
Istri Kedua Tersembunyi
Bab 2
Raine menatap pantulan dirinya di cermin, mengenakan gaun satin putih yang terasa asing di tubuhnya. Gaun itu mahal-terlalu mahal untuk seseorang yang bahkan tidak pernah membayangkan menjadi seorang istri, apalagi istri kedua dari pria yang hampir tidak dikenalnya.
Pernikahan mereka tidak diadakan dengan pesta mewah, tidak ada keluarga atau tamu undangan. Hanya ada tanda tangan di atas kertas, sepasang cincin yang dipaksakan, dan janji yang tidak pernah ia ucapkan dari hati.
Pintu kamar terbuka, dan suara langkah kaki terdengar mendekat. Raine tidak perlu menoleh untuk tahu siapa yang masuk.
Leon Castello.
Pria itu berdiri di ambang pintu dengan ekspresi tak terbaca. Dengan setelan hitam yang kini sedikit longgar setelah seharian, lengan kemejanya digulung hingga siku, memperlihatkan kulitnya yang berwarna pucat dengan urat-urat halus yang tegas. Ia tampak santai, tapi tatapan matanya tetap tajam, penuh penilaian.
"Kenapa kau berdiri di sana seperti patung?" suaranya terdengar berat, serak.
Raine menelan ludah, tangannya mengepal di sisi gaun. Ia tidak tahu harus berbuat apa. Ia tidak pernah membayangkan akan berada dalam situasi seperti ini-terjebak dalam kamar hotel mewah dengan seorang pria yang kini menjadi suaminya, setidaknya di atas kertas.
"Aku..." suaranya tercekat.
Leon melangkah lebih dekat, mengamati setiap detail ekspresinya. "Apa kau takut?"
Raine mengangkat dagunya, meskipun dalam hatinya ia gemetar. "Aku tidak takut padamu."
Leon tersenyum tipis, tetapi matanya tetap dingin. Ia melangkah ke meja kecil di sudut ruangan, menuangkan segelas bourbon, lalu menyesapnya dengan santai. "Bagus. Aku tidak suka wanita yang lemah."
Kata-katanya menusuk.
Raine mengepalkan jemarinya lebih erat. "Jadi, apa yang terjadi sekarang?"
Leon meletakkan gelasnya, lalu berjalan mendekatinya. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah. "Aku tidak akan menyentuhmu," katanya tenang. "Aku tidak butuh istri dalam arti sebenarnya. Kau di sini hanya untuk menjaga kesepakatan."
Raine mengerutkan kening. "Kalau begitu, kenapa aku harus berada di sini? Kenapa aku tidak bisa tetap tinggal di rumahku?"
Leon menatapnya seolah ia baru saja mengajukan pertanyaan bodoh. "Karena orang-orang akan curiga jika aku menikahi seseorang dan tidak membawanya ke rumahku. Aku tidak peduli apa yang orang lain pikirkan, tetapi aku juga tidak ingin ada skandal yang bisa merusak reputasiku. Jadi, mulai sekarang, kau akan tinggal di rumahku. Kau akan menjadi istriku di depan orang-orang yang perlu percaya akan hal itu."
Raine mengerti. Ini bukan hanya tentang mengikatnya dalam kontrak, tetapi juga tentang menjaga citra pria itu di depan dunia.
Tapi satu pertanyaan masih mengganggunya.
"Dan istrimu yang pertama? Apa dia tahu tentang ini?"
Leon mengangkat alisnya, tetapi tidak segera menjawab. Ia hanya menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Alexandra tidak perlu tahu apa yang tidak penting baginya."
Pernyataan itu membuat Raine merasa tidak lebih dari bayangan. Keberadaannya tidak dianggap penting. Ia hanyalah bagian dari sebuah rencana, seorang pion dalam permainan yang tidak ia pahami sepenuhnya.
Tapi ia tidak bisa mundur sekarang.
Leon menatapnya sekali lagi, lalu berjalan ke pintu. "Istirahatlah. Besok kita pindah ke rumahku."
Raine menahan napas, menyadari bahwa ini hanyalah awal dari sesuatu yang jauh lebih besar-dan lebih menyesakkan.
Anda Mungkin Juga Suka





