
Istri Keempat Sang Tuan Tanah
Bab 2
"Untuk yang berikutnya, kukatakan sejujurnya. Aku menginginkan seorang putra. Karena itulah aku menikahimu. Dan itu berarti aku berhak menyentuhmu seperti layaknya apa yang dilakukan suami istri pada umumnya. Mengupayakan tujuan utama agar kau segera mengandung, termasuk membawamu ke dokter. Bagaimana? Kamu keberatan dengan itu?"
Glekkk!!! Aku menelan liur, terasa pahit rasanya. Mendengar tujuan utamanya menikahiku membuatku seakan meriang. Benar kata Yenni. Ini hanya untuk mendapatkan penerus keluarga mereka. Lalu bagaimana dengan desas desus kematian istri keempat itu?
"Bagaimana, hmm? Kalau kau bersedia, tak cuma hutang keluargamu yang lunas. Dan jika kau berhasil memberiku seorang putra tak cuma hutang yang lunas. Hidup keluargamu juga akan sejahtera. Dan tentu saja kau dan putramu juga. Dan mungkin kau juga akan jadi istri kesayanganku, hmmm?"
Aku menghela napas berat. Siapa juga yang mau jadi istri kesayanganmu? batinku dalam hati dengan sangat frustasi.
"Bagaimana? Kau boleh pikirkan selama beberapa hari dulu," kata pria itu.
Aku mengangguk lemas. Lalu bak selesai interview, aku pun meninggalkan ruangan tempat aku bicara dengan Tuan Thakur. Kembali menemui Ibu yang telah menunggu di luar.
Namun saat aku ingin meninggalkan ruangan itu, aku merasa ada bayangan seseorang yang terlihat berlari menjauh ke arah belakang rumah mewah itu. Apakah tadi ada orang yang menguping? pikirku.
Namun kemudian aku mengangkat bahuku pasrah. Terserahlah.
***
"Ibu, aku nggak mau menikah dengan Tuan Thakur ituuuu," rengekku.
Setelah pertemuanku dengan Tuan Thakur itu, hatiku rasanya lebih mantap untuk menolak. Lelaki itu sama sekali bukan tipeku. Lelaki idamanku adalah seperti sosok Mas Firman, Ketua Karang Taruna di kampungku. Berusia lebih tua dariku 2 atau 3 tahun, bukannya sampai hampir 20 tahun di atasku.
Nelangsa, sial, entah harus dengan cara apa aku mengungkapkan segala perasaan yang kurasakan saat ini. Tapi sungguh aku tidak ikhlas harus menjalani seluruh hidupku bersamanya. Apalagi katanya tidak akan ada perceraian dalam pernikahan ini nantinya.
Ibu mengelus kepalaku dengan sayang.
"Lil, kalau kamu tak mau ibu tak akan memaksamu, Nak. Ibu juga tidak mau kau mengingat ibu sebagai orang tua yang jahat," kata ibu padaku.
Setelah mengatakan itu Ibu pun pergi. Berhari- hari sejak saat itu, Ibu tak lagi berusaha membujukku. Rutinitas ibu sebagai asisten rumah tangga di desa tetangga pun berlanjut seperti biasa.
***
Pov Author
Wanita tua itu dengan raut wajah gelisah menunggu Tuan Thakur untuk menemuinya. Meski dalam resahnya, dia menyempatkan diri mengagumi interior rumah megah ini. Andai Delilah putrinya tak menolak menikah dengan Tuan tanah yang dijuluki Tuan Thakur ini tentulah hidup Lila nanti agar bergelimangan harta. Tetapi kalau putri bungsunya itu tidak mau, apa yang bisa dilakukan dengan itu? Bahkan sekarang pun dia terpaksa melakukan ini.
"Sudah lama menunggu?" tanya pria itu.
Ibu Mirna tersentak.
"Anu ... be- belum lama, Tuan," jawab Bu Mirna canggung.
Canggung karena lelaki itu tadinya akan menjadi menantunya. Dan usia mereka mungkin hanya terpaut 15 tahunan, yang artinya sebenarnya mereka kuranglah cocok terlihat sebagai menantu dan mertua. Tetapi sekarang penolakan Lila pun membuatnya merasa tidak enak. Lelaki paling tersohor di kota ini hingga ke pelosok desa seperti tempat tinggal mereka itu, mungkin akan merasa terhina jika mendapat penolakan dari mereka.
"Jadi Ibu ada keperluan apa datang ke sini? Apa Lila sudah memutuskan?" tanya Tuan Thakur to the point.
Ibu Mirna meletakkan sebuah amplop coklat berisi uang di atas meja.
"Apa ini?" tanya Tuan Thakur.
"Ini ada sejumlah uang Tuan. Jumlahnya baru 50 juta. Saya tahu ini bahkan belum ada setengahnya dari hutang kami. Tapi ini menunjukkan ketulusan dan niat saya untuk membayar hutang tersebut. Dan saya berjanji akan segera membayar sisanya. Dan ...." Bu Mirna ragu melanjutkan kata- katanya selanjutnya.
"Dan?"
"Dan .... soal permintaan bodoh saya untuk menyerahkan Lila sebagai penebus hutang .... mohon Tuan ampuni dan lupakan, Tuan ..." kata Bu Mirna meminta.
