
Indra, Reinkarnasi Tiga Dewa
Bab 3
Beruang raksasa itu tidak membunuhku melainkan membawaku ke depan wajahnya. Kakiku menerima lembut bulu tangannya.
"Terima kasih, kamu sudah menyelamatkan aku."
Ia bisa berbicara, aku yakin tidak salah dengar.
"Kamu sudah membebaskanku dari virus iblis." Suaranya bergemah.
"Virus iblis? Apa yang kau maksud?" Aku tidak yakin dia bisa mengerti bahasaku.
"Virus iblis adalah virus yang dapat menyerang orang atau hewan yang jiwanya memiliki rasa dendam, kebencian, energi negatif yang berlebihan."
Dia menjawabnya itu berarti beruang ini mengerti bahasaku.
"Anak-anakku membutuhkanku, jika aku mati tidak ada yang merawatnya, maka izinkan aku hidup dan pergi dari sini."
Dia seorang ibu, anak-anaknya akan sedih jika ibunya tiada. Aku sangat memahami itu. Lalu bagaimana dengan kerusakan ini. Hutan kehidupan sudah pasti memaafkannya, tapi ras Triton terluka parah, desanya hancur, mereka tidak mudah mengikhlaskan perbuatan beruang ini.
Jika aku punya ibu, pasti ibuku sangat menyayangiku, dia akan melakukan apa saja demi anaknya. Ibu akan mencari ramuan supaya tubuhku lebih tinggi.
"Aku memaafkanmu, pergilah." ucapku setelah memikirkannya.
"Kamu memang anak yang baik, Indra, atas kebaikanmu, aku memberikan Anugerahku padamu."
Beruang itu mengeluarkan cahaya putih, lalu cahaya itu merasuki tubuhku melalui tangan. Selama dua detik, kedua tanganku panas, terasa tertusuk-tusuk, aku tidak kuat menahannya, menjerit sekencang-kencangnya. Apa yang dia berikan padaku?
Beruang itu menyusut. Ukuran tubuhnya menjadi normal. Matanya yang hitam legam berubah coklat, begitu juga dengan bulunya.
Beruang itu berlari meninggalkan desa. Ras Triton terdiam, puluhan mata memandangku. Desa kami hancur, puluhan orang terluka parah, lalu pelakunya dibiarkan pergi begitu saja. Respon mereka padaku sudah sangat wajar.
"Kau membiarkan dia pergi." Guru berbicara sambil mengatur nafasnya, matanya layu menatapku.
Mereka terdiam sunyi, tidak ada sambutan untuk kemenangan ini. Mereka yang terluka perlahan bangkit, mengatur napas. Pohon-pohon yang tumbang dan hancur mulai tumbuh kembali, begitu juga dengan luka di tubuh mereka, sembuh dengan cepat.
"Beruang itu bisa bicara, dia minta tolong padaku untuk membebaskannya. Anak-anaknya sedang menunggu. Jika ia mati, kasihan mereka. Betapa sedih anak-anak itu jika ibunya tiada, aku sangat memahami perasaannya." Semoga kata-kata dan wajahku yang memelas bisa membuat ras Triton bersimpati pada beruang itu.
"Kami tidak berhak menghukum dia. Hutan kehidupan ini hakimnya, jika ia memaafkan berungan itu, kami dengan senang hati menerima keputusannya." Salah satu ibu berbicara.
Aku dapat bernapas lega. Mereka tidak marah padaku. Hutan kehidupan ini sudah pasti memaafkan beruang itu. Lihatlah, dia tidak tercekik oleh akar berduri, atau terpukul oleh batang pohon besar.
"Aku berjanji, apabila beruang itu datang lagi aku akan membunuhnya. Kalian tahu kan aku ini hebat, aku bisa menghancurkan batu besar dengan sekali pukul."
"Si pendek memang hebat."
"Jangan memanggilku pendek!"
Mereka tertawa.
