
Istri Bodoh Yang Terlalu Percaya Suaminya
Bab 2
Langkah kaki Risa di lantai keramik dingin rumah Hardiman terasa berat, seolah ia sedang berjalan di bawah air. Udara di dalam rumah itu beraroma berbeda: perpaduan peppermint, vanila, dan aroma maskulin yang tajam, asing, dan entah mengapa, memabukkan. Itu adalah aroma yang jauh dari bau kayu dan masakan di rumahnya sendiri. Rumah ini terasa seperti kotak Pandora yang elegan.
"Silakan masuk, Risa. Jangan sungkan," ujar Hardiman, suaranya kini terdengar seperti beludru, lembut dan menghasut. Ia menutup pintu tanpa suara, membuat Risa merasa terisolasi dari dunia luar, terperangkap dalam batas-batas rumah modern ini.
Risa berdiri kaku di ruang tamu minimalis yang didominasi warna monokrom. "Jadi, di mana tikusnya, Pak Hardi?" tanyanya, suaranya sedikit bergetar, berusaha tetap fokus pada alasan ia datang.
Hardiman terkekeh pelan, tawa yang terdengar terlalu percaya diri dan sama sekali tidak mencerminkan ketakutan pada tikus. "Oh, tikus itu. Dia licik, Risa. Dia lari ke dapur," katanya sambil memberi isyarat agar Risa mengikutinya.
Dapur Hardiman adalah kebalikan dari dapur Risa yang sederhana. Semuanya mengilap, serba stainless steel, dan tertata rapi. Risa melihat-lihat sekeliling, mencari tanda-tanda kehadiran hama, tetapi yang ia temukan hanyalah kebersihan yang steril.
"Di mana dia?" tanya Risa.
Hardiman mendekat, berdiri terlalu dekat di belakang Risa. "Dia ada di sana," bisiknya, suaranya kini sangat rendah, "di balik lemari es. Aku butuh kamu untuk mengalihkan perhatiannya, sementara aku menangkapnya."
"Mengalihkan perhatian? Bagaimana caranya?" tanya Risa, kebingungan mulai bercampur dengan rasa tidak nyaman.
Hardiman tidak menjawab pertanyaan itu. Ia justru menarik kursi tinggi di meja bar dan mendudukkan Risa di sana. "Sebelum kita berburu tikus, kita minum dulu. Ini sudah sore. Kamu pasti lelah setelah menyiram tanaman."
Tanpa menunggu persetujuan, Hardiman meletakkan dua gelas kristal yang elegan di meja. Di dalamnya sudah ada cairan berwarna kuning keemasan yang berkilauan.
"Apa ini, Pak Hardi?"
"Anggur. Sedikit, hanya untuk menghangatkan badan. Jangan cemas, Risa. Ini cuma jus anggur fermentasi. Dika sering meminumnya saat kita rapat. Kau tahu, untuk santai sedikit."
Risa ragu. Dika memang terkadang menerima minuman dari Hardiman saat rapat. Tetapi ia tidak pernah menyentuh alkohol. "Saya... tidak biasa, Pak Hardi."
"Cuma seteguk, Risa. Anggap saja sebagai tanda terima kasih karena kamu mau repot-repot datang. Aku tidak punya air putih dingin," desak Hardiman, matanya yang tajam menatap Risa dengan intensitas yang membuatnya sulit menolak.
Dipicu oleh rasa bersalah karena menolak kebaikan tetangga yang sudah menyelamatkannya dari kecelakaan, dan didorong oleh ketakutan jika menolak akan dicurigai, Risa akhirnya meraih gelas itu. Ia menyesapnya sedikit. Rasa manis dan asam bercampur dengan sensasi hangat yang segera menjalar dari tenggorokan ke perutnya. Rasanya aneh, tetapi tidak buruk.
"Nah, lihat? Tidak mematikan, kan?" Hardiman tersenyum penuh kemenangan, lalu meneguk habis minumannya.
Permainan Terlarang Dimulai
Rasa hangat itu perlahan mulai melonggarkan ketegangan di bahu Risa. Ia menjadi sedikit lebih santai, sedikit lebih berani.
"Tadi kamu bilang, kamu sering melamun di teras," ujar Hardiman, mengubah topik, matanya tak lepas dari Risa.
Risa terkejut. "Bapak melihat?"
"Tentu saja. Dari jendela kamarku. Kau tampak... kesepian, Risa. Itu membuatku sedih," katanya dengan nada yang mengandung empati palsu yang sangat meyakinkan.
"Tidak, saya tidak kesepian. Saya hanya memikirkan pekerjaan Mas Dika," elak Risa cepat.
Hardiman menghela napas panjang. "Dika pria baik. Tapi dia tidak melihatmu. Dia melihatmu sebagai fungsinya: istri, juru masak, pengurus rumah. Dia tidak melihat keindahan di balik mata itu." Hardiman mengangkat tangannya dan, dengan gerakan yang lembut namun pasti, menyentuh pipi Risa.
