
Istri Bodoh Yang Terlalu Percaya Suaminya
Bab 3
Hidup Risa kini terbelah menjadi dua. Ada kehidupan siang hari-yang polos, sunyi, dan terikat pada rutinitas domestik bersama Dika di rumah kayu tua. Dan ada kehidupan senja-yang gelap, membara, penuh rahasia, dan terjadi di balik pintu rumah Hardiman yang modern.
Dika, dalam kepolosannya yang naif, sama sekali tidak mencurigai apa pun. Ia terlalu sibuk dengan pekerjaannya, terlalu yakin pada kesetiaan Risa, dan terlalu percaya pada keramahan Hardiman. Ironisnya, Hardiman menggunakan kepercayaan Dika sebagai kunci untuk membuka pintu kebahagiaan terlarang Risa.
"Aku akan rapat di kantor camat sampai larut," ujar Dika suatu malam, suaranya lelah. "Kau tidak perlu menungguku."
Risa mengangguk, menyajikan teh hangat. Di dalam dirinya, ia merasa mual karena kebohongan yang harus ia sembunyikan. Namun, di saat yang sama, jantungnya berdegup kencang karena antisipasi. Malam itu, Dika pergi, dan Hardiman akan datang.
Hardiman kini tidak lagi menunggu Risa di teras. Ia akan mengirim pesan singkat, kadang berupa kode ("Ada tikus baru di dapur") atau permintaan ("Aku butuh bantuan untuk mencicipi kopi baruku"). Risa akan selalu menemukan cara untuk memenuhinya.
Awalnya, Risa masih diliputi rasa bersalah yang menusuk. Setiap ciuman Hardiman terasa manis, tetapi meninggalkan jejak dosa yang pahit di lidahnya. Ia sering menangis setelah pulang ke rumah, menatap wajah Dika yang sedang tidur, dan merasa dirinya adalah makhluk paling hina.
Namun, Hardiman adalah ahli dalam mematikan hati nurani.
"Jangan menangis, Risa. Tangisan itu hanya buang-buang air mata," katanya suatu kali, saat Risa terisak di pelukannya. "Kau tidak mengambil apa-apa dari Dika. Dia tetap punya rumah, kehormatan, dan istri yang mengurusnya. Kau hanya mengambil kebahagiaan yang seharusnya milikmu."
Hardiman memutarbalikkan logika. Ia membuat Risa percaya bahwa perselingkuhan itu adalah haknya, sebuah bentuk kompensasi atas pernikahan yang hambar dan minim gairah. Dia meyakinkan Risa bahwa cinta suaminya adalah cinta yang dangkal, sementara cinta Hardiman adalah gairah yang sejati.
Tenggelam dalam Candu
Candu itu bukan hanya tentang sentuhan fisik, tetapi juga tentang perhatian yang utuh.
Hardiman memperlakukannya seperti ratu. Ia memuji pakaiannya, rambutnya, bahkan cara bicaranya. Ia mendengarkan cerita Risa tentang masa kecilnya, tentang mimpinya yang terkubur, dan tentang keinginannya untuk merasa dihargai. Dika tidak pernah punya waktu untuk detail-detail itu.
Di rumah Hardiman, Risa bisa menjadi siapa pun yang ia mau. Ia tidak harus menjadi Risa, si istri pemalu yang hanya berbicara seperlunya. Ia bisa menjadi wanita yang tertawa lepas, yang berani, dan yang penuh hasrat.
"Kamu bukan bunga desa yang layu, Risa. Kamu api yang selama ini dipendam," bisik Hardiman, sambil menatapnya dengan pandangan yang menggelorakan.
Hasrat itu mulai memengaruhi Risa secara fisik. Ia mulai memperhatikan penampilannya. Ia membeli lipstik berwarna cerah yang sebelumnya tak pernah ia sentuh. Ia mulai tersenyum lebih sering, meskipun senyum itu sering kali hanyalah topeng untuk menyembunyikan rahasianya.
Perubahan ini disadari oleh Dika, tetapi ditafsirkan salah.
"Kamu terlihat lebih segar belakangan ini, Sa," ujar Dika. "Mungkin karena sering olahraga, ya? Bagus. Lanjutkan."
Dika sama sekali tidak melihat kilatan berbahaya di mata Risa, yang merupakan refleksi dari gairah terlarang yang sedang ia jalani. Ia hanya melihat istri yang sehat.