Tidak sulit bagi mereka untuk mengembalikan kerusakan ini seperti semula. Tumbuhan yang rusak akan menyembuhkan dirinya sendiri, batang pohon yang bolong mulai tertutup, tumbuhan tumbang kembali hidup.
Ras Triton menggunakan sihir mereka untuk membuat rumah, tinggal meletakkan tangan mereka ke batang pohon, batang itu terbuka layaknya sebuah tirai yang ditarik.
Ras Triton tidak bisa meninggalkan hutan kehidupan. Karena pendahulu mereka tercipta di dalam hutan ini. Hidup mereka sudah diatur. Hutan ini yang memberikan mereka segalanya.
Untuk merayakan kemenanganku, mereka mengadakan makan malam besar-besaran di halaman. Berbagai sayur-mayur terpampang di atas meja panjang.
"Ayo bersorak untuk Indra."
"Iya, untuk si pendek."
Mereka bersorak-sorai mengangkat sendok dan garpu. Tertawa terbahak-bahak melihat wajahku yang masam. Anak-anak berlarian di sekitar pesta.
"Krok-krok."
"Krok-krok."
"Krok-krok."
"Nago berbunyi, nago berbunyi." Anak-anak mendekati patung katak besar di sudut desa. Benda itu mengeluarkan kertas dari mulutnya.
"Biar aku lihat." Guru mengambil kertas itu dari tangan anak-anak yang terdahulu mengambilnya.
"Ada berita apa?"
Mata guru menyelisik membaca berita tersebut.
"Putri Kerajaan Manggo hilang, mereka memberikan hadiah seribu bat bagi siapapun yang menemukannya."
Seribu bat, itu banyak sekali. Aku sepontan berdiri, lalu bertanya. "Apa ada gambar wajah putri itu?" Kalau aku bisa menemukannya aku akan menjadi kaya.
Guru menggeleng.
"Bagaimana kita mencarinya kalau tidak ada gambarnya." Aku kecewa, kembali menghempaskan punggung di kursi kayu.
"Kita tidak membutuhkan uang itu. Hutan kehidupan sudah memberikan segalanya untuk kita."
"Iya benar. Ayo kita bersorak lagi untuk si pendek."
"Yaaaaa!"
Mereka kembali tertawa meramaikan pesta.
"Kenapa wajah kamu murung, Indra." Guru menarik kursi di sampingku. "Apa memikirkan undian itu?"
Aku tidak terlalu peduli dengan undian yang menggiurkan itu, pasti banyak sekali yang mencari putri Kerajaan Manggo, dia akan cepat ditemukan. Tapi ada yang mengganggu pikiranku, mengenai beruang raksasa itu.
"Apa guru tau tentang virus iblis?" Aku langsung bertanya apa yang aku pikirkan sejak tadi.
Sudah aku duga, guru pasti mengetahuinya, dia mengangguk dengan mata kosong memandang meja kayu.
Pagi hari, sebelum matahari bangun seutuhnya. Aku melakukan aktifitas yang sudah lama aku tekunin, yaitu berlatih bersama guru.
Aku mengingat perkataan kakek waktu aku malas berlatih, dia kata. "Ilmu itu tidak ada batasnya, jika kamu berpikir bahwa dirimu sudah hebat, itu adalah awal kesombonganmu mulai tumbuh."
Aku tidak mengerti yang kakek katakan, aku memang hebat, pukulanku kuat, bisa menghancurkan batu besar sampai berkeping-keping.
"Coba kamu daki pohon ini sampai kepuncaknya, Indra." ucap guru.
"Aku sudah pernah memanjat pohon itu, guru. Waktu latihan pertama, apa guru tidak ingat?" tanyaku.
"Saat itu kamu tidak menyadari apa yang ada di atas sana. Kamu ingin tahu dari mana virus iblis itu. Jawabannya ada di atas sana."
Mendaki pohon adalah latihan yang sangat membosankan, bagaimana tidak. Jika kamu sudah berhasil memecahkan teka-teki, kamudian kamu di perintah menyelesaikan teka-teki itu lagi, kamu tidak akan sebahagia saat pertama dulu.
