Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Impian untuk Rian

Impian untuk Rian

Anara adalah sosok gadis ceria yang selalu hadir dengan senyum lebar dan binar mata tulus untuk Rian. Bagi Anara, Rian adalah pusat kebahagiaan terbesarnya, sementara Rian sendiri merasa hidupnya kini sangat bergantung pada kehadiran gadis itu. Namun, sebuah tanda tanya besar muncul mengenai masa depan mereka. Jika suatu saat Anara pergi meninggalkannya, mampukah Rian melanjutkan hidup dengan normal atau justru selamanya terjebak dalam bayang-bayang kenangan Anara?
Bab
Bagikan

Bab 3

Hujan rintik turun di pagi hari ini, menghadirkan dingin dan rindu. Laki-laki berhoodie hitam itu merindukan pelukan hangat Anara. Sangat berharap kejadian itu terulang kembali di pagi ini.

Sudah dua hari ini keduanya tak bertemu atau sekedar berpapasan pun tidak, Anara seolah hilang. Rian rindu, sangat rindu pada sosok Anara yang bagai musim semi setelah turunnya salju.

Samar-samar ia mendengar sapaan kemarin lusa, Anara berada di ujung koridor, berlari kepadanya. "Hai kak Rian!" Nafasnya terengah.

"Hai juga Anara," balasan dari sapaan itu sudah ia latih di depan kaca sejak Anara menyuruhnya. Tak lupa senyuman manis, semanis janji ayang pun mengembang. Anara baru menyadari lesung yang ada di sebelah pipi kirinya.

"Mau langsung ke kelas?" Anara hanya mengangguk.

"Anter aku dulu yuk, aku ada perlu ke kelas, nanti aku anterin kamu ke kelas kamu," entah sihir apa yang membuat Anara mungut-mungut saja.

Menggengam tangan gadisnya, ia membawa Anara menuju kelasnya. "Dingin banget pagi ini,"

Anara membenarkan, "iya, tumbenan juga hujan pagi-pagi. Padahal bukan musim hujan," Rian memakaikan tudung pada hoodie pink baby milik Anara.

"Jangan sampe flu," Rian mengeluarkan sebotol lemon tea yang bundanya buatkan tadi. Ia meminta di buatkan dua, secara terang-terangan ia bilang pada bunda Riasya senjanya kalau ia sedang mendekati seorang gadis.

"Makasih,"

Mereka sampai pada kelas Rian yang terlihat sudah di padati banyaknya siswa-siswi, padahal ini masih terbilang sangat pagi bahkan di kelas Anara pun belum ada siapa-siapa mungkin.

Kedatangan mereka tentu menjadi pusat perhatiian anak-anak kelasan Rian. Baru pertama kali mereka semua melihat Rian membawa gandengan, Janu saja yang sudah mengenal Rian sejak menjadi embrio sempat mengira Rian gay karna tak kunjung mendekati wanita atau sekedar suka pun tidak.

"Duduk di sini," Anara duduk di barisan ketiga bangku nomer dua. Di sebelahnya ada Janu yang sedang bermain game dengan musik yang samar terdengar oleh telinga Anara padahal dia sedang memakai aerphone. Sekeras itu kah?

"Bunda nyuruh lo ke rumah gue pulang sekolah nanti," Anara terheran. Bagaimana bisa Janu menyadari kehadiran Rian?

"Peringatin si sinting Vivi buat ada di radius lima ratus kilometer dari gue," nada dinginnya menyebarkan suasana mencekam di dalam kelas.

"Oke"

Entah apa yang Rian perbuat di belakang sana, tepatnya pada lokernya. Anara memerhatikan sekitar, lalu tertarik pada dua gadis yang sedang beradu argumen saat mengisi pr.

"Kak Rian," lelaki itu membalikan badannya.

"Buku pr kak Rian mana?"

"Cari aja di tas" Anara membuka tas Rian. Di sana ia membuka buku pr milik laki-laki itu. Anara sempat menduga bahwa Rian mungkin seperti badboy pada umumnya, yang hanya sekolah membawa tas kosong namun ternyata tidak.

Anara mencari pr Rian, ia tertarik untuk mengisinya. Tak butuh waktu lama, bagai menyalin jawaban teman sebangku, hanya waktu 10 menit yang Anara butuhkan untuk mengisi pr matematika milik Rian.

"Nanti bukunya jangan lupa di kumpulin ya?" Rian mengangguk.

Mereka seolah tak percaya melihat hiu banteng itu mendadak menjadi dolphin penurut. Perempuan yang tadi berdebat ternayata memperhatikan Anara, ia mencibir Anara yang sok pintar.

