Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Ikatan Hati

Ikatan Hati

Kediaman Bimantara mendadak kacau saat sesosok bayi ditemukan di depan pintu rumah mereka. Sebuah pesan misterius yang menyertai bayi tersebut mengklaim bahwa ia adalah darah daging Adrian Bimantara. Penemuan tak terduga ini memicu kepanikan luar biasa bagi seluruh anggota keluarga. Siapakah sebenarnya orang tua bayi tersebut? Kini, Adrian harus menghadapi tuduhan serius ini sementara misteri tentang asal-usul Abian mulai mengancam ketenangan hidupnya.
Bab
Bagikan

Bab 2

“Ini, gendong Bian. Mama mau pergi. Duh, udah telat.” Nyonya Bimantara–Rosa menyerahkan begitu saja bayi berusia enam bulan ke dalam dekapan putra bungsunya–yang tentu dengan sigap Adrian terima.

Bayi, loh!

Mamanya seenaknya menyerahkan Bian–mereka memanggilnya begitu, karena rasanya Abian terlalu panjang–tanpa pandang kiri-kanan kemudian berlalu sembari menggumam jika sudah terlambat. Argh! Kenapa mesti Adrian yang menggendong atau menjaga si bayi ketika mamanya ingin pergi?

“Ma! Aku ngambil libur hari ini bukan buat jadi pengasuh Bian!” jerit Adrian tak terima. Hah! Dia sengaja libur memang karena ingin istirahat, bukan menjaga si gembul yang tak protes atau rewel diserahi pada ayahnya.

Abian memang bayi yang ceria dan hyperactive, tapi tidak menyusahkan. Bayi lucu itu cenderung suka digendong, jadi siapa pun yang menggendong dia hanya akan tertawa tanpa suara dan tenang. Hmph, gampang sekali untuk diculik.

Rosa berbalik setelah mendengar ucapan putra bungsunya, “Trus siapa yang jaga Bian? Para asisten rumah tangga sibuk. Papa kamu ada meeting, Adnan juga ada pertemuan dengan client trus Mama pun harus ketemu client sekarang!”

“Tapi ....”

“Nggak ada tapi-tapi, jaga Bian. Jangan lupa buatin susu dan ganti popoknya!” peringat sang Nyonya yang lalu melanjutkan langkah.

Aku mana bisa lakuin itu semua! Itu pekerjaan para ibu! Adrian mendumel dalam hati. Astaga~ mengapa hari ini jadi begini? Niatnya ingin bersantai malah di repotkan menjaga bayi. Meski Abian anteng saja dalam gendongannya.

Keluarga Bimantara memant keluarga yang sibuk. Masing-masing memiliki pekerjaan. Adnan dan Adrian bekerja di perusahaan yang dirintis oleh sang Ayah; Agam Bimantara. Perusahaan apa itu tanya saja pada yang bersangkutan. Pun Rosan mempunyai usaha sendiri; membuka galery wedding organizer. Jika ada client, dia bisa sibuk sampai hari H–atau bisa beberapa minggu.

Memperkerjakan tiga asisten rumah tangga yang tinggal di dalam rumah dan beberapa yang pulang hari mempunyai pekerjaan masing-masing–yang tak mungkin direpotkan lagi mengurus bayi. Beberapa hari kemarin Rosa tak sibuk, jadi bisa mengawasi Bian. Lain ceritanya hari ini saat dia dihubungi bila ada client yang ingin menggunakan jasa WOnya.

“Aku cari babysitter untuk Bian ya,” sebuah ide tercetus dari mulut si bungsu Bimantara.

Membuat langkah sang Mama terhenti sekali lagi. Membalik badan dan memandang Adrian dengan bintang-bintang di mata. “Good job! Ide bagus. Tapi, mama yang bakal wawancara calonnya nanti ya. Dah~” dan meninggalkan Adrian.

Si bungsu menghela. Dia berjalan ke ruang keluarga atau tengah dan mendudukkan diri di sofa. Menyandarkan punggung. Si bayi berpindah ke pangkuannya di posisikan duduk menyandar ke perut Adrian. Bian kan belum bisa duduk sendiri.

“Okeh ...,” Adrian mengeluarkan ponselnya dari saku dan mulai menyalakan layar. Cahaya dari ponsel menarik perhatian Bian sehingga matanya terus mengarah pada benda hitam di tangan sang Ayah. “Kita buat iklan mencari babysittee untuk kamu.” Katanya.

Baby Bian hanya diam. Fokus penglihatannya mengarah pada layar ponsel sang Ayah yang tampak menarik. MengikutuI kemana pun ponsel itu digerakkan oleh Adrian. Sesekali tangan Bian menepuk-nepuk sendiri kakinya dan tertawa karena melihat hal baru.

