
ISTRI KEDUA TUAN KAIRO
Bab 3
"Hah? kok saldonya banyak banget kaya gini?" tanya Farah dengan bingung melihat layar ponselnya.
Terdengar suara nada WhatsApp. Ia segera membaca tulisan di layar ponselnya.
"Mbak salsa? ya ampun, dia ngirim uang aku banyak banget," ucap Farah di hatinya dengan kaget.
"Farah? Ada apa?" tanya Salamah yang duduk di kasur rumah sakit.
"Oh, enggak ada kok Bu, nggak ada apa apa. Ibu makan lagi ya," segera Farah menyembunyikan ponsel di tas selempang miliknya.
"Ibu makan yang banyak ya, supaya cepat sembuh," ucap Farah sambil menyuapi sang ibu dengan bubur ayam.
Salamah melahapnya dengan cepat. Tapi kini ekspresi wajahnya terlihat muram.
"Kenapa bu? Nggak enak bubur ayamnya?"
"Ibu maunya ketoprak sama kue ulang tahun yang coklat. Kalau habis makan ketoprak enaknya makan yang manis manis. Nah kalau makan kue ulang tahun yang coklat pasti enak banget rasanya," wajah ibu berbinar membayangkan makanan itu.
"Tapi Bu, uangnya nggak cukup Bu," kata Farah dengan wajah sedih.
"Padahal ibu pengin banget beli makanan itu. Kapan ya? Ibu bisa makan makanan enak kaya gitu,"
"Ya udah ibu sabar ya, nanti aku bakalan cari kerja supaya bisa dapet uang yang banyak," ucap Farah tersenyum manis.
Saat malam tiba. Farah mencari pedagang ketoprak. Ia melihat ada di sebrang jalan.
"Nah itu dia! aku mau beli ketoprak supaya ibu seneng," ucapnya sambil berjalan menuju ke penjual.
Telfon Farah berbunyi.
"Halo?"
"Halo Farah, kamu udah terima uang itu kan? jadi gimana? Kapan kamu siap menikah dengan suami saya?" tanya salsa.
"Iya mbak, makasih banyak mbak. Secepatnya mbak. Saya sudah siap menikah dengan suami mbak salsa," kata Farah dengan nada ragu.
"Ya udah besok saya jemput kamu ya," kini sambungan panggilan terhenti.
Farah hanya bisa terdiam melongo.
"Mbak ketopraknya pedes apa nggak?" tanya si tukang ketoprak.
"Oh iya iya pak, jangan pedes ya pak," jawab Farah yang tadinya melamun.
Esok harinya Farah bersama dengan salsa pergi ke sebuah rumah sakit besar.
"Semuanya akan di cek di rumah sakit ini. Itu untuk memastikan kalau kamu nanti bisa hamil saat sudah menikah dengan Mas Kairo," ucap salsa dengan tegas.
"Baik mbak salsa. Saya nurut saj dengan mbak salsa," kata Farah mengangguk. Ia hanya berusaha menjalankan skenario yang sudah di takdirkan untuknya. Setelah menunggu beberapa hari. Hasil kesehatan keluar dan dinyatakan bahwa Farah sehat. Semuanya normal dan Farah bisa hamil.
Esok harinya Farah melangsungkan pernikahan di rumah sakit. Karena itu adalah kemauan Farah. Farah ingin sang ibu menyaksikan dirinya menikah dengan Kairo.
Setelah semuanya selesai dengan lancar. Salamah terlihat bahagia sekali.
"Ya Allah, ibu nggak nyangka kamu mendapatkan jodoh seperti Kairo. Kok' kamu nggak pernah cerita sama ibu sih,"
"Hehehe iya Bu, kan kejutan buat ibu," kata Farah tersenyum manis. meski ia harus berbohong.
"Tapi Kairo baik kan? Soalnya dia kan dari turunan orang kaya. Kamu nggak papa nanti sama keluarganya? Nanti kamu di hina," ucap salamah dengan khawatir.
"Enggak kok, Bu. Insyaallah keluarga Kairo itu baik semua," ucap Farah tersenyum kecil. Meski ia tidak tahu apa yang akan terjadi nantinya. Tapi karena ia sangat menyayangi sang ibu. Jadi itu semua di lakukan olehnya.
"Nah, sekarang ini adalah kamar kamu. Rumah ini khusus untuk kamu dan kairo. Karena aku nggak mau satu rumah sama kamu," ucap salsa dengan tegas.
"Iya baik mbak,"
"Semuanya sudah tersedia di rumah ini. Kalau ada apa apa. Kamu telfon aja. Oh ya, sebaiknya Kairo tidak ke rumah ini dulu. Karena kamu harus istirahat terlebih dahulu. Agar semuanya berjalan dengan lancar. Ingat yah, vitamin dan buah buahan itu kamu makan ya. Supaya kamu sehat terus," ucap salsa dengan tegas.
