
Istri Kontrak Sang CEO Dingin
Bab 3
Hana duduk di sebuah kafe yang tenang, jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia melirik jam tangannya, memperhatikan waktu yang seakan berjalan lambat. Tempat ini terasa begitu asing baginya, kafe mewah di jantung kota Jakarta, dengan meja-meja yang dipenuhi orang-orang berpenampilan rapi dan elegan. Hana merasa canggung, sadar bahwa ia tidak termasuk dalam dunia ini. Pakaiannya yang sederhana, meski rapi, terasa seperti kontras mencolok dengan para pengunjung di sekelilingnya.
Ia berada di sini bukan karena keinginannya sendiri, melainkan atas permintaan Pak Herman, seorang pengacara Ray Aditya yang mengatur pertemuan ini. Pak Herman adalah seseorang yang dipercaya oleh Ray Aditya untuk mengatur pertemuannya dengan Hana.
Hana sendiri tidak tahu banyak detail tentang pertemuan ini, hanya diberitahu bahwa ini adalah kesempatan untuk membicarakan kontrak kerjasama dan Hana berharap ini akan bisa menjadi solusi atas masalah keuangan keluarganya. Namun, yang membuatnya gelisah adalah ketidaktahuan apa pekerjaannya nanti. Walaupun Hana di iming imingi bayaran yang besar.
Sambil menunggu, Hana tidak bisa mengalihkan pikirannya dari kondisi keluarganya yang semakin terpuruk. Ayahnya terbaring sakit di rumah, dan ibunya kehabisan akal mencari uang untuk membayar biaya pengobatan yang tak kunjung berhenti. Hutang keluarga yang terus menumpuk menjadi beban berat bagi Hana, membuatnya merasa terjebak tanpa jalan keluar.
Pintu kafe terbuka, dan seorang pria masuk. Hana memperhatikannya sejenak, dan mendapati dirinya tertegun. Pria itu mengenakan setelan jas hitam yang terlihat mahal, dengan sikap yang memancarkan wibawa dan kepercayaan diri. Wajahnya tegas, dengan sorot mata tajam yang membuat siapa pun merasa ia bukan orang sembarangan. Ia melangkah dengan mantap menuju ke meja Hana.
"Hana, ya?" tanyanya, suaranya rendah dan dalam, namun sopan.
Hana mengangguk pelan. "Iya, saya Hana," jawabnya dengan suara yang hampir berbisik.
Pria itu duduk di depan Hana, menatapnya sejenak sebelum memperkenalkan diri. "Saya Herman, pengacara Pak Ray Aditya."
Nama itu membuat Hana sedikit terkejut. Nama Ray Aditya tidak asing baginya. Sebagai CEO Aditya Group, perusahaan besar yang sering muncul di media, ia dikenal sebagai salah satu pengusaha paling sukses di Indonesia. Tapi, apa yang seorang pria seperti Ray Aditya inginkan darinya? Pertemuan singkat kemarin Hana tak terlalu banyak memperhatikan sosok pria yang bernama Ray Aditya itu.
"Saya sudah mendengar dari Pak Ray Aditya, beliau memberi tahu sedikit tentang Anda," kata Ray, membuka percakapan dengan nada yang lebih serius. "Saya di sini untuk menyiapkan kontrak kerjasama yang harus kalian tanda tangani."
Hana menelan ludah, merasa gugup. "Ah, i-iya."
Pak Herman mengangguk. "Ya. Saya tahu Anda sedang menghadapi masalah keuangan yang cukup serius. Hutang keluarga Anda, biaya pengobatan ayah Anda... semuanya bisa selesai, jika Anda bersedia menandatangani kontrak ini."
Hana merasa bingung. Bagaimana bisa mereka tahu detail tentang masalah yang sedang Hana hadapi?
"Maksud Bapak... bekerja sama seperti apa?" Tanya Hana.
Pak Herman tersenyum samar. "Untuk itu hanya pak Ray Aditya yang punya wewenang untuk menjelaskan kepada Anda."
Hana diam dan sedikit bingung sekarang. Dia sangat tergiur dengan gaji banyak yang di tawarkan oleh pekerjaan ini. Tapi pekerjaan seperti apa, Hana sendiri belum tahu pasti.
"Nah, itu pak Ray Aditya sudah datang." Katanya.
Pak Herman dan Hana kini berdiri menyambut kedatangan Ray Aditya dan asisten pribadinya, Kevin.
"Selamat datang pak Ray. Silakan duduk," kata Pak Herman menyambut kedatangan Ray Aditya.
"Terimakasih," jawab Ray singkat lalu duduk bersama dengan mereka.
Ray kini duduk di kursi yang ada tepat di depan Hana, ada meja sebagai pembatas di antara mereka.
"Surat kontraknya sudah saya siapkan, pak Ray. Silakan anda lihat sebelum menandatangani kontrak ini," kata Pak Herman seraya memberikan amplop berisi kontrak tersebut kepada Ray Aditya.
Ray menerimanya dan membaca poin-poin penting di dalamnya. "Ya, saya setuju. Silakan nona Hana, kau juga harus membaca isi kontrak perjanjian ini sebelum anda menandatanganinya."
