Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Istri Kontrak Sang CEO Dingin

Istri Kontrak Sang CEO Dingin

Demi melunasi utang keluarga yang menghimpit, Hana terpaksa menyetujui pernikahan kontrak dengan Ray, CEO berhati dingin yang butuh menjaga citra publiknya. Meski awalnya sepakat untuk tidak saling melibatkan perasaan, benih cinta perlahan muncul di tengah kepura-puraan mereka. Namun, saat masa lalu kelam Ray terungkap dan ancaman rival bisnis mulai menyerang, hubungan mereka pun diuji. Sanggupkah cinta sejati tumbuh dari sebuah kebohongan yang rumit?
Bab
Bagikan

Bab 2

Ray Aditya berdiri di depan jendela kantor megahnya, memandang pemandangan kota Jakarta dari ketinggian. Gedung pencakar langit dan lampu-lampu yang berpendar di kejauhan menjadi saksi kesuksesannya selama ini. Bagi dunia luar, Ray Aditya adalah CEO yang berhasil membangun kerajaan bisnis dari nol, seorang pria muda yang ambisius, cerdas, dan tak kenal lelah. Namun, hanya sedikit yang tahu bahwa kesuksesan itu kini di ujung tanduk.

Ruangan kantornya yang mewah terasa sunyi, hanya terdengar dengungan pelan dari pendingin ruangan. Di atas meja besar, ponselnya bergetar tanpa henti, tanda pesan-pesan dan panggilan yang terus berdatangan. Media, pemegang saham, dan bahkan rekan-rekannya semua ingin jawaban. Tapi Ray belum siap memberikan apa pun, belum siap menghadapi badai yang akan datang.

Satu skandal. Hanya satu skandal yang bisa menghancurkan reputasi dan perusahaan yang telah ia bangun dengan susah payah.

Ray meremas jari-jarinya, mencoba meredakan ketegangan yang mulai menyelimuti tubuhnya. Skandal itu bermula dari isu kecil yang diabaikan, namun dalam hitungan minggu, rumor-rumor tentang korupsi di proyek besar yang dikerjakan perusahaannya mulai menyebar. Media menggali lebih dalam, memancing pihak-pihak yang ingin menjatuhkannya. Tuduhan itu menyatakan bahwa Aditya Group terlibat dalam pemberian suap untuk memenangkan tender besar pemerintah. Ray tahu tuduhan itu sebagian besar tidak benar, tetapi dalam dunia bisnis, persepsi seringkali lebih penting daripada kenyataan.

Bagi Ray, bisnis bukan hanya soal angka dan keuntungan. Ini adalah perang, setiap langkah salah bisa menghancurkan segalanya. Ia tidak bisa membiarkan satu skandal merusak reputasinya atau perusahaannya. Namun, tekanan dari media dan para pemegang saham semakin membuatnya frustasi.

"Pak Ray, Rapat pemegang saham dimulai dalam 15 menit," suara sekretarisnya, Dina, terdengar dari interkom, membuyarkan pikirannya. Suaranya terdengar tenang, meski Ray tahu bahwa semua orang di perusahaannya sedang berjalan di atas tali tipis. Kegagalan menjaga reputasi perusahaan bisa berarti kehancuran bagi semua orang yang bergantung padanya.

Ray menghela napas panjang. "Aku akan segera ke sana," jawabnya datar.

Rapat pemegang saham hari ini adalah ujian terbesar yang pernah ia hadapi. Sejumlah pemegang saham utama telah menunjukkan kekhawatiran mereka. Jika mereka menarik dukungan, Aditya Group bisa kehilangan proyek-proyek penting dan bahkan menghadapi kebangkrutan. Di dunia korporat, kepercayaan adalah mata uang yang paling berharga, dan saat ini, kepercayaan itu sedang terkikis.

***

Di ruang rapat, suasana tegang sudah terasa sejak Ray melangkah masuk ke dalam ruangan tersebut. Para pemegang saham utama, wajah-wajah yang sudah sangat ia kenal, duduk di sekeliling meja panjang. Beberapa di antara mereka menatapnya dengan pandangan penuh harap, sementara yang lain menunjukkan ekspresi kecurigaan dan ketidakpercayaan.

"Ray, kita harus segera menangani krisis ini," kata salah satu pemegang saham, Pak Arif, membuka rapat dengan nada suara tegas. "Media sedang menyerang kita tanpa henti. Jika kita tidak memberikan pernyataan resmi, perusahaan ini akan jatuh sebelum kita sempat menyelamatkannya."

Ray menatap Pak Arif dengan tenang, meskipun hatinya berkecamuk. Ia sudah mendengar kekhawatiran ini berulang kali, tetapi belum menemukan cara terbaik untuk meredakan situasi tanpa memperburuk keadaan. Memberikan pernyataan resmi berarti mengakui adanya masalah, dan itu hanya akan memperkuat dugaan publik.