Namun, untuk mengetahu jawab yang aku cari, aku harus memanjatnya. Memang ada apa di atas sana selain awan dan burung-burung yang terbang bebas.
Sampai di puncang pohon tertinggi di dalam hutan kehidupan. Mataku menyapu sekitar, mencari jawab itu. Tidak ada yang berbeda, dari dulu mataku hanya melihat burung, awan dan matahari yang perlahan mendaki langit.
"Apa kamu melihatnya, Indra?" Guru berteriak di bawah sana.
Aku melambaikan tangan, memberi isyarat.
"Coba kamu lihat dengan teliti ke seluruh arah."
Aku kembali menyari, terus mencari, keseluruhan kawasan yang bisa mataku jangkau, sampai aku menemukan sesuatu yang menarik.
"Aku melihat ada pohon yang lebih tinggi, guru, sampai menembus awan." teriakku.
"Penglihatanmu sungguh buruk, Indra. Itu menara, bukan pohon." Guru memberi isyarat, menyuruhku turun.
"Kenapa menara itu sangat tinggi? Siapa yang membuatnya?" tanyaku setelah sampai ke tanah.
"Benda itu lah yang menyebarkan virus iblis. Namanya menara Olympus. Mata Iblis membuatnya untuk menyegel Deadwan. Kakekmu sudah menceritakannya kan."
Aku mengangguk, tapi kakek tidak menceritakan virus iblis ini.
"Mata Iblis merasa terdesak sebab kehidupan di Nobel semakin berkembang banyak, oleh karena itu dia meminta bantuan Deadwan untuk menyebarkan virus iblis kepada kita. Virus itu menyerang seseorang yang memiliki dendam, kebencian dan orang-orang yang mempunyai energi negatif berlebihan. Siapa yang sudah terinfeksi oleh virus ini, dia akan kehilangan kesadarannya, kekuatannya dapat berlipat-lipat ganda, dan tidak bisa mengendalikan tubuhnya." Guru menjelaskan.
"Kenapa tidak ada yang ingin menghancurkan menara terkutuk itu. Aku yakin di luar sana banyak orang hebat."
"Menara itu kukuh, tidak sembarang orang bisa menghancurkannya, lagi pula letak menara itu berada di kediaman bangsa iblis, sebelum sampai ke sana, mereka akan mati dibunuh iblis."
Aku bersandar ke pohon, menatap langit. Sudah ribuan tahun Nobel menjadi rebutan antara manusia dan iblis. Kenapa tidak hidup berdampingan saja. Seperti manusia, hewan dan tumbuhan yang ada di hutan kehidupan ini.
"Indra, usia kamu sebentar lagi 17 tahun. Kemampuan bertarungmu sudah hebat, maka pergilah mencari ayahmu. Apa kamu tidak ingin melihat ayahmu?"
"Aku tidak peduli dengan dia, tanpanya aku bisa hidup." Aku melempar kerikil ke sembarang arah. "Tapi guru, aku ingin membebaskan negeri ini dari bangsa iblis. Aku akan menghancurkan menara Olympus itu."
"Memang seharusnya kamu harus pergi dari hutan ini, Indra. Temui ayahmu maka kamu akan mengetahui asal-usulmu."
Aku pergi bukan untuk mencari pria brengsek itu. Aku adalah keluarga ras Triton, tidak peduli dari ras apa aku lahir.
"Indra, aku memberimu buku setiap hari supaya kamu tahu isi dunia ini. Menjadi bekal pengetahuan kamu untuk menjelajahi Nobel, tapi kamu tidak pernah menyelesaikan buku yang kamu baca sampai akhir."
Aku mengangguk. Setiap hari guru memberiku sebuah buku, padahal aku bukan orang yang suka membaca, tetap saja dia memaksa untuk membacanya sampai habis. Itu percuma, aku tidak dapat menemukan Ras bermata merah di setiap buku yang aku baca.