Tuan Thakur mengernyitkan keningnya.
"Menurut pendapat Lila sendiri bagaimana? Apa dia sudah memutuskan?"
Bu Mirna mengangguk ragu, khawatir pria di depannya ini tersinggung.
"Ya, dia tidak bisa menjalani pernikahan dengan Tuan," jawab Bu Mirna.
"Tidak bisa, atau tidak mau?"
"Emm .... saya rasa bukan karena dia tidak mau menikah dengan Tuan. Mungkin hanya karena dia belum siap menikah di usia semuda itu. Dia masih punya keinginan kuliah. Tahun lalu dia sudah menganggur 1 tahun karena kami belum punya biaya, Tuan. Tapi tahun ini dia masih ingin melanjutkan pendidikannya," kata Mirna.
Tuan Thakur mengangguk- angguk.
"Padahal kalau dia bersedia menikah denganku, aku bisa saja membiayai pendidikannya setinggi yang dia mau," pancing pria itu.
"Ma- maaf, Tuan."
Tuan Thakur mengambil amplop di atas meja itu dan membukanya sekilas. Hanya menggesek ujung lembaran uang itu, dia sudah tahu kalau uang itu jumlahnya pas 50 juta sesuai dengan yang disebutkan Bu Mirna.
"Baiklah, 50 juta. Berarti kurang 128 juta lagi. Dan bisnis tetaplah bisnis, kalau Ibu tidak bisa membayar hutang, rumah Ibu mungkin akan kami sita. Jika rumah itu laku untuk dijual kembali jika ada sisanya akan kami kembalikan pada Ibu. Jika harga jualnya nominalnya tidak sampai dengan hutang Ibu, siap- siap berurusan dengan hukum," kata Tuan Thakur. "Ada lagi?"
"Ti- tidak, Tuan,"
****
"Lila! Lila!" teriak seseorang memanggil- manggil namaku.
Dengan tak sabaran orang itu menggedor- gedor pintu rumah kayu kami ini. Membuatku juga jadi bergegas membuka pintu.
"Kenapa Bu lik?" tanyaku pada Bu Lik tetangga teman ibu bekerja sebagai ART di desa sebelah.
"Ibumu, Lil! Ibumu ...!" katanya dengan napas tersengal- sengal.
"Ibu kenapa?" tanyaku panik.
"Ibumu ditahan di kantor polisi. Ibumu terbukti mencuri uang Pak Wijaya sebanyak 50 juta, ada CCTV tetangga juga yang menangkap kejadian itu. Kau harus ikut Bu Lik kesana," desak Bu Lik menarik tanganku.
Tak bisa berkata- kata sesampainya di sana, aku melihat Ibu berada di kantor polisi dengan wajah babak belur.
"Ibu, kenapa ibu lakukan ini?" tanyaku frustasi.
Ibu menarik napas pasrah.
"Ibu terpaksa Lil, kita tak bisa membayar hutang kita pada Tuan Thakur, dan kau pun tak bersedia menikah dengannya, ibu bisa apa?" kata Ibu lesu.
"Masih ada rumah itu, kan Bu? Kita bisa menjualnya! Biar aja kita hidup mengontrak, Lila nggak usah kuliah nggak apa- apa. Lila akan bantu ibu kerja," kataku sedih.
"Rumah kita cuma gubuk reyot, Lil. Di pelosok pula, harganya paling berapa? Paling cuma dihitung tanahnya aja,dan harganya ga akan sampai 75 juta. Ibu bisa apa? Ibu terpaksa ngambil uang pak Wijaya," katanya sedih.
Aku menatapnya putus asa.
"Tapi gini pun sama aja, kan Bu? Hutang kita juga ga lunas juga, dan Ibu malah terkena kasus begini. Sekarang Lila harus ngapain, Buuuu?" ratapku bercampur tangis. Tak cuma memikirkan nasib Ibu yang akan dipenjara bahkan aku tidak tahu apa masih bisa melihat wajah orang lain setelah ini.
Ibu terdiam sejenak. Lalu beliau meraih tanganku.
"Kabur aja, Nak. Pergilah yang jauh. Kau bisa ke rumah Paman di kota A. Kau bisa meminta pertolongan padanya," kata Ibu.
Aku tercengang mendengar saran itu. Paman yang dimaksud ibu adalah satu- satunya saudara ibu. Bahkan jika pun aku harus minta tolong padanya, apa bedanya dengan menikah dengan Tuan Thakur? Itu bahkan lebih buruk. Dia bahkan pernah bermaksud menjualku pada seorang relasinya. Paman Indra, adalah mucikari dengan modus agen penyalur asisten rumah tangga.
Bagaimana ini? Meminta tolong pada kedua kakakku itu tidak akan membantu apa pun.
Bagaimana ini? Aku juga harus membebaskan ibu dari sini. Tapi bagaimana caranya?
Sebersit ide dalam keputusasaan muncul di benakku. Hanya ada satu orang yang bisa menolongku. Ini berawal dari dia, dan akhirnya aku juga akan berakhir di dia.
Tuan Thakur ....
****
Anda Mungkin Juga Suka





