Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Nomor Dua

Istri Nomor Dua

Menikah di usia muda sebagai istri kedua adalah mimpi buruk yang tak pernah kubayangkan. Namun, demi rasa bakti, aku terpaksa menerima takdir menjadi orang ketiga dalam pernikahan pasangan yang sudah kuanggap kakak sendiri. Kini aku harus menelan pil pahit karena diabaikan oleh suami sendiri. Sanggupkah aku bertahan di tengah kerumitannya, ataukah aku harus menyerah dan pergi mencari kebahagiaanku yang sesungguhnya di luar sana?
Bab
Bagikan

Bab 2

“Saya terima nikah dan kawinnya Andara Prameswari binti Matheo Prameswari dengan mas kawin tersebut Tunai!”

“Bagaimana para saksi? Sah?”

“Sah ....”

Terdengar suara gemuruh, untuk kedua kalinya diluar kamarku, yang menyatakan keberhasilan Kak Sean mengucapkan ijab kabul hari ini.

Ya. Hari ini, adalah hari pernikahan Kak Audy dan Kak Sean, juga pernikahanku dengan pria yang sama.

Lalu, tadi itu adalah suara gemuruh para saksi, yang secara serentak menyatakan kalo sekarang aku dan Kak Audy sudah sah menjadi istri Kak Sean.

Miris, ya?

Setelah Kak Sean mengucapkan ijab qobul untuk Kak Audy. Tak berselang lama setelahnya, Kak Sean pun melakukan ijab qobul atas namaku.

Entah bagaimana pandangan orang tentang pernikahan kami ini? Aku sudah tidak bisa membayangkan apapun lagi saat ini. Perasaanku terlalu kacau memikirkan semuanya.

Seharusnya hari ini aku merasa senang karena bisa menunaikan salah satu perintah Agama. Tetapi sungguh, aku juga tak pernah membayangkan, akan jadi istri kedua seperti ini.

Apalagi, aku harus jadi orang ketiga di antara orang-orang yang sudah kuanggap kakakku sendiri. Ini konyol sekali.

Tok ... tok ... tok ....

Terdengar sebuah ketukan di pintu kamarku. Lalu tak lama kemudian, pintu itupun di buka dan memperlihatkan seorang wanita paruh baya, yang tersenyum menatapku. Dia adalah Tante Sulis. Ibunya Kak Sean. Aka ibu mertuaku sekarang.

“Ayo, Sayang. Suami kamu sudah menunggu,” ajaknya dengan lembut, seraya mengusap bahuku dengan pelan

“Tante, aku—”

“Ssttt ... jangan panggil Tante lagi, dong. Panggil Mama. Kan, sekarang kamu udah jadi menantu Mama,” selanya lembut. Namun aku hanya bisa menunduk bingung menanggapinya.

Jujur, aku belum bisa menerima pernikahan ini sebenarnya. Karena ... memang bukan seperti ini pernikahan yang kuinginkan. Aku memang mengenal keluarga Kak Sean dari kecil. Kami bertetangga, dan Tante Sulis sudah kuanggap seperti ibuku sendiri dari dulu. Apalagi, aku kehilangan Ibu kandungku sejak sekolah dasar. Karena itulah, sosok Tante Sulis sudah melengkapi hidupku selama ini.

Walaupun begitu. Tetap saja, aku tak pernah bermimpi akan menjadi menantunya seperti ini. Bukan tak mau. Hanya saja ... apa, ya? Aku cuma masih merasa canggung dengan keadaan ini. Karena memang tidak pernah bermimpi akan menikahi anaknya.

Sudah kubilang, kan? Kak Sean itu sudah kuanggap seperti Kakakku sendiri. Namun kini, saat aku malah di haruskan menikah dengannya. Aku jadi seperti ... Aneh aja gitu rasanya. Aku merasa seperti menikahi Kakak sendiri.

“Sayang, Mama tau ini berat buat kamu. Mama bisa mengerti perasaanmu itu. Tapi, Mama juga tidak bisa apa-apa. Karena permintaan Papimu memang di luar dugaan kami.” Mama Sulis menatap aku dengan lekat.

