Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Iparku Ayah Anakku

Iparku Ayah Anakku

Andini memulai babak baru sebagai sekretaris di kantor Rama, kakak iparnya sendiri. Namun, sebuah insiden fatal saat Rama mabuk membuat Andini mengandung darah dagingnya. Rama yang sangat mendambakan keturunan memohon agar Andini bersedia menjadi istri kedua. Terjepit antara rasa bersalah pada Anjani dan tuntutan situasi, Andini harus menghadapi dilema besar. Mampukah rahasia ini terkubur, ataukah pengkhianatan tak sengaja ini akan menghancurkan kebahagiaan kakaknya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Saat kesadarannya perlahan kembali, dia menyadari dirinya telanjang di bawah selimut. Kepanikan mulai merayap dalam benaknya.

"Nggak, ini nggak mungkin terjadi..." bisiknya pada dirinya sendiri, suara gemetar.

Andini terbangun dengan rasa sakit di seluruh tubuhnya, matahari pagi menyelinap melalui celah-celah tirai, menyinari kamar hotel yang sunyi.

Pikiran Andini segera kembali ke kejadian malam sebelumnya.

Dia ingat bagaimana Rama, dalam keadaan mabuk, mendekapnya erat, menindih tubuh mungilnya dengan tubuh besar yang penuh tenaga.

Dia bisa merasakan ciuman dan sentuhan kasar yang diterimanya tanpa daya. Setiap upaya untuk memberontak sia-sia, tangisannya teredam oleh kepanikan dan ketakutan yang melumpuhkan.

"Mas Rama, tolong! Jangan..." suaranya bergetar dalam ingatannya.

Namun, Rama dalam keadaan mabuk, tidak menyadari permohonannya. Dia terus melanjutkan aksi bejatnya, merampas kehormatan Andini dengan brutal.

Bagaimana mungkin... keperawanannya direnggut oleh kakak iparnya sendiri?!

"Ini salah! Dia kakak iparku!" pikiran itu menghantam Andini dengan kekuatan penuh.

Tubuhnya gemetar lebih keras, menyadari bahwa pria yang melukainya adalah suami dari kakaknya sendiri, Anjani.

Andini terisak, air mata mengalir deras di pipinya. Dia merasa kotor, dipermalukan, dan hancur.

Dia melihat ke arah Rama yang masih tertidur di sebelahnya, tubuhnya yang telanjang setengah tertutup selimut.

Dengan amarah dan kesedihan yang mendidih dalam hatinya, Andini segera meraih pakaian yang berserakan di lantai dan memakainya secepat mungkin.

Hatinya semakin tercabik-cabik melihat bercak darah disprei yang berwarna putih bersih. Pusat tubuhnya sangat sakit, tapi hatinya lebih hancur.

"Mas Rama! Bangun!" jerit Andini, suaranya pecah oleh isak tangis.

"Bangun dan jelaskan apa yang sudah kamu lakukan padaku!"

Rama terbangun dengan terkejut, mengerjap-ngerjapkan mata sambil mencoba memahami situasi.

Kepala berat karena mabuk, dia melihat Andini yang berdiri di hadapannya dengan mata bengkak karena menangis.

"Andin, apa yang terjadi?" tanya Rama dengan suara serak, bingung.

"Apa yang terjadi?!" Andini mengulang pertanyaan itu dengan marah, suaranya naik.

"Kamu yang seharusnya tahu! Kamu... kamu telah memperkosa aku, Mas! Kamu hancurkan hidup aku!!"

Rama terdiam, wajahnya berubah pucat.

"Nggak mungkin... saya... saya tidak mungkin melakukan itu..."

"Tapi kamu melakukannya, Mas!" Andini berteriak, air mata semakin deras.

"Kamu mabuk dan kamu... kamu memperkosaku. Aku mencoba melawan, aku mencoba menghentikanmu, tapi kamu terlalu kuat."

Rama menatap Andini dengan rasa bersalah yang mendalam. Dia menyadari bercak darah di sprei itu adalah milik Andini dan semuanya memang benar.

"Andin, saya... saya benar-benar tidak ingat apa-apa. Saya mabuk... Saya tidak sadar apa yang aku lakukan. Maafkan saya, Andini. saya... saya sangat menyesal.."

"Maaf?! Kamu pikir maaf bisa memperbaiki semuanya?! Kamu pikir maaf bisa mengembalikan keperawanan aku, Mas?!" Andini menggigit bibirnya, tubuhnya gemetar.

