Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Iparku Ayah Anakku

Iparku Ayah Anakku

Andini memulai babak baru sebagai sekretaris di kantor Rama, kakak iparnya sendiri. Namun, sebuah insiden fatal saat Rama mabuk membuat Andini mengandung darah dagingnya. Rama yang sangat mendambakan keturunan memohon agar Andini bersedia menjadi istri kedua. Terjepit antara rasa bersalah pada Anjani dan tuntutan situasi, Andini harus menghadapi dilema besar. Mampukah rahasia ini terkubur, ataukah pengkhianatan tak sengaja ini akan menghancurkan kebahagiaan kakaknya?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Din, kamu udah sadar?"

Suara Rama penuh kepanikan dan kekhawatiran, gemetar saat dia menggenggam tangan Andini yang masih lemah.

Andini membuka matanya perlahan, melihat Rama duduk di samping tempat tidurnya dengan ekspresi lelah dan cemas.

"Mas...," suaranya serak, penuh kelemahan. "Aku di mana? Aku mau pergi—"

Andini mencoba untuk bangun, namun Rama segera menahannya dengan lembut.

"Kamu baru saja kecelakaan, Din. Tapi syukurlah tidak ada luka serius. Sekarang kamu di UGD. Kamu tadi pingsan. Dokter bilang kamu kecapean dan kedinginan karena kehujanan tadi," Rama menjelaskan, suaranya dingin namun bergetar penuh emosi.

"Aku harus segera pergi.."

"Andin.. Anjani sedang menuju ke sini.."

Mendengar nama kakaknya, jantung Andini berdetak kencang. Pikiran tentang Anjani membuat kepalanya berputar.

"Tolong, Andini, saya mohon... jangan kasih tahu Anjani tentang... tentang kita. Saya akan hancur kalau dia tahu. Tolong... demi Anjani... demi kita semua."

Andini menatap Rama dengan tatapan penuh kepedihan dan kemarahan.

Matanya berkaca-kaca, dan hatinya terasa hancur berkeping-keping.

"Mas... kamu pikir aku bisa hidup dengan kebohongan ini? Kamu pikir aku bisa terus berpura-pura? Ini semua salahmu! Kamu menghancurkan hidupku!" Suaranya pecah, menahan isak tangis yang semakin sulit ditahan.

"Andini, tolong... saya hanya ingin menyelamatkan rumah tangga kita. Saya tahu saya salah, tapi saya mohon... saya tidak bisa kehilangan Anjani," Rama memohon dengan penuh putus asa.

Air mata mulai mengalir deras dari mata Andini.

"Dan bagaimana dengan hidupku, Mas? Bagaimana dengan perasaanku? Kamu pikir aku bisa terus hidup dengan beban ini? Kamu egois!"

Belum sempat Rama menjawab, pintu ruangan terbuka dengan cepat, dan Anjani masuk dengan tergesa-gesa.

"Din! Ya Tuhan, kamu sudah sadar!"

Anjani segera menghampiri tempat tidur Andini dan memeluknya erat.

Air mata mengalir di pipinya, mencerminkan kekhawatiran dan kasih sayangnya yang mendalam.

"Kamu nggak apa-apa, dek? Kakak khawatir banget. Kamu tadi kok bisa diserempet sih? Untungnya Mas Rama nemuin kamu."

Andini merasa kepalanya berat, hatinya semakin hancur mendengar kekhawatiran kakaknya.

Dia hanya bisa mengangguk pelan, tidak tahu harus mengatakan apa.

Rama berdiri, berusaha menenangkan dirinya. Anjani menatap Rama dengan penuh terima kasih.

"Terima kasih, Mas. Kamu memang suami yang baik," ucapnya sambil memeluk Rama dengan penuh rasa syukur.

Rama hanya bisa tersenyum kaku, hatinya penuh rasa bersalah.

Andini memejamkan matanya, air mata mengalir perlahan di pipinya. Namun, demi kakaknya, dia tahu dia harus bertahan.

"Kak, aku mau pergi."

Andini mencoba bangkit, berniat berdiri dari tempat tidurnya.

"Loh, loh, Din. Memang udah boleh pulang ya, Mas?" Anjani melirik ke Rama dengan panik.