Risa membeku. Jantungnya berdebar kencang, kali ini bukan karena takut, melainkan karena terkejut oleh keintiman yang tiba-tiba dan tak terduga. Itu adalah sentuhan yang menghancurkan batas yang selama ini ia jaga.
"Jangan sentuh saya, Pak Hardi," Risa berbisik, mencoba menarik diri, tetapi tangannya yang lain menolak bekerja sama.
Hardiman mundur sedikit, tetapi hanya untuk memajukan wajahnya. Jarak mereka kini hanya sejengkal. Risa bisa merasakan napas Hardiman yang hangat dan beraroma anggur.
"Risa... aku ingin menunjukkan padamu bagaimana rasanya dilihat," bisik Hardiman, suaranya merayu.
Sebelum Risa sempat bereaksi, Hardiman melakukan hal yang tak pernah Risa bayangkan. Ia meraih tangan Risa yang bebas dan menuntunnya, bukan ke lemari es untuk tikus, melainkan ke ruangan di samping dapur: ruang hiburan.
Ruangan itu gelap, hanya diterangi oleh layar besar yang menampilkan film asing yang tengah diputar, volumenya dikecilkan. "Dika pasti tidak akan tahu. Dia tidak pernah datang ke rumahku saat ada film di sini," bisik Hardiman, memanfaatkan kepercayaan Dika sebagai senjata.
"Saya harus pulang, Pak Hardi. Mas Dika akan sebentar lagi pulang."
"Satu menit. Hanya satu menit. Aku hanya ingin menunjukkan padamu sesuatu yang indah," katanya. Ia menyalakan lampu redup di sudut ruangan, yang memberikan pencahayaan lembut yang romantis. Hardiman tidak lagi mencoba menyentuh Risa. Ia hanya berdiri, membiarkan Risa melihat keindahan ruangan itu.
Hardiman memutar musik, jazz yang melankolis dan sensual. Ia meraih kedua tangan Risa.
"Menari, Risa. Biarkan dirimu merasakan sesuatu selain rutinitas. Dika tidak pernah mengajakmu menari, kan?"
Risa kaget. Menari? Ia tidak pernah menari di luar tarian tradisional desa. Ia gugup, tetapi entah mengapa, musik itu menariknya. Hardiman mulai bergerak, perlahan, memimpinnya dalam tarian yang sangat lambat, hanya pergeseran kecil kaki. Tubuh mereka masih terpisah, tetapi kedekatan emosional yang diciptakan oleh irama itu sudah terasa membakar.
Hardiman berbicara lagi, kata-katanya mengalir seperti madu. "Kau tahu, Risa. Kenikmatan terlarang itu ada karena ia jauh lebih manis daripada yang biasa. Kau pantas merasakannya."
Ini bukan lagi tentang tikus. Ini adalah tentang permainan terlarang yang dimainkan Hardiman, permainan psikologis yang bertujuan menghancurkan pertahanan Risa, sedikit demi sedikit, menggunakan kelemahannya: kurangnya gairah dan perhatian dalam pernikahannya.
Melintasi Garis Merah
Risa tidak tahu berapa lama mereka menari. Mungkin hanya beberapa menit, tetapi di dalam ruang remang-remang itu, waktu terasa melebur. Hardiman semakin mendekat, tangan yang semula hanya memegang telapak tangannya kini melingkari pinggang Risa. Pipi Risa kini bersandar di dada Hardiman. Ia bisa mendengar detak jantung pria itu. Kencang.
Risa seharusnya berteriak, mendorongnya, dan lari. Tapi tubuhnya... tubuhnya menolak. Kehangatan yang menjalar dari kontak fisik itu adalah sensasi baru yang menenangkan dan, secara mengejutkan, memuaskan. Sentuhan Hardiman tidak kasar; itu adalah sentuhan pemuja, sentuhan yang mengatakan, "Aku melihatmu, dan aku menginginkanmu."
"Kamu sangat cantik, Risa," desah Hardiman di telinganya. "Sangat cantik. Jangan sembunyikan keindahan ini hanya untuk Dika yang bahkan tidak melihatnya."
Kalimat itu, yang memuji dan mencela Dika sekaligus, meruntuhkan benteng terakhir Risa. Rasa cemburu pada kehidupan yang lebih bergairah, rasa kurang dihargai oleh suaminya, semua berakumulasi dan meledak.
Risa mengangkat wajahnya, air mata hampir jatuh. Ia tidak menangis karena sedih, tetapi karena kebingungan.
Pada saat itulah, Hardiman mengambil langkah yang menentukan. Ia menunduk dan mencium Risa.
Ciuman itu seperti kejutan listrik. Ciuman itu tidak seperti ciuman-ciuman lembut, cepat, dan hampir bersifat kewajiban dari Dika. Ciuman Hardiman menuntut, panas, dan penuh gairah yang membakar. Rasa anggur dan peppermint membanjiri indranya.
Awalnya, Risa terpaksa. Ia menolak, tangannya menekan dada Hardiman. Ia adalah istri yang setia! Ia tidak bisa melakukan ini!