Para warga melambaikan tangan menemani kepergianku. Ini pertama kalinya aku melihat dunia luar hutan kehidupan. Dari buku yang aku baca. Nobel adalah dunia peperangan. Aku sangat antusias ingin melawan orang-orang hebat di dalamnya.
"Selamat jalan, Indra."
"Hati-hati di jalan ya."
"Aku pasti kangen denganmu."
"Tanpa si pendek makananku akan tahan sampai satu bulan. Selera makanmu yang kuat itu membuat aku selalu kangen padamu, pendek."
"Jangan memanggilnya pendek, dia akan marah. Kita harus membuatnya senang untuk terakhir kalinya."
"Sampai jumpa semuanya!" Aku berteriak sambil melambaikan tangan. Mereka baik, sedangkan aku selalu menyusahkannya.
Aku naik ke batang pohon, melompat dari batang pohon satu ke batang pohon lainnya. Semangatku berkobaran, tidak tahan ingin melihat dunia luar.
Dibawah sana seekor rusa sedang memakan rumput dengan santainya, sementara di sampingnya ada singa yang sedang mengawasi. Singa itu tidak berselera makan daging rusa, ia memilih mengunyah rumput di depannya.
Hewan di dalam hutan kehidupan tidak ada yang karnivora, mereka semua herbivora, pemakan tumbuhan, begitu juga dengan aku dan ras Triton. Oleh sebab itu kami tidak saling membunuh, hidup berdampingan dengan alam.
Aku lompat dari pohon, sandalku menindih rumput. Sebentar lagi sampai di kerajaan Manggo, aku tidak ingin mereka terkejut ada manusia yang bisa lompat jauh.
Dalam perjalanan gerombolan lebah mengikutiku di atas kepala, aku tahu mereka akan menyerangku. Hewan yang licik, jika berani lawan satu-satu denganku.
Aku tidak menghiraukannya. Suaranya memekakkan telinga, berisik sekali. Aku terus berjalan santai, sebentar lagi juga lebah-lebah ini akan mati.
Benar saja, hutan kehidupan ini akan melakukan tugasnya, melindungi aku. Akar-akar berduri menyerang lebah itu, menusuknya satu persatu. Aku tetap jalan, tidak menghiraukan pertempuran yang sedang terjadi di atas kepalaku.
Tidak lama, lebah-lebah itu mati, tubuhnya tertanam di batang pohon. Hutan kehidupan ini mempunyai aturannya sendiri, jika kamu sopan dia akan segan.
Aku berhasil keluar dari hutan. Lihat lah, pemandangan yang belum pernah aku nikmati terpampang indah di hadapanku.
Bukit-bukit berbaris rapi melingkari Kerajaan Manggo, air jernih mengalir di sungai yang terbentang ke seluruh daratan Manggo. Air itu jatuh dari tebing tempat aku berada. Pemandangan hijau, tanah tertutup rerumputan.
Ada bukit paling tinggi diantara yang lain, di atas bukit itu berdiri istana kukuh dan megah. Di samping istana itu ada patung raksasa, tingginya melebihi istana.
Patung raksasa itu mempunyai dua tanduk besar. Mata, hidung dan bagian-bagian wajahnya diukir sempurna, sangat nyata.
Rumah mereka tidak seperti ras Triton yang tinggal di dalam pohon. Tempat tinggal mereka pendek, dari batu-batu yang disusun menjadi satu dan atap yang berbentuk segitiga.
Aku menarik napas, menghirup udara segar, sangat damai. Telingaku bergerak-gerak, menangkap suara dari kejauhan.
"Tolong! Tolong! Jangan mendekat!" Suara teriakan seorang wanita, keberadaannya tidak jauh dari tempatku berada.
Aku segera lompat dari tebing, menelusuri suara itu. Dia dalam bahaya, aku harus menolongnya.
Anda Mungkin Juga Suka