“Entah apa yang dipikirkan Papimu waktu itu. Tidak ada yang tahu selain dirinya sendiri. Tapi, percayalah. Apapun yang dia inginkan. Itu semata-mata hanya untuk kebaikanmu.”

Aku tau itu. Tapi, sampai saat ini aku masih belum paham. Kebaikan macam apa yang bisa aku dapat, dari menjadi orang ketiga seperti ini? Aku benar-benar tak habis pikir.

Namun, Aku tidak berkomentar apapun. Hanya bisa mengangguk saja dan mencoba menerima semuanya dengan ikhlas. Karena untuk mundur pun, aku sudah tidak bisa, iya kan? Nyatanya, sekarang aku sah menjadi Nyonya Abdilla.

Tante— ralat, Mama Sulis lalu membimbingku menuju mimbar, tempat dilaksanakannya ijab kabul, dengan patuh.

Waktu aku sampai di tempat itu. Kak Audy sudah duduk manis di sebelah Kak Sean. Memakai pakaian yang serupa denganku, juga make up yang tak beda jauh.

Bukan dia mau menyamakan diri dengan aku. Justru di sini aku yang mengutip tampilannya. Karena aku memang hanya bisa menyesuaikan apa yang sudah mereka siapkan sebelumnya, tanpa bisa menyuarakan sedikit pun keinginanku. Aku tak punya hak suara dalam pernikahan ini.

Ketika aku hampir sampai mimbar, Kak Audy langsung menyambutku dengan senyum yang merekah. Cantik sekali. Berbanding terbalik dengan Kak Sean, yang hanya melirikku sekilas, kemudian langsung memalingkan wajahnya ke arah lain dengan raut wajah dingin.

Aku tau, kok. Dia juga masih tak bisa menerima pernikahan ini. Dan sebenarnya, itulah yang membuat bebanku semakin terasa berat sekali. Tolong Maafkan aku, Kak. Aku benar-benar tidak bermaksud jadi orang ketiga di keluarga kecilmu.”

***”

Selepas acara sungkeman yang sangat singkat. Aku memilih kembali ke kamarku. Mama Sulis bilang, nanti siang akan diadakan acara resepsi di kebun belakang rumah ini. Akan tetapi, aku sama sekali tak berminat menghadiri acara resepsi itu. Buat apa? kehadiranku ‘kan, tidak diinginkan semua orang. Aku cukup tahu diri untuk tak makin merusak momen bahagia Kak Audy dan Kak Sean. Jadi biarkanlah mereka menikmati momen spesial mereka hari ini.

“Tapi, Sayang. Ini juga kan acara resepsi pernikahan kamu. Kamu berhak hadir di sana,” rayu Mama Sulis, atau sebut saja Mama mertuaku sekarang.

Mama Sulis memang menolak mentah-mentah ideku, yang tak ingin hadir di acara resepsi nanti. Karena baginya. Aku berhak mendapat kebahagiaan yang sama seperti menantunya yang lain. Yaitu kak Audy.

Bagaimana mungkin bisa sama, kalau arti kehadiran kami saja berbeda. Kak Audy istri yang diinginkan. Sementara aku? ... sudahlah. Aku cukup tahu diri.

“Nggak, Mah. Rara gak mau. Cukup sampai sini aja, Rara terlihat jadi orang ketiga di antara mereka. Rara gak mau makin merusak kebahagiaan Kak Sean dan Kak Audy lagi.” Aku bersikukuh dengan keputusanku.

“Tapi, Ra—”

“Lagi pula, permintaan Alm Papi cuma supaya Rara menikah dengan Kak Sean aja, kan? Nah, sekarang Rara udah nikah dengan Kak Sean. Rara udah jadi istrinya seperti permintaan Papi. Jadi, Rara rasa, Rara udah gak punya hutang lagi, Mah.”

Mama Sulis terlihat membuka dan menutup mulut. Seperti ingin menyampaikan sesuatu, tapi ragu.

