
Istri Kelima Sang Presdir
Bab 3
Aku tidak bisa berpikir dengan jernih sama sekali, ucapan Elzahara terus menghantui aku selama seharian, aku bahkan tak bisa bertanya apapun. Tatapan matanya saja membuatku merinding, belum lagi suasana di Mansion ini yang begitu suram.
Bardolf berkata padaku akan datang malam hari untuk melakukan hubungan suami istri, tapi sampai menjelang pagi dia tak terlihat sama sekali, yang datang hanya para pelayan yang membantuku mandi dan bersiap-siap untuk sarapan pagi.
Aku melangkah perlahan menuruni anak tangga satu persatu, pergi ke ruangan makan bersama pelayan yang tidak berbicara padaku, bahkan saat aku bertanya sudah berapa lama mereka berada disini, mereka tetap diam.
"Hai Cassandra, kau terlihat cantik seperti namamu." Ucapan seorang wanita yang cukup berumur membuatku langsung menengok ke arahnya.
"Hai.." hanya itu yang aku katakan, aku langsung duduk di salah satu bangku setenang mungkin.
"Ck! Kau cukup berani untuk langsung duduk tanpa disuruh sama sekali." Wanita yang tadi menyapaku sekarang berucap sambil tertawa sinis.
Tak lama Elzahara dan lelaki bernama Aaric datang secara bersamaan, disusul oleh Bardolf yang hanya memakai celana pendek dan bertelanjang dada. Bentuk tubuhnya yang begitu seksi dengan bekas luka di bagian perut membuatku terperangah, lebih tepatnya aku terkejut dan kagum secara bersamaan.
"Ahhh, istriku sudah datang lebih dulu." Bardolf tiba-tiba saja berjalan ke arahku dan mencium pipiku dengan sangat lembut.
Wajahku terasa panas karena mendapatkan ciuman mendadak, tapi aku berusaha untuk tetap sadar dan tidak menanggapi apa-apa.
"Berhentilah bersikap konyol, suamiku!" Elzahara seperti sangat kesal karena suaminya mencium istri kelimanya lebih dulu.
"Duduklah, kita akan bahas kelanjutan dari hubungan kalian." Sekali lagi, wanita yang tidak aku ketahui siapa namanya sudah berbicara seolah-olah dia adalah pemegang kekuasaan tertinggi di Mansion ini.
"Aku Nyonya Crystal, jika itu yang jadi pertanyaan di otak kecilmu." Dia menatap mataku sangat lekat ketika berkata seperti itu.
"Jadi, apakah wanita ini sudah setuju akan memberikan keturunan untukmu, Bardolf?" Crystal bertanya tanpa basa-basi.
"Apa maksudnya ini? Keturunan apa?!" Aku berkata dengan suara yang lantang tanpa sadar.
"Wah! Dia berani bersuara saat aku berbicara. Apakah kau menemukannya di tempat sampah, Bardolf?"
"Nenek, maafkan aku. Sepertinya dia kurang tidur, jadi berbicara kasar." Elzahara sudah berpihak pada suaminya, karena sudah membela Bardolf secara terang-terangan.
"Aku pantas mendapatkan penjelasan! Bukan begitu Nyonya Crystal?" Kataku lagi.
"Jaga sopan santun Cassandra! Tutup mulutmu dan Ingatlah bahwa adikmu masih berada di genggamanku! Mudah untukku membunuhnya!" Bardolf berucap sambil menatap sinis ke arahku, dia kembali mengancam.
"Kau yang seharusnya tutup mulut!" Aku membentaknya tanpa takut sama sekali.
"Cassandra! Apakah itu caramu berkata pada suamimu sendiri?!" Nenek tua bernama Crystal sudah bertindak sangat menyebalkan, dia berkata seolah-olah aku ini sudah jadi menantu dari cucunya? Ya sebut saja dia neneknya Bardolf, aku bahkan tidak tahu siapa dia sebenarnya.
"Seharusnya kau berkata seperti itu pada cucumu. Sebab disini aku yang ditindas secara semena-mena." Aku berkata dengan nada pelan, menyesap minuman hangat yang baru saja disediakan oleh pelayan.
"Cassandra apakah kau…"
"Bisakah kau tutup mulutmu?!" Aku berkata dengan sangat lantang saat Elzahara sudah ingin berkata sesuatu.
"Cassandra!!" Bardolf membanting meja sambil menatap mataku dengan sangat lekat.