"Kamu sudah merusak segalanya. Kamu menghancurkan hidup aku, kehormatan aku. Bagaimana aku bisa menghadapi semua ini? Sedangkan kamu adalah kakak iparku, Mas! Bagaimana aku bisa menjelaskan ini pada kak Anjani? Bagaimana aku bisa menghadapi dia setelah ini, Mas?!"

Rama merasa panik.

"Andin, jangan.. jangan beritahu Anjani. Saya sangat mencintai dia, saya tidak mau kehilangan dia..."

Tanpa sadar, Rama menetaskan air mata. Semua ini sangat kalut, tidak ada yang mau mengalami ini.

"Saya akan bertanggung jawab, Andini. Saya akan melakukan apa saja untuk menebus kesalahan saya.."

"Kamu tidak mengerti! Ini bukan hanya tentang tanggung jawab atau konsekuensi. Kamu telah menghancurkan keluargaku, kepercayaan yang diberikan padamu. Aku tidak akan pernah bisa memaafkan kamu."

Dengan air mata yang masih mengalir, Andini bergegas keluar dari kamar hotel, meninggalkan Rama yang terpaku di tempatnya, diliputi rasa bersalah yang mendalam.

Suara pintu yang menutup keras menjadi tanda akhir dari sebuah kepercayaan yang hancur, meninggalkan luka yang mungkin takkan pernah sembuh.

***

"Mas, Andin mana kok sampai jam dua belas gini belum pulang?"

Anjani melihat jam dengan cemas, adik kesayangannya belum juga pulang padahal Rama sudah di rumah sejak pukul delapan malam tadi.

"Mungkin macet." Rama menjawab gugup. Dia sangat cemas, keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

Bagaimana tidak? Satu malam tidak sadar meniduri adik iparnya, dan sekarang perempuan 23 tahun itu belum juga pulang.

"Macet apa sampai tengah malam gini, Mas?! Kamu kasih dia kerjaan sebanyak apa?" Suara Anjani meninggi, kepanikan jelas terdengar.

Rama berusaha menenangkan istrinya, meskipun diam-diam ia juga lebih khawatir karena sudah pasti dirinya lah penyebab Andini tidak mau pulang.

"Sayang, mungkin Andin lagi ketemu sama teman-temannya—"

"Teman apa?! Andin baru di sini. Dia juga bukan anak malam yang suka keluyuran apalagi clubbing! Apalagi di luar sedang hujan deras, pokoknya aku mau cari Andin—"

"Jani... Sayang.." Rama mencoba membujuk dengan suara lebih lembut. "Biar saya yang cari Andin sekarang, ya. Ini sudah malam dan hujan deras di luar, kamu tunggu di rumah saja, ya?"

Anjani tetap keras kepala, tangannya sudah mengambil kunci mobil. "Nggak mau—"

"Saya mohon, sayang..." Rama meraih tangan istrinya, memandangnya dengan penuh permohonan.

Luluh, Anjani mengangguk dan membiarkan Rama mencari sang adik. Sejak kecil, Andini adalah anak yang manja dan tidak pernah keluyuran sampai malam seperti ini.

Rama segera menuju mobilnya, hatinya penuh dengan rasa bersalah dan kecemasan. Di tengah derasnya hujan dan angin kencang, ia berusaha mencari Andini meskipun tanpa tujuan yang pasti.

Meskipun kakak adik, Anjani dan Andini memiliki sifat yang sangat berbeda. Anjani selalu ceria dan tegas, sementara Andini pendiam dan penutup.

Tiba-tiba Rama melihat banyak mobil yang berhenti dan mengerumuni sesuatu meskipun hujan sedang sangat lebat.

Pria itu segera mengambil payung dan turun, perasaannya tidak enak.

"Buk, ada apa ya?" tanya Rama pada seorang ibu-ibu penjual tisu yang buru-buru ingin berteduh.

"Ada yang nabrak anak gadis, nggak mau tanggung jawab.." suara ibu itu terlebur hujan, dan Rama segera menerobos kerumunan untuk mencari tahu.

Dan siapa sangka orang yang dia cari-cari dan khawatirkan tengah terduduk di trotoar dengan kondisi basah kuyup dan tatapan kosong.

"ANDIN!" teriak Rama dan segera mendekatinya serta memayunginya.

"Kamu tidak apa-apa?! Apa ada yang terluka?!" Suara Rama penuh kekhawatiran, dia berusaha menatap mata Andini yang kosong.

Andini hanya menatap kosong. Dia seperti sudah kehilangan semangat hidup.

