
I'm Sorry, Rachel
Bab 2
Rachel duduk di kursinya dengan lemas, rasa sakit dimana-mana. Tapi dia lebih meratapi sarapan sekaligus makan siangnya yang sudah masuk ke tempat sampah tadi pagi. Hari ini, Rachel terpaksa tidak makan. Diam-diam Rachel berharap semoga nanti malam dia bisa makan.
Rachel memutuskan untuk membuka buku Matematika-nya dan mulai mempelajari beberapa rumus yang belum dijelaskan guru. Dia akan mencoba memecahkannya sendiri hasilnya dan ketika guru menjelaskan, dia bisa mencocokkan hasilnya.
Rachel menatap bangkunya yang penuh dengan kata makian dan ejekan padanya. Awalnya Rachel tidak tahu alasan kenapa mereka bisa seperti ini. Tapi ternyata Mira mengatakan siapa Rachel di keluarganya. Kemudian semua orang mengejeknya ‘anak haram’ dan sampai sekarang semua yang dilakukan Rachel akan menjadi bahan ejekan mereka. Semua akan dianggap salah di mata mereka dan Rachel hanyalah ‘mainan’ di sekolah itu.
Entah kenapa waktu sangat cepat berlalu, kini jam pulang hampir tiba. Sekarang ini, Rachel sedang menguatkan mental dan fisiknya untuk bencana yang akan dia hadapi sebentar lagi.
“Heh, dungu! Lo gak bakalan bisa kabur lagi! Mampus Lo!” Mira berteriak dari depan kelas sambil tertawa bersama teman-temannya.
Ya, memang tidak bisa kabur. Benar-benar nasib yang buruk. Batin Rachel sengsara. Tidak lama mereka datang dan segera menarik Rachel menuju belakang sekolah. Dia dilempar sampai menabrak rak-rak besi yang ada di dalam gudang. Di belakang sekolah hanya ada gudang, jadi jarang sekali orang main ke sana. Palingan anak-anak yang merokok atau membully seperti mereka.
PLAKK
“Akh …”
“Berani Lo kabur dari Gue lagi, Gue bakal siksa Lo sampe mati di sini!” ancam Lisa sambil mencengkram pipi Rachel setelah menampar pipinya.
“JAWAB BEGO!” Cengkramannya semakin keras seiring dengan setiap kata yang dia ucapnya.
“Y-ya,” cicit Rachel dengan susah payah karena kesulitan berbicara saat pipinya dicengkram kuat-kuat.
“Apa? Gue gak denger!”
“Y-ya,”
“Hahaha!!” Mereka tertawa terbahak-bahak melihat kepasrahan Rachel.
“Dasar, dungu!” maki salah satu pemuda di sana.
“Lisa, Sayang. Ayo pergi saja, aku mau muntah lihat mukanya,” ucap salah satu pemuda lagi yang berada di belakang Lisa. Dan dia ‘menjabat’ sebagai pacar Lisa. Pemuda itu terlihat tampan, tapi sifatnya benar-benar mirip iblis!
“Sebentar, Sayang, aku belum selesai. Setidaknya kita lihat dia sekarat,” jawab Lisa dengan senyum lebar di bibirnya.
Pemuda itu ikut tersenyum bahkan orang-orang disekitarnya seolah tertular. Rachel menarik nafasnya dalam-dalam, bersiap untuk merasakan rasa sakit di tubuhnya. Dan benar saja, seluruh punggung dan sisi perutnya menjadi sasaran mereka untuk di injak dan di tendang.
Cukup lama mereka menendang tubuh Rachel sampai mereka sudah merasa bosan dan meninggalkan Rachel yang terbaring diam. Mungkin mereka menyangka Rachel sudah pingsan. Salah satu dari mereka mengecek nadi di leher Rachel.
“Dia masih hidup,” ucapnya.
“Oke, kita pulang sekarang,” jawab yang lainnya.
“Gue muak lihat mukanya! Kenapa sih dia harus sekolah di sini?”
“Hah, namanya juga anak haram! Bisa sekolah di tempat elite kayak gini udah jadi keberuntungan buat dia!”
“Menjijikkan!”
“Bagus juga, kita jadi punya mainan di sini. Haha …”
Suara perbincangan mereka masih bisa Rachel dengan sampai ujung ruangan dan anak-anak itu berbelok menuju tempat parkir. Keheningan menerka Rachel. Dan itu mungkin cukup membuat Rachel beristirahat sejenak.
Cukup lama Rachel terbaring menyamping di ruangan itu sampai rasa sakit di tubuh akibat hantaman mulai berkurang. Perlahan Rachel menggerakkan badannya. Rasa sakit dan panas di bagian tertentu membuat Rachel meringis. Rachel yakin bekas ungu yang sebelumnya hampir hilang sekarang pasti muncul lagi.