"Apa?! Apakah kau hanya akan membentak diriku dan mengancam saja? Jelaskan padaku apa maumu dan keluarga ini padaku! Aku tidak percaya pada semua omong kosong yang kau katakan kemarin! Bagaimana bisa kau menjadikan aku istri kelima?! Itu adalah tindakan konyol!"
"Semua yang aku katakan memang benar, apakah bukti-bukti yang aku tunjukan masih kurang meyakinkan untukmu?"
"Bukti-bukti? Bukti yang bisa kau buat? Konyol sekali, ucapanmu sangat menyebalkan!" Aku tidak akan kalah untuk berdebat dengannya, sebab aku wanita egois yang akan bertindak sesuka hati.
"Aku tidak perlu menjelaskan apapun yang kau pikirkan. Aaric, singkirkan Meisya dan buat wanita ini sadar bahwa aku bukan hanya sekedar mengancam!" Bardolf sudah berkata dengan serius, aku langsung melotot kaget saat mendengar nama adikku disebut.
"Jangan pernah berani menyentuhnya! Aku tidak akan membiarkan kau hidup dengan tenang, Bardolf!"
"Kau pikir aku takut dengan ancaman itu? Tidak!" Ujar Bardolf.
"Bardolf, Cassandra! Bisakah kalian berhenti berdebat? Aku ingin makan dengan tenang." Ujar Nenek Crystal.
"Oh come on! Kau bisa makan dengan tenang dan aku bisa pergi dari sini jika Bardolf tidak bertindak semena-mena." Aku masih berucap dengan sinis, aku tak mau mereka semua menganggap aku bisa diatur sesuka hati.
"Bisakah kau berbicara sopan, Cassandra? Aku bukan orang yang bisa memberikan kelonggaran pada sikapmu yang kurang ajar. Aku bisa menghancurkan kau kapan saja, tapi untuk saat ini kami membutuhkan dirimu." Dia bersikap sangat tenang ketika mengatakan tentang membutuhkan diriku?
"Apa yang kau butuhkan dariku?"
"Seorang anak, kami butuh penerus keluarga Konstantino. Kau menjadi istri kelima karena selama ini istri-istri Bardolf tak bisa melahirkan anak dengan selamat. Mereka semua meninggal dunia setelah melahirkan, bahkan Elzahara hampir meninggal dunia saat berusaha melahirkan anak pertamanya. Tapi ternyata dia bisa bertahan, tapi tidak dengan anaknya." Crystal berkata sangat jelas, aku suka dengan sifatnya saat ini, tapi aku tidak suka saat dia mengatakan tentang kematian orang lain dengan begitu mudah.
"Seorang anak? Bagaimana kalian bisa memilih diriku hanya untuk melahirkan seorang anak?"
"Kau sangat sehat untuk melahirkan seorang anak, bahkan kau masih perawan." Bardolf menanggapi dengan sangat santai, sekali lagi aku merasa terhenyak karena mendengar semua ucapannya.
"Jadi aku disuruh datang kesini untuk menyerahkan tubuhku dan kematianku sendiri? Kau punya tiga istri yang meninggal dunia saat melahirkan, lalu satu istri lagi yang selamat saat melahirkan. Lalu kau membawaku kesini hanya untuk melahirkan anakmu? Keluarga ini sepertinya tidak punya malu." Ujarku sambil terkekeh pelan, aku berusaha untuk makan salad sayur yang kelihatannya sangat enak. Untuk saat ini aku perlu mengisi tenaga agar bisa melawan orang-orang yang tak punya norma sama sekali.
"Kau tidak punya pilihan, kau sudah menandatangani perjanjian. Jika kau membatalkan itu, maka kau harus membayar denda. Lalu jangan lupakan tentang keselamatan adikmu. Kau berada di bawah kendaliku, Cassandra." Bardolf tersenyum sangat mengerikan ketika dia berucap seperti itu.
Keselamatan adikku memang yang paling terpenting untuk saat ini, aku hanya bisa menuruti apa yang mereka katakan. Ibu? Ayah? kalian berkata padaku bahwa apapun yang terjadi aku harus melindungi adikku. Sekarang, walaupun nyawa dan harga diriku ternodai, maka aku harus tetap melindungi adikku bukan? Ya.. tidak masalah jika aku hanya dijadikan alat oleh keluarga Konstantino.
Anda Mungkin Juga Suka