Namun, Hardiman adalah ahli. Ia tidak memaksa, tetapi ia merayu melalui sentuhannya. Ia memegang wajah Risa dengan lembut, seolah ia adalah harta karun yang rapuh. Ia memperdalam ciumannya, dan gelombang panas yang tak tertahankan menjalar ke seluruh tubuh Risa.
Dalam hitungan detik, penolakan Risa melemah. Kemudian, ia menemukan dirinya merespons. Ia memejamkan mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam kenikmatan terlarang yang baru saja ia cicipi. Semua prinsip, semua janji kesetiaan, terbang menjauh seiring dengan hasrat yang tiba-tiba membakar di dalam dirinya.
Sentuhan Hardiman terasa seperti api penyucian yang membakar habis kepolosan dan rasa malunya.
Ciuman itu berlangsung lama. Ketika akhirnya Hardiman melepaskannya, napas Risa tersengal-sengal. Wajahnya merah padam, bukan karena malu, tetapi karena gairah yang membangkitkan.
Hardiman tersenyum penuh kemenangan. "Lihat? Aku tahu kamu menginginkannya. Kamu hanya butuh seseorang untuk membangkitkan hasrat yang sudah lama tidur itu, Risa."
Candu dan Janji Rahasia
Sejak malam itu, Risa tidak bisa kembali seperti dulu lagi.
Tubuhnya telah merasakan candu dari perhatian intens Hardiman, dan ia merindukannya. Ia merindukan sentuhan yang mengakui eksistensinya sebagai wanita, bukan hanya sebagai istri. Ia merindukan kata-kata manis yang memujanya.
Hardiman, yang licik, tahu ia telah menang. Ia tidak memaksa lagi. Ia hanya menanam benih.
Keesokan harinya, Dika pulang seperti biasa. Risa melayaninya, tersenyum, tetapi di dalam dirinya ada kekosongan yang diisi oleh rasa bersalah yang manis. Di bawah selimut, sentuhan Dika terasa hambar dan dingin dibandingkan dengan api yang dinyalakan Hardiman.
Hardiman tidak menghubunginya secara langsung, tetapi ia mengirim sinyal. Di pagar rumah Risa, Risa menemukan setangkai bunga mawar merah yang terselip di antara dedaunan. Itu adalah bunga yang tidak tumbuh di Jatiwangi. Di bawahnya, sebuah pesan terselip di balik kertas kecil: "Aku menunggumu di teras senja. Dika tidak ada."
Pesan itu adalah undangan, ancaman, dan janji kenikmatan sekaligus.
Risa menghabiskan pagi dengan gelisah. Ia tahu itu salah. Ia adalah istri. Ia mencintai Dika, meski Dika kaku. Namun, hasrat yang dibangkitkan oleh Hardiman begitu kuat, begitu membara, sehingga ia merasa seperti ditarik oleh arus yang tak bisa ia lawan.
Saat senja menjelang, Dika pamit untuk rapat mendadak di kota. Ini adalah kesempatan yang disiapkan Hardiman.
Risa mengenakan pakaian terbaiknya, merapikan rambutnya, dan menatap cermin. Di pantulannya, ia melihat wanita yang berbeda-bukan lagi Risa yang polos dan pemalu, tetapi wanita dengan tatapan yang membangkitkan hasrat, yang siap mengambil risiko.
Ia keluar. Tidak ke terasnya sendiri, tetapi berjalan perlahan, dengan jantung berdebar kencang, menuju rumah Hardiman.
Ketika Risa mencapai pagar rumah Hardiman, pria itu sudah menunggu di terasnya, memegang dua gelas yang sama seperti kemarin.
"Aku tahu kamu akan datang," kata Hardiman, senyumnya menyiratkan kemenangan yang memuakkan.
"Saya... saya tidak bisa, Pak Hardi. Ini salah," bisik Risa, suara protesnya terdengar lemah.
Hardiman berjalan mendekat. Ia tidak menyentuh Risa kali ini. Ia hanya berdiri di antara Risa dan pintu rumahnya. Ia adalah penjaga gerbang menuju dunia terlarang.
"Tentu saja ini salah, Risa," katanya dengan suara lembut. "Tapi, salah itu terasa enak. Aku bisa memberimu apa yang tidak bisa diberikan Dika: gairah, pengakuan, dan kebebasan dari rutinitas. Dika memberimu keamanan. Aku memberimu hidup."
Risa terdiam. Perkataan Hardiman adalah kebenaran yang pahit dan merusak. Di satu sisi, ada keamanan Dika yang hambar. Di sisi lain, ada Hardiman, yang menjanjikan kehidupan yang membara.
Saat Hardiman mengulurkan tangannya, Risa tidak lagi menolak. Kali ini, ia tidak terpaksa. Perlahan, ia mengulurkan tangannya dan menyambut Hardiman.
Satu langkah kecil telah menghancurkan batas, dan Risa tak pernah bisa kembali seperti dulu lagi.
Hardiman tersenyum. Itu bukan senyum ramah tetangga, melainkan senyum seorang pemenang.
Anda Mungkin Juga Suka