Si bungsu membuka salah satu aplikasi job yang baru di unduh di ponsel; memiliki fitur membuat iklan dan mengjsi tiap-tiap kolom–spesifikasi untuk calon pelamar dan nomor telepon yang dihubungi. Berhubung mamanya yang mau wawancara, jadi dia memasukkan kontak sang Mama. Tapi, Adrian tidak menyertakan alamat kediaman Bimantara–takut jika yang datang atau menghubungi mamanya bukan karena pekerjaan yang ditawarkan, tetapi meneror keluarga mereka.

Ah, pandangan Adrian terhadap prilaku orang-orang–khususnya perempuan–yang mengidolakannya adalah teror. Ahem. Karena keluarga Bimantara termasuk salah satu keluarga yang menjadi sorotan publik; anggotanya sering menjadi topik di media masaa atau online. Dia tidak suka kehidupan pribadinya di kulik dan di papar menjadi berita. Apalagi dengan fisik mereka yang tampan dan cantik, tentu menjadi perhatian banyak orang. Namun, si bungsu tidak suka menjadi objek pembicaraan dalam bidang apapun.

“Okay, udah selesai.” Adrian menyimpan kembali ponselnya. Tidak menyadari si bayi di pangkuan mengikuti gerakan tangannya yang memasukkan ponsel ke saku celana sehingga tubuh VBian makin lama makin miring kemudian jatuh ke sofa di sebelahnya.

Huh?

Bian tidak menangis. Si bayi malah tertawa tanpa suara. Dia mencoba bergerak-gerak, memiring-miringkan badan. Tapi tidak berhasil. Tubuhnya tetap seperti sewaktu jatuh, tertelungkup di sofa. “Mm! Mmm!” Bian mengeram karena tak mampu bergerak.

“Ha-ha ...,” Adrian tertawa kecil, mengambil tubuh kecil itu dan kembali memangku – dengan posisi berhadapan. “Tidak bisa membalik, hm?”

Bibir si gembul terbuka lebar, memperlihatkan gusinya yang belum ditumbuhi gigi. Raut wajah Bian tampak girang. Lalu menggerakkan badannya naik-turun. Melonjak-lonjak di paha sang Ayah.

Senyum tipis terbit di bibir si bungsu. Dia memang belum mengakui Bian sebagai putranya; belum bisa menerima si bayi adalah keturunan Bimantara dari dirinya, namun ... bukan berarti dia akan bersikap ketus dan menjauhi Bian. Si gembul berpipi chubby minta digigit itu masih bayi, tidak mengerti apapun–tidak wajar bila dia menghindari si bayi. Jadi, setidaknya Adrian memperlihatkan sosialisasinya sebagai manusia, sebagai seseorang yang memiliki nurani, otak dan perasaan.

Yah ..., tidak buruk juga menghabiskan waktu dengan si gembul yang tak rewel ini.

**

Menarik napas dalam lalu dihembuskan. Melakukannya beberapa kali untuk menetralkan degup jantung yang tidak beraturan sembari memandang bangunan besar di balik pagar. Meski sudah berusaha tenang, tapi tetap saja detak di dada bukannya kembali normal malah makin kencang seraya dia melihat seorang laki-laki berpakaian security terlihat di pos penjaga. Bia memejam mata sebentar. Mengucap doa di dalam hati, sekali lagi menarik napas lalu berjalan ke pos penjaga.

“Pe-permisi, Pak.” Katanya memanggil laki-laki berbadan besar berseragam petugas keamanan yang biasa dilihat di rumah-rumah gedong atau orang kaya.

Laki-laki tadi menundukkan kepala supaya wajahnya bisa dilihat dari jendela kecil di posnya, “Ya?”

“Sa-saya mau lamar pekerjaan di sini. Katanya yang punya rumah lagi cari babysitter.” Bia menjelaskan dengan gugup. Pasalnya pekerjaan yang dia bilang cuma sekedar dengar saja. Tak tahu apakah benar-benar mencari orang atau sudah dapat atau dia salah dengar atau malah salah presepsi. Tapi, yang penting datang dulu dan mengkonfirmasi.

“Oh, sebentar ya mbak. Saya tanyain dulu.” Kata si petugas keamanan kemudian berbalik.

Bia melihat laki-laki besar yang kelihatan menakutkan karna posturnya yang tinggi-besar, namun nada bicaranya ramah sedang menelpon. Mungkin bermaksud bertanya kebenaran yang dia sampaikan tadi. Tak lama petugas tadi kembali ke dekat jendela dan memperlihatkan wajahnya.

“Saya udah konfirmasi. Sebentar saya buka gerbangnya.” Ujar si petugas keamanan sangat santun.

Gerbang besar yang berada di depan perempuan yang menguncir satu rambut panjangnya pelan-pelan terbuka sendiri. Dia menghela. Sekali lagi berusaha menenangkan diri. Terlebih saat setelah gerbang dibuka dan memperlihatkan rumah besar berhalaman luas terpampang di depannya. Bia menelan ludah. Dia sudah sampai di sini. Tinggal berjalan beberapa langkah lagi.

