalan menuju masa depan yang cerah. Aku... aku hanya pulang ke rumahku yang sunyi, tempat Jendela Kaca yang sebenarnya berada, menungguku dengan tumpukan debu dan rahasia.
Ia membiarkan kepalanya bersandar di kaca jendela. Taksi itu membawanya menjauh dari Delon, dari Ika, dari kebahagiaan, dan menuju keheningan yang ia pertahankan dengan harga yang sangat mahal.
Anda Mungkin Juga Suka