Candu itu kini telah mengambil alih kendali Risa. Jika satu hari Hardiman tidak menghubungi, Risa akan gelisah, marah, dan merasa tidak berarti. Ia telah ketergantungan pada validasi Hardiman. Ia bahkan mulai membenci Dika. Bukan karena kesalahan Dika, melainkan karena kehadiran Dika adalah penghalang utama antara dirinya dan Hardiman.
Pertemuan Paling Berbahaya
Hubungan mereka semakin berani dan ceroboh. Mereka tidak hanya bertemu saat Dika pergi dinas luar kota. Mereka mulai bertemu di sela-sela rutinitas Dika, memanfaatkan waktu Dika shalat magrib di masjid atau saat Dika berkunjung ke rumah orang tuanya.
Suatu sore, adalah momen yang nyaris menghancurkan segalanya.
Risa dan Hardiman baru saja kembali dari kebun belakang rumah Hardiman-tempat yang mereka anggap aman karena tersembunyi dari pandangan tetangga-ketika mereka mendengar suara motor Dika.
"Dika sudah pulang! Astaga, ini masih jam lima sore! Dia bilang rapat sampai magrib!" Risa panik, wajahnya pucat pasi. Ia meraih tasnya dan mulai merapikan rambutnya yang sedikit kusut.
Hardiman, sebaliknya, terlihat tenang. "Tenang, Risa. Tarik napas. Jangan panik. Kepolosanmu adalah topeng terbaikmu."
Hardiman membimbing Risa ke pintu belakang. "Kau keluar lewat pintu belakang, langsung ke kebun kita. Kau bilang saja sedang memetik daun singkong."
"Tapi... aku tidak membawa keranjang!"
"Ambil saja beberapa helai daun, Risa. Sekarang, cepat!"
Risa berlari seperti kesetanan, melompati pagar rendah yang memisahkan kebun mereka. Ia tiba di dapur rumahnya dengan napas terengah-engah, wajahnya merah padam. Ia segera meraih pisau dan mulai memotong beberapa helai daun singkong.
Baru lima detik ia melakukan itu, pintu dapur terbuka. Dika berdiri di sana, menatapnya dengan bingung.
"Kenapa kamu memetik daun singkong, Sa? Itu kan belum waktunya makan malam," tanya Dika.
Risa hampir pingsan. Ia menoleh, berusaha tersenyum alami. "I-iya, Mas. Aku mau bikin lalapan dadakan. Tadi aku lihat di kebun... daun singkongnya bagus sekali."
"Kenapa wajahmu merah? Kamu lari?" tanya Dika, matanya meneliti.
Hardiman telah mengajarkan Risa cara berbohong: jujurlah pada hal kecil untuk menutupi kebohongan besar.
"Iya, Mas. Tadi aku dengar suara motor kamu, aku senang banget kamu pulang cepat. Aku lari dari belakang kebun karena nggak sabar mau kasih tau kalau aku mau masak lodeh kesukaanmu," jawab Risa, memberikan senyum paling manis yang ia punya.
Ekspresi Dika melunak. "Oh, benarkah? Kalau begitu, terima kasih, Sayang. Aku lupa dompetku ketinggalan, jadi aku balik sebentar. Aku harus segera kembali rapat."
Dika mendekat dan mencium kening Risa-ciuman yang lembut, cepat, dan tanpa hasrat. Ciuman itu terasa menjijikkan bagi Risa sekarang, setelah ia merasakan gairah Hardiman.
Setelah Dika pergi, Risa ambruk di kursi dapur. Ia selamat. Tapi insiden itu tidak membuatnya jera. Itu hanya membuatnya lebih hati-hati. Dan yang lebih parah, itu membuat tantangan ini terasa semakin menarik dan berbahaya.
Kontrol dan Manipulasi
Hardiman menggunakan insiden itu untuk semakin mengontrol Risa.
"Lihat? Kita hampir ketahuan, Risa. Kau ceroboh," Hardiman menegurnya keesokan harinya melalui telepon rahasia yang ia berikan pada Risa.
"Aku takut, Hardi," jawab Risa.
"Takut? Seharusnya tidak. Selama kau melakukan apa yang aku suruh, kita aman. Kau harus percaya padaku. Aku yang akan melindungimu. Dika tidak bisa. Dia bahkan tidak melihatmu."
Hardiman mulai mengatur seluruh komunikasi dan pertemuan mereka. Ia melarang Risa memakai parfum tertentu saat bertemu dengannya dan Dika pada saat bersamaan. Ia memaksa Risa membuat alasan yang rumit untuk menolak pertemuan keluarga atau kegiatan sosial yang mungkin membuatnya sulit menyelinap pergi.
