
Ipar adalah Maut Pernikahan
Bab 2
Pagi menjelang, cahaya matahari menerobos tirai yang setengah tertutup. Dian membuka matanya perlahan, merasakan tubuhnya yang lelah setelah malam panjang penuh dosa. Di sampingnya, Raihan masih tertidur, wajahnya tampak damai seolah tanpa beban.
Dian menatap langit-langit kamar dengan hati penuh penyesalan. Apa yang sudah kulakukan? pikirnya, menggigit bibir bawahnya untuk menahan rasa bersalah yang kini menyergap. Ia ingin menyalahkan keadaan, namun hatinya tahu, ia telah menyerah pada godaan yang tak seharusnya.
Raihan mulai bergerak, matanya terbuka perlahan. Saat melihat Dian yang masih terbaring di sampingnya, ia tersenyum kecil. "Pagi, Dian," sapanya lembut, tangannya terulur menyentuh rambutnya.
Dian segera bangkit, menjauhkan tubuhnya dari Raihan. "Mas, kita nggak boleh terus begini," ucapnya dengan nada gemetar, menutupi tubuhnya dengan selimut. "Ini salah. Kita harus berhenti."
Raihan duduk, tatapannya berubah serius. "Dian, aku tahu ini salah. Tapi apa kamu bisa bilang kamu nggak merasa apa-apa semalam? Aku mencintaimu, dan aku tahu kamu juga mencintaiku."
"Mas, jangan ngomong gitu," potong Dian cepat, suaranya mulai meninggi. "Aku nggak mau ini terus terjadi. Aku nggak mau menghancurkan Galih... atau Kak Laras."
"Dian, aku tahu kamu nggak bahagia dengan Galih," ujar Raihan, suaranya rendah namun penuh emosi. "Aku juga nggak bahagia dengan Laras. Kamu tahu itu."
Dian menggeleng, air mata mulai membasahi pipinya. "Tapi itu nggak berarti kita bisa begini, Mas. Kita punya keluarga. Kita punya tanggung jawab."
Raihan berdiri, mendekati Dian yang masih duduk di tepi ranjang. Ia memegang kedua bahunya dengan lembut, memaksa Dian untuk menatapnya. "Dian, aku janji aku nggak akan pernah menyakitimu. Kalau kamu mau, aku bahkan siap meninggalkan semuanya demi kamu."
Mata Dian membelalak mendengar kata-kata itu. "Mas, jangan gila! Kamu nggak bisa bilang hal seperti itu!"
"Aku serius, Dian," Raihan menegaskan. "Aku nggak peduli dengan apa yang orang lain pikirkan. Yang penting buatku adalah kamu."
Namun, sebelum Dian sempat merespons, suara langkah kaki terdengar mendekat dari luar kamar. Mereka saling berpandangan dengan panik.
"Dian?" terdengar suara Laras memanggil dari luar pintu. "Kamu di dalam?"
Dian buru-buru menarik pakaiannya yang berserakan di lantai, sementara Raihan bergegas menuju jendela untuk memastikan keadaan aman. "Aku di sini, Kak," jawab Dian dengan suara setenang mungkin, meski hatinya berdebar kencang.
Pintu kamar terbuka perlahan, memperlihatkan Laras yang duduk di kursi rodanya. Wajahnya terlihat pucat, namun tetap menunjukkan senyum hangat.
"Kakak pikir kamu sudah bangun. Aku mau ajak sarapan bareng," ucap Laras pelan, tak menyadari suasana tegang di dalam kamar itu.
Dian mengangguk canggung. "Aku... aku akan segera keluar, Kak. Tunggu sebentar, ya."
Laras tersenyum dan memutar kursi rodanya, meninggalkan mereka. Begitu pintu tertutup, Dian menoleh ke arah Raihan yang masih berdiri di sudut kamar.
"Mas, tolong jangan pernah datang ke kamarku lagi," pinta Dian dengan suara pelan namun penuh tekanan. "Aku nggak mau Kak Laras tahu... atau Galih."
Raihan menatapnya dengan raut wajah penuh luka. Namun, ia mengangguk perlahan, meski dalam hatinya, ia tahu bahwa perasaannya pada Dian terlalu dalam untuk diabaikan.
Dian duduk kembali di ranjang, memegang kepalanya yang terasa berat. Ia tahu, malam itu hanyalah awal dari kekacauan yang akan menghantui hidupnya.
Anda Mungkin Juga Suka





