
Intermezzo ( Antologi Cerpen )
Bab 2
Siang ini, aku masih di sibukkan dengan pekerjaan di kantor. Bahkan aku seakan tak punya waktu untuk sekadar makan siang. Yup…biasalah, ini akhir bulan dan pekerjaan sebagai admin tentu lebih banyak dari biasanya. Ada begitu banyak data yang harus di rekap dan lain-lain.
Namun di sela kesibukan itu tiba-tiba aku mendapat satu pesan chat dari sahabatku.
-Riska
‘Lana, kayaknya udah nggak ada gunanya kamu mempertahankan cowok gamon itu. Udah berapa kali dia ketahuan begini, tapi di ulangin terus. Kamu nggak capek apa?’
Chat itu masuk bersamaan dengan foto kekasihku dengan seorang wanita di cafe.
Untuk kesekian kalinya, Kenzo kedapatan oleh temanku tengah bersama mantannya. Dan percaya atau tidak, tadi pagi dia mengaku sedang sakit, hingga tak bisa menjemputku. Ternyata itu kebohongan yang dia buat untuk kesekian kalinya. Dan lucunya, dia punya banyak sekali waktu, dan kesehatan yang cukup untuk menghabiskan waktu bersama perempuan itu.
Huft…kepalaku yang tadinya pening karena pekerjaan yang menumpuk, kini semakin bertambah pening. Kenzo sungguh kelewatan. Lihat saja, aku tak akan diam lagi kali ini.
***
Sore harinya, entah ada angin apa laki-laki itu tiba-tiba datang menjemputku tanpa perlu aku minta. Senyumnya tampak semringah saat melihatku. Ahh…entahlah, aku nyaris tak bisa membedakan senyumnya kali ini karena memang senang melihatku atau karena hatinya sedang berbunga-bunga lantaran sudah menghabiskan waktu seharian bersama sang mantan.
“Kamu kenapa ke sini?” tanyaku pura-pura bodoh.
“Jemput kamulah. Apa lagi?” sahutnya masih dengan senyum lebarnya itu. Biasanya aku senang melihatnya tersenyum riang seperti itu, tapi kali ini aku muak. Sungguh.
“Tumben banget. Biasanya kamu nggak pernah ke sini kalau nggak aku minta.”
“Ya kan biar surprise. Lagian udah lama kita nggak keliling kota sore-sore naik skuter aku ini.”
“Surprise, atau kamu kebetulan aja habis ketemu orang di dekat sini?” tanyaku mencoba menyindir dengan halus.
“Ya nggak lah, aku emang cuman mau jemput kamu."
Ok, kali ini dia kembali sukses membuat alasan menutupi kebohongannya. Jika tak ada laporan dari Riska mungkin aku juga akan tertipu.
“Aku capek. Aku mau pulang aja,” ucapku yang sudah tidak mood menghabiskan waktu terlalu banyak dengannya.
Dia diam sejenak, mungkin dia menyadari perubahan suasana hatiku hari ini. Walau sering menipuku, Kenzo itu cukup peka dengan perasaanku. Sayangnya dia tidak bisa menjaga baik-baik perasaanku.
Kamipun pulang dengan mengendarai skuter hitam miliknya. Sepanjang perjalanan aku memilih bungkam, sekalipun bicara aku hanya akan menjawab dengan 3 kata. Iya, tidak, dan entahlah. Mungkin Kenzo akan bosan dengan jawabanku. Tapi percayalah itu akan lebih baik untukmu Ken, daripada aku memakimu di sepanjang perjalanan ini.
Akhirnya, kami tiba di rumah. Aku memandanginya sebentar,"Kamu langsung pulang aja, aku mau istirahat jadi nggak bisa nemenin kamu ngobrol kayak biasanya."
Dia diam, namun menatapku heran. Dia pasti sudah bisa menebak kalau aku sedang tidak baik-baik saja. Masa' bodoh, aku hanya ingin dia pulang saja dulu. Aku sudah tidak ada tenaga untuk memulai pertengkaran hari ini. Tenaga dan pikiranku sudah terkuras habis di kantor tadi.
“Ok. Kamu jangan telat makan.”
