
I’m Always Be Yours
Bab 3
Tanpa terasa sudah 10 tahun Angel menyandang nama Miller di belakang namanya dan berada ditengah kehangatan keluarga yang sesungguhnya. Saat ini usia gadis cantik itu telah menginjak 17 tahun, dimana merupakan masa yang sulit bagi para orang tua untuk mengatur anaknya. Namun tidak bagi kedua orangtua angkatnya yang sangat bahagia memiliki putri kecil baik dan penurut seperti Angel.
Angel tumbuh menjadi seorang gadis remaja yang sangat cantik, dengan mata birunya yang bisa membuat orang tenggelam dan terhipnotis akan keindahannya, serta postur tubuh yang tinggi bak model. Selain itu ia juga memiliki sifat yang ceria, baik hati, penurut serta penyanyang. Karena kecantikannya itulah sejak berusia 15 tahun ia telah menjadi selebgram. Selebgram adalah istilah untuk para pengguna akun instagram yang terkenal di situs jejaring sosial tersebut. Ia bahkan mendapat banyak kenalan juga koneksi dan kerap kali ditawari menjadi model serta memperoleh banyak endorsement dari berbagai brand juga toko online.
Tak henti-hentinya Angel memanjatkan rasa syukur telah dipertemukan serta diadopsi oleh keluarga sebaik dan sehangat keluarga Miller. Maka dari itu ia belajar dengan sangat giat dan menorehkan prestasi gemilang di sekolahnya. Ia tidak ingin mengecewakan kedua orangtua yang telah membesarkan dan memberikan kasih sayang berlimpah padanya.
Siang ini tampak para maid sibuk menyiapkan pesta penyambutan untuk putra pertama keluarga ini. Max akan kembali dari Inggris setelah menempuh program Master (S2) di Oxford University yang merupakan salah satu kampus terbaik di dunia dengan mengambil jurusan bisnis dan manajemen. Mansion mereka pun dihias sangat indah dengan balon-balon serta bunga yang merupakan ide dari Angel.
"Angel jam berapa kakakmu itu akan tiba sayang?" tanya Anastasya kepada putri cantiknya
"Kurasa sebentar lagi Mom. Aku tidak sabar menunggu kak Max kembali, sudah lama aku tidak bertemu dengannya" sahut Angel bersemangat sambil melirik jam tangan merek Cartier pada pergelangan tangan kirinya
"Wanita memang selalu tidak sabaran ya" kata Alaric terkekeh melihat tingkah dua perempuan yang ia sayangi
Sudah dua tahun lamanya mereka tidak bertemu dengan Max dikarenakan kesibukan masing-masing. Mereka hanya berkomunikasi melalui ponsel untuk melakukan panggilan suara ataupun video. Maka dari itu mereka sangat senang karena Max akan pulang hari ini. Terlebih bagi Angel kakaknya merupakan orang terpenting dalam hidupnya, orang yang selalu menempati posisi pertama dihatinya.
Saat suara deru mesin mobil memasuki halaman mansion, mereka serempak berbaris di depan pintu utama mansion. Dari kejauhan Max terlihat berlari kecil sambil menenteng travelbag untuk menghampiri keluarga yang telah menanti kedatangannya.
"Mommy, aku sangat merindukanmu" seru Max sambil memeluk ibu tercinta
"Mommy pun rindu dirimu nak" Anastasya balas memeluk putranya dengan erat
"Long time no see Dad" sekarang giliran Alaric yang mendapat pelukan hangat sang putra
"Kami semua merindukanmu son" ucap Alaric
Lalu Max berlalih mendekati adik kecilnya yang tampak sangat cantik memukau. Ia bahkan tertegun sejenak melihat paras cantik Angel. Kedua mata indah sebiru lautan itu selalu berhasil membius Max. Benar-benar seperti malaikat, batin Max.
"Angel aku juga sangat merindukanmu. Wah kau semakin cantik, apa kau sudah memiliki kekasih?" canda Max pada sang adik sambil mengacak rambut pada puncak kepala Angel
"Kak Max aku lebih merindukanmu. Mana mungkin punya kekasih kalau Dad selalu melarangku pacaran" timpal Angel sambil mencebik manja pada Max
Kedua orangtua mereka pun saling bertatapan, mereka tersenyum penuh arti melihat interaksi antara Max dan Angel. Anastasya sebenarnya tahu jika diam-diam Angel menyukai putranya dan ia pun telah menceritakannya pada sang suami. Bukannya marah mereka malah sangat senang, itulah tujuan mereka mendekatkan Angel dengan Max agar bisa saling mencintai dan hidup bersama. Mereka sangat penyayangi Angel seperti anak kandung mereka sendiri, jadi mereka pun tidak rela jika suatu saat Angel harus pergi untuk menikah dengan pria pilihannya.