Hana memberanikan diri menatap Ray. "Kalau boleh tahu, pekerjaan apa yang anda tawarkan kepada saya, pak Ray?"
Ray menatap Hana dalam-dalam, seolah menilai apakah ia siap mendengar tawaran yang akan disampaikan. Setelah hening beberapa detik, Ray akhirnya berkata, "Saya membutuhkan seorang istri."
Kata-kata itu jatuh seperti bom di telinga Hana. Ia terdiam, mencoba mencerna apa yang baru saja didengarnya. Wajahnya memucat, pikirannya kalut. Ray memperhatikan ekspresi Hana yang penuh kebingungan, lalu melanjutkan.
"Saya tidak berbicara tentang pernikahan sungguhan, tapi pernikahan kontrak. Pernikahan ini hanya akan berlangsung selama satu tahun. Setelah itu, kita akan berpisah, dan Anda bebas menjalani hidup Anda kembali."
Hana menatap Ray dengan mata membelalak, masih tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. "Kenapa saya?" tanya Hana, suaranya sedikit bergetar.
Ray tersenyum tipis. "Karena Anda adalah pilihan yang aman. Anda bukan bagian dari dunia saya, dan itu membuat Anda tidak terlibat dalam skandal atau intrik yang mungkin membahayakan reputasi saya. Saya membutuhkan seorang istri untuk sementara waktu, demi menyelamatkan reputasi perusahaan saya. Saat ini, ada skandal yang mengancam posisi saya sebagai CEO, dan pernikahan ini bisa meredakan tekanan dari media serta para pemegang saham."
Hana berusaha memproses kata-kata Ray, tetapi rasanya terlalu banyak untuk diterima dalam satu waktu. "Jadi, Anda menginginkan saya untuk pura-pura menjadi istri Anda?" tanyanya lagi dengan ragu.
Ray mengangguk. "Benar. Dan sebagai imbalannya, saya akan melunasi seluruh hutang keluarga Anda, membayar biaya pengobatan ayah Anda, dan memastikan keluarga Anda tidak akan kesulitan lagi."
Hana merasa dadanya sesak. Tawaran ini terdengar begitu menggiurkan, tetapi juga terlalu aneh untuk dipercaya. Bagaimana mungkin seorang pria kaya dan berkuasa seperti Ray Aditya meminta bantuan dari gadis sederhana seperti dirinya?
"Saya tahu ini terdengar tidak masuk akal," kata Ray, seolah membaca pikiran Hana. "Tapi percayalah, ini adalah solusi terbaik untuk kita berdua. Anda akan mendapatkan kebebasan finansial yang Anda butuhkan, dan saya akan mendapatkan stabilitas yang diperlukan untuk menjaga reputasi perusahaan saya."
Hana menunduk, berpikir keras. Jika ia menerima tawaran ini, hidupnya dan keluarganya akan berubah selamanya. Tapi, di sisi lain, ia merasa seperti sedang menjual dirinya untuk sesuatu yang tidak pasti. Bagaimana jika semuanya tidak berjalan sesuai rencana? Bagaimana jika ia terjebak dalam situasi yang lebih buruk?
Ray menarik napas panjang sebelum menambahkan, "Saya tidak akan memaksa Anda. Keputusan ada di tangan Anda. Tapi ingat, waktu Anda tidak banyak. Semakin lama Anda menunda, semakin besar masalah yang akan menimpa keluarga Anda."
Hana menatap Ray. Mata pria itu penuh keyakinan dan kendali, seolah ia sudah merencanakan setiap detail dari pernikahan ini. Namun, di balik ketegasan itu, Hana bisa merasakan tekanan yang juga dirasakan Ray. Ia bukan hanya seorang pria yang menginginkan kesepakatan, tetapi juga seseorang yang berada di bawah tekanan besar.
Ray mengambil bolpoin dari dalam tasnya dan meletakkannya di atas meja. "Ini untuk menandatangani kontrak itu," katanya pelan. "Baca, pikirkan dengan baik, dan jika Anda setuju, tandatangani. Anda punya waktu sampai besok malam untuk memutuskan."
Hana meraih amplop itu dengan tangan gemetar. Segala sesuatu yang terjadi dalam pertemuan ini begitu cepat, begitu mengejutkan. Ia tidak pernah membayangkan bahwa hidupnya bisa berubah drastis hanya dalam hitungan hari. Tawaran ini adalah pintu keluar dari kesulitan yang ia hadapi, tetapi apakah ia siap untuk menjalani kehidupan seperti ini, bahkan untuk setahun?
"Saya akan berpikir," kata Hana akhirnya, suaranya hampir tak terdengar.
Ray mengangguk. "Baik. Saya akan menunggu kabar dari Anda." Setelah itu, ia bangkit berdiri, memberikan senyum tipis, dan meninggalkan kafe tanpa banyak bicara lagi.
Hana hanya bisa menatap amplop yang ada di tangannya, jantungnya masih berdetak kencang. Tawaran ini bisa menyelamatkan keluarganya, tapi apa yang akan ia korbankan untuk itu?
Ia tahu satu hal pasti, keputusan ini akan mengubah seluruh hidupnya.
***
Anda Mungkin Juga Suka