"Saya paham kekhawatiran Anda, Pak Arif, dan saya setuju bahwa ini adalah masalah serius," ujar Ray, suaranya tenang dan terkontrol. "Tapi, langkah yang gegabah justru bisa memperburuk situasi. Kita sedang melakukan investigasi internal, dan saya yakin bahwa tidak ada bukti yang mengarah pada keterlibatan Aditya Group dalam aktivitas ilegal. Kita hanya perlu sedikit waktu untuk membersihkan nama baik kita."

Pak Arif menggelengkan kepala. "Waktu? Ray, waktu adalah kemewahan yang tidak kita miliki. Saham perusahaan sudah anjlok 15% dalam satu minggu terakhir. Kita tidak bisa menunggu lebih lama lagi."

Ray menatap seluruh anggota dewan di sekeliling meja, melihat kekhawatiran yang jelas terpampang di wajah mereka. Mereka tidak hanya khawatir tentang reputasi, tetapi juga uang mereka-investasi yang mereka taruh di perusahaan ini. Jika Ray gagal menyelamatkan Aditya Group, mereka akan kehilangan banyak.

"Ray," suara lembut tapi tajam dari ujung meja terdengar. Itu adalah Bu Mirna, salah satu investor tertua dan paling berpengaruh di perusahaan. "Kita sudah percaya padamu selama ini, dan kamu telah membuktikan dirimu sebagai pemimpin yang hebat. Tapi kali ini berbeda. Krisis ini lebih besar dari yang pernah kita hadapi. Dan jika kamu tidak bisa menyelesaikannya, mungkin saatnya untuk mempertimbangkan opsi lain."

Kata-kata Bu Mirna terasa seperti pukulan telak. Ia tidak secara langsung mengatakan bahwa Ray harus mundur, tetapi implikasinya sangat jelas. Para pemegang saham mulai kehilangan kepercayaan pada kepemimpinannya. Ray merasa dinding-dinding di sekelilingnya mulai mendekat, perlahan menghimpitnya.

"Saya mengerti kekhawatiran Anda, Bu Mirna, Pak Arif, dan yang lainnya," kata Ray dengan suara yang lebih tenang dari yang sebenarnya ia rasakan. "Namun, saya yakin kita tidak perlu mengambil langkah drastis. Saya sudah menghubungi tim hukum terbaik untuk menangani masalah ini, dan saya berencana untuk mengadakan konferensi pers dalam waktu dekat untuk menjernihkan situasi."

"Apa yang akan kamu katakan dalam konferensi pers itu?" tanya Pak Arif dengan nada skeptis. "Bagaimana kamu akan menjelaskan semua tuduhan ini kepada publik?"

Ray menatapnya sejenak sebelum menjawab, "Kita akan menyangkal semua tuduhan. Aditya Group tidak terlibat dalam suap atau aktivitas ilegal apa pun. Kami bersih, dan kami akan membuktikannya."

Namun, bahkan saat kata-kata itu keluar dari mulutnya, Ray merasakan keraguan. Meskipun ia yakin bahwa dirinya tidak terlibat langsung dalam suap, ia tahu bahwa beberapa orang di lingkaran bawah perusahaannya mungkin tidak sepenuhnya bersih. Dan jika ada satu saja bukti yang ditemukan, maka segalanya bisa berantakan.

"Lalu bagaimana dengan gosip yang mengatakan jika Anda adalah seorang gay?" Kata salah satu investor lain yang hadir dalam rapat tersebut.

Deg!

***

Setelah rapat berakhir, Ray kembali ke kantornya dengan kepala berat. Tekanan terus menumpuk, dan meskipun ia selalu terbiasa menghadapi masalah besar, kali ini ia merasakan sesuatu yang berbeda. Krisis ini lebih besar dan lebih rumit daripada yang pernah ia hadapi sebelumnya. Dan yang paling menyulitkan adalah, ia tidak bisa sepenuhnya mengendalikan situasinya.

Di ruangannya, ia membuka laptop dan mulai memeriksa email dari tim hukum dan tim humas. Mereka semua memberikan laporan tentang langkah-langkah yang telah diambil, tetapi tidak ada satu pun yang memberikan solusi cepat. Ray tahu, setiap detik yang berlalu adalah ancaman. Semakin lama ia menunda, semakin besar skandal ini akan meledak di media.

Saat sedang memeriksa laporan, ponselnya berbunyi. Nama yang muncul di layar membuat Ray langsung menegang. Itu adalah salah satu pesaing bisnisnya, Nathan Wijaya, yang dikenal licik dan sering kali menggunakan segala cara untuk menjatuhkan lawannya.

Dengan enggan, Ray mengangkat teleponnya. "Apa maumu, Nathan?" tanyanya tanpa basa-basi.

Suara Nathan terdengar dingin dan licik seperti biasa. "Ray, aku dengar kau sedang dalam masalah. Aku hanya ingin mengingatkanmu bahwa di dunia ini, tidak ada yang gratis. Jika kau butuh bantuan, aku mungkin bisa menawarkan sesuatu. Tentu saja, dengan harga yang tepat."

Ray menggertakkan giginya. "Aku tidak butuh bantuanmu."