Risa menyadari bahwa ia bukan lagi pasangan Hardiman, melainkan alat Hardiman untuk memuaskan hasratnya.
Licik adalah kata yang paling tepat untuk Hardiman. Ia tidak hanya bermain dengan Risa; ia juga bermain dengan Dika.
Suatu sore, Hardiman sengaja datang ke rumah Risa dan Dika membawa hadiah: sepasang sepatu mahal untuk Dika dan seperangkat alat masak untuk Risa.
"Sebagai tanda terima kasih karena Dika sudah membantuku mengurus izin gudang," kata Hardiman dengan senyum lebar, menepuk bahu Dika.
Risa tahu seperangkat alat masak itu bukanlah hadiah untuknya; itu adalah pajangan dan kode. Itu adalah pengakuan bahwa ia telah membeli kesetiaan Risa, dan Dika sama sekali tidak melihatnya.
"Terima kasih banyak, Pak Hardi. Anda benar-benar teman sejati," ujar Dika tulus.
Risa hanya bisa tersenyum kaku. Hardiman melirik Risa, dan di matanya ada kilatan kesenangan yang gelap.
Hardiman menunduk ke Risa. "Jangan lupa, Risa. Kenikmatan yang aku berikan adalah rahasia yang harus kamu jaga. Jika rahasia ini terbongkar, yang hancur bukan cuma Dika, tapi kamu sendiri. Kamu akan kehilangan segalanya: kehormatan, rumah, dan aku."
Itu adalah ancaman terang-terangan yang disamarkan dalam kepedulian. Hardiman telah mengikat Risa bukan hanya dengan candu, tetapi juga dengan ketakutan akan kehancuran sosial.
Titik Balik: Tidak Ada Jalan Kembali
Suatu malam, Dika pulang dari rapat dan menemukan Risa tertidur di sofa. Dika membangunkannya dan menyuruhnya pindah ke kamar. Saat Dika membopong Risa yang setengah sadar, Risa bergumam.
"Hardi... jangan pergi..."
Dika menghentikan langkahnya. "Hardi? Kamu mimpi tentang Hardiman?"
Risa membuka matanya lebar-lebar, kesadaran segera menyergapnya. Ia panik, mencari-cari alasan.
"I-iya, Mas. Aku mimpi buruk! Aku mimpi Pak Hardi jatuh ke sumur. Aku ketakutan sekali," Risa berbohong dengan cepat, memeluk Dika erat-erat untuk menyembunyikan wajahnya.
Dika tertawa pelan. "Ada-ada saja kamu, Sa. Hardiman kan sehat-sehat saja. Sudah, tidur. Kamu pasti lelah."
Risa terhindar dari bahaya lagi, tetapi insiden itu meninggalkan bekas. Malam itu, Risa tidak bisa tidur. Ia sadar betapa bahaya permainan yang ia mainkan.
Namun, alih-alih mengakhiri hubungan itu, Risa malah melakukan hal sebaliknya. Ia menghubungi Hardiman.
Risa: Kita hampir ketahuan. Aku takut.
Hardiman: (Membalas segera) Jangan takut, Sayang. Aku akan menjagamu. Sekarang, datanglah. Aku butuh kamu untuk menghilangkan rasa takut itu.
Risa melihat jam. Pukul 01.00 pagi. Dika tertidur pulas di sampingnya.
Ia bangkit perlahan, mengambil kunci serep rumah Hardiman yang diam-diam diberikan padanya. Ia mengenakan jaket tebal dan berjalan mengendap-endap keluar dari rumah.
Saat ia melangkahkan kaki di luar gerbangnya, menuju cahaya redup di rumah Hardiman, Risa tahu: ia tidak lagi kembali terpaksa. Ia pergi karena keinginan. Ia pergi karena candu itu telah sepenuhnya merasuk.
Dalam kegelapan malam itu, Nur yang polos telah mati. Yang tersisa hanyalah Risa-seorang wanita yang telah menyeberangi garis batas, yang kini menemukan kenikmatan terlarang jauh lebih memuaskan daripada janji surgawi.
Satu tatapan kini telah menjadi ratusan jam yang dihabiskan dalam rahasia, dan Risa telah sepenuhnya tenggelam. Ia tidak punya keinginan, dan mungkin tidak punya kesempatan, untuk kembali ke kehidupan yang lama.
Anda Mungkin Juga Suka