"Iya mbak, terimakasih banyak mbak. Oh ya mbak. Kalau mas Kairo ke sini nanti mbak WhatsApp ya. Soalnya barang kali saya ada di rumah sakit nemenin ibu,"
"Iya kalau itu gampang, ya udah saya pergi dulu," salsa dengan cepat meninggalkan rumah itu.
Farah kini melihat lihat kamarnya yang bersih dan nyaman. Ada rasa senang melihat ini semua. Bahkan meja rias juga sudah terisi dengan skincare yang komplit.
"Ya Allah andai ini semua milik aku. Tapi aku hanya di fasilitasi ini aja udah seneng banget sih. Tapi di sisi lain aku juga takut. Duh, gimana ya nanti kalau ketemu mas Kairo. Aduh pusing banget aku," ucap Farah dengan mengacak kerudung yang di pakainya.
***
"Oh jadi gitu, ya udah baguslah. Tapi harus di cerai kalau udah lahiran ya," ucap sinta dengan serius.
"Iya ma, udah ada perjanjiannya kok. Lagian Farah itu gadis desa yang nggak punya kerjaan. Jadi mana mungkin mas Kairo langgeng sama Farah," kata salsa dengan yakin.
"Mama jadi nggak sabar menimang cucu," kata mama Sinta dengan tersenyum manis. Ia yang baru saja pulang dari luar kota merasa senang karena Kairo menikah dengan wanita lain yang bisa hamil.
***
"Kamu kenapa cemberut gitu Salsa?" tanya Kairo sambil mendekat kepada sang istri yang sedang berada di depan meja rias.
"Wajahku cantik begini tapi sayang aku mandul mas," kata salsa dengan wajah sedih.
"Udah kamu jangan sedih. Mending kita tidur aja yuk. Ini malam Jum'at kan?" tanya Kairo dengan tersenyum manis.
"Dasar kamu mas," kata salsa mencubit pipi sang suami.
***
Sementara itu di rumah Farah sedang bersiap-siap untuk pergi ke rumah sakit. Ia membawa makanan dan juga pakaian ganti untuk sang ibu.
"Di rumah yang menurut aku cukup besar ini. Aku malah sendirian. Ya ampun... kenapa aku merasa begitu kesepian. Kenapa rasanya begitu sakit seperti ini?" tanya Farah di dalam hatinya.
Entah kenapa ada perasaan kecewa. Sebagai pengantin baru yang seharusnya berbahagia. Tapi ia malah bersedih seperti ini. Memang ini semua bukan kemauan dari dalam hatinya. Tapi pernikahan ini hanya untuk membuat sang ibu benar benar sehat.
Sampai di rumah sakit. Farah melihat sang ibu yang sedang asyik menonton tv.
"Setelah ganti ruangan yang bagus seperti ini. Ibu jadi betah. Ada ac-nya, ada tv-nya juga. Melihat pemandangan dari jendela juga indah sekali. Makasih banyak ya Farah," ucap Salamah tersenyum bahagia. Baru kali ini Farah melihat ibunya tersenyum penuh kebahagiaan seperti ini.
"Iya Bu, ini semua karena mas Kairo. Mas Kairo ingin yang terbaik untuk kesembuhan ibu," Farah terpaksa berbohong. Fasilitas ini yang memberikan adalah salsa.
"Baik banget ya suami kamu. Ajaklah Kairo ke sini. Ibu kan pengin ngobrol sama Kairo," ucap salamah penuh harap.
"Iya Bu, nanti mas Kairo pasti aku ajak kesini jenguk ibu," Farah tersenyum lebar. Meski hatinya sangat tersiksa. Kalau saja Salamah tahu jika anaknya adalah istri kedua. Tentu saja Salamah akan merasa begitu sedih.
"Oh ya Bu, sebentar ya Bu. Farah lupa mau beli pulsa. Farah pergi ke minimarket sebentar ya Bu," kata Farah buru buru mengambil tas selempang miliknya di meja.
"Iya hati hati ya Farah,"
Jalanan terasa begitu padat. Kawasan di depan rumah sakit adalah jalan besar yang setiap hari hampir selalu macet. Terik matahari membuat Farah berjalan cepat menuju ke tempat yang ber-AC.
"Panas banget di luar ya Allah," ucapnya sambil mengusap keringat di keningnya. Melihat lelaki yang merupakan suaminya itu ada di depan kasir. Segera Farah bertindak.
"Eh, mas Kairo,"
Kairo juang berbalik dengan kaget. Mata mereka bertemu. Kairo hanya terdiam dan bingung harus bagaimana. Sementara Farah tersenyum manis melihat sang suami. Tiba tiba saja kairo mendekatkan wajahnya ke telinga Farah.
"Farah! Kalau di luar seperti ini. Kamu nggak usah sok kenal sama saya!" ucap Kairo dengan lirih dan tegas.
Anda Mungkin Juga Suka