“Silahkan, mbak.” Si petugas keamanan muncul di sisi kiri dekat pos penjaga. Mempersilahkan perempuan yang memakai baju sederhana yang berdiri di depan gerbang tadi masuk.

Bia mengangguk, “Terima kasih, Pak.” Katanya dan matanya kembali fokus pada rumah besar di hadapannya. Berapa kali sudah dia menghela, menghembus dan menarik napas saat tiba di sini? Di area perumahan yang ukurannya besar; perumahan orang-orang kaya. Detak jantung yang hampir normal kembali beroperasi kencang. Memperbaiki posisi tas yang ukurannya cukup besar–seperti tas yang biasa dipakai atlet–dia mempersiapkan diri.

Satu langkah. Dia berhasil melakukannya. Dua langkah. Berlanjut langkah-langkah selanjutnya–tak dihitung lagi. Hingga sampai di pekarangan rumah. Dia mesti menaiki tiga anak tangga supaya tiba di teras. Kemudian berjalan sedikit dan akhirnya berada di depan pintu berwarna coklat dengan handle yang kemungkinan terbuat dari besi–entah, Bia tidak tahu dan tak mau memikirkannya. Ragu-ragu tangannya memanjang dan menekal saklar kecil yang dia tahu adalah bel. Biasanya begitu, kan?

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Antara Aku dan Adik Tiriku
8.7
Setelah enam tahun berpisah, Raffael kembali menemui Syaqila. Namun, kepulangannya membawa luka lama karena dulu Syaqila sering memfitnahnya hingga Raffael terpaksa mengasingkan diri ke luar negeri. Kini, niat tulus Syaqila untuk memohon maaf justru disambut dingin oleh tatapan penuh kebencian dari adik tirinya tersebut. Akankah hubungan mereka membaik, ataukah kepulangan Raffael ini merupakan awal dari misi balas dendam atas penderitaan masa lalunya?
Sampul Novel Balada Sang Pemuas
9.3
Dibalik kepatuhan pada norma dan tata susila, Andre dan Nadia menyimpan rahasia tentang fantasi seksual yang liar. Kehidupan pernikahan mereka menjadi panggung eksplorasi imajinasi yang selama ini terbelenggu oleh aturan sosial. Kisah ini mengungkap sisi terdalam manusia saat mencoba membebaskan hasrat terpendam tanpa melanggar batasan moral. Sebuah perjalanan intim tentang bagaimana seseorang mengejar kepuasan sejati dan mewujudkan dambaannya yang paling personal.
Sampul Novel Contract Love
8.1
Dunia Tiara runtuh saat kekasihnya menghilang di hari pernikahan yang sudah siap digelar. Pengakuan mengejutkan dari sahabatnya kian menghancurkan reputasi sang publik figur. Putus asa demi menyelamatkan karier, Tiara melakukan tindakan nekat dengan melamar seorang pria asing di antara tamu undangan. Namun, tawaran itu ditolak mentah-mentah. Kini, Tiara harus menghadapi masa depan yang kelam. Siapakah pria itu dan bagaimana nasib hidupnya kini?
Sampul Novel Delapan Tahun Menjadi Istri Rahasia
8.0
Clara berharap kehamilannya mengakhiri rahasia pernikahan delapan tahunnya dengan David. Namun, penolakan keras David justru memicu konflik fisik yang fatal hingga Clara kehilangan salah satu janinnya. Sadar hanya menjadi pengganti, Clara yang semula lembut berubah dingin dan menuntut cerai. Kini, David harus menghadapi kehancuran rumah tangganya dan rasa bersalah mendalam saat melihat istrinya tak lagi peduli pada hubungan mereka yang penuh kepalsuan.
Sampul Novel Garwo, Satu Hati Sampai Nanti
8.4
Dalam filosofi Jawa, garwa bermakna belahan jiwa yang tercipta dari satu kesatuan utuh. Namun, realita pahit menghampiri saat pengabdian tulus dari titik nol justru dibalas dengan pengkhianatan. Meski kesetiaan diharapkan menjadi muara, badai perselingkuhan dan kehadiran orang ketiga justru terus mengguncang fondasi rumah tangga. Akankah ikatan suci ini tetap dipertahankan saat rasa hormat telah sirna? Ikuti kisah perjuangan batin yang penuh emosi ini.
Sampul Novel Hasrat Liar Polwan
7.9
Setiap manusia memiliki kebutuhan biologis yang sangat wajar dan tidak bisa diabaikan begitu saja. Terlepas dari jabatan atau profesi yang ditekuni dalam kehidupan sosial, kepuasan batin merupakan aspek yang tidak memandang status, kasta, maupun kekayaan seseorang. Kisah ini menyoroti sisi kemanusiaan yang paling mendasar, di mana hasrat dan nafsu tetap hadir di balik seragam, membuktikan bahwa kebutuhan batiniah tidak dapat dibatasi oleh hierarki duniawi.