"Mas ini siapanya, ya? Kasihan mbaknya ini ditabrak, cuma bengong ditanyain nggak dijawab. Yang nabrak kabur, Mas." Jelas salah seorang pengendara baik hati yang menolong.

"S-saya... saya keluarganya, Pak. Terima kasih sudah membantu."

Rama kembali menatap Andini, hatinya semakin hancur melihat kondisi adik iparnya.

"Din... saya mohon berteduh dulu ya... saya mohon sekali. Tolong.."

Andini menatap Rama dengan tatapan marah dan penuh kekecewaan.

Dia merasa ingin marah bertemu lagi dengan kakak iparnya ini.

Namun sebelum dia sempat mengatakan apa-apa, dunia sekitarnya mulai berputar.

Detik selanjutnya, semuanya terasa berputar dan gelap. Andini pingsan diiringi teriakan panik semua orang.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dia Seharusnya Tidak Pernah Melepaskannya
9.1
Vovo dan Jasmine awalnya terjebak dalam romansa yang membara, hingga sebuah rahasia mengubah segalanya. Demi alasan keluarga, Vovo meminta perceraian formal dengan janji akan kembali. Namun, Jasmine yang terluka memilih pergi selamanya, bahkan menggugurkan kandungan mereka demi memulai hidup baru. Saat menyadari Jasmine benar-benar menghilang, Vovo hancur dalam penyesalan mendalam. Ia kini mengejar wanita yang pernah ia sia-siakan, memohon kesempatan yang mustahil.
Sampul Novel Diantara Larangan dan Perasaan
8.6
Menginjak usia 22 tahun seharusnya menjadi momen bahagia, namun hidupku berubah drastis saat paman menemukan buku harian rahasiaku. Setelah mengetahui perasaan cinta terlarang yang kupendam untuknya, ia mengambil tindakan tegas dengan mengirimku ke luar negeri. Tidak hanya itu, ia bahkan menghabiskan dana fantastis demi mempersiapkan pesta pernikahan yang sangat megah, lalu memutuskan untuk menikahi cinta pertamanya, meninggalkan diriku yang terasing bersama luka hati yang mendalam.
Sampul Novel Fajar Baru
9.1
Sophie Wilson mendedikasikan hidupnya demi Daniel Carter. Namun di ranjang kematiannya, kejutan pahit menanti. Alih-alih cinta, Daniel justru mengungkap penyesalan mendalam selama menjadi suaminya. Ia merindukan kehidupan sederhana bersama Lily Harvey, wanita yang dulu menyembunyikannya di desa nelayan. Meski Daniel sempat memilih kembali ke kemewahan bersama Sophie, di detik terakhir ia mengakui bahwa janji setianya hanyalah beban yang sangat melelahkan.
Sampul Novel Hasrat Nikmat Di Sekolah
8.2
Kehidupan di sebuah sekolah menengah ternyata menyimpan dinamika asmara yang tak terduga di balik ruang kelas. Meskipun suasana belajar dipenuhi keceriaan dan tingkah lucu para murid, para guru muda di sana memiliki sisi kehidupan personal yang jauh lebih intens. Hubungan romantis antar rekan kerja mulai bersemi dan berkembang menjadi kisah yang panas. Narasi ini menyoroti lika-liku cinta serta ketegangan emosional yang terjadi di antara para pendidik.
Sampul Novel Mendadak Presdir
9.7
Melly Sabira hidup dalam kekangan finansial oleh suaminya, Alan, serta penindasan dari kakak iparnya, Lian. Di tengah penderitaan tersebut, Melly diam-diam membangun bisnis kecantikan hingga sukses secara nasional. Konflik memuncak saat Lian mencoba menjodohkan Alan dengan Siska, yang ternyata bawahan Melly. Merasa terhina, Siska melakukan aksi kejam yang merenggut nyawa orang-orang terdekat Melly. Kini, Melly harus menghadapi tragedi besar di balik kesuksesannya.
Sampul Novel My Special CEO
9.7
Cleo Alineava Lynn, gadis bermata biru yang akrab disapa Cheva, lebih memilih bekerja di perusahaan luar daripada memimpin bisnisnya sendiri. Tak disangka, ia justru jatuh hati pada atasannya, Devan Eduardo Hutresky. Devan yang awalnya skeptis terhadap cinta pun terpikat sejak pertemuan pertama. Namun, asmara mereka tak berjalan mulus. Berbagai rintangan terus menguji ketahanan hubungan keduanya. Sanggupkah cinta menjadi alasan mereka bertahan, atau justru memicu perpisahan?