Momen haru diantara keluarga itu pun terusik oleh sebuah suara lembut seorang gadis yang tengah mendekat ke arah mereka.
"Max...." panggil seorang gadis muda dengan menarik kopernya
"Oh ya ampun hampir saja aku lupa. Dad, Mom, Angel perkenalkan ini Faye Aubriella Mason. Dia adalah kekasihku dan sebentar lagi aku berniat untuk bertunangan dengannya. Apa kalian setuju?" terang Max sambil menggandeng tangan gadis itu
"Hai Uncle dan Aunty, perkenalkan aku Faye calon tunangan Max" sapa Faye sopan kepada kedua orangtua Max
Mereka semua terkejut mendengar penuturan Max. Alaric dan Anastasya sempat melirik Angel yang berada di samping mereka dengan wajah cemas. Bagai disambar petir di siang bolong, Angel sangat terkejut mendengar itu semua. Pupus sudah harapannya menjadi kekasih sang kakak, ia tahu perasaannya ini salah namun ia terlanjur menyukai Max bukan sebagai saudara melainkan sebagai seorang pria.
Angel merasa kakinya lemas seolah lantai yang ia pijak runtuh, nafasnya pun tercekat. Ia mencoba sekuat tenaga menahan air mata yang telah menggumpal dipelupuk matanya agar tidak terjatuh dan menetes. Angel meremas mididress hitam yang dikenakannya berusaha bersikap tenang. Ia mulai mengatur nafas dan mencoba mengulas sebuah senyum ceria.
"Halo Angel, kau adik angkat Max bukan? Max sering menceritakanmu padaku" kata Faye ramah
Faye mengulurkan tangannya kearah Angel dan disambut sopan oleh gadis cantik itu walau hatinya sedang bergemuruh menahan perasaan kecewa.
"Senang berjumpa denganmu kak Faye. Semoga kak Max tidak menceritakan yang buruk tentangku. Baiklah aku akan membawakan minuman untuk kalian semua" balas Angel tersenyum getir
Angel memilih menghilang dari sana dengan dalih membuatkan minuman dibanding melihat Max dan calon tunangannya yang sedang dimabuk cinta. Ia benar-benar tidak tahan melihat itu semua, hatinya sakit bagai tertancap banyak duri. Setelah kepergiannya, Angel masih bisa mendengar suara Max yang akan mengantar sang kekasih beristirahat di kamar tamu.
"Angel kau pasti kuat" gumamnya pelan menguatkan diri sendiri
Setelah beberapa menit berkutat di dapur untuk membuatkan minuman yang dibantu juga oleh maid, Angel bergegas membawa nampan yang telah berisi minuman serta cemilan ke ruang tamu. Tiba-tiba Angel menghentikan langkahnya beberapa meter dari sofa tempat kedua orang tuanya duduk saat tanpa sengaja mendengar pembicaraan Alaric dan Anastasya. Ia sebenarnya tidak mempunyai niat menguping namun saat namanya disebut dalam percakapan itu membuat rasa penasarannya timbul.
"Apa kau lihat wajah Angel tadi sayang? Aku kasihan padanya, kau tahu kan jika dia mencintai Max. Aku sangat sedih" suara Anastasya sang ibu
"Ya aku juga sedih melihat Angel seperti itu, tapi mau bagaimana lagi Max sudah mempunyai kekasih. Kita tidak bisa memaksakan perasaan Max, ini juga demi kebahagiaan putra kita" jawab suara bariton Alaric
"Lalu sebaiknya apa yang harus kita lakukan? Aku selalu berharap jika Angel yang akan menjadi menantu kita Al"
"Sudahlah Ana, kita serahkan semuanya pada Tuhan. Jika mereka memang berjodoh pasti akan dipersatukan suatu saat nanti. Apa kau tidak ingin mengatakan tentang keluarga kandung Angel?"
Angel tersentak, ia mengeratkan cengkraman tangannya pada nampan yang sedang ia bawa. Apa ia tidak salah dengar, orangtua kandungnya?
"Aku takut jika memberitahukan yang sebenarnya, Angel akan meninggalkan kita sayang, meninggalkan rumah ini. Aku tidak bisa berjauhan dengan putriku" Anastasya menangis lirih
"Aku tahu sayang, tapi apapun yang terjadi Angel berhak tahu kebenaran itu" sahut Alaric lembut sambil menenangkan istrinya
Tanpa mereka semua sadari seorang gadis yang berada tepat di belakang tubuh Angel juga mendengar semua percakapan itu. Gadis itu menyeringai licik sebelum berlalu dari sana dengan berbagai ide yang telah direncanakannya.
Anda Mungkin Juga Suka