Aku mengangguk pelan lalu kemudian bergegas masuk ke dalam rumah. Sungguh…tak hanya pikiran dan badan saja yang capek hari ini, tapi hati juga. Huft…
***
Weekend. Waktu yang tepat untuk bersantai ria dan melepaskan penat dari segala macam rutinitas. Namun bukannya bersantai, aku justru memilih menguji kesabaranku dengan mengajak Kenzo bertemu setelah beberapa hari aku bersikap dingin padanya. Dan luar biasanya, bukannya berusaha membujuk dia justru semakin rutin menemui mantannya.
Aku sangat berterima kasih karena dari dulu Riska memang sering datang ke cafe ini untuk bekerja. Yup…temanku itu seorang freelance content writer. Jadi dia bisa menyelesaikan pekerjaannya di mana saja.
Aku sengaja memilih cafe yang sama yang sering di datangi Kenzo bersama mantannya itu. Ya…itung-itung dia peka kenapa aku tiba-tiba mengajaknya bertemu di sini.
“Kamu sebenarnya kenapa?” tanyanya membuka obrolan.
Finally, pertanyaan itu lah yang sudah aku tunggu sejak beberapa hari yang lalu.
“Kamu yang sebenarnya kenapa?” Aku belagak bodoh dan sengaja balik bertanya.
“Aku? Kenapa jadi aku? Kamu sendiri yang beberapa hari ini cuek dan dingin sama aku."
See…dia sadar betul dengan perubahan sikapku, tapi lucunya dia tak berbuat apa-apa untuk memperbaikinya.
“Cafe ini bagus ya, kamu sering ke sini?”
Dia menggeleng dengan wajah serius,"Nggak. Ini malah pertama kalinya aku ke sini."
Aku mengangguk-anggukkan kepala,"Hmmm…pertama kali ya. Berarti, teman aku sering salah lihat donk."
“Maksud kamu?” Kali ini raut wajahnya mulai berubah heran.
Aku diam kali ini, aku mengeluarkan ponselku lalu menunjukkan foto-foto yang di kirim Riska padaku. Dia diam, air mukanya tampak tak tenang. Dia pasti sedang memutar otak untuk mencari alasan paling logis.
“Kamu kan nggak pernah cerita kalau kamu punya kembaran. So…yang ada di foto ini kalau bukan kamu, siapa lagi?”
“Alana, She's just my ex. You know that, right? Dan ki-kita juga ketemu cuman karena dia minta tolong aja sama aku. Bu-buat.”
Aku menghembuskan nafas kasar, aku mulai gerah mendengar segala macam alsannya, "Enough, Ken!!"
Dia diam dengan raut muka panik.
Jujur saja, jika perasaan yang bermain sekarang mungkin aku akan memilih untuk stay. Tapi ternyata logikaku lebih mendominasi di sini. Mungkin karena sudah capek lantaran terus dibohongi.
“Kamu bilang, She's just your ex. Tapi cara kamu memperlakukan dia, tidak seperti status hubungan kalian itu.”
“Please, Lana. Trust me,” mohonnya berharap aku akan mempercayainya.
Apa aku peduli? Ya, sedikit. Tapi…apa aku akan percaya? Of course not. Buang jauh-jauh harapan itu karena aku sudah berhenti mempercayainya.
"Ini bukan kali pertama kamu lebih mementingkan dia ketimbang aku, Ken. Aku capek. Aku ngerasa jadi cewek paling bego' kalau aku tetap percaya sama kamu dan memberi kamu kesempatan lagi dan lagi."
“Lan, aku janji akan berubah setelah ini. Aku akan lebih memprioritaskan kamu.”
Aku terkekeh,"Kamu bercanda? Kamu lupa sudah berapa kali kamu melanggar janji itu?"
“…”
“Come on, Ken. Wake up. Sejak awal, kamu sendiri yang memutuskan buat membuka jalan balik ke masa lalu kamu. Tanpa pernah tahu, aku berjuang sendirian buat masa depan hubungan ini.”
“Lana aku-,”
“Cukup!! Aku nggak akan mau dengar lagi. Silakan balik ke masa lalu kamu dan jangan halangi aku buat ngeraih kebahagiaan aku sendiri.”
Aku memilih pergi setelah mengeluarkan semua uneg-unegku selama 1 tahun belakangan ini.
I'm really sorry Ken. But…I have to say goodbye.
***
Anda Mungkin Juga Suka