"Tadi dokter mengatakan kalau Andin sudah merasa lebih baik, sudah boleh pulang," jawab Rama, berusaha terdengar meyakinkan.

"Aku nggak apa-apa kok, kak." Andini berusaha meyakinkan kakaknya yang sangat khawatir.

"Beneran? Yaudah kita pulang sekarang biar kamu bisa istirahat di rumah, ya."

"Aku mau pulang ke kos, kak. Aku... tadi udah cari kosan—"

"Kos?!" Anjani terkejut, "Kamu ngomong apa sih, dek? Kos apa sih? Kakak udah bilang tinggal sama kakak aja. Pergaulan di luar itu bahaya. Kakak nggak bisa percaya dan biarin kamu tinggal sendirian. Jangan aneh-aneh ah ngomongnya. Apalagi kamu lagi sakit gini. Udah nggak usah ngelantur, kamu lagi kecapean aja ini. Ayo kita pulang ke rumah kakak sekarang."

Anjani mengomel seperti biasanya, tidak mau mendengar penjelasan Andini perihal kos. Rasa khawatirnya membuatnya enggan mendengarkan.

"Mas, tolong bantu papah Andin biar aku yang nebus obatnya, ya," pinta Anjani kepada Rama, yang langsung mengangguk.

Rama merangkul bahu Andini dengan lembut, berusaha memberi dukungan meski dirinya sendiri merasa tertekan.

Mereka berjalan perlahan menuju pintu keluar, namun baru beberapa langkah, Andini tiba-tiba meringis kesakitan, membuatnya berhenti sejenak.

Sakit dari pusat tubuhnya karena malam itu masih sangat sakit.

"Ahh.." Andini meringis.

"Kenapa, dek? Ada yang luka?" Anjani bertambah panik, cepat-cepat meneliti tubuh adiknya untuk mencari luka tambahan.

"Mas! Kamu bilang Andin nggak ada luka karena kecelakaan tadi, cuma pingsan karena kecapekan. Gimana sih dokternya periksanya?! Mana yang sakit bilang ke kakak. Kakak bisa cari yang nabrak kamu dan minta tuntut—"

"Kak.. Aku nggak papa. Maaf bikin khawatir."

Andini menunduk, merasa bersalah melihat reaksi panik kakaknya.

"Beneran, Din?" Anjani memastikan sekali lagi, tatapannya masih penuh kecemasan.

"Iya, kak." Kali ini, Andini menjawabnya dengan senyuman yang berusaha menenangkan.

Anjani akhirnya merasa sedikit lega, meski masih terlihat khawatir. "Yaudah deh, kalau kamu memang sudah merasa lebih baik. Tapi nanti jangan terlalu memaksakan diri. Ayo kita pulang."

Mereka meninggalkan ruang UGD, sementara Andini merasakan kepalanya masih pusing, tetapi dia tahu, demi kakaknya dan rasa tanggung jawab yang harus dihadapinya, dia harus kuat.

***

"Lo nggak takut, Jan?"

Tiwi, sahabat Anjani sejak kuliah, menatapnya dengan cemas saat mereka duduk di kafe yang nyaman, menyesap kopi mereka setelah Anjani selesai kontrol program hamil.

"Takut apa?" Anjani menatap Tiwi dengan bingung, sambil menikmati kopinya yang lembut.

Sebagai istri direktur, keseharian Anjani kini tak jauh dari shopping, ngopi cantik, dan perawatan di salon.

Kehidupan yang mewah namun terasa hampa bagi sebagian orang.

"Anjani, dengerin gue," Tiwi mencondongkan tubuhnya ke depan, menurunkan suaranya.

"Adik lo yang baru 23 tahun, cuma beda 6 tahun sama suami lo, sekarang jadi sekretaris dia dan lebih parahnya lagi tinggal serumah."

Tiwi mewanti-wanti sambil sibuk memangku anaknya yang berusia 3 tahun, yang tak bisa lepas dari gendongannya.

Sebagai ibu baru, dia harus membawa anaknya ke mana pun dia pergi.

"Ya ampun, Wi," Anjani tertawa kecil, gelengan kepalanya mencerminkan betapa tak masuk akalnya kekhawatiran Tiwi.