Dani tertawa kecil di ujung telepon. "Kita lihat saja nanti, Ray. Dunia ini keras, dan kadang-kadang kita harus membuat kesepakatan dengan musuh untuk bertahan hidup. Ingat, aku selalu ada jika kau berubah pikiran."

Ray memutuskan sambungan telepon tanpa menjawab. Ia tahu, Nathan adalah tipe orang yang akan memanfaatkan setiap kelemahan untuk keuntungannya sendiri. Namun, tawaran itu semakin membuatnya sadar bahwa waktu semakin menipis. Jika tidak segera menemukan solusi, mungkin ia benar-benar akan dipaksa membuat kesepakatan yang ia benci.

Ray menatap langit Jakarta yang mulai gelap dari balik jendela kantornya. Masalahnya semakin besar, dan ia hanya punya sedikit waktu untuk bertindak. Jika tidak segera, perusahaan yang telah ia bangun dari nol bisa runtuh dalam sekejap, dan bersama dengan itu, reputasinya yang selama ini ia pertahankan dengan susah payah.

Di balik topengnya sebagai CEO sukses, Ray tahu, dirinya juga hanya manusia biasa yang menghadapi tekanan dan ketakutan. Dan saat ini, tekanan itu semakin mendekat, siap menghancurkannya kapan saja.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Balas Dendam Sang CEO
8.8
Dahulu Adnan dicampakkan oleh kekasihnya karena kemiskinan yang ia derita. Wanita itu memilih pergi demi mengejar pria kaya. Sepuluh tahun berlalu, Adnan kembali dengan kekayaan melimpah untuk membalas rasa sakit hatinya. Namun, ia terkejut saat menemukan sang mantan kini justru menjadi wanita panggilan demi menyambung hidup. Rahasia apa yang sebenarnya tersembunyi? Akankah Adnan tetap menjalankan dendamnya saat melihat kondisi tragis wanita itu?
Sampul Novel Ciuman Sang Ular: Balas Dendam Seorang Istri
9.0
Dahulu, aku percaya pada cinta palsu keluarga Adhitama hingga mereka membiarkanku terpanggang api. Di saat terakhir, hanya paman dingin bernama Gilang yang rela mati demi melindungiku. Kini, takdir memberiku kesempatan kedua seminggu sebelum tragedi itu terjadi. Untuk menguasai warisan triliunan dan membalas dendam pada tiga kakak yang berkhianat, aku menolak menikahi mereka. Di depan pengacara, aku justru memilih Gilang sebagai suamiku. Permainan dimulai.
Sampul Novel Dia Memilih Kebohongan, Aku Memilih Pergi
8.9
Setelah perjuangan panjang, aku berhasil menemukan adik iparku yang sekarat. Saat bergegas ke rumah sakit, aku terlibat tabrakan dengan mobil sport merah. Pengemudinya yang angkuh menuntut ganti rugi miliaran rupiah dan mengaku sebagai istri dari pewaris keluarga Blakely yang kaya raya. Aku terpaku menyadari bahwa wanita itu adalah selingkuhan suamiku sendiri, Nixon. Kini aku terjebak dalam dilema antara menolong adik Nixon atau membalas pengkhianatannya.
Sampul Novel Kekayaan Besar: Aku Adalah Seorang Miliarder
9.2
Niat hati memberi kejutan ulang tahun, aku justru menyaksikan pengkhianatan kekasihku dengan pria kaya. Dihina karena miskin, hidupku berubah saat pelayan keluarga terkaya mengungkap identitas asliku sebagai pewaris Grup Nelson. Kini dengan kekayaan tak terbatas, aku kembali untuk membalas dendam. Mantan kekasihku bersujud memohon ampun, namun aku hanya berlalu menuju kemewahan. Bagiku, uang hanyalah angka dan aku sangat menikmati cara menghabiskannya.
Sampul Novel My Possessive Sugar Daddy
9.6
Terhimpit kemiskinan dan tekanan kaum elit, Fahira terpaksa mengesampingkan prinsip hidupnya demi menjadi sugar baby milik Fatih. Meski batinnya berontak, tawaran sang CEO tampan itu menjadi satu-satunya jalan keluar dari jerat nestapa. Kehidupan Fahira pun berubah drastis berkat gelimang harta, namun kemewahan tersebut nyatanya membawa petaka baru. Ia kini harus menghadapi berbagai sabotase licik dari saudara sepupunya sendiri yang berusaha menghancurkannya.
Sampul Novel Sekretaris Sang Presdir
8.0
Pijar bertemu Elang Bamantara di tengah perihnya pengkhianatan sang kekasih. Meski dipertemukan dalam situasi buruk, sebuah rahasia masa lalu masih mengikat mereka berdua. Elang merasa sangat diuntungkan oleh pertemuan ini, namun bagi Pijar, keberadaan pria itu adalah musibah besar. Sayangnya, takdir memaksa Pijar untuk terus berada di sisi Elang tanpa bisa menghindar. Kini, ia harus menghadapi sang presdir meski hatinya masih penuh dengan luka lama.