“Sakit sekali,” Rachel meringis kesakitan.
Susah payah Rachel berjalan pulang. Dia berjalan dengan terpincang-pincang. Dia bahkan mengabaikan seluruh tatapan orang-orang yang memandangnya kasihan. Tapi tidak ada yang berani bertanya atau membantunya.
Inilah dunia yang sebenarnya. Dunia kejam yang harus Rachel tinggali. Dan beginilah sifat manusia yang sebenarnya. Mereka hanya akan memikirkan diri sendiri. Apalagi Rachel tinggal di Kota Metropolitan seperti ini. Semakin kita terlihat berantakan, mereka hanya akan menganggap kita pengemis atau orang gila.
Sesampainya di rumah, sama seperti orang-orang di jalan tadi. Sekalipun pembantu di sana, mereka tetap menatap Rachel dengan sinis dan mengejek. Saat masuk ke dalam rumah, Lina dan Mira yang ada di ruang tengah langsung berteriak saat melihat Rachel.
“Ma!! Lihat monster itu udah pulang! Mukanya kelihatan menyeramkan banget!” ucap Mira dengan senyum miring di bibirnya.
“Si Dungu ini merusak suasana hatiku!” gerutu Lina sebelum berjalan mendekat dan menjambak rambut Rachel.
“Akh … Bu, sakit!” keluh Rachel.
“Siapa ibumu? Aku bukan ibumu! Aku gak punya anak monster seperti kau!” Lina menyeret Rachel menuju kamarnya. Mendorong tubuh kurus itu sampai tersungkur di lantai. Pintu ditutup dan dikunci dari luar. Meninggalkan Rachel yang meringis sambil menggosok kulit kepalanya.
Rachel menatap pintu di depannya dengan nanar. Hatinya lebih sakit saat dia merasakan tangan ibu kandungnya sendiri yang memukulnya. Walaupun sudah terbiasa, tapi rasa sakitnya selalu terasa di hati dan pikiran Rachel.
Kalau dipikirkan dengan akal sehat, kalian pasti menyarankan untuk kabur saja dari rumah ini. Tapi nyatanya, orang-orang di rumah ini juga membutuhkan Rachel. Contohnya untuk bersih-bersih rumah, membuat makanan, dan— tumbal mereka. Kalau ada sesuatu yang tidak mau merugikan mereka, maka Rachel yang akan menggantikannya. Seperti contoh kasus yang akan kalian ketahui sebentar lagi.
Rachel berdiri dengan terpincang-pincang dan duduk di kursi meja belajarnya. Matanya menatap kaca kecil yang berada di atas meja. Wajahnya memang menyeramkan. Bekas ungu di sudut kanan matanya dan luka kecil di tulang pipi bagian kirinya, serta bekas telapak tangan di pipi kirinya. Lengkap sudah.
Rasa perih di perutnya mulai mengganggu Rachel. Sudah di yakini, malam ini Rachel tidak akan makan malam sampai besok pagi. Bahkan untuk besok pagi pun Rachel meragukannya. Rachel hanya bisa pasrah. Ditariknya buku berukuran 50 kali 50 cm berwarna biru dongker dari tasnya.
Rachel mulai menulis di lembar baru bukunya. Menulis hal yang dia suka. Sebuah diary pribadi. Rachel tidak pernah memiliki teman, hanya buku itulah satu-satunya teman yang bisa dijadikan tempat curhat untuk Rachel.
Wanita itu mulai menulis dan bercerita tentang kejadian hari ini. Selama menulis, dia hanya bisa menahan tangis dan rasa lelah yang sedikit demi sedikit merambat di hatinya. Untuk orang lain, mungkin mereka sudah menjadi gila atau gangguan mental.
Tapi untuk Rachel, dia hanya bisa menguatkan diri sendiri. Bohong kalau Rachel tidak pernah berpikir untuk bunuh diri. Walaupun Rachel pernah mempertimbangkan itu. Tapi dia teringat masih banyak orang yang berkebutuhan khusus menjalani hidupnya dengan damai. Banyak orang yang hidupnya sengsara sampai harus memungut makanan basi di pinggir jalan dan tetap menjalani hidupnya sampai sekarang. Setidaknya Rachel tidak seperti itu. Dia masih bisa makan dan tinggal di kamar yang layak.
Rachel harus tetap bersyukur walaupun nasibnya selalu menyedihkan. Pembullyan ini akan berakhir setelah Rachel keluar dari sekolah itu. Hanya tinggal setengah tahun lagi. Rachel pasti bisa melewatinya. Tuhan pasti sudah merancang kebahagiaan untuknya di masa depan nanti.
2 Be Con
Anda Mungkin Juga Suka