“Mah, tolong ngertiin posisi Rara, ya? Rara bener-bener gak mau makin bersalah sama Kak Sean dan Kak Audy. Rara ... benar-benar gak nyaman sama posisi ini, Mah,” hibaku Akhirnya.

Mama Sulis pun menatapku dengan intens. Membuatku ingin sekali menangis melihatnya. Kalau saja tak ingat, dia sekarang adalah Mama mertuaku. Aku ingin sekali mengadu seperti dulu.

Aku ingin merajuk, dan curhat seperti yang biasa aku lakukan selama ini. Tapi ... bisakah aku menganggap Mama Sulis seperti dulu? Karena kini statusnya sudah berganti dalam hidupku.

Bukannya aku ingin menutup diriku sekarang. Hanya saja ... apa pantas, aku mengeluh tentang pernikahan, yang juga milik anaknya.

Karenanya, mulai sekarang, aku akan belajar memendam perasaanku saja.

“Tapi, kalau Sean atau Audy nanyain kamu, gimana?” tanya Mama Sulis lagi. Membuat aku menghela napas berat mendengarnya.

Karena sejujurnya, aku bahkan tak yakin mereka akan menyadari keberadaanku di sana nanti.

Oke. mungkin Kak Audy akan menanyakan keberadaanku. Tapi kurasa untuk Kak sean? Justru inilah yang dia inginkan. Karena ... dia pasti tak suka dibilang, sebagai pria yang suka poligami. Sekalipun dia memang tampan. Tapi, aku mengenal Kak Sean dengan Baik.

Pria itu sangat membenci poligami. Karena ayahnya dulu meninggalkan dia dan ibunya, karena ayahnya ternyata punya istri yang lain selain Mama Sulis.

Lagi pula, melihat raut wajahnya tadi pagi saja, aku sudah yakin. Justru dia akan bersyukur dengan ketidakhadiranku nanti. Karena aku hanya pengganggu hari bahagianya.

“Mama bilang aja aku capek. Mama tau kan, aku baru landing subuh tadi. Sejujurnya aku memang masih jetlag, Mah. Jadi ... please ya, Mah. Bantu Rara jelasin ke mereka.”

Aku mencoba memberikan alasan logis untuk ketidakhadiranku Nanti. Namun, aku tak sepenuhnya bohong, kok. Karena memang itulah kenyataanya.

Seusai pemakaman Papi. Aku memang kembali ke Ausy. Untuk mengurus surat ijin pada kampusku. Setelah itu, baru pulang kembali untuk menikah.

Aku memang masih kuliah saat ini. Mahasiswa tengah semester tepatnya. Karena itulah, kematian Papi benar-benar menjadi pukulan hebat untukku. Yang pastinya akan merubah alur hidupku mulai saat ini. Sekali lagi, Mama Sulis menatapku dengan lekat. Seperti mencari kebenaran dalam netraku.

Pandangan matanya masih seperti biasa, selalu bisa menenangkan. Membuatku selalu ketagihan untuk melihat sinar mata itu setiap hari. Bahkan, rasanya aku rela menukar apapun untuk sinar mata itu agar tak meredup. Aku menyayangi wanita ini seperti ibuku sendiri.

Setelah cukup lama menatapku lekat, akhirnya Mama Sulis pun mendesah berat, sebelum kemudian mengangguk setuju. Mama Sulis pun memelukku erat dan mencium keningku cukup lama. Sebelum pergi meninggalkanku setelahnya.

Selepas Mama Sulis pergi. Aku langsung mengunci pintu kamarku dengan cepat, kemudian berlari ke kamar mandi dan langsung menyalakan shower di sana. Agar tak ada yang bisa mendengar isak tangis yang sangat ingin aku luapkan saat ini.

Tuhan ... kuatkah aku? Bisakah aku bertahan dengan pernikahan ini? Mampukah aku hidup menjadi nomor dua seperti ini?

