
I'm The Beast
Bab 3
Setelah mengalami hal yang tidak masuk akal, Rodolfo mencoba untuk menenangkan diri dengan tidak mengingat lagi peristiwa di gua itu. Ia menganggap misi untuk membunuh Jonathan telah selesai, karena ia merasa kejadian itu bukanlah mimpi, melainkan kenyataan.
"Ugh!" Tiba-tiba ia merasakan sakit kepalanya, sakit yang teramat sangat dan membuat ia terpaksa harus diam sejenak ketika sedang membaca misi yang ada di meja di depannya.
Kejadian aneh kembali ia alami saat ia mencoba membuka kedua matanya. Tanpa sengaja ia melihat sebuah bayangan hitam yang membentuk siluet seorang manusia yang sedang melayang tak jauh darinya. Namun, bayangan itu hilang saat Rodolfo memaksakan kelopak matanya agar terbuka lebih lebar.
"Hah?! Apa itu?" ucapnya sambil melotot dan melemparkan pandangan ke segala arah.
"Hmm ... mungkin hanya halusinasiku saja," ucapnya lagi sambil memijat keningnya untuk mengurangi rasa sakit di kepalanya.
Kemudian, ia mencoba untuk bersikap biasa dan kembali mempelajari misi selanjutnya yang harus ia jalani.
"APA?!" Rodolfo tiba-tiba terkejut saat membaca salah satu lembar kertas yang berisi identitas orang yang akan menjadi targetnya.
Ia tidak menyangka jika seorang Diego yang merupakan public figure terkenal bisa terlibat dalam kasus penyelundupan heroin bersama dengan Jonathan dengan menggunakan media boneka hasil produksi perusahaan milik Jonathan.
Di mata masyarakat, Diego adalah seorang yang dermawan. Ia sering memberi bantuan dan menggalang dana untuk kemanusiaan, malah menjadi duta anti-narkotika.
"Publik figur yang sangat busuk! Hanya mengotori dunia dan menjadi wabah bagi generasi muda!" ucap Rodolfo, kemudian menghisap rokoknya dalam-dalam.
Ia tidak percaya pada popularitas dan reputasi publik figur, karena menurutnya itu hanya topeng. Ada sesuatu yang tersembunyi di balik tabir, dan itu harus segera diungkap.
"Aku harus membasmi orang seperti ini, agar tidak tumbuh tunas baru yang berakar kuat," gumamnya lagi sambil mematikan rokoknya ke dalam asbak.
Lantas ia membuka lembar demi lembar berkas dalam map itu, ia tersontak kaget dengan informasi terakhir yang ia dapat.
"Besok?!? Apakah tidak terlalu cepat?!" ucapnya dengan nada heran dan mengerutkan dahi.
Di sana tertulis bahwa, besok, Diego akan bertemu dengan seorang agen dari salah satu produk iklan di sebuah restoran pukul delapan malam dan akan duduk di kursi nomor dua belas.
Rodolfo mengangguk-angguk pasrah, karena tidak ada waktu baginya untuk bersantai. Walau ia tahu, sangat tidak mungkin baginya menjalani hidup seperti orang biasa.
Namun demikian, ia merasa tenang, karena ia cukup mengenal area sekitar restoran itu. Restoran itu terletak berdekatan dengan rel kereta api, di mana tidak ada ketenangan sama sekali seperti restoran pada umumnya. Apalagi letak meja nomor dua belas, posisinya seperti di pojok dan menghadap arah lintasan kereta api. Mengetahui hal itu, Rodolfo pun mulai memutar otaknya, mengatur strategi yang terbaik yang harus ia jalani.
"Hmm ...," ia bergumam sambil memejamkan mata.
Dalam pikirannya ia bersimulasi, membayangkan beberapa kemungkinan yang akan terjadi ketika menggunakan masing-masing strategi yang ada di pikirannya.
"Oke!" ujarnya sambil menjentikan jari.
Karena merasa telah mendapat apa yang diinginkan, ia pun memutuskan untuk beristirahat.
***
Keesokan harinya...
Rodolfo tampak berjalan-jalan disekitar restoran yang tertulis di keterangan misinya. Ia melihat sekeliling, mencoba mencerna situasi. Pikirannya bervisualisasi dengan pandangan matanya. Tiba-tiba, arah matanya terjatuh pada seorang pria yang sedang duduk di kursi tepi jalan.