"Sok pinter banget, baru juga kelas 10,"

"Palingan juga jawabannya salah,"

Anara bangkit dari tempat duduk Rian, menghampiri keduanya lalu mengambil salah satu buku mereka. "Ini seharusnya di isi sama variabel X bukan variabel Y. Titik ini ada di 35 derajat, di kuadratin dulu baru di kaliin. Pasti hasilnya ketemu,"

"Maksud lo apa ngajarin gue? Lo cuma ade kelas, gausah sok tau!"

"Anara cuma mau bantu,"

"Gue tau ya maksud lo! Lo cuma mau nyari perhatian Rian kan?"

"Cih" salah satunya mendorong bahu mungil Anara hingga sedikit terguncang karna mendapat serangan tiba-tiba.

Rian melangkah menuju ketiganya. Ia menggengam tangan perempuan yang sudah mendorong Anara. Gengaman tangan itu membiru, Rian memasang seringai jahatnya. "Gausah sentuh cewe gue,"

"Ma-maaf, Rian sakit!" Rian melepaskannya, merangkul bahu Anara posesif lalu pergi dari kelasnya.

"Bagus deh kalau dia ga gay" gunam Janu di sertai kekehan.

****

"Lo kok bisa digosipin sama seantero sekolah si Ra?" Ucap Arsya dan di benarkan oleh Ersya. Keduanya bertemu di parkiran pagi tadi.

"Anara gatau,"

"Yeu ni anak," Arsya hanya geleng-geleng kepala saja.

"Sejak kapan lo deket sama kak Rian," tanya Ersya penasaran.

"Anara juga gatau," keduanya memutar bola matanya malas.

"Lo mah serba gatau, ga seru" Anara tak menanggapi, ia membuka tasnya dan meminum lemon tea pemberian Rian dengan perlahan.

"Dari kak Rian?" Tebak Ersya. Anara diam seribu bahasa. Ia terkejut karna tau Rian sekasar itu pada wanita, dan itu hanya karna dirinya.

"Tu anak kayanya syok di deketin sama kak Rian, kalau dia udah rileks lagi kita kekantin bareng nanti, kalau belum kita temenin dia di kelas. Gue ke kelas dulu, udah mau bel," Arsya hanya mengangguk.

Saat jam pelajaran Anara sama sekali tak menengok pada Arsya, ia fokus pada materi yang sedang di berikan oleh guru. Walaupun ia tak niat belajar, namun otaknya tetap mencerna dengan semestinya.

Arsya menatapnya dengan khawatir, Anara tiba-tiba bungkam. Tentu itu menimbulkan banyak pertanyaan.

"Silahkan kerjaan latihan soalnya, di pertemuan selanjutnya baru akan ibu masukan kedalam buku nilai,"

"Baik bu,"

Lima menit terdiam mengerjakan soal, Anara mengangkat tangannya. "Ada yang ingin di tanyakan Anara?"

"Selesai," semua murid menatap Anara tak percaya.

"Sini ibu periksa," guru kimia itu pun terkejut saat melihat hasilnya. "Benar semua. Bagaimana kamu menyelesaikannya secepat itu?"

"Saya memperhatikan materi yang ibu berikan," guru itu mempersilahkan Anara duduk kembali. Anak itu langsung duduk dan menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangan.

"Keren"

****

Anara diam di dalam kelas sendirian, semua orang pergi ke kantin. Begitu pun dengan Ersya dan Arsya, mereka bilang tak akan lama dan akan membawakan makanan untuk Anara.

Rian masuk ke kelas Anara, duduk di sebelah gadis yang sedang fokus membaca novel dengan telinga yang di alunni melodi indah musik.

Rian melepaskan salah satu aerphone dari telinga Anara, menatap gadis yang saat ini juga sedang menatapnya lekat.

"Kenapa kak Rian kasar sama cewe tadi?" Ucap Anara to the point.

"Aku ga suka dia ngomong kasar gitu sama kamu,"

"Emang bener Anara sok pintar, ga seharusnya Anara bersikap kaya tadi,"

"Kamu cuma mau ngebantu mereka, kamu pasti khawatir kalau mereka ga bisa nyelesaiin tugasnya sebelum bel bunyi. Iya kan?" Anara hanya diam.

"Kamu baik, cerewet, menarik, cantik, imut, di tambah kamu pinter. Kmu itu paket lengkap Nara. Wajar kalau orang-orang kaya mereka ga suka sama kamu, mereka iri sama kamu. Jangan kaya gitu lagi, kalau ada apa-apa bilang," baru kali ini Rian berbicara panjang lebar. Bahkan ketika bercerita pada Janu pun ia tak mengucapkan kata sebanyak itu.