Sejujurnya aku seperti wanita biasa lainnya. Ingin menjadi hanya satu-satunya untuk suamiku, dan ingin memiliki momen indah pernikahanku sendiri. Agar kelak bisa kubagi pada anak-anakku. Bahkan pada cucuku. Akan tetapi, kalau kenyataannya seperti ini? Apa yang bisa kubanggakan?

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku dan Pacar Menikah Di Hari Yang Sama
7.9
Willy, seorang CEO, viral setelah melamar sekretarisnya. Saat Sarah mencari penjelasan, ia mendengar Willy meremehkan hubungan 7 tahun mereka. Willy yakin Sarah takkan pergi meski ia menikahi sang sekretaris demi melindunginya dari paksaan keluarga. Kecewa, Sarah memutuskan menikah dengan orang lain di hari yang sama. Saat mobil pengantin mereka berpapasan di jalan dan kedua mempelai bertukar bunga, Willy sangat terpukul melihat Sarah berada di mobil pengantin lain dengan gaun pernikahan.
Sampul Novel Bukan Salah Jodoh (Si Kembar)
8.0
Claire terpaksa menghadapi kenyataan pahit saat ditinggalkan di hari pernikahannya. Demi menjaga martabat, ia akhirnya menyetujui pernikahan kontrak dengan saudara kembar calon suaminya. Di tengah upaya menumbuhkan benih cinta dalam rumah tangga barunya, Claire harus menghadapi berbagai ujian berat. Gangguan terus datang dari mantan calon suaminya yang berkhianat, serta kehadiran mantan kekasih sang suami yang berusaha merusak hubungan mereka berdua.
Sampul Novel "Gita Cinta dari Gadjah Mada"
8.1
Gita Cinta dari Gadjah Mada menyajikan kisah asmara antara Gita, mahasiswi penuh talenta, dan Mada, pemuda yang sangat ambisius. Berlatar di lingkungan Universitas Gadjah Mada yang dinamis, hubungan mereka menghadapi berbagai dinamika kehidupan perkuliahan. Pembaca akan diajak menyelami perjuangan cinta yang emosional di tengah atmosfer kampus yang berwarna. Sebuah narasi tentang romansa masa muda yang harus bertahan melewati segala rintangan dunia akademik.
Sampul Novel Istri Kedua Tersembunyi
7.9
Raine Alverez terpaksa menjadi istri kedua Leon Castello demi melunasi utang keluarganya. Meski dicap sebagai perusak rumah tangga, ia sebenarnya terjebak dalam perjanjian lama yang diatur sang taipan. Di balik status rahasia itu, Raine harus menghadapi kebencian istri pertama serta cercaan publik. Konflik batin kian memuncak saat ia mulai mencintai Leon. Di tengah intrik dan rahasia besar, Raine berjuang memahami siapa yang benar-benar bersalah dalam pernikahan ini.
Sampul Novel Mencintai dia
8.6
Dalam mencari pasangan hidup, ketampanan atau kecantikan fisik bukanlah segalanya. Kisah ini mengingatkan kita bahwa paras menawan tidak menjamin kebahagiaan masa depan keluarga. Seorang pria harus menyadari bahwa anak-anaknya kelak tidak sekadar butuh ibu yang elok dipandang, namun sosok pendidik yang bijak. Fokus utama dalam hubungan ini adalah menemukan wanita yang mampu membimbing generasi penerus dengan nilai moral dan kasih sayang yang tulus.
Sampul Novel Putus Setelah Menyadari Perselingkuhan Kekasihku
8.8
Melihat Crystal Liara memakai gaun yang persis denganku di hari pertunanganku dengan Jeffrey Tamora, aku sadar hubungan kami telah berakhir. Sebagai putri dari wanita yang dulu merebut ayahku, Crystal berniat mengulang sejarah dengan merampas Jeffrey. Namun, aku menolak menjadi korban yang pasrah. Alih-alih membiarkannya menang, kuhancurkan pesta pertunangan yang telah kupersiapkan dengan susah payah ini, lalu segera angkat kaki meninggalkan Kota Arman untuk selamanya.