Rodolfo merasa curiga dengan tingkahnya, pria itu terlihat gelisah merencanakan sesuatu. Namun, Rodolfo mengabaikan saja dan melangkah menjauh meninggalkan lokasi restoran.
Saat memasuki gang sempit, ia menghentikan langkahnya.
"Siapa kamu?" tanya Rodolfo saat merasakan adanya pergerakan yang mengikutinya tanpa menoleh ke belakang.
"Hai, Rodolfo!" ucap seorang pria yang berada di belakangnya.
Rodolfo tak menjawab, ia langsung melakukan tendangan memutar ke arah pria itu. Namun dengan sigap pria itu menangkap kaki Rodolfo, kemudian membalas dengan pukulan telak ke dada Rodolfo.
Tapi, dengan cepat Rodolfo menangkis dan balik menendang kepala pria itu hingga jatuh tersungkur. Tanpa membuang waktu, ia lalu mendekatinya, kemudian mencekik leher pria yang terbaring itu.
"Katakan! Apa maumu?" tanya Rodolfo.
Pria itu hanya menatapnya tajam sambil berusaha melepas cekikan di lehernya. Sudut mata Rodolfo melihat bahwa tangan pria itu meraba pinggangnya sendiri, hendak mengambil pistol. Namun, dengan cepat Rodolfo meraih pisau dari balik jaketnya dan menusukannya ke leher pria itu.
Tiga kali tusukan membuat leher pria itu memuncratkan darah segar, matanya melotot, mulutnya menganga, dan tewas secara mengenaskan.
Setelah itu, Rodolfo berdiri dan membersihkan pisaunya, kemudian memasukannya kembali ke balik jaket. Namun, ia merasa penasaran dengan pria yang baru saja ia cabut nyawanya. Ia pun lalu meraba celana pria itu dan menemukan sebuah cincin berlogo tengkorak.
"Hmm ...," ucapnya sambil menggenggam cincin itu.
"Jangan pernah mengirim domba untuk membunuh serigala!" ucapnya sambil melangkah pergi saat mengetahui bahwa orang yang dia bunuh adalah salah satu anggota dari organisasi yang ia ketahui.
***
Malam harinya...
Terlihat Rodolfo sedang bersiap di tepi jembatan yang berada di atas rel kereta api. Beberapa saat kemudian, sebuah kereta api melintas di bawahnya dan ia langsung melompat ke atap gerbongnya.
Walaupun kereta api itu melaju sangat cepat, hal itu tidak menyulitkan sama sekali bagi orang terlatih seperti Rodolfo. Ia berdiri dengan gagah di atas atap gerbong kereta api sambil menggenggam sebuah pistol andalannya, yaitu pistol sejenis Magnum.
Pandangan matanya fokus ke depan, sesekali ia harus berlutut bahkan menelungkup saat melewati terowongan. Setelah jarak dirasa cukup dekat dengan restoran, ia berdiri mengokang senjatanya. Terlihat olehnya, Sang Target, yaitu Diego sedang duduk persis di dekat jendela sambil mengotak-atik ponselnya.
Dor!
Rodolfo melesatkan satu peluru dari pistolnya. Peluru yang dibuat khusus agar mampu melesat lebih cepat dari peluru biasanya, dan memungkinkan peluru itu bisa membelok membelah arah angin.
Dalam sekejap mata, peluru itu masuk ke otak Diego, menembus mata kirinya, membuat pria itu langsung jatuh tersungkur. Diego Sang Target pun langsung tak bergerak sedikit pun, ia meregang nyawa dengan cara yang mengenaskan.
Rodolfo hanya menatap dingin, lalu memasukan kembali pistolnya ke dalam jaket dan duduk santai di atas atap gerbong kereta api.
Kematian Diego yang mendadak itu sontak membuat seluruh pengunjung restoran menjadi panik. Begitu juga Sang Agen, ia yang melihat langsung semua kejadian dengan mata kepalanya sendiri, hanya bisa gemetar menahan rasa takut.
Kejadian itu diluar dugaannya, saat ia akan memanggil Diego untuk membuka percakapan, tiba-tiba kereta api melintas dan tubuh Diego langsung terkapar. Ia seolah tidak percaya dengan yang terjadi, lalu menghampirinya dan melihat tubuh Diego sudah terbaring kaku dengan luka tembakan dari mata kiri hingga tembus ke kepala.
Pihak restoran yang mengetahui peristiwa itu pun segera membubarkan pengunjungnya dan menelepon Petugas Kepolisian.
Anda Mungkin Juga Suka