"Kak Rian juga ga boleh kasar sama cewe, bundanya kak Rian cewe, dan perempuan yang akan jadi istrinya kak Rian pun cewe. Kak Rian mau kalau mereka kelak di sakitin sama orang lain?" Rian menggeleng singkat.

Anara mengambil satu tangan Rian, ia usap dengan sayang. "Jangan kaya gitu lagi ok?" Rian mengangguk. Sudah ia pastikan bahwa hatinya sepenuhnya jatuh pada perempuan bernama Anara yusrin nadyaz ini.

"Pulang sekolah nanti ada acara?"

"Anara sibuk, belum punya waktu luang weekdays ini,"

"Kalau weekend?"

"Um nanti di kabarin kalau aku senggang,"

"Kalau gitu harus simpen nomor aku biar bisa ngabarin," Yaallah bisa ae ni kutub modusnya.

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95GTW" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95GTW
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Aku Mengandung Setelah Diusir Mamamu
9.1
Adelia baru menjalani tiga bulan nikah kontrak dengan CEO Arsenio Arfandra saat ibunda sang suami mengusirnya akibat kebohongan yang terungkap. Sebulan kemudian, Adelia hamil anak Arsenio, namun pria itu justru menolaknya mentah-mentah. Meski Arsenio akhirnya menyesal dan ingin kembali, Adelia justru muncul sebagai mempelai manajer bernama Vino. Kini Arsenio harus menghadapi kenyataan pahit saat Adelia merahasiakan identitas ayah kandung Giovanni.
Sampul Novel Bagaikan Debu Bertemu Mercusuar
8.6
Memasuki tahun kedua pernikahan, Velia harus menghadapi kelakuan kejam suaminya, Chris Dirja, yang membawa pulang seorang wanita muda. Chris sengaja memprovokasi Velia agar mencari pemuda lain sebagai bentuk siksaan mental yang biasa ia lakukan. Namun, permainan manipulatif ini berubah arah ketika Velia benar-benar membuka hatinya untuk pria muda lain. Saat Chris menemukan bekas cakaran baru di pinggang selingkuhan muda Velia, kemarahan dan kecemburuan sang miliarder akhirnya meledak tak terkendali.
Sampul Novel ISTRI TERCINTA BOS BESAR
9.7
Elitta kehilangan segalanya karena Vivian, mulai dari kekasih hingga perhatian ayahnya. Saat pertunangannya hancur, sang ayah memaksanya menikahi pria yang dikira miskin. Vivian merasa menang, namun ia terkejut saat mengetahui suami Elitta adalah Vito Vincent Ravello, CEO Sunmart sekaligus mantan kekasih yang dulu ia campakkan. Kini Vivian berambisi merebut Vito kembali. Akankah Elitta mampu mempertahankan rumah tangga dan pria yang ia cintai dari gangguan Vivian?
Sampul Novel Luka Lara
9.6
Setahun menikah, Larasati tak menyangka dirinya hanyalah istri kedua. Kebaikan Abimana dan mertuanya ternyata semu. Kebenaran pahit terungkap tepat setelah putranya lahir; Bima mengaku hanya memanfaatkannya demi keturunan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Larasati hingga mereka akhirnya berpisah. Di tengah luka batin yang begitu mendalam, mampukah Larasati bangkit dan kembali membuka pintu hatinya untuk pria baru yang ingin menyembuhkan lara tersebut?
Sampul Novel MENGEJAR CINTA GADIS BERCADAR
9.3
Dhafa Akmarul Dzauri pulang dari Arab Saudi untuk memimpin perusahaan travel milik ayahnya. Namun, semangatnya luntur saat bertemu Salma Azzahra, mantan teman SMA yang dahulu sering merundungnya hingga menangis. Meski Salma kini tampil sangat berbeda dan bercadar, bara dendam di hati Dhafa belum padam. Ia bertekad membalas semua rasa sakit masa lalunya kepada gadis yang pernah menjadi mimpi buruknya tersebut. Akankah kebencian itu berubah menjadi cinta?
Sampul Novel Pengasuh tuan muda lumpuh dan buta
8.3
Elang Rahardian kehilangan penglihatan dan kemampuan berjalan akibat kecelakaan tragis yang direncanakan musuhnya. Di sisi lain, Hafsa Aulia dipaksa bekerja oleh ayahnya yang pemabuk dan keluarga tiri yang kejam. Hafsa akhirnya menerima tawaran menjadi pengasuh tanpa menyadari bahwa majikannya adalah Elang, pria kaya yang kini bersikap dingin dan kasar. Mampukah gadis muda ini bertahan menghadapi amarah Elang, atau dia akan memilih menyerah pada keadaan?