"Di rumah nggak cuma berdua doang. Ada gue, kakaknya Andin, istrinya Mas Rama. Ada mbok Yem juga, dan Pak Kus, supir juga tinggal di sana. Lagian, kamar gue sama Mas Rama di lantai dua, sedangkan kamar Andin di lantai bawah di kamar tamu karena dia nggak mau di atas. Maksud lo, Mas Rama malem-malem menyelinap ke kamar Andin gitu? Ngaco lo, Wi."

Tiwi mengernyitkan kening, tapi dia tidak menyerah.

"Lo tau nggak kerjaan sekretaris apa? 24/7 nempel sama bosnya, alias laki lo."

Anjani terdiam..

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95LDN" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95LDN
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Dia Seharusnya Tidak Pernah Melepaskannya
9.1
Vovo dan Jasmine awalnya terjebak dalam romansa yang membara, hingga sebuah rahasia mengubah segalanya. Demi alasan keluarga, Vovo meminta perceraian formal dengan janji akan kembali. Namun, Jasmine yang terluka memilih pergi selamanya, bahkan menggugurkan kandungan mereka demi memulai hidup baru. Saat menyadari Jasmine benar-benar menghilang, Vovo hancur dalam penyesalan mendalam. Ia kini mengejar wanita yang pernah ia sia-siakan, memohon kesempatan yang mustahil.
Sampul Novel Diantara Larangan dan Perasaan
8.6
Menginjak usia 22 tahun seharusnya menjadi momen bahagia, namun hidupku berubah drastis saat paman menemukan buku harian rahasiaku. Setelah mengetahui perasaan cinta terlarang yang kupendam untuknya, ia mengambil tindakan tegas dengan mengirimku ke luar negeri. Tidak hanya itu, ia bahkan menghabiskan dana fantastis demi mempersiapkan pesta pernikahan yang sangat megah, lalu memutuskan untuk menikahi cinta pertamanya, meninggalkan diriku yang terasing bersama luka hati yang mendalam.
Sampul Novel Fajar Baru
9.1
Sophie Wilson mendedikasikan hidupnya demi Daniel Carter. Namun di ranjang kematiannya, kejutan pahit menanti. Alih-alih cinta, Daniel justru mengungkap penyesalan mendalam selama menjadi suaminya. Ia merindukan kehidupan sederhana bersama Lily Harvey, wanita yang dulu menyembunyikannya di desa nelayan. Meski Daniel sempat memilih kembali ke kemewahan bersama Sophie, di detik terakhir ia mengakui bahwa janji setianya hanyalah beban yang sangat melelahkan.
Sampul Novel Hasrat Nikmat Di Sekolah
8.2
Kehidupan di sebuah sekolah menengah ternyata menyimpan dinamika asmara yang tak terduga di balik ruang kelas. Meskipun suasana belajar dipenuhi keceriaan dan tingkah lucu para murid, para guru muda di sana memiliki sisi kehidupan personal yang jauh lebih intens. Hubungan romantis antar rekan kerja mulai bersemi dan berkembang menjadi kisah yang panas. Narasi ini menyoroti lika-liku cinta serta ketegangan emosional yang terjadi di antara para pendidik.
Sampul Novel Mendadak Presdir
9.7
Melly Sabira hidup dalam kekangan finansial oleh suaminya, Alan, serta penindasan dari kakak iparnya, Lian. Di tengah penderitaan tersebut, Melly diam-diam membangun bisnis kecantikan hingga sukses secara nasional. Konflik memuncak saat Lian mencoba menjodohkan Alan dengan Siska, yang ternyata bawahan Melly. Merasa terhina, Siska melakukan aksi kejam yang merenggut nyawa orang-orang terdekat Melly. Kini, Melly harus menghadapi tragedi besar di balik kesuksesannya.
Sampul Novel My Special CEO
9.7
Cleo Alineava Lynn, gadis bermata biru yang akrab disapa Cheva, lebih memilih bekerja di perusahaan luar daripada memimpin bisnisnya sendiri. Tak disangka, ia justru jatuh hati pada atasannya, Devan Eduardo Hutresky. Devan yang awalnya skeptis terhadap cinta pun terpikat sejak pertemuan pertama. Namun, asmara mereka tak berjalan mulus. Berbagai rintangan terus menguji ketahanan hubungan keduanya. Sanggupkah cinta menjadi alasan mereka bertahan, atau justru memicu perpisahan?