
Istri Kedua Tersembunyi
Bab 3
Mobil mewah melaju mulus di jalanan kota yang masih basah setelah hujan. Raine duduk di kursi penumpang belakang, tangannya terkepal di pangkuan. Ia menatap ke luar jendela, mencoba mengabaikan fakta bahwa di sampingnya duduk pria yang kini menjadi suaminya.
Suami.
Kata itu masih terasa asing.
Leon duduk dengan ekspresi tenang, satu tangan memegang ponselnya, sementara tangan lainnya bersandar di sandaran kursi. Ia tampak santai, seolah apa yang terjadi kemarin hanyalah urusan bisnis biasa. Seolah ia tidak baru saja menikahi seorang wanita yang sama sekali tidak menginginkannya.
Tak ada percakapan di antara mereka selama perjalanan. Raine tidak tahu apakah ia harus bersyukur atau merasa semakin gelisah karena diamnya pria itu.
Ketika mobil akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang tinggi berukiran emas, Raine menahan napas.
Rumah Leon-lebih tepatnya, mansionnya-terlihat seperti istana. Bangunan megah itu berdiri dengan anggun, dikelilingi taman yang luas dengan lampu-lampu kecil menerangi jalan setapaknya. Dua air mancur besar menghiasi halaman depan, memperlihatkan betapa berbedanya dunia Leon dan dirinya.
Pintu mobil dibuka oleh seorang pelayan, dan Raine turun dengan hati-hati. Udaranya terasa lebih dingin, atau mungkin itu hanya perasaannya.
Leon keluar beberapa detik kemudian, dan seketika para pelayan yang berjajar di depan pintu utama menundukkan kepala dengan penuh hormat.
"Selamat datang kembali, Tuan."
Mereka tidak melirik ke arah Raine. Seolah ia tidak ada.
Seorang pria paruh baya dengan jas rapi melangkah maju. "Segala persiapan sudah siap, Tuan."
Leon mengangguk kecil. "Bagus."
Pria itu-yang Raine duga adalah kepala pelayan-kemudian menoleh padanya dengan senyum kecil yang sopan. "Selamat datang, Nona."
Bukan 'Nyonya Castello'. Hanya 'Nona'.
Raine sudah menduga hal itu. Di rumah ini, ia bukan istri yang sesungguhnya. Ia hanya seseorang yang harus ada karena sebuah kontrak.
"Terima kasih," jawabnya pelan.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Leon berjalan masuk, dan Raine tidak punya pilihan selain mengikutinya.
Begitu masuk ke dalam, Raine harus menahan napasnya lagi.
Interior rumah itu sama megahnya dengan bagian luar. Langit-langit tinggi dihiasi lampu gantung kristal, sementara lantai marmer mengkilap mencerminkan kilau cahaya dari lampu-lampu dinding. Tangga besar melengkung ke lantai dua, dengan pagar berukiran yang tampak begitu mahal.
Semua ini seperti dunia lain baginya.
Leon melangkah ke arah tangga, tetapi berhenti sejenak untuk menoleh ke arahnya. "Kamar utama ada di lantai dua. Aku yakin pelayan sudah menyiapkan segalanya."
Raine mengerutkan kening. "Kamar utama?"
Leon menaikkan alisnya, seolah tidak mengerti kebingungannya. "Ya. Kita menikah, kan?"
Jawaban itu membuat Raine menegang. Jadi mereka akan berbagi kamar? Tidak ada ruang terpisah?
Seolah mengerti pikirannya, Leon menambahkan dengan nada santai, "Tenang saja. Aku tidak akan menyentuhmu."
Nada suaranya begitu ringan, tapi bagi Raine, kata-kata itu lebih terasa seperti penghinaan. Seolah ia tidak cukup berharga untuk disentuh.
Tidak tahu harus membalas apa, Raine hanya menggigit bibirnya dan mengikutinya menaiki tangga.
Saat mereka melewati lorong menuju kamar, suara langkah mereka bergema di lantai marmer. Lorong itu panjang dan sepi, tetapi setiap sudutnya terasa begitu hidup dengan kemewahan yang ada di sana-lukisan-lukisan mahal, lampu dinding berdesain klasik, dan aroma kayu mahal yang menguar di udara.
Saat mereka akhirnya sampai di depan sebuah pintu besar berwarna putih gading, Leon membukanya tanpa ragu dan melangkah masuk.
Raine mengikuti di belakangnya, dan saat melihat isi ruangan itu, ia kembali terdiam.
Kamar itu luas. Sangat luas. Lebih besar dari seluruh rumahnya.
Dindingnya berwarna abu-abu lembut dengan aksen emas. Sebuah ranjang king-size dengan seprai sutra mendominasi ruangan, sementara ada area duduk di sudut ruangan dengan sofa mahal. Lemari besar terbuat dari kayu mahoni berdiri di sisi lain, dan ada balkon yang menghadap ke taman belakang.
Leon berjalan ke arah lemari, membuka jasnya, dan melemparkannya ke sofa tanpa melihat ke arahnya.
"Ini kamarmu sekarang," katanya datar. "Jangan buat masalah."
Raine menatap punggungnya, ingin mengatakan sesuatu-ingin memberitahunya bahwa ia juga tidak ingin berada di sini, bahwa ini bukan pilihannya. Tapi kata-kata itu tidak keluar.
Ia hanya berdiri diam, merasa semakin terasing di dalam rumah ini.
Rumah yang bukan miliknya.
Anda Mungkin Juga Suka





